Burning Passion In Love

Burning Passion In Love
BPIL - Bitter!



Yara terbangun saat merasakan Zeferino mengecup bibirnya.



"Good morning, my Wife," sapa Zeferino sembari tersenyum manis.



"Morning, my Hubby," sahut Yara.



Zeferino kembali merengkuh Yara posesif. Dia sejatinya masih mengantuk akibat kelelahan dalam perjalanan.



"Masih capek? Mau kubuatkan kopi?" tanya Yara.



"Tidak, aku ingin merengkuh, Istriku," tolak Zeferino.



"Baiklah, istirahatlah lagi." Yara mengusap rambut Zeferino lembut. Sesekali dia mengecup ubun-ubun Suaminya.



Zeferino memang dasarnya masih lelah akhirnya kembali tidur pulas dalam dekapan Istrinya.



Suara dengkuran halus keluar dari mulut Zeferino dan itu membuat Yara senang. Dia perlahan mengangkat kepala Suaminya untuk direbahkan di bantal.



Yara beranjak dari ranjang lalu melangkah ke bathroom untuk membersihkan diri.



Di dapur, Linda tengah asyik memotong sayuran serta memotong bawang merah.



"Aunty, maaf Yara telat bangun," sesal Yara.



"Tidak apa, Nak. Nah, duduklah di sana biar Aunty buatkan susu!" tegas Linda.



"Tidak perlu, Aunty. Yara, mau bantu masak," tolak Yara halus.



"Tidak bisa, ingat ngga boleh kecapekan." Linda menyuruh Yara duduk kembali.



"Tidak mau, saya terkesan manja nanti. Hanya masak itu tidak berat!" kekeh Yara.



"Baiklah kalau memaksa. Tolong bantu Aunty petik tangkai cabai!" pinta Linda.



Yara menurut saja memetik tangkai cabai. Dia dan Linda saling mengobral ria. Usai metik tangkai cabai Yara memblender bumbu.



"Sudah, Aunty, ugh...." Yara merasa mual mencium bau ikan spontan memuntahkan isi perut di wastafel.



Linda menepuk jidat karena baru ingat Yara hamil. Dia mengusap tengkuk menantunya dengan lembut.



"Bagaimana kondisimu sekarang? Kembalilah istirahat dan maaf baru sadar kalau Yara .... "



"Aunty.... " Zeferino memanggil Linda dari lantai dua.



"Kamu istirahat saja, Nak. Aunty akan singkirkan ikan ini dulu!"



***



Zeferino sedang duduk di teras belakang rumahnya. Terlihat pemandangan asri dan sangat menyejukkan.



Linda mendekat ke arah keponakannya. Dia memberikan segelas air putih.



"Ada apa?"



"Tidak, aku hanya rindu Ibu," jawab Zeferino jujur.



"Kamu bisa datang ke makam, Ibumu," sahut Linda.



"No Aunty, aku malas bertemu Veronica dan dua saudari tiriku." Zeferino merasa getir sekarang.



"Lalu?"



"Rindu ini sangat menakutkan," bisik Zeferino.



"Sabar, dunia memang kejam yang perlu Zefer tahu harus melawan Kejamnya dunia!" nasihat Linda.



"Tapi, saya tidak sanggup bertahan, pasalnya terlalu sakit derita ini. Hidupku hanya melindungi Thomas dan Yara."



"Kamu tidak perlu berbicara begitu, Aunty yakin kamu bisa. Mau punya seseorang yang lucu?"




"Anak!"



Zeferino mendengus mendengar jawaban Linda.



"Aku benci anak kecil berlendir. Aku tidak mau punya anak," sengit Zeferino.



Mata Hazel Linda membulat sempurna mendengar perkataan Zeferino.



"Apa maksudmu berbicara begitu, Zefer?" hardik Linda.



"Sudah jelas aku tidak suka anak, Bibi. Tahukah kamu aku tidak ingin punya seperti itu!" sarkasme Zeferino.



