
Excel meremet rambutnya kasar. Teringat kembali pertemuan pertamanya dengan Zeferino. Saat itu dia Siswa culun yang sering di ejek. Teringat saat Zeferino menyelamatkan dia dari berandalan Sekolah.
Sejak saat itu Zeferino memberikan uluran tangan pertemanan pada, Excel. Sahabat baiknya yang sangat berharga, hingga 6 tahun kemudian bencana datang saat mereka mengenal Violet.
Cinta Excel tidak tersampaikan membuat gelap mata. Ia dan Violet berselingkuh di belakang Zeferino tanpa mau tahu akibatnya.
Perselingkuhan itu sampai menghasilkan keturunan yaitu Leon. Namun, anak tidak berdosa itu meninggal dunia akibat kecelakaan.
Excel terpengaruh oleh ucapan Violet menyebabkan persahabatan dengan Zeferino hancur. Akibat perselingkuhan itu Dia dan Violet menjadi miskin karena Zeferino menghancurkan karier mereka.
Kebencian semakin menjadi kala itu. Namun, sekarang tinggal penyesalan tiada ujung. Kesalahan Excel begitu fatal kenapa menghancurkan sebuah hubungan tulus?
Sekarang di sinilah, Excel berada. Di depan rumah bak istana milik Zeferino. Dia ingin memulai awal baru dengan kembali berteman.
Para Bodyguard Zeferino menatap sengit Excel. Jelas tahu siapa orang tinggi berwajah tampan itu.
"Aku mau bertemu, Zefer. Apa ada di rumah?" to the point, Excel.
"Cih, pergi sebelum kuledakkan kepalamu!" gertak Math Mafioso tangan kanan Zeferino.
Excel berdecap sinis, "Aku ada urusan dengannya."
"Go you, bastard. Mr. Teixeita doesn't need a disgusting guest like you!"
(Pergi kau bajingan. Pak Teixeita tidak perlu tamu menjijikkan sepertimu!)
Math sekarang menodongkan moncong pistol tepat di jidat Excel.
Excel menahan napas sekarang karena kebengisan para Bodyguard Zeferino. Dia berusaha tenang agar tidak terjadi apa-apa.
"I just want to apologize. If you allow me to meet, Zefer! (Saya hanya ingin meminta maaf. Jika Anda mengizinkan saya bertemu, Zefer!)" pinta Excel.
"Nonsense, I don't believe your rotten words. Go before I really blow your head! (Omong kosong, saya tidak percaya kata-kata busuk Anda. Pergi sebelum aku benar-benar meledakkan kepalamu.)" bentak Math.
Zeferino kebetulan keluar dan melihat Math tanpa ekspresi. Lalu menatap Excel sengit, ada gerangan apa manusia itu kemari?
"Ada apa ini, kenapa ribut sekali?" tanya Zeferino bernada dingin.
Excel tersenyum melihat Zeferino. Sungguh bahagia bisa melihat Sahabatnya lagi.
"Maafkan kami Big Boss, manusia hina ini mencoba menemui Anda!" lapor Math.
Zeferino mengaguk, "Pergilah, aku tidak butuh kedatanganmu!"
Excel menggigit bibir bawahnya kasar. Saat Zeferino berbalik dia berseru lantang.
"Zefer, aku minta maaf. Aku tahu kesalahan ini tidak ter maafkan. Hanya saja, aku ingin meminta maaf atas segalanya!"
Zeferino membeku mendengar perkataan Excel. Berusaha tidak menggubris ocehan Excel, dia hendak melangkah namun berhenti.
"Aku menyesal, Zefer. Aku sangat menyesal. Maaf telah mengkhianati persahabatan kita. Maaf telah menusukmu dari belakang. Maaf membuat rumah tangga kalian renggang. Maaf untuk semuanya. Aku salah tapi hanya ini yang bisa kulakukan. Meminta pengampunan akan dosa. 6 tahun kita selalu bersama bak saudara. Kamu selalu melindungiku tapi ku balas dengan pengkhianatan. Maaf, Zefer!"
Excel meluapkan emosinya tanpa peduli dipandang mencemooh bawahan Zeferino.
"Aku sudah memaafkan kamu. Pulanglah jangan permalukan dirimu di depan mereka!" tegas Zeferino seraya menengok ke arah Excel lalu mengukir senyum tipis.
"Tidak, aku siap mempermalukan diriku asal kamu tahu ini tulus. Sungguh, Zefer maafkan aku. Aku tidak bisa hidup penuh penyesalan, tolong maafkan aku!" pinta Excel.
"Telingamu tuli, aku sudah memaafkan kamu. Pergilah dan lap ingusmu, itu menjijikkan!" sarkasme Zeferino.
Excel tersenyum penuh arti. Sahabatnya memaafkan dirinya. Merajuk saat Zeferino mengatainya. Dia tidak ingusan, sembarangan kalau bicara.
