Complicated Story

Complicated Story
22



Dunia itu punya caranya sendiri menyampaikan sesuatu.


Tat kala kita tidak sabaran untuk bisa menikmati prosesnya.


Sulit untuk bisa menerima apa yang telah terjadi.


Karena yang terjadi terkadang diluar naluri diluar dari keinginan kita.


 


Aku hanya wanita biasa yang mengharapkan kasih sayang yang tulus dan ikhlas diberikan kepada ku. Seandainya itu menjadi sebuah kenyataan aku akan jadi orang yang paling bahagia dengan sebuah kesederhanaan.


 


 


"Kalau kamu bisa datang sendiri kesini kenapa harus aku antar untuk pulang?." Dimas tidak memperdulikan Risa, dia lebih memilih membantu ana untuk mengelap pakaiannya yang basah.


"Awas kamu ana!." Risa yang marah itu menghentakkan kakinya pergi dari restoran itu.


Ana jadi sedikit kikuk karena dia merasa bersalah atas kejadian ini.


"Kamu gapapa na?." Tanya Dimas kepada ana.


"Aku gapapa dim maaf gara-gara aku kalian jadi berantem." Ana benar-benar merasa bersalah atas kejadian yang terjadi.


"Gapapa kamu mau lanjut makan lagi atau mau pulang?."


"Pulang aja yuk aku udah kenyang." Ana kemudian bangun dari tempat duduknya.


"Yha udah ayo pulang lagian ini udah malam." Dimas kemudian membantu ana untuk merapikan kursinya itu.


Ana hanya mengangguk sebelum akhirnya mereka berjalan keluar dari restoran.


Malam yang sunyi ana sangat mengantuk dia lelah seharian ini sesekali dia menguap sebelum akhirnya benar-benar terlelap didalam mobil.


Dimas yang melihat ana seperti itu hanya senyum sendiri menahan tawanya. Setiap lampu merah berhenti Dimas sesekali melihat wajah ana yang polos itu.


"Kenapa bisa kita jadi sebuah keluarga, seandainya kita memang harus jadi keluarga kenapa bukan aku kamu yang membangun rumah tangga kenapa harus hubungan orang tua." Ucap Dimas saat itu terus memandang wajah ana yang terlelap.


Tin Tin Tin suara klakson mobil dibelakang berbunyi. Dengan sigap Dimas kembali mengendarai mobilnya menuju rumah


"Akhirnya sampai ahh." Dimas meregangkan otot\-ototnya yang pegal-pegal.


"Haruskah aku gendong dia? atau ku bangunkan?." Dimas bertanya pada dirinya sendiri.


"Gendong aja dah kasihan juga kalau dibangunin kelihatannya dia lelah." Dimas akhirnya menggendong ana masuk kedalam rumah.


Dimas merasa beruntung karena ada pembantu yang membukakan pintu untuknya jika tidak dia akan kesulitan menggapai ganggang pintu.


"Lumayan berat juga yha ana.."


"Hum." Dimas sesekali membenarkan posisi ana digendongannya. Menaiki anak tangga cukup membuat dia kerepotan karena tidak bisa melihat jalan.


Setelah sampai dikamar ana segera Dimas merebahkan tubuh ana dikasurnya dan menyelimuti tubuh ana.


"Mimpi indah ana.." Dimas mencium kening ana sebelum akhirnya dia keluar dari kamar ana.


Esok harinya...


Dikampus ana sudah sangat lelah menyelesaikan ulangan. Dia semakin kesal karena semalam dia tidak sempat mempelajari kisi\-kisi ulangan.


"Aaaaa kenapa semalam aku bisa tidur tanpa dosa." Kata ana kesal memasukan semua perkakas belajarnya.


"Hahahha ana bukannya hidup mu memang tanpa dosa." Nisa sengaja menyindir ana. Dia selalu senang melihat ana yang kesal itu imut baginya seperti Tom dalam permainan ponselnya.


"Kamu itu seneng banget lihat aku menderita." Ana menahan tawanya karena dia tau kalau bisa sedang bercanda dengan dirinya.


Ana dan Nisa kemudian berjalan menuruni tangga hendak keluar kampus menuju parkiran.


"Ana kamu nanti kepesta?." Tanya Nisa membuka basa-basi obrolan dengan ana.


"Iya nis kenapa?."


"Nanti bareng sama aku atau kamu sama ayah kamu?."


