
"Tante boleh ngajak ngobrol ana nya bentar?" tanya Yudha pada ibunya ana.
"Boleh, bawa aja kekamar juga gak masalah kok hahahaha," ucap ibunya ana jahil.
Yudha terkekeh mendengar perkataan ibunya ana.
"Gini ya jeng kalau anak udah saling kenal dijodohin ngebet gitu pengen deket maunya berduaan aja," ucap nyonya Setiawati.
Ana hanya bisa diam menyembunyikan malunya menjadi bahan pembicaraan ibu serta calon mertuanya.
"Ana ajak Yudha kebelakang aja katanya mau berdua, kamu jangan malu-malu kucing gitu," kata ibunya ana.
Ana menganggukkan kepalanya, "Tante om, ayah ibu saya permisi dulu sebentar," kata ana seraya berjalan menuju pintu dapur yang menembus langsung kehalaman belakang.
Yudha mengikuti langkah ana dari belakang, "Bagus tamannya ada tempat ayunan goyangnya," kata Yudha duduk di kursi besi bertenda yang bisa digerakkan maju mundur.
"Iya," saut ana duduk disamping Yudha.
"Yud-" panggil ana berusaha membuka pembicaraan.
Yudha menaikan alisnya bingung melihat Ana yang menundukkan kepalanya, "Ya na kenapa?"
Ana menelan salivanya, rasanya tenggorokannya tersendat sesuatu yang membuatnya sulit berbicara, "Apa kabarnya Kristi?" tanya ana gugup.
Yudha menghirup angin malam seraya memejamkan matanya, "Dia? Dia baik-baik saja." Yudha menatap langit malam penuh bintang.
"Bukannya kalian pacaran kan?" tanya Ana memastikan.
Yudha tersenyum kala mengingat hubungannya dengan Kristi, "Jadi kamu penasaran apa yang terjadi antara aku dan Kristi?" tanya Yudha.
Ana menganggukkan kepalanya ingin mengetahui semua yang terjadi.
Yudha tersenyum menatap manik-manik ana, "Aku sama dia udah gak ada hubungan lagi." Yudha kembali menatap langit malam itu.
Sontak ana kaget mendengar penuturan Yudha, "Kenapa?" tanya ana penasaran.
"Aku emang sayang banget sama dia bahkan sebelumnya aku udah pernah mencoba untuk melamarnya tapi-" Yudha memasang ekspresi datar menundukkan kepalanya menatap kedua kakinya.
"Tapi apa?" tanya ana lagi.
Yudha menghembuskan nafasnya kasar, "Kata ibunya aku tidak pantas untuknya. Ibunya lebih menyukai pria yang dewasa. Ibunya percaya bahwa Kristi akan bahagia jika bersanding dengan pria yang lebih dewasa darinya. Ibunya bilang kalau harta ku tidak akan menjamin Kristi untuk bahagia," kata Yudha berkecil hati.
Kala itu hati ana kalang kabut. Rasanya seperti dia berada dalam dilema besar. Sulit untuk bisa menjalankan dimana dia dijodohkan dengan mantan kekasihnya sementara dia sendiri tidak ingin membuat Yudha kecewa mengetahui tentang dirinya dimasa lalu.
"Yud-" kata ana pelan tapi sepertinya tidak didengar oleh Yudha.
"Ana kamu udah buka kado yang aku beri?" tanya Yudha membuat ana sontak menggelengkan kepalanya.
"Kamu bawa kadonya?"
Ana menganggukkan kepalanya mengeluarkan kotak itu dari saku dressnya.
"Ayo coba dibuka," kata Yudha tidak sabaran melihat ekspresi ana saat melihat isi dalam kado itu.
"Sekarang?" tanya ana meyakinkan yudha.
"Iya," saut Yudha bersungguh-sungguh.
Ana melepaskan pita silver itu dibukanya kado marun yang dia pegang ana mengernyitkan keningnya saat melihat dua buah gantungan burung merpati berwarna putih.
"Burung merpati?" tanya ana mengenai makna yang dimaksud oleh Yudha dari pemberiannya.
Yudha tersenyum manis menatap Ana, "Kamu taukan apa makna burung merpati?" tanya Yudha.
Ana menganggukkan kepalanya ragu kala mengingat slogan serta pepatah tentang burung merpati.
