
Aku baru sadar satu hal, kalau hati ini, pikiran ini dan jiwaku sekarang tertuju pada satu nama, Zeferino. Sosok misterius yang mampu menggetarkan hati dan tubuhku. Dia menjadi salah satu orang yang aku cinta, iya aku mengaku bahwa diriku mencintainya tanpa syarat. Hebat bukan padahal aku baru mengenalnya kurang dari 20 hari, namun sudah jatuh cinta sedalam ini. Zeferino benar-benar mengerikan untuk jantungku.
Jika boleh jujur, aku ingin sekali dicintai begitu dalam. Namun, Zefer tidak mengenal cinta. Tapi, aku yakin dia mencintai diriku juga.
Sekarang aku dan Zeferino berada di Ibu kota Australia yaitu Canberra. Tempatnya sangat asri penuh tanaman dan pepohonan hijau serta tanaman indah lainnya. Aku tepat di jantung kota, makanya banyak bangunan gedung pencakar langit.
Indah bukan, pastinya.
"Yara," panggil Zefer. Iya, aku suka sekali Zefer memanggilku Yara. Panggilan manis yang sangat berarti.
"Hai, ada apa?" tanyaku sembari tersenyum tulus.
Zeferino duduk dengan nyaman di sampingku sembari bersandar di kursi. Ia terlihat lelah akhir-akhir ini. Perlahan kepalanya bersandar di bahu sempitku.
"Kamu tahu?" tanya dia cukup membuat penasaran.
"Tahu, apa?"
"Kamu terlihat sangat cantik saat tersenyum. Aku suka melihat dimple smile - mu, yang terlihat manis," puji Zeferino sukses membuat aku merona dan jantung berdegum keras.
"Apa aku salah mengatakan itu? Aku sangat menyukai senyuman manismu!" tegas Zeferino memuat aku kalang kabut.
Zeferino tersenyum manis melihat diriku salah tingkah. Rasanya wajahku panas mendengar pujian sang Suami.
Dia mengangkat daguku untuk melihat wajah merona ini. Ia terlihat menunduk tentunya guna mengecup bibir mungilku.
"Umh," desahku tatkala tangan nakalnya meremas pantat dan mengusap tengkukku. Ini memabukkan dan aku menyukai ciuman panas ini.
Zeferino mengangkat pahaku dan mengusap sampai membuat aku bergetar menahan sesuatu.
"Sayangku," bisiknya. Panggilan baru itu terasa manis di relung hati.
"Iya," jawabku gugup.
"Masakan aku, ya!"
"Baik, kamu mau makan apa?"
Kulihat bibir sexy itu melengkungkan senyum mesum. Jangan bilang?
"Kamu terlalu banyak berpikir mesum tentangku, Sayang," cibirnya sembari mengecup bibirku.
Ya Tuhan, malunya aku.
"Lalu mau aku masak in apa?" tanyaku berusaha tidak gugup.
"Masak nasi goreng pedas," sahutnya.
"Kamu itu suka sekali yang pedas-pedas," gerutuku.
"Pedas lebih menantang, Sayangku," kekehnya.
"Baiklah, bisa turunkan aku?"
Zeferino tersenyum mendengar perkataanku. Dia menurunkan tubuhku perlahan.
Kulangkahkan kaki menuju dapur membuat nasi goreng. Di tengah kegiatan saat aku memotong bawang merah ada yang memelukku.
"Akh ....!" pekikku karena jari telunjuk teriris.
Zeferino spontan mengemut jariku lalu membasuhnya. Tuhan, rasanya berdebar sekali.
Zeferino dengan cepat membawaku duduk lalu membalut luka dengan plester.
"Kamu ini harusnya lebih hati-hati," omel Suamiku sembari mengecup jariku.
Aku yakin wajahku pasti memerah terang gara-gara ini kulihat dia tampak panik tatkala aku tetap diam.
"Apa lukamu cukup dalam?" tanya Zeferino.
"Tidak, aku - aku," aku ini kenapa?
"Kamu sakit? Ya Tuhan, kalau begitu biarkan aku yang masak," panik Zeferino.
Aku tersenyum mendapatkan sisi romantis Suamiku. Saat masak, Zeferino terlihat sangat gagah.
Entah berapa menit kemudian, akhirnya nasi goreng selesai. Dia menghidangkan dengan sempurna. Baru kutahu, Suamiku bisa masak?