Mendengar pertanyaan Nisa, ana berpikir sejenak.


"Mungkin sama ayah aja nis." Ucap ana kemudian masuk kedalam mobil Nisa. Ana hari ini pulang bareng dengan Nisa.


"Temenin aku dulu yuk ke butik buat nyewa baju." Nisa memohon kepada ana untuk menemani dirinya.


"Boleh ayo aku juga pengen nyewa baju." Ana bertepuk tangan membayangkan butik yang akan dikunjungi.


"Ayo let's go." Nisa sangat senang kini dirinya ditemani oleh ana.


Saking senangnya sesekali mereka menyanyikan lagu dan berduet didalam mobil. Dengan nada sebisanya membuat mereka berdua tertawa mendengar suara nyanyian mereka sendiri.


Sesampainya dibutik ana dan Nisa memilah\-milah pakaian yang berjejer rapi itu. Ana sesekali melihat kemudian lagi mencari yang dia inginkan.


"Ana kamu mau pilih yang mana?." Tak ada jawaban dari ana yang serius mencari itu. Sedangkan Nisa sudah menemukan 2-4 baju yang dia akan coba dipakai.


"Ana kamu sudah siap fitting?." Ana hanya menggelengkan kepalanya kemudian dia asal mengambil 2 baju yang sebelumnya dia lewati.


"Nis aku pilih ini atau yang ini." Tanya ana saat sudah selesai mengganti pakaiannya dan menunjukkan satu baju lagi yang dia pilih tadi.


"Itu aja ana kamu lebih bagus pakai yang itu."


"Okeh deh." Tidak mah ribet dan ana juga tidak tau tentang style yang bagus ana akhirnya memilih pakai pakaian yang dibilang cocok oleh nisa.


Selesai fitting ana dan Nisa menandatangani surat penyewaan dan menyelesaikan administrasi. Setelahnya mereka kemudian pulang.


"Daa ana sampai jumpa nanti malam." Nisa melambaikan tangannya dari dalam mobil saat ana sudah menutup pintu mobil.


"Daa juga Nisa." Ana berjalan masuk kedalam rumah.


Terdengar ada suara sedang bertengkar. Ana mengurungkan niatnya masuk lewat pintu depan akhirnya dia memutuskan untuk masuk lewat pintu belakang saja.


"Ayah ada dirumah?." Ana yang baru masuk dari belakang itu heran melihat ayahnya yang sudah berada dirumah dijam kerja seperti ini.


"Kamu jangan melawan lagi lebih baik kamu nurutin kemauan ayah." Terdengar suara sang ayah sangat tegas.


"Ayah ini bercanda yha gak mungkinkan aku menikah padahal aku aja belum bisa dapatin uang aku sendiri." Dimas terlihat kesal dengan reaksinya yang membuang muka.


"Keputusan ayah tidak bisa diganggu gugat lagipula kamu sudah bertunangan Risa apa yang perlu kamu khawatirkan." Sang ayah kemudian berjalan menuju pintu depan.


"AHHHH Semua hubungan hanya terjalin untuk bisnis Ayah benar-benar tidak memiliki hati!!."


Prang! Dimas melemparkan gelas yang dia pegang itu sebelum akhirnya dia menaiki anak tangga.


Ana yang melihat kejadian itu hanya menonton dan terkaget saat tiba-tiba gelas itu dilempar oleh dimas


"Ada apa ini..." Ucap ana kemudian melangkah masuk kedalam menuju kamarnya.


Sebelum malam tiba ana menyiapkan dirinya untuk belajar terlebih dahulu. Dia tidak ingin besok ulangannya kacau seperti tadi pagi.


"Ana kamu udah siap?." Terdengar panggilan ibunya dari tangga.


Ana segera merapikan buku-bukunya sebelum dia berangkat kepesta.


"Iya Bu sebentar."


Ceklek


Ana terkaget karena tiba-tiba pintu itu terbuka.


"Hahahaha ibu ngagetin yha?." Ibunya itu tertawa melihat ana yang mengelus dadanya.


Ana terkekeh mendengar perkataan ibunya yang membuat dirinya malu.


"Ayo Bu aku udah siap." Ana kemudian memegang tangan ibunya, mengajaknya keluar dari kamarnya.


"Benerin dulu rambutnya sini ibu rapiin." Sebelum benar-benar menutup pintu kamarnya rambut ana dirapikan oleh ibunya.


