Burning Passion In Love

Burning Passion In Love
BPIL - Attack!



Zeferino diam tanpa kata tatkala mengingat perkataan Yara. Hatinya hancur karena dibilang sandiwara. Hebat, tapi nyatanya benar awalnya dia yang meruntuhkan kepercayaan Yara. Lalu, kini dia menerima ganjarannya.



"Bos, apa kami boleh berpendapat!" celetuk salah satu dari mereka.



Zeferino mendongak menatap Mafioso yang berbicara padanya. Dia berkedip menandakan ingin mendengar pendapat salah satu Mafioso pilihan.



"Dari pandangan saya, Nyonya sangat mencintai, Anda begitu pun sebaliknya. Jadi, alangkah baiknya jika Bos jujur saja dari pada menyakiti satu sama lain!"



Zeferino terdiam mendengar pendapat sederhana bawahan-Nya.



"Masih banyak yang harus kuselesaikan demi mereka. Jikalau aku jujur dan melibatkan Yara dalam masalah maka hal tidak baik akan terjadi. Kamu tahu, banyak sekali musuh mengintai dan berusaha membunuh. Biarkan aku jadi pengecut asal semua aman!" pungkas Zeferino.



"Kenapa Anda begitu pengecut, lalu apa gunanya kami yang siap berkorban serta melindungi keluarga, Anda!" celetuk Mafioso lainnya.



Zeferino mendelik menatap orang yang berani mengatainya.



"Benar yang di katakan Math, Bos!" sahut mereka kompak.



"Kalian menyudutkan, aku," sinis Zeferino.



Math menghela napas sedikit panjang, "Anda itu tergolong gila serta pengecut. Pertama berhenti bersikap antagonis demi melindungi mereka. Kedua jangan bodoh terus-menerus karena sandiwara gila. Ketiga, Anda harus lebih terbuka jangan selalu tertutup. Anda selalu melangkah sendiri demi melindungi keluarga tanpa meminta bantuan kami. Tolong urungkan niat menjadi orang sok jahat dan tidak berperasaan!"



"Bawahan tengil, lancang sekali berbicara buruk padaku. Kalau bukan di rumah sakit aku pastikan mulutmu robek!" desis Zeferino namun sejatinya bahagia mendapat kata frontal.



"Saya siap mati untuk, Anda. Jadi ayo keluar lalu bunuh saya!" kekeh Math.



"Bangsat," umpat Zeferino ikut terkekeh.



"Jadi Big Boss kita, melangkah bagaimana?" goda mereka.



"Seperti di awal, aku ingin membunuh Dylan baru bergerak sesukaku."



"kapan membunuhnya?"



"Usai Yara keluar dari sini!"



"Baiklah, kami akan melindungi, Anda!"



"...." Zeferino memilih pergi dari pada menanggapi guyonan asin para Mafioso.



***



Zeferino melihat Istrinya yang mulai aktif lagi. Dia mengawasi Yara dari balik ruangan. Yara berdiri di pembatas balkon sembari menatap pemandangan asri.



Matanya memicing tajam melihat arah jam 4 ada seseorang mengarahkan anak panah pada Yara. Dia menekan alarm bahaya untuk para Mafioso penjaga.



Zeferino berlari ke arah Yara dan langsung membalik posisi dengan cepat.



Crash



Anak panah itu mengenai lengan kiri Zeferino. Namun sang empu tidak peduli asal Yara selamat Zeferino rela terluka. Dan dengan cepat dia mengarahkan pistol ke arah orang itu tanpa diketahui.



Dhor




Yara masih bingung karena tiba-tiba Zefer merengkuhnya dan tambah sok saat tahu Suaminya menembak seseorang.



Zeferino langsung menggendong Yara, dan melangkah pergi sebisa mungkin cepat.



Saat lari di koridor panjang ruang yang di tempati Yara terdengar ledakan besar.



