
Ana diam menatap ayahnya dengan serius perlahan dia melepaskan tangan ayahnya, "Tidak yah."
Ana tersenyum kecil pada ayahnya, "Aku tidak akan kabur dari masalahku. Aku tidak akan menceraikan Yudha. Aku sudah memutuskan untuk hidup bersamanya dan merawat bayi kecil Kris."
Tuan A.K terharu mendengar perkataan ana, "Apa kamu serius?" tuan A.K tampak tidak percaya melihat sikap dewasa pada putri dihadapannya ini.
"Iya yah, aku akan tidak akan meninggalkan Yudha. Dia terlalu rapuh saat ini dan aku ingin menjadi penyemangat hidup untuknya." Ana tersenyum pada tuan A.K.
"Dimana direktur ya? kemana lama sekali?" ana melihat kekanan dan kekiri mencari-cari keberadaan direktur.
"Hum coba ayah cari dulu," kata tuan A.K hendak berdiri dari tempat duduknya.
Ana memegang tangan tuan A.K menghentikan langkahnya ayahnya, "Biar aku aja yah." Ana menawarkan dirinya untuk mencari direktur.
Namun siapa sangka baru beberapa langkah berjalan ana bertemu dengan Arya. Arya tampak gugup bertemu dengan ana dia tidak menyangka akan berpapasan langsung dengannya, "Hum, Hay." Arya melambaikan tangannya gugup pada ana.
"Kakak ada disini?" Ana mengedarkan pandangannya dan melirik kearah tuan A.K memastikan bahwa dia tidak dilihat olehnya.
"Eh- Iya hum." Ucapan Arya terbata-bata saking gugupnya berhadapan dengan ana.
Ana melihat reaksi Arya yang gugup tidak seperti biasanya. Arya yang dia kenal agresif dan tanpa nervous sedikitpun.
"Apa kakak mendengar semuanya?"
Pertanyaan ana membuat Arya membelalakkan matanya menatap ana tidak menyangka kalau dirinya mudah terbaca, "Ehm anu-"
Belum selesai bicara Arya sudah disanggah oleh ana, "Ternyata kakak mendengar semua pembicaraan ku dengan ayah ya." Ana tersenyum manis kearah Arya.
"Ah iya tidak sengaja, maaf-"
Ana menggelengkan kepalanya, "Tidak apa kak. Tau tidak bahwa keputusan ku itu aku mengingat dirimu."
Arya menatap ana terkejut dan bertanya-tanya apa yang dimaksud ana menyebutkan tentang dirinya.
Ana terus tersenyum kearah Arya, "Kakak pernah bilang apapun yang terjadi jangan pernah melawan arusnya dan tetap ikutin kemanapun arahnya. Maka dari itu aku akan tetap mengikuti alurnya. Terima kasih kak udah ngasih saran terbaik buat aku." Ana kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan Arya dan kembali mencari direktur Victor.
Arya hanya bisa tersenyum kecil meskipun hatinya anjlok mendengar perkataan ana, "Setidaknya kamu bisa lebih bahagia setelah ini." Arya tersenyum menatap punggung ana yang perlahan mulai menghilang dari penglihatannya.
Ana melihat direktur yang baru saja mematikan teleponnya. Direktur langsung menghampiri ana yang terbuat dirinya sudah dicari-cari, "Maaf sedikit lama tadi ada urusan."
Ana menggelengkan kepalanya, "Ah tidak masalah mari kita lanjutkan makannya."
Direktur menganggukkan kepalanya mengikuti langkah ana masuk kedalam resto.
Selesai makan bersama dengan direktur, ana berkunjung kerumah sakit untuk menjenguk bayi mungilnya. Bayi yang sudah sah menjadi anaknya dengan Yudha.
"Nak apa yang sedang kamu lakukan disana?" Ana memegang kacanya menatap bayi kecil yang tengah terpejam menikmati tidurnya.
Bayi yang malang harus memakai selang oksigen untuk bisa bertahan hidup. Ana terus menatap bayi yang lemah didalam inkubator, "Jangan menyerah ya nak, kamu harus tetap bertahan hidup bersama ayah dan ibu."
Tiba-tiba saja tangan ana dipegang oleh Yudha dari belakang, "Yudha?" tanya ana tidak percaya melihat tangannya bertautan dengan telapak tangan Yudha.
"Aku senang kamu terus mengunjungi Ariana, terima kasih sudah mau menjadi ibu sambungnya." Yudha tersenyum menaruh dagunya diatas pundak ana.
Ana juga ikut tersenyum bersamaan menatap bayi mereka, "Kristi pasti bahagia melihat kita disini," kata ana mengingat sahabat tercintanya.
Yudha menggerakkan tangannya menuju pinggang ana perlahan dia membisikan sesuatu pada telinga ana, "Terima kasih."
Ana tersenyum bahkan tidak terasa air mata terharunya ikut mengalir secara bersamaan, "Maaf-" entah kenapa ana justru mengatakan kata maaf untuk membalas perkataan Yudha.
