
Apa yang akan kamu lakukan jika disposisiku?
Mempunyai Suami yang sangat kamu cintai dan sialnya kamu hanya di anggap, jalang!
Aku sadar hanya seorang jalang tapi bisakah menghargai diriku walau sekilas.
Kenapa dia memungut diriku dari tempat terkutuk itu jika pada akhirnya di hina begitu dalam?
Aku lebih suka jadi jalang di klub malam dari pada hidup menderita penuh siksaan.
Jika dunia boleh memberontak, aku ingin pergi selamanya. Pasalnya kehidupan nyata tidak semanis ekspetasi.
Apa sih gunanya bertahan jika terus menerus tersakiti?
Apa aku di lahirkan memiliki takdir buruk dan tidak memiliki kebahagiaan?
Tuhan Maha Adil, dan Engkau Maha Besar penuh akan misteri.
Jika boleh berharap, pada-Mu tolong kabulkan satu pintaku. Aku ingin memiliki jodoh baik yang bisa membahagiakan diriku. Jika Zefer bukan jodohku, maka pisahkan kami dan jika Zefer jodohku tolong beri kami kebahagiaan.
Tapi, kenyataannya Zeferino tidak akan menjadi milikku pasalnya calon istri sahnya selalu menempel selama setengah bulan ini.
Sudahlah lupakan itu karena selama ini aku terus berusaha melupakan perasaan sepihak ini. Aku berusaha mengontrol sakit hati walau tidak bisa.
Jika waktu dapat d ulang kembali, aku tidak mau hidup menderita seperti ini.
Aku ingin terbang bak elang tanpa rintangan.
Aku ingin seperti mentari menyinari dunia.
Aku hanya ingin kebahagiaan!
Jika boleh jujur perasaan cinta itu masih utuh bahkan terkesan tumbuh subur.
Aku lelah hanya ingin tidur walau sesaat.
***
Aku terpaku melihat Zefer dan Jennifer Selingkuhannya sedang asyik bercumbu di ruang tamu.
Hebat sekali, kalian begitu mengagumkan.
Air mata lagi-lagi luruh membasahi pipi. Kenapa aku sangat lemah sekali.
"Bisakah kalau bercinta di kamar?" hardikku setelah menghapus kasar air mata.
Zeferino menengok ke arahku sembari menyeringai mengejek. Sialan.
"Jalang murahan, kamu mau juga?" ejek Zefer sukses membuat aku naik pitam.
"Urus jalangmu. Aku tidak sudi!" sinisku.
Aku berbalik hendak pergi namun Zefer dengan kasar mencekal lenganku dan mencengkam rahangku. Sakit.
"Kamu hanya jalang tidak tahu diri. Syukur aku masih membutuhkan dirimu jika tidak kematian adalah pilihan!" desis Zeferino.
Aku menangis histeris karena tidak sanggup menerima kepahitan ini.
Tepat jam 11 malam hal sangat mengerikan aku dengar yaitu suara desahan erotis di samping kamar. Ya Tuhan, sakit sekali.
Aku tidak sanggup mendengar letupan suara erotis itu. Bahkan terdengar jelas suara mesum itu.
Sakit, Zefer.
Kumohon hentikan adegan Sex kalian. Ingat ada aku yang kesakitan.
Zeferino bodoh, tolong jangan buat aku tambah menderita.
Karena tidak bisa tidur aku memutuskan melakukan yoga agar tenang. Namun suara berengsek itu semakin menguat.
Zeferino, tolong hentikan!
Sakit sekali saat Suami sah mu bercinta dengan wanita lain di kamar pribadi.
Aku tidak mau dengar, jangan dengar. Hiks, sakit hatiku hancur.
***
"Sex semalam sangat nikmat," ucap Jennifer vulgar.
"Iya, mau bercinta di sini?"
Zeferino benar-benar ingin menguji kesabaranku.
Mereka pasangan gila yang sangat menjijikkan.
Aku berlalu begitu saja tanpa peduli cacian mengerikan mereka.
Jika begini aku berharap terlahir kembali tanpa efek menjijikkan .
Zeferino, aku ingin melupakan dirimu namun tidak bisa.
"Jalang kemari, kau!" panggil Zefer sangat menyakitkan.
"Ada apa?"
"Kamu jangan sok Licia, pasalnya aku Bos!" hardik Zefer.
"Terserah!"
Aku sudah tidak sanggup melihat pasangan ini terkesan sangat menyakitkan.
Suamiku begitu menjijikkan!
Aku tidak sanggup menatap adegan kissing menyedihkah.
Sakit!