
Thomas sedang membuat makanan untuk makan siang. Emma tadi yang masak namun berakibat fatal dengan muntah. Jadi, dia turun tangan untuk menggantikan posisi Emma.
"Kak, maaf," sesal Emma merasa bersalah karena tidak kuat mencium bau amis dan lainya.
Thomas mendekat kearah Emma. Tangan kekarnya terulur untuk mengangkat dagu gadisnya.
"No worrie, Emma. Sekarang tersenyum," ujar Thomas sembari mengecup mesra kening gadisnya.
Emma tersenyum manis mendapat perlakuan romantis Thomas.
"Begitu lebih baik, kamu tampak cantik," puji Thomas sukses membuat Emma merona parah.
Thomas yang gemas spontan mencubit gemas pipi bulat Emma lalu memberikan ciuman di bibir.
"Kamu sangat imut, Dik," gemas Thomas.
Emma mencubit perut berotot Thomas.
"Auch, sakit," lenguh Thomas pura-pura.
Emma panik melihat Thomas begitu.
"Kak, Emma terlalu keras ya mencubitnya. Maafkan Emma," panik Emma.
"Benar, ini sakit. Tanggung jawab," cetus Thomas ingin sekali mengerjai Emma. Adiknya begitu polos dan mengemaskan.
Emma spontan membuka celemek dan menyibak kaus tanpa lengan Kakaknya. Dia mengusap pinggang Thomas dengan polos.
"Ya ampun kok ada gadis polos seperti ini. Aku bercanda tahu tapi tidak apa sekalian bermanja sedikit," batin Thomas.
Emma menatap Thomas lagi lalu bertanya, "Bagaimana, Kak?"
"Masih sakit sedikit. Kamu jangan terlalu membungkuk begitu. aku bercanda, Sayang. Nah, sekarang duduk tenang aku tata makanan dulu," papar Thomas sembari berjalan kembali ke masakan.
Emma menunduk malu karena merasa di kerjai. Dia mengelus perut buncitnya, dan merasa bingung kenapa sudah terlihat buncit padahal belum ada 5 bulan.
"Nah, ayo makan!" seru Thomas.
Emma tersenyum manis dan mengambil nasi lumayan banyak. Nafsu makan meningkat drastis.
"Kak, apa aku terlihat semakin gemuk?" tanya Emma dengan menyuapkan nasi ke mulut. Dia terlihat lahap makan buatan Thomas.
Thomas mengusap kuah yang menempel di bibir sexy, Emma.
"Tidak, kamu tambah imut saat mengandung. Bagaimana jika aku terus membuat kamu hamil?" goda Thomas sukses membuat Emma tersedak.
Thomas panik akan kejahilannya. Dia memberikan minuman untuk Emma dan tentukan di terima Emma senang hati.
Emma mendelik horor melihat Thomas.
"Kakak enak tinggal buat, Emma kesakitan saat lahiran," cetus Emma dengan bibir mencebik.
Thomas tertawa lepas mendengar perkataan Emma.
"Kita sama-sama enak, Sayang. Aku ___"
"Berhenti, Kak. Mesum sekali," rajuk Emma.
"Ok, maafkan aku, Sayang."
Akhirnya mereka makan dengan diam tanpa candaan. Walau Thomas berusaha menghibur Emma yang merajuk.
***
Zeferino dan Yara sekarang berada di depan apartemen mewah miliknya yang ditinggali Thomas dan Emma.
Yara meremas jemari kekar Zeferino tanda gugup. Dia takut tidak di terima kembali sebagai sahabat oleh Thomas.
"Jangan khawatir, Thom baik, ayo masuk!" hibur Zeferino. Dia menekan bel beberapa kali dan akhirnya terbuka memperlihatkan sosok imut.
"Kak Zefer dan Kakak ipar, silakan masuk," ujar Emma.
Zeferino menggenggam tangan Yara sembari tersenyum teduh.
Yara melangkah masuk mengikuti Zeferino.
Emma mempersilakan duduk kedua Kakaknya. Dia izin mengambil minum untuk mereka sebelum itu meminta menunggu pasalnya Thomas sedang mandi.
"Pasti, kamu tidak perlu berpikir berat. Rileks Sayangku jangan tegang," bisik Zeferino.
Yara mengaguk sembari tersenyum teduh. Ia menautkan jemari mereka berniat mencari kekuatan.
Emma keluar membawa nampan berisi soft drink dan juga air putih.
"Kakak ipar bagaimana kandunganmu, apa sehat? Kurang berapa bulan lagi lahiran?" tanya Emma beruntun.
"Syukurlah calon anak kami sehat selalu, mungkin kisaran 2 bulan lagi," jawab Yara sekinanya.
"Wah selamat ya, Kak. Semoga berjalan lancar persalinannya. Mau normal atau Caesar?"
Memang dasarnya Emma cerewet makanya terus mengoceh membuat Yara senang.