"Kamu bisa memberikan salah satunya pada pria yang nanti akan menjadi calon suami mu ana."
Ana membulatkan bola matanya kala mendengar perkataan Yudha. Sungguh kaget bukan main ana tidak menyangka jika Yudha akan berterus terang seperti itu.
"A?" Tanya ana tidak percaya bahkan kata-kata tidak bisa dia rangkai sebagai kalimat tanya.
"Tapi sepertinya aku tidak salah memberikan hadiah ini padamu. Karena sebelumnya akupun pernah mencintaimu, aku akan sangat bahagia jika kelak salah satu burung merpati itu kamu memberikannya pada ku," kata Yudha tersenyum pada ana.
Tok tok
Suara pintu diketuk membuat Yudha dan ana menoleh kearah pintu.
"Tante ganggu gak?" terdengar nada suara itu milik nyonya Setiawati.
"Enggak tan-bun," jawab Yudha dan ana serempak.
Nyonya Setiawati tersenyum dibalik pintu mendengar kekompakan kedua pasangan itu, "Yudha udah malam pulang dulu ayo besok dilanjutin lagi mesra-mesranya," goda nyonya Setiawati.
Yudha tersipu malu mendengar perkataan ibunya sendiri dia memganggi tekuk lehernya yang tidak pegal itu.
Karena panggilan dari nyonya Setiawati, Yudha dan ana masuk kembali menuju dapur. Segera setelahnya keluarga yudhapun berpamitan dengan tuan A.K.
"Kami pulang dulu ya ini udah malam takutnya ganggu kalian," kata tuan Darmawan tidak enak hati.
Tuan A.K memeluk tuan Darmawan menepuk pundaknya, "Tidak masalah lain kali datanglah kembali bertamu bahkan jika ingin menginaplah disini," kata tuan A.K ramah.
"Ah tidak perlu menginap segera saja kita tindak lanjuti hubungan mereka sebelum terjadi sesuatu," kata nyonya Setiawati melirik ana dan Yudha.
Yudha semakin malu karena ulah ibunya. Ana hanya tersenyum kecil menanggapi godaan nyonya Setiawati.
"Ya udah ayo pulang nanti gak jadi-jadi lagi pulangnya hahahaha," ajak tuan Darmawan pada istrinya.
"Hati-hati dijalan, kapan-kapan berkunjung lagi kesini ya!" kata ibunya ana mengikuti langkah mereka kedepan pintu keluar.
Ana juga mengikuti langkah mereka dari belakang. Ana tersenyum membalas lambaian tangan dari nyonya Setiawati. Malam yang rumit bagi ana untuk bisa melangkah lebih lanjut untuk hidupnya.
"Ana tidurlah udah malam besok kamu harus kekantor," kata ibunya menepuk pundak ana.
"Iya Bu." Ana menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Bugh
Ana menghempaskan tubuhnya diatas kasur. Rasanya dia begitu banyak beban yang sangat berat hingga dia butuh banyak ruang untuk dirinya sendiri.
Drtt drrt
Getaran dari smartphonenya membuat ana langsung mengecek pesan yang masuk.
Ana
by Arya
Pesan WhatsApp itu langsung dibaca oleh ana. Sontak hpnya langsung terlempar dari tangannya saat ternyata Arya langsung menelepon dirinya.
"Angkat gak ya?" tanya ana takut dan bimbang.
Ana menghirup nafasnya mempersiapkan diri untuk berbicara langsung dengan Arya lewat telepon.
"Ana?" tanya Arya memastikan bahwa ana sudah menjawab panggilannya.
"Iya?" jawab ana dengan nada tanya.
"Kamu dijodohkan hari ini?" tanya Arya.
Ana memeluk bantalnya entah mengapa Arya bisa tau tentang kejadian hari ini, "Iya," jawab ana lagi.
"Ana beri aku waktu untuk bisa dekat kembali dengan mu. Hanya 7 hari saja. Biarkan aku bisa dekat denganmu. Setelah itu aku tidak akan menganggu dirimu lagi." Terdengar Arya memohon pada ana.
Ana memejamkan matanya mencerna apa yang dimaksud oleh Arya dia bingung kenapa Arya berbicara seperti itu dengannya.
Tut
Panggilan telepon itu langsung ditutup secara sepihak.