Burning Passion In Love

Burning Passion In Love
BPIL - Hope!



At Brazil, Rio De Jeaneiro, 09:30 PM!



Thomas menghembuskan napas lelah pasalnya 2 hari di sini rasanya tidak nyaman karena ke pikiran Zeferino dan Rosalicia.



"Rosa, apa kamu baik sekarang? Aku sangat merindukan dirimu," gumam Thomas.



"Kak Thom," panggil Emma.



"Iya, ada apa, Dik?" tanya Thomas seraya tersenyum tipis.



"Aku merindukan, Kakak," aku Emma.



Thomas terkejut mendengar perkataan Emma.



"Aku juga rindu kamu, nah besok aku harus menemui Kak Zefer!" tegas Thomas.



Emma mendekat dan tanpa diduga ia memeluk Thomas erat dan memberikan ciuman tepat di bibir.



Thomas terkejut spontan mendorong Emma lalu mengusap bibirnya kasar.



"Apa yang kamu lakukan, Emma?!" bentak Thomas seraya menatap sengit gadis cantik berperawakan mungil. Mata coklat muda itu terus berpencar tajam.



Emma menatap pria yang diam-diam disukai penuh luka. Sejujurnya pria ini adalah atensi terbesarnya.



"Emma suka Kak Thom!" aku Emma tanpa ragu. Mata biru laut terus berpancar penuh keseriusan.



"Ingat usia dan status, Emma. Kamu Adikku dan jangan harap lebih!" tolak Thomas.



"Aku tidak peduli Kak. Kita hanya saudari tiri. Kita tidak punya ikatan darah dan aku menyukaimu. Apa salah?!"



Thomas mencekam bahu mungil Adiknya, "Kita ini saudara... Lupakan perasaan itu dan jangan minta lebih."



Usai mengatakan itu Thomas mengecup dahi Emma dan berlalu begitu saja.



Emma menangis mendengar perkataan Thomas. Dia ingin Thomas menjadi miliknya. Ide gila muncul saat mengingat percakapan bersama temanya di kampus.



"Kamu akan jadi milikku, Kak!" kekeh Emma.



Emma membawa minuman dingin kesukaan Thomas.



"Kak, Emma minta maaf soal tadi. Sungguh tidak ada niat untuk berkata begitu. Aku bercanda," sesal Emma setelah berhasil masuk di kamar Thomas.



Thomas tersenyum mendengar perkataan Emma.



"Tidak apa, maaf juga berkata kasar," sahut Thomas.



"Tidak apa Kak, ini Emma buatkan minuman. Besok Kakak pergi jadi aku ingin meminta maaf dengan tulus," cicit Emma.



Thomas menerima air minum itu tanpa rasa curiga, lalu menegak sampai tandas.



"Yang lain mana, Dik? Ibu dan Kalila tidak ada di rumah. Mereka di mana?" tanya Thomas seraya duduk di tepi ranjang.



Emma ikut duduk di samping Thomas lalu mengukir senyum manis, "Mereka sedang berkunjung ke rumah, Kakek."



“Oo, aku pikir ke mana.”



Thomas merasa tubuhnya terasa panas dan bergairah. Dia berusaha mengontrol diri namun tidak bisa saat menatap bibir tebal Emma yang menggoda serta belahan dada terasa padat. Aliran darah semakin naik serta dengan memburu.



"Ada apa, Kak?" tanya Emma pura-pura khawatir.



Thomas menggeleng lemah untuk menghilangkan fantasi gila.



Emma tersenyum penuh arti. Dia berdiri hendak pergi dari kamar namun tubuhnya tertarik kuat oleh Thomas.



Thomas tidak tahan akan sensasi ini. Sangat sadar jika Emma menjebaknya.



"Kamu memasukkan obat perangsang, eh? Kamu harus tanggung jawab, Jalang!" Thomas langsung meraup bibir Emma tanpa ampun.




