
"Enggak ada cuma jadi keingat dulu kita sering jalan disini," ujar ana mengingat masa lalunya.
"Iya ya kenapa rasanya waktu begitu cepat ya?" tanya Kristi menatap gang yang ramai dipenuhi anak-anak yang sedang bermain.
"Ya sudah ayo kita jalan." Ana mengajak Kristi masuk kedalam mobilnya.
Setelah ana dan Kristi masuk mobil kemudian dijalankan menuju rumah sakit yang diperintahkan oleh Kristi.
"Kris, aku mau tanya sesuatu," tanya ana pada Kristi. Sesuatu yang sejak waktu ini mengganjalnya baru bisa dia tanyakan hari ini.
"Ada apa na?" Tanya Kristi.
"Kamu gak ada perasaan marah? kesal gitu sama aku? secara aku udah nikahin Yudha merebut masa depan anakmu dan aku sendiri adalah sahabatmu," ucap ana bertanya pada kristi.
Kristi tersenyum memegang tangan ana, "Karena kamu sahabatku lah aku tidak marah padamu. Lagipula ini semua juga udah berjalan karena takdir Tuhan kita bisa merubahnya," kata Kristi menepuk tangan ana.
"Kamu baik sekali Kris." Ana terharu pada Kristi, dia langsung memeluk Kristi dari samping.
"Non kita sudah sampai dirumah sakitnya," ujar supir memberitahukan pada ana dan Kristi bahwa mereka sudah sampai dirumah sakit tujuan.
"Baik pak." Ana dan Kristi turun dari mobil.
"Sini aku bantu," kata ana membantu Kristi turun perlahan dari mobil.
Ana dan Kristi masuk kedalam rumah sakit. Mengambil no antrian. Ana dan Kristi duduk dikursi tunggu.
"Kamu biasanya disini periksa?" tanya ana pada Kristi.
"Iya aku selalu disini."
Ana menganggukan kepalanya setelah menunggu kini gilirannya Kristi untuk masuk kedalam.
"Kris mau aku temani tidak?" tanya ana pada Kristi.
"Enggak usah na kamu disini aja nungguin nya." Kristi menolak ana untuk ikut bersamanya keruang periksa.
Ana menganggukan kepalanya dia menuruti keinginan Kristi. Kristi masuk kedalam ruangan.
"Pagi Bu," sapa Kristi pada dokternya.
"Pagi Bu Kris hari ini periksa bulanan ya Bu." Dokter menuntun Kristi untuk naik diatas bed.
Saat Kristi sudah tidur terlentang dokter memeriksa kondisi kehamilan Kristi dari komputer USG, "Jantungnya lemah ya bun, janin didalam bisa kekurangan oksigen. Jangan sampai bunda kelelahan ya Bun supaya janinnya tetap sehat," kata dokter menasehati Kristi.
Kristi menganggukan kepalanya mengerti.
"Bunda apa punya riwayat sakit jantung?" tanya dokter setelah beberapa mengecek pergerakan janin.
"Iya dok saya punya riwayatnya," jawab Kristi mengeratkan pegangannya pada rokbyabg dia gunakan.
"Udah usia 7 bulan tetapi anaknya belum cukup aktif didalam kandungannya apa bunda pernah merasakan sakit pada bagian perut bawah?" tanya dokter.
Kristi menganggukkan kepalanya, "Kadang keram dok tetapi tidak terlalu parah. Yang paling sering saya alami itu sesak nafas." Kristi menerangkan semuanya pada dokter.
Setelah dokter selesai memeriksa keadaan Kristi. Dokter mengajak Kristi untuk duduk dibangkunya.
"Bunda harus hati-hati selama masa kehamilan ini. Rentan bagi ibu hamil yang memiliki riwayat sakit jantung. Kondisi seperti ini bisa membahayakan ibunya serta janin didalamnya."
Kristi menganggukan kepalanya mengerti, "Iya dok saya pasti akan menjaga kesehatan saya."
Dokter kemudian menulis beberapa resep yang harus dibeli oleh Kristi, "Jangan sampai bunda kelelahan dipastikan selalu menjaga pola makan usahakan jangan sampai stress. Ini ada beberapa obat yang ibu harus beli untuk menjaga tekanan darah dan tensi ibu." Dokter itu menyerahkan kertas yang sudah tertulis beberapa nama obat-obatan.
"Baik dok kalau begitu saya permisi." Kristi memundurkan diri dari dokter kemudian dia menuju apoteker untuk mengambil obat-obatan yang tertulis pada resep.
Setelah menunggu cukup lama ana akhirnya melihat Kristi keluar dari lorong. Dia langsung menghampiri Kristi, "Gimana tadi lancar?" tanya ana penasaran.
"Lancar." Kristi memasukan beberapa obat-obatan yang dia tebus tadi kedalam tasnya.
"Banyak sekali obatnya Kris," kata ana heran dengan semua obat yang dibawa oleh Kristi.
"Ana sekarang kita mau kemana?" tanya Kristi pada ana.
Ana menaruh telunjuknya didagu berusaha berpikir, "Kita ke mall pusat kota aja ya? Supaya gak keliling jauh-jauh, lagipula Kitakan mau beli perlengkapan bayimu." Ana mengusap lembut perut kristi.
"Ya udah ayo."
