Complicated Story

Complicated Story
47.



Ana termenung dimeja makan dipesta keluarga ana dan Yudha sedang duduk bersama.


"Aku tidak menyangka bahwa Yudha begitu cepat melangkah," puji tuan A.K pada Yudha.


"Aku senang putrimu mau menerima lamaran anakku." Tuan Darmawan tampak begitu senang.


"Akhirnya kita bisa jadi besanan." Imbuh Nyonya Setiawati tersenyum bahagia.


"Kapan pernikahannya akan dilaksanakan?" tanya tuan A.K serius.


Sebelum menjawab pertanyaan tuan A.K, tuan Darmawan menatap istrinya lalu dia menjawab, "Kami ingin secepatnya kalau bisa dua Minggu lagi."


"Uhuk uhuk-" tuan A.K tersedak dia kaget mendengar jawaban dari tuan Darmawan.


"Wah apa itu tidak terlalu cepat?" tanya tuan A.K


"Kami tidak ingin menunda lagi, lagipula itu bisa menyebabkan masalah baru nantinya." jawab nyonya setiawati.


Tuan A.K menganggukkan kepalanya, "Iya itu benar saya juga setuju dengan pendapat anda."


Percakapan penuh tawa ria antara orang tua Yudha dan juga orang tua ana.


Disana semua terlihat bahagia kecuali ana, dia tampak kehilangan arah. Gelas yang sejak tadi dia pegang hanya dimainkan kekanan dan kekiri.


"Ana." Yudha menepuk pundak ana


"Humph." Ana terkaget dengan panggilan Yudha akhirnya minuman yang ada digelad itu tumpah mengenai Yudha.


"Astaga Yudha maaf," kata ana merasa bersalah dia kemudian berusaha membersihkan minuman yang ada dibaju Yudha.


"Yudha kamu gapapa?" tanya ibunya ana melihat kekacauan yang dibuat oleh ana.


Yudha menggelengkan kepalanya, "Tidak ada apa-apa, Tante boleh aku membawa ana sebentar?" tanya Yudha memohon ijin pada ibunya ana.


"Boleh jangan dibawa kekamar ya hahaha," gurau Ibunya ana.


"Ahahha tidak akan." Yudha mencengkeram erat tangan. Yudha membawa ana menuju halaman belakang yang dimana tempat itu dekat dengan kamar Mandi.


"Kamu kenapa ana, apa ada masalah?" tanya Yudha khawatir dengan keadaan ana.


Ana menatap raut wajah Yudha, "Bagaimana kamu bisa melakukan ini? bagaimana dengan keadaan kristi kenapa kamu mencampakkan dirinya?" tanya ana berusaha mencari tau.


Yudha hanya tersenyum saat mengetahui ternyata dia mengkhawatirkan sahabat lamanya, "Ana kamu tidak perlu khawatir aku tetap menjaga Kristi dari kejauhan meskipun aku tidak ada disisinya tapi aku tetap menjaga dia dengan sepenuh hati," kata Yudha seraya memegang kedua pundak ana.


"Kenapa kamu tidak melamar Kristi saja kenapa harus aku?" tanya ana lagi.


Yudha perlahan melepaskan tangannya dari pundak ana, "Kita sudah membahas ini sebelumnya kenapa kamu bertanya lagi?" tanya ana.


"Yudha aku ingin bertanya sesuatu padamu." Ana memegang tangan Yudha dengan kedua tangannya.


"Mau tanya apa?" tanya Yudha menatap lembut kearah ana.


Ana menatap manik-manik Yudha begitu lekat, "Apa arti cinta untukmu?" tanya ana.


"Cinta adalah ikatan yang dibangun oleh dua insan yang saling perhatian. Terkadang cinta tidak harus memiliki. Karena orang yang mencintai seseorang akan berusaha membuatnya bahagia meskipun bukan dia yang menjadi alasannya."


"Seperti kamu dengan Kristi. Kalian tidak saling memiliki tetapi kalian saling mencintai," sanggah ana menimpali.


Yudha tercengang dengan apa yang dikatakan oleh ana.


"Hari ini kamu melamarku kemudian perencanaan untuk nikah sedang disiapkan lalu setelah 2 Minggu kita akan menikah hubungan yang kita bangun bukan berlandaskan kasih sayang melainkan hanya untuk memenuhi formalitas belaka," kata ana menjelaskan semuanya.