Yara mendelik horor melihat itu dan baru tahu lengan kekar Zeferino terdapat anak panah menancap sempurna. Darah segar terus bercucuran dari luka Suaminya.



"Yara, kamu tidak apa-apa? Maaf!" khawatir Zeferino. Dia melirik dari balik jendela dan para Mafioso-Nya membantai mereka dengan tembakan beracun.



Para penghuni rumah sakit berhambur ketakutan mendengar ledakan dan penyerangan mengerikan.



Zeferino tidak peduli semua itu. Dia menurunkan Yara dan dengan santai mencabut anak panah tanpa kesakitan.



Yara bergetar melihat itu dan spontan menyobek pakaian bawahnya untuk membalut luka Zeferino. Dia bergetar menahan air mata serta ketakutan luar biasa mengingat kejadian barusan.



"Yara, kita akan sembunyi dulu. Apa kamu sudah merasa sembuh dan baikkan?" tanya Zefer.



"Harusnya aku yang berkata begitu, apa kamu baik? Apa luka ini tidak sakit?" Yara akhirnya menangis juga dan kembali suara ledakan besar terdengar mengerikan.



"Aku sudah biasa menerima luka dan untukmu aku rela mengorbankan nyawa. Kita lari sekarang karena banyak mara bahaya!" tegas Zeferino.



Pria tampan itu kembali menggendong Yara guna mencari jalan aman untuk lari. Cukup lama mereka menghindar dan berakhir di angkutan umum.



Seumur hidup, Zeferino baru naik angkutan umum. Demi tidak terlacak dia nekat membawa Yara naik bus.



"Yara, kamu tidak apa, kan? Maaf kita berlari." Zeferino mengusap rambut panjang gelombang Istrinya.



"Zefer, kenapa ... Kenapa kamu mengorbankan diri melindungiku? Tolong jangan sandiwara dan kembali menyakitiku. Sungguh tidak sanggup jika ini hanya akal bulusmu untuk menjatuhkan diriku lagi!" cicit Yara dengan tangis tersedu. Dia merasa hatinya sakit saat Zeferino berlari sambil menggendongnya, tidak peduli akan luka yang terus mengeluarkan darah.



Zeferino merengkuh Yara erat sembari mengatakan maaf. Tangannya terus mengusap punggung Istrinya dan memberikan kecupan berulang kali di puncak kepala Istrinya.



"Yara, maaf dan bertahan sebentar lagi. Aku serius tidak ada sandiwara sekarang. Tulus itulah yang kulakukan. Dengar aku menyukaimu dan akan semakin gila jika kamu terluka. Aku mengorbankan diri karena ingin kamu selalu aman tanpa tersakiti. Cukup aku yang menyakitimu jangan orang lain karena itu akan sangat menyakitkan. Maaf selama ini menyakitimu, jangan menangis karena sekarang kita aman," bisik Zeferino bernada serius dan tulus.



Yara menangis haru mendengar perkataan Zefer. Ingin percaya perkataan Suaminya yang terdengar sangat tulus penuh keseriusan, tapi juga ragu karena Zeferino begitu kejam.



Para penumpang menatap mereka aneh pasalnya Yara pakai seragam rumah sakit dan Zeferino berdarah-darah. Apa mereka kriminal?



Yara merengkuh erat Zeferino sembari menangis haru. Melihat tatapan aneh penghuni Bus sontak dia balik menatap mereka.



"Dia Suamiku. Aku tidak di culik dan bukan kriminal!" tegas Yara.



Zeferino terkekeh mendengar perkataan Istrinya, "Iya aku Suamimu. Sekarang istirahatlah kita tidak akan pulang ke rumah. Cepat Tidur karena perjalanan ini sangat lama!"



Yara mengaguk setuju lalu dengan manja minta pangku agar bisa tidur nyaman. Tentu Zeferino menuruti permintaannya.



"Dylan berengsek, mati kau. Berani sekali menyerang di rumah sakit dan jangan salahkan aku jika kau hancur tanpa sisa!" desis Zeferino dalam hati.