
"Ana ayo kekantin kita makan." ajak teman ana yang sudah tidak sabaran untuk makan.
"Sabar dikit Napa." perkataan ana yang memang sedikit judes dan ketus.
Ana kini duduk dibangku SMA akhir, memiliki satu orang sahabat yang selalu menemaninya. Ana merasa bersyukur memiliki satu teman abadi walau temannya sedikit menjengkelkan.
"Tuh kan ana kamu sih kelamaan rame kan jadinya." keluh Kristi.
Ya itu Kristi sahabat ana, gadis kecil bawel dan bobrok.
"Ana ana lihat tuhh astaga cogan lewat."
Kristi histeris sambil membenarkan rambut dan penampilannya, "OMG ana gua udah cantik belom?"
Sedangkan ana melihat tingkah laku temannya itu merasa heran dan juga jengkel.
"Ana lu mau beli apa?"
"Aku beli susu aja udah bawa bekal." Ucap si ana setelah menemukan bangku kosong untuk makan.
"Lu gak asyik banget dah bawa bekal Mulu udah gede masih aja bawa bekal."
"Ehh itu mulut kapan ngeremnya?" ana yang sudah mulai kesal dengan tingkah laku temannya itu.
Sedangkan kristi berdecak sebal meninggalkan ana. Kristi membeli mie ayam kesukaannya kemudian dia makan bersama dengan ana.
Di jam istirahat ana tidak pernah bermain dengan anak lainnya. Hanya kristi yang selalu menemani dirinya.
Ana dan kristi baru kenal saat ana menduduki bangku kelas 8 SMP. Mereka tidak satu sekolah saat itu. Hingga akhirnya tanpa kesengajaan mereka bisa satu sekolah di bangku SMA ini.
Kelas mereka berbeda ana masuk kelas Matematika sedangkan Kristi anak IPA. Tapi saat istirahat mereka selalu bersama. Walau si Kristi yang mencari ana untuk bisa makan bersama.
"Ana nanti temanin gua belanja yha."
"Lu hobi banget dah belanja." Ucap si ana yang langsung mendapatkan sambutan terkejut dari si Kristi.
"Wow ana are you seriously?." Ucap Kristi tidak percaya.
"Lu pakai bahasa gaul woyy biasanya juga aku kamu kalem banget sekarang woww lu kayaknya ketularan gua yha hahahahahah."
Ucapan panjang lebar dari si Kristi berhasil membuat kepala ana puyeng. Ana sedikit heran kenapa ada anak dengan mulut tanpa rem seperti ini. Berbicara tanpa jeda sedikit pun bahkan dengan nada naik turun. Ana benar-benar heran dengan ibu yang melahirkan Kristi.
"Ana lu mau kan temanin gua."
"Iya bentar aja tapi." Ana tau kalau si Kristi belanja pasti lupa tempat dan waktu.
"Aihh gak seru tapi it's oke lah gua gak bakalan lama kok." Ujar Kristi kemudian berlalu pergi ke kelasnya.
Kini pelajaran dimulai anak-anak semua sudah duduk dibangku masing-masing.
"Sekarang kita pelajari bab 6." Ucap guru tersebut membuka jam pelajaran.
Ana dengan serius memperhatikan mata pelajaran yang sedang berlangsung. Ana memang sangat antusias dalam belajar saat ini. Mengejar cita-cita membuat dia semangat dalam belajar. Namun sekeras dia belajar tetap tidak pernah mendapatkan nilai sempurna.
Kadang dia meminta tolong kepada Kristi. Meski Kristi masuk kelas IPA dia sangat pinter matematika. Terkadang mereka berdua berfikir salah masuk kelas.
Jam pelajaran selesai Kristi dengan buru-buru masuk kekelas ana bahkan tanpa permisi dan rasa malu. Dia segera menghampiri ana yang sedang mengemas buku-bukunya.
"Ana ayo buruan entar keburu sore katanya elu gak mau lama-lama nemenin gua." Ucap si Kristi yang menyeret tangan ana untuk segera berangkat ke sebuah toko.
Kali ini Kristi mengajak ana ke toko buku. Kristi memang gemar sekali membaca tapi hanya membaca novel dan cerita romantis. Untuk membeli buku pelajaran sepertinya tidak akan pernah mengikhlaskan uangnya itu.
"Lu mau ikut gua keliling atau diem disini?." Tanya Kristi yang sudah melihat melihat rak buku yang ada didalam toko tersebut.
"Ikut aja." Saut si ana sekaligus memperhatikan buku buku yang ada di rak rak ini.
Kadangkala ana membeli buku yang bisa membantunya menunjang ilmu pengetahuan yang ada disekokah. Menambah sedikit wawasan walau kadang tidak akan pernah dibahas disekolah.
"Ana ini bagus gak yha kira-kira."
Ana jadi bingung dengan tingkah Kristi dia pun akhirnya bertanya, "Jadi kamu kesini itu cari buku baru?."
Biasanya Kristi ke toko buku sudah mendapatkan judul buku yang bersumber dari internet atau app novel yang dia baca.
"Hehehe aku gak punya kuota ana." Kristi jadi malu dan hanya bisa cengar-cengir didepan ana.
"Ana beli ini atau yang ini atau beli dua duanya atau beli satu aja atau gimana?." Lagi lagi Kristi mengeluarkan kicauannya yang tidak berhenti tanpa jeda.