"Sini!"
"Eh?"
"Duduk di pangkuanku!" tegas dirinya.
Aku malu sekali sekarang dan harus bagaimana?
"Kamu ini," dengus Zeferino spontan menggotong tubuhku lalu kembali duduk dengan nyaman.
"Aaa ....!" perintahnya.
"Em," menggeleng karena malu.
"Apa aku harus menggunakan mulutku untuk menyuapimu?" tanyanya.
"Boleh juga," godaku sembari mengusap dada bidangnya.
"Umh ahn," desahan sialan. Bisa tidak Zefer berbuat biasa sekarang. Saat mengunyah tangan nakalnya masuk di balik pakaianku dan memainkan ******.
Rasanya panas dan sesak. Ingin lebih tapi malu.
"Kamu mau apa? Tetap makan menggunakan mulut dan berakhir begini atau kusuapi?" tantangan menggoda.
"Makan suapi," cicitku.
"Ok, padahal aku ingin dari mulut," kekehnya.
"Mesum," rengek manja ala Rosalicia.
"Kamu suka kemesumanku?"
Demi apa, kenapa ada orang seperti Zefer?
"Terlalu percaya diri," sinisku.
"Mau coba?"
"Coba ... ahhh ....!"
Kurang ajar, aku merasa gila saat tangannya kembali memainkan putingku dan mulutnya dengan erotis menjilat kupingku.
"Kamu suka?" goda Mr Zeferino menyebalkan.
"Iya," final.
"Hahaha, aku ahli dalam itu!" serunya penuh kebanggaan.
Dasar Zefer, bodoh. Aku ingin menjahit mulutnya.
"Aku mau turun," ketus itulah nada kugunakan sekarang.
"No, kamu belum makan begitu pun denganku," tolak Zefer.
"Aku bisa makan sendiri!" kekeh diriku.
"Makan sendiri? Baiklah asal little Zefer masuk sini!" bisiknya sembari menekan jarinya pada alat vitalku.
"Kamu sudah basah, Sayangku. Uh, nakal sekali," ejek Zefer sembari menggoda imanku.
"Baiklah aku menyerah, ayo makan," pada akhirnya kami makan saling menyuapi dan posisi tetap intim begini.
***
Aku menatap mansion mewah Zefer. Baru kutahu, rumah ini besar megah nan asri. Sekarang aku di kolam renang untuk berenang tentu saja.
Byur
"Siapa itu?" tanyaku ketakutan. Aku jadi ingat Dylan yang nyaris memerkosa diriku.
"Hai, Sayangku."
Dasar Zefer bodoh, aku takut sekali.
"Jangan cemberut, ayo mandi lagi, Sayangku," goda si iblis ini.
"Sudah tidak selera," merajuk itulah aku. Saat hendak berenang ketepian, aku merasa di tarik Zeferino lalu di bawa ke tengah kolam.
"Zefer, ini dingin. Aku mau pakai baju," pintaku.
"No, aku akan bermain air bersama kamu!"
Dasar sinting.
"Zefer," rengekku.
"Ayolah, Sayangku," pintanya. Jika boleh jujur aku sangat terpesona dengan tubuh kekarnya yang sangat menggoda. Kulitnya tan eksotis sangat menggairahkan .
"Kamu boleh meraba tubuh atasku," bisiknya sembari mengecup tulang selangkaku.
"Percaya diri," kilah indah.
"Kalau begitu biar aku raba tubuhmu," bisiknya dengan nada menggoda.
Spontan aku berenang menjauh biar tidak tertangkap. Namun naas si setan itu menangkapku dan hal erotis terjadi.
Cukup lama kami begini dengan irama erotis. Mungkin lelah akhirnya kami memutuskan untuk berhenti dan memakai bathrobe.
Grep
Ah, lagi-lagi dia berusaha menggodaku.
"Biarkan aku mengeringkan rambutmu," bisiknya.
Tubuh tinggi atelis dengan lekuk sempurna berdiri di belakangku. Usapan lembut aku rasa saat ia mengusap rambut panjangku. Dan aku merasa melayang tatkala Zeferino menggendong tubuhku menuju paviliun utama.
Kami hanya menggunakan bathrobe tanpa dalaman. Ini seperti keindahan yang di turunkan Tuhan untukku.
Zeferino Umoja Raymundo Teixeita, aku mencintaimu.