Ana dan kristi masuk kedalam mobil menuju mall dipusat kota.
"Gimana acaranya kemarin na?" Tanya Kristi perihal hari h pernikahannya.
Kristi menahan tawanya melihat tingkah ana, "Manja ya kamu jangan cemberut gitu muka ku lebih jelek dari ibu Kunti," ledek Kristi pada ana.
Namun namanya juga ana otaknya butuh proses untuk menangkap humor, "Ibu Kunti siapa nih? Kunti ibunya panca Pandawa atau Kunti ibunya tuyul," tanya ana mengenai Kunti yang dimaksud oleh Kristi.
"Kunti ibunya tuyul lah kalau ibunya panca Pandawa mah jauh banget," ledek Kristi lagi.
Kristi dan ana bercengkrama selama diperjalanan diselingi beberapa candaan yang dibuat oleh Kristi membuat mereka tertawa saat berbicara.
Beberapa menit berlalu mereka sampai di mall yang dituju. Parkiran yang letaknya di basecamp membuat pengunjung harus naik lift ataupun tangga.
"Kita naik lift aja ya?" usul Kristi pada ana.
"Iya naik lift aja kalau naik tangga kecapekan nanti." Ana dan Kristi memutuskan naik lift untuk masuk kedalam mall.
Didalam mall susananya begitu ramai kebanyakan yang datang adalah siswa-siswi yang baru pulang sekolah.
"Apa semua anak sekolah itu harus mampir ke toko dulu baru pulang ya?" tanya ana melihat siswa-siswi disekitarnya.
Kristi menutup mulutnya tertawa mendengar pertanyaan ana, "Kita juga seringkan pulang sekolah mampir dulu ketoko buku," ujar kristi.
"Iya ya." Ana tertawa terbahak-bahak mengingat masa lalunya, "Astaga kenapa semuanya cepet banget berlalu ya rasanya baru kemarin masuk SMA, baru kemarin jalan-jalan bareng temen, baru tamat sekolah ehh sekarang udah nikah."
Kristi tertawa, "Bener-bener gak nyangka ya kita ngelewatin itu semua, jadi inget dulu pernah main kelapangan."
"Euh gak enak tuh akunya malah jatuh," gerutu ana mengingat kejadiannya.
Kristi tertawa mengingat saat-saat dulu bersama ana.
"Kris kita masuk kesana yuk kayaknya banyak barang-barang lucu deh," kata ana bersemangat menunjuk toko didepan yang ada disebelah kiri.
Kristi melihat kearah ana menunjuk, "Wah iya na tokonya lucu ayo kita masuk sana."
Ana memegang tangan Kristi mengajak masuk ketoko yang tadi dia tunjuk. Kristi langsung kegirangan melihat barang-barang lucu yang terpajang didalam toko.
"Ehh ana ana lihat ihh ini lucu banget," ujar Kristi kegirangan melihat boneka.
"Kamu dari dulu ampe sekarang gak ilang-ilang hebohnya." Ana menggelengkan kepalanya melihat Kristi yang asyik melihat boneka.
"Kris lihat deh ihh bagus ya." Ana menunjukan baju bayi berwarna kuning dengan hiasan renda-renda dilehernya.
"Iya bagus tapi nanti gatal kalau dipakai."
"Ana lihat deh lucu banget ya." Kristi menunjukan baju yang dia bawa.
"Iya lucu ini juga bagus." Ana mengajukan beberapa baju yang dia bawa tadi.
"Tapi bagusan yang ini na lucu imut."
Kristi dan ana akhirnya berdebat untuk beberapa barang yang mereka ingin beli.
"Bagusan ini deh na lihat lucu kan," kata Kristi menunjukan sepatu dengan hiasan bola salju.
Ana menggelengkan kepalanya, "Lucuan yang ini lihat deh lucu banget kan?" ujar ana menunjukan sepatu marun motif boneka beruang.
Saat mereka memilih selimut mereka juga berdebat.
"Ini lho ana lembut banget," ucap Kristi seraya menyerahkan selimut berbulu pada ana agar bisa dirasakan oleh ana. Dia juga menyentuhkan selimutnya dipipi ana.
"Ini lebih nyaman kris." Ana beralih salah satu selimut berbahan kain katun yang dingin dan lembut.
"Ya udah beli semuanya aja." Ana menyerah melemparkan selimut yang dia pegang.
Kristi tertawa melihat ana yang mengalah, "Hahahha sabar ya na ngadepin emak-emak," kata Kristi mengelus punggung ana.
"Iya udah sabar nih." Ana mendengus kesal dan membiarkan Kristi mengambil barang kebutuhannya.
Kristi memasukan barang belanjaannya kedalam keranjang kemudian dia bayar di kasir.
"Perasaan tadi masuk sepi ya disini kenapa pas keluar isi ngantri gini ya?" tanya ana heran melihat jejeran perempuan yang mengantri di kasir.
Ada yang remaja sepertinya disuruh oleh ibunya, ada yang kelihatan perut buntingnya ada juga yang masih kecil ukuran kehamilannya.
"Kris aku tunggunya didepan ya," kata ana menunjuk pintu keluar.
"Iya na," kristi menganggukan kepalanya.
Sambil menunggu Kristi diantrian. Ana berdiri didepan pintu keluar melihat orang-orang berlalu lalang di mall.