Burning Passion In Love

Burning Passion In Love
BPIL - Back!



At Canberra, Australia - 07:05 Am!



Thomas terkejut melihat Emma merintih kesakitan. Buru-buru dia mendekat dan melihat jari telunjuk Adiknya berdarah. Dengan sigap ia mengemut jari telunjuk Emma dan membasuh setelah selesai.



Emma hanya diam tanpa kata, hatinya berbunga dan jantung terasa berdegup gila.



"Lain kali hati-hati, masak itu fokus," omel Thomas.



Emma tersenyum manis mendengar perkataan Thomas. Dia di tuntun menuju kursi dan tambah berbunga saat pria yang dicintai mengobati lukanya.



"Nah selesai, biarkan aku yang masak," ujar Thomas tapi langsung diam tatkala lengannya di cekal Emma.



"Ada apa?" tanya Thomas terdengar lembut.



"Kak, aku ingin Mangga muda," cicit Emma karena takut Thomas marah.



Thomas mengerjap beberapa kali mendengar perkataan Emma. Gadis mungil ini sangat mengemaskan.



"Kak, aku tadi bercanda jangan di pikirkan." Emma panik sekarang melihat Thomas diam, pasalnya tidak mau Kakaknya marah.



"Kamu tidak perlu takut, aku akan carikan. Bagaimana jika kamu ikut mencari sekalian pergi jalan," usul Thomas sukses membuat Emma berbinar senang.



"Iya, Emma mau. Aku ganti baju dulu Kak. Nanti beli makanan juga ya Kak yang banyak!" pekik Emma tanpa sadar. Dia bertepuk tangan heboh membayangkan makanan lezat serta Mangga muda. Ugh, dia mau mengiler.



Thomas terkejut melihat respons Emma yang sangat bahagia. Sudut bibirnya tertarik membentuk senyum manis.



"Iya, aku tunggu. Jangan lari!" peringat Thomas saat melihat Emma hendak berlari.



Emma menyengir polos lalu berjalan santai menuju kamar pribadi mereka.



Mereka memang tidur seranjang alasannya agar Thomas bisa menjaga Emma setiap saat.



Thomas berdiri lalu membereskan masakan Emma.



Emma memberengut lucu melihat pakaiannya sudah sesak tidak muat. Dia melihat tubuhnya sedikit gemuk dan perutnya membuncit. Dia baru sadar kalau sekarang perutnya sudah besar sebelum waktunya.



"Aku seperti hamil kembar saja," gumam Emma.



Thomas masuk dan melihat Emma masih sibuk memilih pakaian mana yang cocok. Entah kenapa rasanya ada yang beda melihat Emma.



Grep



Thomas merengkuh Emma dari belakang dan tangannya mengusap perut buncit Adiknya.



Emma tegang merasakan pelukan Thomas. Dia menahan napas saat Kakaknya terus mengusap perutnya.



"Aku ingin memakan, kamu," bisik Thomas sukses membuat area selatan Emma berkedut.



"Kak, ahhh aku harus ganti nanti kita tidak jadi jalan, ahhh," ucap Emma sembari mendesah tatkala Thomas menjilati leher sembari memberikan rangsangan.



Mendengar desahan Emma membuat Thomas panas. Dia ingin dengar desahan itu lagi. Mungkin dia melakukan sex pertama kali dengan Emma di saat terpengaruh obat perangsang.



"Kak, ugh ahhh ...," racau Emma tidak tahan karena Thomas semakin Intim memainkan payudara dan menjilati telinganya.



"Emma, kita makan dan membeli Mangga muda nanti saja. Mau bercinta?" Thomas merasakan sesak sekarang. Tubuhnya panas bukan karena obat melainkan nafsu birahi.



Emma tambah panas dan basah, jika boleh jujur tubuhnya ingin di sentuh oleh Thomas.



"Aku takut, Kak," cicit Emma mengingat saat Thomas menjamah pertama kali dengan kasar dan terkesan menyiksa.



Thomas ingat kejadian itu dan pantas Emma takut. Dia membalik tubuh Adiknya lalu merapatkan tubuh besarnya ke tubuh mungil Emma.



Emma menunduk dalam tidak sanggup menatap. Thomas. Hingga merasakan tangan besar menangkup pipi gembilnya lalu sesuatu yang kenyal menyentuh keningnya.



"Aku tahu itu menyakitkan, aku janji akan pelan demi anak kita. Izinkan aku memilikimu!" tegas Thomas.



Emma mendongak menatap mata coklat muda Thomas penuh arti. Air mata mengucur deras membanjiri pipinya namun lagi-lagi Thomas menghapus dengan lembut. Hatinya tambah hangat dan jantungnya terpacu.



"Sentuh aku, Kak!" Emma mengecup telapak tangan Thomas lembut.



Thomas tersenyum tulus dan perlahan bibir mereka bersatu lembut.



***




Zeferino menunduk dalam sembari menjambak rambutnya kalut, karena pikiran tertuju pada Yara dan bayi yang di kandung Istrinya.



"Aku baru tahu Zeferino itu lemah dan cengeng. Ku pikir sosok es sepertimu itu iblis tidak punya perasaan," celetuk Mitchell.



Zeferino tersenyum kecut mendengar perkataan Mitchell.



"Aku manusia bukan robot," sahut Zeferino santai masih betah menunduk.



"Pangeran es tak punya ekspresi pada jamannya ternyata begitu rapuh. Bagaimana dengan pendapat penggemarmu jika tahu kalau Zeferino adalah sosok lemah dan cengeng?" ledek Mitchel.



"Siapa peduli? Aku manusia punya perasaan. Iblis sepertiku juga punya perasaan sensitif jika merasakan kesakitan!" papar Zeferino.