Yudha menganggukan kepalanya mengerti, "Tidak perlu kata maaf. Aku juga melakukan kesalahan. Aku berterimakasih padamu mau menerimaku juga anakku." Yudha mengeratkan pelukannya.
Ana beralih memegangi kedua tangan Yudha yang ada di pinggangnya, "Terimakasih telah menjadi suami yang baik untukku."
Begitu mesranya mereka menatap bayi mungil mereka. Cukup lama mereka berada disana Yudha mengajak ana untuk pulang kerumahnya.
"Mau mampir makan dulu?" tanya Yudha didalam mobil.
Yudha menggelengkan kepalanya, "Tidak usah kita bisa makan sampai dirumah bibik pasti menyiapkan makan siang."
Ana menganggukan kepalanya kemudian diam hingga mobil yang dikemudikan oleh Yudha sampai kerumah. Berjalan dari garasi menuju pintu Yudha berusaha untuk menggenggam tangan ana tapi dia malah malu-malu untuk melakukannya. Ana juga malu-malu saat tangan kirinya sudah bersentuhan dengan tangan Yudha.
Hingga didepan pintu Yudha membuka pintunya, "Bi, kami pulang."
Ana masuk mengikuti langkah Yudha dari belakang.
Bik ja kaget melihat ana yang kembali kerumah kediaman tuan Darmawan, "Wah Nona anda kembali, kami sangat merindukan nona." Bik ja membungkukkan badannya dihadapan ana.
"Bi Tidak usah seperti itu, saya senang bisa kembali kesini." Ana tersenyum lembut pada bi ja.
Bi ja mengusap air mata yang berlinang karena terharu.
Ana melangkahkan kakinya menuju anak tangga, "Yudha, aku kekamar dulu."
Yudha menganggukan kepalanya menanggapi ana.
Ana menaruh tasnya diatas kasur dan melihat kamarnya yang dulu pernah dia tempati. Bahkan setelah pernikahan dia tidak pernah satu kamar dengan Yudha, malahan kemarin-kemarin dia pisah atap dengan suaminya. Ana membuka korden jendelanya membiarkan sinar matahari masuk kedalam kamar dia juga membuka jendela kamar.
Mulai dia bersihkan kamarnya yang hampir berdebu itu.
"Uhuk uhuk." Yudha mengibas-ibaskan debu dihadapannya.
Ana mendengar suara batukan Yudha langsung menoleh kearahnya, "Kamu ngapain kesini? Ruangannya masih kotor." Ana menaruh kemonceng diatas meja yang sejak tadi dia pegang.
"Aku kesini mau bilang kalau Ariana boleh dibawa pulang 2 Minggu lagi."
Ana tersenyum bahagia mendengar kabar gembiranya, "Sungguh dia benar-benar boleh pulang?"
Yudha menganggukan kepalanya, "Tapi tetap Ariana diberi alat bantu pernapasan untuk berjaga-jaga kalau seandainya dia mengalami sesak."
Ana tersenyum bahagia dan langsung menghamburkan pelukannya ke Yudha, "Terima kasih, terima kasih banyak."
Yudha yang terkejut dengan aksi ana perlahan membalas pelukan ana.
Setelah semua berjalan seperti biasa tidak ada lagi cekcok diantara mereka, ana sedang menyiapkan sarapan dimeja makan.
"Kamu sudah siap?" tanya ana seraya menaruh hidangan dimeja makan.
"Iya aku sudah siap." Yudha duduk di kursinya menyantap sarapan.
Nyonya Setiawati dan tuan Darmawan juga duduk bersama untuk menikmati sarapan.
"Yudha kamu tidak berniat untuk tinggal sendiri dengan ana dirumah baru?" tanya nyonya Setiawati.
Yudha menghentikan suapannya perlahan berpikir, "Aku belum mencari rumah." Yudha melanjutkan suapannya.
Ana yang sedang menguyah makanannya ingin memberi usulan, "Ayah punya rumah yang bisa tinggali, bagaimana kalau kita membeli rumah itu saja?" usul ana pada Yudha yang duduk disampingnya.
Tuan Darmawan menganggukan kepalanya setuju dengan usul yang diajukan oleh ana, "Iya boleh juga masalah bayar membayar urusan belakangan yang terpenting lokasinya strategis dekat sekolah, taman bermain, dan tempat belanja."
"Tempatnya dekat sekolah tapi tetap haru menaiki kendaraan untuk sampai kesana."
Sepertinya mereka sudah merencanakan dengan matang bagaimana tempat yang cocok untuk bayi mereka.
Yudha menganggukan kepalanya, "Nanti aku akan bicara dengan tuan A.K."
"Biar aku saja, bukankah kamu harus bekerja aku juga bekerja dikantor ayah jadi lebih mudah untuk bicara dengan ayah."
Yudha menggelengkan kepalanya, "Tidak, itu adalah tugas ku sebagai kepala keluarga. Kamu tidak boleh melakukannya."
Nyonya Setiawati dan Tuan Darmawan bersitatap tersenyum bangga melihat sikap Yudha yang dewasa.
"Baiklah," jawab ana pelan menghabiskan makanannya.