Ana dan ibunya kemudian turun dari anak tangga terlihat ayahnya sudah menunggu diruang tamu.


"Wahhh putri ayah cantik." Puji ayahnya itu melihat ana turun dari tangga.


Ana hanya terkekeh mendengar perkataan ayahnya.


"Ayah kak Dimas mana?." Tanya Ana karena tidak melihat keberadaan Dimas.


"Dia sudah duluan pergi, Dia juga menjemput risa untuk menemaninya kepesta."


Ana hanya menganggukkan kepalanya mendengar perkataan ayahnya.


Didalam mobil hanya ada percakapan ayah dan ibunya dikursi depan. Sedangkan ana dikursi belakang hanya memainkan ponselnya dan saat dia bosan, dia melihat jalanan dari jendela untuk menghilangkan suntuknya.


"Ayo turun." Ana menganggukkan kepalanya saat ibunya membukakan pintu mobil. Ana kemudian keluar dan memasuki tempat acara itu.


Pestanya sangat ramai membuat ana malu dan terus menggenggam tangan ibunya. Kemana ibunya pergi dia selalu mengikutinya karena ana tidak menemukan siapapun yang dia kenal.


"Ana kamu nempel terus kayak gini enggak cari teman kamu?" Ana mengedarkan pandangannya mencari seseorang yang dia kenal namun yang dia temukan hanya Arya dan Dimas dengan Risa.


"Aku enggak ada kenalan disini Bu." Ibunya menggelengkan kepalanya terkikik mendengar ucapan ana.


"Mau gabung." Tiba-tiba Ana diajak oleh Arya untuk gabung dengan beberapa kenalannya.


Ana yang awalnya tidak mau dipaksa oleh ibunya untuk mengikuti arya. Ana tertunduk sambil mengikuti langkah Arya. Dia benar\-benar seperti anak itik yang mengikuti ekor induknya.


"Kamu malu banget yha?." mendengar pertanyaan Arya, ana kemudian mengangkat kepalanya melihat manik\-manik arya.


"Enggak." Terdengar suara ana serak karena saking gugupnya.


"Ini minum dulu." Ana menerima gelas berisi minuman yang diberikan oleh Arya.


Ana memikirkan dimana keberadaan Nisa. Tapi dia berpikir juga mustahil untuk bisa mencari Nisa diratusan orang yang ada di pesta ini.


Akhirnya ana hanya menikmati pestanya disamping Arya. Beberapa saat berlalu rangkaian acara pesta dia acuhkan begitu saja.


"Ana.." Ana yang awalnya melamun kaget saat Dimas menepuk pundaknya.


"Dimas, kamu ngapain disini?."


"Hahahha ana yang benar saja aku disini menghadiri pesta juga." Ana hanya terkekeh mendengar perkataan Dimas bisa-bisanya dia menanyakan hal bodoh seperti itu.


"Ana aku kesana dulu sebentar." Kata Arya mendekati salah satu orang yang tidak jauh dari pandangan ana.


Ana mengangkat bahunya acuh melihat kepergian Arya.


"Mau minum?." Dimas yang sejak tadi membawa dua gelas itu menawarkan minuman kepada Ana.


"Aku udah minum segelas dim." Tolak ana secara alus. Namun sepertinya Dimas tidak ingin ana menolak minumannya.


"Ayo diminum dulu akan lama menunggu jam makan malamnya hahahah." Gurau Dimas sambil memberikan segelas minuman kepada ana.


Ana tertawa pelan mendengar gurauan Dimas. Akhirnya dia meminum minuman yang diberikan oleh Dimas.


Beberapa saat kemudian ana merasakan kepalanya berputar dan sangat berat hingga akhirnya dia benar-benar tidak dapat mengendalikan kesadarannya.


Ana dibopong okeh Dimas menuju sebuah kamar. Ana yang masih setengah sadar itu berusaha keras untuk bisa melarikan diri.


"Dimas kamu ngapain!!." Teriak ana saat dirinya direbahkan disebuah kasur. Ana terus meronta, dia terus berusaha untuk bisa bangun dari dekapan Dimas.


"Diamlah disini ana biarkan kamu jadi milikku." Mendengar omongan Dimas yang racau itu ana berusah untuk bangun walau dia hanya memiliki setengah kesadarannya.


"Dimas jangan gila kamu!."



Jangan lupa like and comentnya yha Terima kasih yang setia membaca karya author <3