"Baru meminta maaf lalu memaki, tidak dapat dipercaya. Pergi atau aku ledakan tubuhmu!" gertak Zeferino.
"Aku siap mati di tanganmu, Zefer. Aku hanya sendiri dan hanya punya kenangan persahabatan kita. Aku menyesal, maaf!"
"Keparat, ini yang ingin kudengar permintaan maaf darimu. Walau terlambat tapi tidak masalah. Kamu orang pertama yang mau berteman denganku tanpa rikuh. Sudah, pergilah aku tidak mau berkata menjijikkan!" setelah mengatakan itu Zeferino pergi dengan senyum tipis.
Excel tersenyum lebar mendengar respons sahabatnya. Ternyata Zeferino masih sama yaitu pengertian, setia kawan dan pemaaf. Mulia sekali.
"Zefer, mau main game bersama seperti dulu? Aku pasti mengalahkan kamu!" teriak Excel.
"Tidak buruk," balas Zeferino sukses membuat Excel tersenyum bahagia begitu pun dengan Zeferino namun dalam hati.
Sejujurnya Zeferino adalah sosok rapuh dan sangat kesepian. Dia menutup kelemahan dengan sikap arogan, dingin, bengis nan sadis. Antagonis itulah yang sering dia perlihatkan demi menutup kerapuhannya.
***
Yara menyengit melihat Zeferino terlihat tersenyum sedari tadi. Kenapa Suaminya, setelah 1 minggu Thomas kemari Suaminya terkesan pendiam.
"Zefer, kamu sehat?" tanya Yara polos.
Zeferino tersenyum mendengar pertanyaan Istrinya.
"Menurutmu bagaimana, Yara?" tanya balik Zefer sembari mengecup rahang Yara.
"Emz, baik. Kelihatannya kamu bahagia. Ada hal baik?" tanya Yara penasaran.
"Iya, dia kembali menjadi Sahabatku. Setelah menunggu 6 tahun akhirnya kata maaf terucap dari bibirnya," cerita Zeferino terdengar antusias.
Yara bingung, siapa sahabat Zeferino. Tunggu, sahabat Suaminya hanya Excel. Jangan bilang?
"Iya, Excel telah mengakui kesalahannya. Sekarang kita kembali berteman," celetuk Zeferino menjawab pertanyaan di pikiran Yara.
“Benarkah?”
“Hn.”
Yara heran kenapa Suaminya begitu lihat membaca pikiran orang. Lalu Zeferino itu sangat bodoh saat tersakiti begitu dalam kenapa mudah sekali memaafkan.
"Aku hanya ingin berteman, Yara. Aku kesepian waktu itu, pasalnya Para Siswa tidak berani mendekat karena aku seorang bangsawan. Mereka rikuh dan Excel pertama kali mau berteman tanpa rikuh. Aku memang bodoh karena kesalahan fatal memaafkan orang begitu saja. Tapi, percayalah memaafkan lebih indah dari pada membenci. Mendiang Ibu selalu berpesan agar aku menjadi sosok kuat, mandiri serta menjadi orang yang lapang dada dan sebisa mungkin memaafkan kesalahan orang walau berat. Hidup hanya sekali, gunakan kehidupan dengan hal baik!" tutur Zeferino sembari tersenyum tipis.
Yara semakin mencintai sosok Zefer. Sosok misterius yang penuh kejutan manis. Inilah hadiah terindah yang diberikan Tuhan untuknya. Dia merengkuh Zeferino penuh cinta. Sangat bangga bisa mendapatkan Suami sebaik Zeferino.
Rasa puas hati karena Zeferino begitu genius dan mampu mampu membaca pikirannya tanpa harus mencetuskan dengan susah.
"Aku sangat bahagia mendapatkan Suami sebaik kamu, Zefer. Tuhan tidak salah memberikan takdir untukku. Kamu adalah Malaikat, Suamiku!"
"Kamu terlalu memuji, Sayang. Lalu bagaimana sekarang? Mau meminta maaf pada, Adikku?"
Yara tersenyum menanggapi perkataan Suaminya. Mengecup kilas rahang tegas Zeferino penuh makna.
"Iya, aku akan meminta maaf pada Thomas dan kembali berteman. Tapi, nanti kalau kita pelukan bagaimana? Apa Zefer akan cemburu?"
Kekehan Zeferino terdengar merdu mendengar ucapan Yara. Dia sangat bahagia akan karunia Tuhan.
"Aku percaya, Yara hanya mencintaiku dan akan selalu begitu. Aku sangat mencintaimu, begitu pun kamu. Cemburu, itu ada tapi aku percaya kamu hanya milikku!"
Yara kembali melayang layang ke udara mendengar balasan romantis Zeferino. Dia sangat bahagia hari ini lalu dengan sayang merengkuh Zeferino erat serta memberikan ciuman bertubi di wajah sang Suami.