"Normal, aku ingin merasakan rasanya menjadi Ibu sungguhan. Biar aku merasakan betapa luar biasa sosok Ibu melahirkan kita," jawab Yara penuh keyakinan.
Zeferino tersenyum mendengar perkataan Yara. Dia sangat bahagia memiliki Istri baik hati dan bijak.
"Wah, hebat, Kan. Emma juga mau lahir normal agar merasa betapa berat perjuangan Ibu melahirkan!" riang Emma namun berubah sedih mengingat Veronica. Ibunya membuang dirinya saat mengandung. Sejatinya dia sangat merindukan Ibunya.
Zeferino paham perasaan Emma.
"Setelah kamu lahiran dan siap perjalanan jauh maka aku dan Thom akan meminta restu pada Ibu. Jangan takut Ibumu sayang pada anak-anaknya. Walau aku membenci dia tapi tetap saja Ibu tiri. Tunggu sebentar lagi sebelum kami meminta kamu pada mereka!" tegas Zeferino.
Emma menangis mendengar perkataan Zeferino. Dulu sebelum bertemu Zeferino di restoran itu dia sangat membenci sekaligus takut pada Kakaknya. Ternyata Zeferino adalah sosok hangat penuh kasih sayang dan pengertian. Emma sangat senang menjadi Adiknya.
Yara tidak terlalu kenal dengan Emma dan tahunya mereka saudara tiri. Dia tidak suka dengan Emma dulu karena selalu sinis padanya dan Zeferino.
"Emma, siapa yang bertamu?!" Thomas berjalan menuju ruang tamu dan alangkah terkejut melihat Zeferino dan Yara.
Yara berusaha tersenyum hangat seperti dulu.
Thomas membeku melihat senyum yang sangat dirindu dari gadisnya dulu. Akhirnya melihat senyum itu kembali untuknya. Walau sadar Yara bukan miliknya lagi.
"Ada apa?" tanya Thomas seraya tersenyum pada mereka.
"Yara yang ingin berbicara padamu!" tegas Zeferino.
"Rosa? Ah, ada apa, Rosa?" tanya Thomas berusaha santai sembari duduk di sebelah Emma.
"Kak Ray, aku ingin meminta maaf atas salah paham selama ini. Sungguh aku tidak tahu kejadian seperti itu. Terima kasih banyak atas semua. Terima kasih telah menjagaku selama 3 tahun ini. Terima kasih banyak untuk semuanya, tolong maafkan aku yang membencimu," terang Yara bernada penuh sesal.
Thomas tersenyum manis mendengar perkataan Yara. Sungguh ini awal dari segalanya.
"Kamu bicara apa, Rosa? Aku sudah memaafkan kamu dan jangan terlalu merasa bersalah akan semua itu. Aku melakukan semua tulus untuk keselamatan kamu. Maaf aku menyakitimu terlalu dalam dan terima kasih sudah memaafkan aku!" tegas Thomas.
Yara menangis haru, "Aku tahu sedari awal kamu orang yang sangat baik. Sungguh ini sangat membahagiakan. Kak, maukah menjadi teman, Yara?"
Yara tersenyum penuh kebahagiaan. Sungguh tidak ada drama basa-basi, mungkin ini efek Zeferino tidak suka basa-basi.
Thomas lega sekarang dengan semangat mengulurkan tangan.
"Mati berteman seperti dulu."
Yara menerima uluran tangan Thomas dan mereka saling melempar senyum haru.
"Boleh aku memeluk, Istrimu, Kak?" izin Thomas.
"Why not?"
Emma tersenyum melihat mereka akur kembali. Ini kebahagian yang nyata. Dia tidak cemburu karena Thomas berjanji akan memberikan segala kebahagiaan untuknya.
Thomas merengkuh mantan gadisnya yang sekarang menjadi teman sekaligus Kakak iparnya. Dia sangat bahagia akhirnya kembali seperti semula.
Yara tersenyum bahagia pasalnya pria inilah yang mengantar menuju Zeferino. Thomas yang melindungi sepenuh hati dan berakhir beralih pada jodoh yaitu Zeferino. Dia sangat bahagia bisa menjadi teman untuk pria baik ini.
Zeferino tersenyum manis saat Yara merengkuh lengan kekarnya. Dia bisa melihat binar kebahagian pertemanan di mata keduanya.
"Aku mau bilang, kamu beruntung Emma mendapatkan lelaki Malaikat itu. Semoga kalian bahagia. Thom, maaf dan terima kasih!" tegas Zeferino.
“Terima kasih, Kak. Emma sangat bahagia mendapatkan Kakak sebagai Kakakku dan Kak Thom sebagai priaku.”
Thomas tersenyum manis lalu mengaguk, "Sama-sama, Kak!"
Zeferino dan Yara tersenyum haru mendengar perkataan dua pasangan. Hati mereka lega lega akan karunia Tuhan yang berlimpah.