Yudha tidak menyangka bahwa ana bisa mengatakan itu semua. Dia masih berdiam beku menatap ana.


"Layaknya kamu yang mencintai Kristi dengan tetap menjaganya dari kejauhan namun tidak berusaha untuk bisa memiliki dirinya. Begitu juga dengan cintaku pada kak Arya. Aku mencintai Arya." Ana kemudian pergi meninggalkan Yudha yang diam membisu.


"Pak sepertinya anda perlu istirahat, muka anda begitu pucat," kata asisten Yudha dirumah sakit.


Yudha kemudian melihat wajahnya di cermin yang pusat Pasih itu, "Sepertinya kamu benar aku butuh istirahat jika nanti ada sesuatu yang penting cepat hubungi aku," kata Yudha memilih untuk pergi keruang khususnya untuk beristirahat.


Dikantor ana bekerja tampak perusahaan sedang merayakan keberhasilannya. Setelah pengumuman pernikahan ana akan segera dilaksanakan banyak agensi ingin bekerjasama di perusahaan A.K.


Perusahaan A.K mendapatkan banyak modal dan beberapa hadiah dari agensi lain. Ana yang sedang memimpin rapat diruangan B3. Tampak para direktur begitu senang dengan sosok ana.


"Kami benar-benar senang dengan anda nona ana," kata salah satu direktur yang memuji ana.


"Iya kami sangat senang bisa bertemu wanita muda hebat dan berbakat seperti ana perusahaan A.K sangat beruntung merekrut anda sebagai GM utama diperusahaannya," imbuh salah satu direktur lainnya.


Ana menganggukan kepalanya hormat, "Terima kasih saya juga senang bisa bertemu dengan orang-orang hebat seperti kalian semua," kata ana seraya membungkukan badannya.


"Sungguh murah hati sekali nona ana ini."


Selesai rapat para direktur terus membincangkan kepribadian ana. Mereka begitu terpukau dengan kepribadian yang dimilki oleh ana.


Di ruangannya ana berpikir tentang perkataan direktur tadi.


Merekrut.


Kata yang terus berputar-putar dalam pikiran ana. Dia terus berpikir mengenai status dirinya dikeluarga tuan A.K sementara publik tidak benar-benar mengetahui bahwa dia adalah anak dari tuan A.K sendiri.


"Rasanya sesak," ucap ana memegangi dadanya sendiri.


Ana kemudian berpikir sesuatu yang akan dia rencanakan pada hari pernikahannya nanti.


"Permisi nona ada parsel." Tampak cs ada didepan pintu ana untuk mengantarkan parsel.


"Silahkan masuk pintunya tidak dikunci."


Setelah mendengar perinta ana cs itu kemudian masuk membawa beberapa kaet untuk ana.


"Ini ada parsel dan beberapa paket yang dikirimkan ke nona." Cs itu menaruh semua hadiah untuk ana diatas meja didekat sofa tamu.


"Dari siapa?" tanya ana mendekati semua hadiah yang dikirimkan untuknya.


"Sebagian besar dari agensi tapi ada juga yang dari personil. Ada yang tidak menulis namanya di greeting card." terang vs itu memberi tau ana.


"Baiklah kamu boleh pergi." perintah ana pada cs itu.


Setelah cs itu keluar dan menutup pintu ana memeriksa satu persatu parsel dan paket yang dikirimkan untuknya.


Diluar ruangan ana para karyawan menggosipi dirinya.


"Nona ana begitu hebat ya dia tidak heran jika dia bisa dilamar oleh ana dari tuan Darmawan."


"Dengar-dengar bahwa anak tuan Darmawan itu sudah kenal sejak lama dengan nona ana."


"Tidak menyangka yang dulunya dia hanya seorang model lalu menjadi GM diperusahaan kini dilamar oleh anak dari pemilik butik ternama."


"Tapi yang aku dengar anak tuan Darmawan itu bekerja sebagai dokter."


"Iya aku dengar juga kalau anak tuan Darmawan tidak ingin memegang butik yang dibangun oleh tuan Darmawan."


"Wah kalau begitu bisa-bisa nona ana yang menjalankan butiknya."


"Beruntung sekali ya takdir nona ana."


"Iya sudah cantik pintar berbakat sekarang dapat misua yang tajir dan juga ganteng."


Tapi nyatanya. Semua yang dilihat oleh mereka tidak semudah dengan apa yang ana jalani selama ini.