“Sulit di percaya Zefer sosok begini. Ternyata cinta mampu menumbangkan Pangeran es. Hebat sekali.“



Zeferino mengusap wajahnya kasar lalu tersenyum tipis.



"Kamu murid nerd ternyata sangat cerewet seperti wanita!" celetuk Zeferino kalem.



Mitchel berdecap sebal mendengar perkataan Zeferino.



"Apa salah pakai kacamata? Dan aku begitu karena mataku minus," kilah Mitchell lalu melanjutkan kalimatnya, "dan kamu menyedihkan sekali."



"Whatever," komen Zefer. Dia mendongak menatap langit rumah yang sudah di plafon.



"Aku juga tidak menyangka bisa bicara dengan kamu. Terkesan aneh saat dulu berteman di kampus. Kamu anak bangsawan dari Brazil dan memiliki otak genius tidak tersentuh membuat kami segan." Mitchell mengingat pada jamannya dulu.



"Kalian saja yang terlalu bodoh tidak menyapa. Sejujurnya aku kesepian saat kuliah. Mereka terlalu segan," sanggah Zeferino terdengar sendu.



"Iya mungkin saja, aku berterima kasih padamu karena menolongku dari senior berandalan dulu. Berkat itu kita berteman."



"Aku tidak mau melankolis lagi, Istriku membutuhkan aku. Aku pergi dulu!" Zeferino melangkah masuk setelah Dokter yang menangani Yara keluar.



Dokter itu memberi nasihat panjang kali lebar pada Zeferino sampai membuat sang empu pusing 7 keliling.



Para Suster dan Dokter yang mengenal Zeferino dingin sekarang tambah nge-fans. Mungkin gila karena sosok itu begitu lembut dan perhatian.



Zeferino menggenggam tangan Yara. Dia tahu Istrinya sudah sadar sedari tadi. Perlahan mengecup mesra punggung tangan Yara penuh sayang.



"Sayang, aku mencintaimu. Aku ingin kita kembali bersama. Mari pulang ke rumah dan menjadi penyemangat hidupku lagi," tutur Zeferino lembut.



"Aku tahu kamu sudah bangun sedari tadi. Tapi tidak apa biarkan aku bicara hari ini sampai kamu yakin," pungkas Zeferino.



"Aku tidak akan membahas masalah kita di sini. Aku ingin kamu dengar satu hal, aku sangat mencintaimu dan akan selalu begitu. 4 bulan tanpa kamu terasa mati tanpa kehidupan. Aku gila tapamu, Yara. Keseharianku tambah menekan untuk gila. Aku mencarimu ke seluruh benua Australia dan sekarang di benua Amerika aku menemukan, kamu. Tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang yang penting kamu ingat ini, Zeferino akan selalu mencintaimu dan akan bertahan untukmu!" tegas Zeferino.



Zeferino membisu melihat air mata Istrinya luruh karenanya.



"Boleh aku sentuh perutmu? Aku sungguh minta maaf soal ini, aku baru tahu setelah 3 bulan kepergian kamu. Aku hancur penuh rasa penyesalan. Karena trauma gila aku menyakitimu begitu dalam. Tidak ada maksud begitu, Sayang. Aku terapi sampai tidak sanggup memikirkan yang lain. Maaf, maafkan aku, Yara. Aku menyesal mengatakan kekejaman waktu itu. Jika kamu mau bisa benci, tampar dan hujat diriku, tapi satu yang harus kamu tahu aku akan menerimanya sepenuh hati. Aku minta maaf, Sayang!"



Zeferino tidak tahan sehingga membenamkan wajah di telapak tangannya. Hatinya rapuh dan sekarang sukses menjadi orang cengeng.



"Aku menyesal, Yara. Kenapa kamu tidak ambil uang sebanyak yang kamu mau? Kenapa hanya segitu? Sungguh jika kamu mengambil nyawaku sekarang aku ikhlas karena kematian ada pada dirimu. Yara, kenapa nasibku begitu runyam?"



Tangis Zeferino dalam diam. Hingga dia merasakan kepalanya di rengkuh erat oleh Yara. Dia tidak mimpikan? Apa ini mimpi saat Yara merengkuh dirinya erat.



"Bodoh, Zefer bodoh, aku sangat membencimu. Aku membenci tangisan dan kerapuhanmu. Jangan begini itu menyakitiku. Jangan menangis lagi dan aku lebih suka Zefer dingin, angkuh dan sombong. Aku tidak mau melihat Zefer-ku begini. Jangan lagi."



Yara mengusap rambut Zeferino lembut lalu mengusap punggung kekar Suaminya penuh kerinduan. Kalau begini ia bisa apa? Hatinya sangat sakit melihat Suaminya sangat lemah, rapuh dan menderita karenanya.



Zeferino tersenyum lebar mendengar perkataan Yara. Dia merengkuh Yara erat dan menciumi wajah Istrinya penuh sayang.



Tangan Yara menggenggam tangan besar Zeferino dan mengecupnya lama. Ia juga meletakan tangan Zeferino ke atas perut buncitnya.



"Baby, sangat ingin di sentuh Daddy," ujar Yara lembut.



Zeferino tersenyum cerah bersama Yara. Dia mengusap perut buncit Istrinya penuh haru. Karena tidak tahan Zeferino kembali merengkuh Yara erat dan menangis di bahu sempit Istrinya.



"Please, come back to me and let's go home," pinta Zeferino terdengar memohon dan penuh harap.



"Yes, i'm back for you, Zefer!"



Zeferino sangat senang mendengar perkataan Yara. Akhirnya perjuangan selama ini tidak sia-sia. Yara telah berada di pelukannya dan berjanji tidak akan melepas sang Istri.