***



At Canberra, Australia ....



Zeferino merengkuh Yara erat sembari menangis pilu mengiringi kepingan masa lalu.



Yara mengusap rambut Zeferino lembut sesekali dia kecup puncak kepala prianya.



"Jangan takut, Zefer karena aku akan selalu ada!"



Zeferino hanya diam tanpa kata.



"Yara, aku ingin kita bersama selamanya. Aku ingin bersama," racau Zeferino.



"Kita akan selalu bersama, Zefer. Jangan takut," hibur Yara.



Zeferino bertahan pada posisi intim ini. Dia mendudukkan Yara di pangkuannya.



"Yara, aku tahu kamu sangat kecewa dan ingin memiliki keturunan dariku. Tapi ... Kita urungkan niat itu dulu karena aku belum siap, maaf!" sesal Zeferino.



Yara merasa pilu sekarang, trauma Suaminya pasti berdampak buruk jika tahu dirinya hamil. Mungkin ini belum waktunya untuk jujur mengingat keadaan Zeferino masih sangat buruk.



"Tidak apa, Zefer aku mengerti," terpaksa Yara mengatakan itu.



Zeferino menunduk dalam menghindari tatapan terluka Yara.



"Tapi aku janji akan melakukan terapi Psikiater agar trauma hilang. Tunggu sebentar saja setelah itu kita akan memiliki keturunan!" hibur Zeferino.



"Kamu serius mau berobat, Zefer?" tanya Yara tidak percaya.



"Serius, aku ingin menghilangkan trauma itu agar kita memiliki anak. Janji, setelah berobat serta mengatakan kebenaran kematian si kembar pada Paman dan Bibi, kita akan bahagia selalu!" tegas Zeferino sukses membuat Yara berhambur memeluk erat dirinya.



Zefer tersenyum tulus akan respons Istrinya. Sudah 6 tahun trauma membelenggu dan sekarang harus hilang demi kebaikan bersama.



"Zefer, sungguh aku ingin memiliki anak agar kelak bisa melengkapi rumah tangga kita. Aku sangat bahagia jika mendapatkan keturunan darimu. Zefer, aku sangat mencintaimu," tutur Yara penuh semangat.



Zeferino mengangkat dagu Yara lembut lalu mengecup mesra kening dan bibir Istrinya. Lalu kembali merengkuh Yara posesif.



"Aku juga ingin memiliki keturunan darimu. Aku juga sangat mencintaimu dan bersabar karena untuk sekarang belum bisa. Izinkan aku terapi dulu baru setelah sembuh kita akan membuat anak sebanyak yang kamu inginkan!"



Yara mengaguk setuju, "Aku tunggu."



Yara sekarang dilema berat akan situasi ini. Dia hamil anak pertama sementara Ayah biologis belum berniat memiliki keturunan. Dia harus bagaimana?



"Yara," panggil Zefer.



"Iya, Zefer," sahut Yara kalem.



"Aku ingin menyentuhmu," bisik Zeferino seedukatif.



Yara mendongak menatap Zeferino penuh makna. Tangan lentik itu menyapu indah wajah rupawan Suaminya.



"Aku belum bisa, Sayang. Aku takut kejadian beberapa minggu lalu terulang," tolak Yara halus sejatinya dia juga ingin sentuhan.



Zeferino tersenyum maklum mendengar penolakan Istrinya. Itu wajar dan mungkin dia akan gila jika Yara pendarahan lagi.



"Foreplay," bisik Zeferino sensual.



"Boleh, sentuh aku sepuas dirimu, Zefer," sahut Yara dengan aksen menggoda.



Zeferino tersenyum mendengar perkataan Yara. Dia mengangkat tubuh Istrinya menuju ke paviliun utama.



Suara desahan erotis terus menggema di kamar mewah Zeferino dan Rosalicia. Alunan merdu dengan irama sensual terus terdengar erotis.