"Humm sampulnya sih bagusan yang ini." Ucap ana memberi pendapatnya.
"Iya sih ini bagus beli ini aja yha." Si Kristi Akhirnya memutuskan untuk membeli satu buku itu.
Mereka pun menyelesaikan pembayarannya dikasir. Ana juga membeli buku hitung-hitungan matematika.
Brukkk tiba-tiba ana bertabrakan dengan seseorang dipintu keluar.
"Maaf maaf." Perkataan maaf dari seorang pria berkacamata dengan suara serak dan nada bass-nya.
Melihat kejadian it, alhasil Kristi mulai bertingkah.
"OMG suara SEKSI bingittsss." Kristi mulai menghayalkan kembali suara tersebut.
"Seksi darimananya?." Tanya ana bingung.
"Lu gak tau tipe cowok apa?! yha jelas-jelas itu suara seksi banget astaga ganteng pula pakai kacamata cool banget gila pakai hodie dan celana jeans OMG! titisan dewa modern."
Ana bener bener tercengang dengan kalimat lantang dari Kristi itu.
"Gilak amat panjang banget kalimat lu Kris." Ujar ana yang lagi-lagi kristi terkejut.
"Tuh kan elu ketularan gua ngucapin kalimat elu gua."
"Tapi gapapa, Kristi itu emang virus baik buat elu." Sambung Kristi dengan nada Pd-nya
Baru saja ana terkejut untuk pertama kalinya dia mendengar kalimat pendek keluar dari si Kristi ternyata si Kristi menyambung kalimatnya.
"Virus? Baik? Emang ada virus itu baik?." Tanya ana kebingungan dengan kata-kata Kristi.
"Nih yha gua ajarin sedikit ilmu buat elu." Ucap Kristi terjeda dan bersiap-siap melontarkan Alkitab.
"Didunia ini itu ada baik ada buruk ada cewek ada cowok bakteri ditubuh aja ada baik ada jahat masa virus gak ada baiknya." Komentar Kristi yang merasa dirinya paling pintar.
Sedangkan ana yang mendapatkan nasehat blak blakan dari Kristi hanya memutar bola matanya malas.
'Ada aja alasan.' ucap ana dalam hati.
Emang kalau Kristi ini tidak ingin dikalahkan sifatnya sangat keras kepala dan selalu ingin benar, berbeda dengan ana.
Ana hanya bisa diem meladeni burung petasan ini. Kadang telinga ana merasa rusak mendengar omongan dari Kristi.
Mereka berjalan menuju rumahnya. Dan saat Kristi mulai melantunkan lagu-lagu dengan lirik acak.
Ana hanya bisa menutup telinganya. Dia takut gendang telinganya pecah dengan nada ambrul adul yang dikeluarkan dari mulut Kristi itu.
"Kris liburan nanti kita jalan-jalan yok." ujar Ana mengisi obrolan saya berjalan kaki.
Ucapan ana berhasil lagi membuat Kristi terkejut. Kristi langsung menempelkan telapak tangannya di kening ana.
"Lu gak sakit kan?."
"Lu sehat kan?."
"Lu gapapa kan?."
"Mau gua beliin obat?."
"Atau gua anterin ke puskesmas?."
"Atau langsung kerumah sakit?."
"Gua telponin ambulans?."
"Mau masuk UGD?."
Pertanyaan Kristi beruntun itu terus saja nyerocos membuat ana menatap malas Kristi.
"Aku sehat Kris baik sehat Alhamdulillah." Ucap ana langsung melangkahkan kakinya yang terhenti tadi.
"Tumben lhoo lu tuh ngajakin liburan biasanya lu tuh diem dirumah. Ada gerangan apa?." Tanya kristi heran kemudian mengambil botol minumnya karena terasa tenggorokannya sudah kering.
"Iya pengen gitu yang lain jalan-jalan aku pengen juga ngerasain." Ujar ana mulai membinarkan matanya ke langit. Membayangkan indahnya liburan.
"Kita mau liburan kemana?." Tanya kristi bingung. Kristi juga bukan anak jalanan.
Mungkin ini yang dinamakan sahabat sehati. Ana terlalu malas untuk keluar rumah. Sedangkan Kristi hobinya rebahan dan membaca novel.
"Liburan kita pergi ke mana yha enaknya?." Tanya ana balik bertanya.
Kini Kristi yang gak suka ribet itu jadi malas meladeni ana. Kristi tidak pernah ingin menghadapi pertanyaan yang berujung kata terserah dalam mengambil keputusan. Tapi...
"Terserah kamu aja." Kristi yang selalu mengajukan kata tersebut. Aneh bukan. Tapi itu kenyataannya.
"Aku bingung Kris ayo lah." Ana merajuk kepada kristi.
"Dah lah mending diem dirumah aja enakan biar gak item biar makin glowing." Jawab Kristi menatap malas ana.
"Tapi kan pengen juga keluar tapi bener juga sih terus enakan gimana yha."
Ucapan ana bener-bener membuat Kristi kesal. Dan akhirnya Kristi meninggalkan ana yang terus berpikir sepanjang jalan.
"Iss Kristi tuh kalau betek main tinggal tinggal." Kesal ana yang sudah berada didepan pintu rumahnya.
Moga suka yha jangan lupa like and comentnya. Bagi sarannya juga yha 😘😘😘