"Kamu sadar, anak itu sangat berharga harusnya kamu paham itu!" sinis Linda.



"Bibi, mereka merepotkan, suara tangisan itu membuat telinga berdengung, lagian pekerjaanku masih banyak!" celetuk Zeferino.



"Kamu keterlaluan, Zefer. Ingat, Nak ...! Kamu dulu juga anak-anak lalu kenapa bertingkah menjijikkan seperti ini!" hardik Linda.



"Karena aku benci anak kecil, Bibi. Tolong jangan bahas itu!" Zeferino marah sekarang.



"Lalu seandainya Yara hamil bagaimana? Apa kamu tidak mau mengakui buah hati kalian?"



Zeferino membisu mendengar perkataan Linda. Hatinya kalut dan memori masa lalu menghantam pikirannya.



"Aku tidak ingin punya anak dulu karena masalahku masih menumpuk. Jika Yara hamil aborsi saja!"



"Zefer ....!" teriak Linda karena sangat marah pada keponakan gilanya. Syukurlah Suaminya sedang tidak di rumah dan Yara tidur.



Zeferino menatap Bibinya dalam diam, "Ada apa, Bi?"



"Jaga ucapanmu itu, jangan bilang kamu bicara begini karena dia?" marah Linda.



Zeferino memalingkan wajah.



"Jadi benar, lupakan dia Zefer. Apa kamu menikahi Yara karena pelampiasan?" tanya Linda retoris.



"Tidak aku mencintai, Yara. Namun aku belum mau punya anak. Bagiku dia sudah mati, Bibi." Zeferino mengepalkan tangannya erat.



"Lalu?"



"Anak itu begitu menyakitkan, dulu kami punya anak namun dia menggugurkan bayi tidak berdosa tanpa ku ketahui, dan saat kami punya lagi ternyata itu anak orang lain. Itu sangat menjijikkan, Bibi. Aku trauma punya anak, lebih baik sendiri tanpa anak!"



"Ya Tuhan, Zefer. Kamu ternyata segila ini. Apa itu alasanmu?"



"Iya, aku tidak suka bayi karena bagiku sangat merepotkan dan membuka masa lalu. Aku tidak mau mengingat lagi!"



"Zefer, kamu harus belajar melupakan masa lalu. Jangan bertindak kriminal akan sesuatu tidak berdosa."



“Aku tahu, tapi untuk sekarang tidak ingin punya mahluk berlendir.”



"Bagaimana jika Vio datang kembali? Bukanya dia masa lalu yang sangat kamu cinta?"



"Aku tidak peduli, karena masa depanku, Yara!"



"Aunty mohon, jangan keras kepala Zefer. Soalnya keturunan itu penting dan Yara pasti menginginkan keturunan," bujuk Linda.



"Bibi, sejujurnya alasan sebenarnya aku tidak mau punya keturunan itu masih tersimpan rapi. Jangan paksa aku, karena sejatinya tidak mau memikirkan hal tidak berguna!"



Zeferino meneguk air putih tanpa sisa dan pembicaraan mereka tanpa sadar ada yang mendengar.



Wanita cantik yang sedang mengandung itu terkulai tidak berdaya. Hatinya hancur, jiwanya tidak mampu bertahan. Sakit sangat sakit. Ayah dari kandungannya tidak mau mengakui bahkan terkesan kejam.



"Ternyata dia pernah memiliki masa lalu dan mempunyai anak. Kejam sekali kamu Zefer, aku tidak sanggup. Kenapa kebahagiaan ini hanya bertahan singkat," gumam Yara setelah meninggalkan tempat persembunyiannya.



Air mata luruh deras dan jiwanya sudah tidak berbentuk lagi. Hatinya sangat sakit serta jantungnya berdegum nyeri sampai tidak mampu bertahan untuk menjabarkan.