
Zeferino mengobati luka di telapak tangan Istrinya lalu di lutut dan terakhir di sudut bibir. Ia mengecup semua luka itu tanpa ragu.
Wajah cantik Rosalicia merona parah diperlakukan lembut oleh Suaminya. Jantungnya berdegup kencang menahan gejolak kesenangan.
Zeferino menangkup pipi chubby Istrinya penuh perasaan. Ia memiringkan kepala dalam untuk mengecup bibir dan sudut bibir Rosalicia.
Rosalicia hanya mampu berdiam diri karena sentuhan Zeferino hingga merasakan lidah panas Suaminya menyapu wajahnya. Ia tahu itu lebam yang dihasilkan oleh tamparan keras Dylan.
Zeferino membawa Rosalicia ke dalam pelukan hangat.
"Maaf, membawa kamu ke tempat Neraka. Kita akan segera pergi setelah Ayah pulang lusa, setelah itu kita akan ke Australia!" bisik Zeferino.
"Benarkah? Aku tidak apa-apa tinggal di sini asal dengan mu," ujar Rosalicia.
Zeferino kembali menangkup pipi tirus wanitanya. "Jangan berpikir gila, aku tidak sudi tinggal di sini!"
"Kita tinggal di sini dulu, aku khawatir pada Dylan," cicit Rosalicia.
Zeferino mengatupkan bibir kuat.
Lalu menyerukan pertanyaan. "Apa yang kamu khawatirkan, Sayang? Iblis itu pantas mendapatkan itu!"
"Bagaimana kalau dia mati dan kamu berhadapan dengan polisi?" khawatir Rosalicia.
"Aku menari India jika Dylan mati lalu para polisi aku ajak sekalian menari," lawak Zeferino.
Mendengar lelucon garing Zeferino sontak membuat Rosalicia tertawa keras.
"Ahahaha, aduh memang bisa menari India?" tanya Rosalicia sembari tertawa lepas.
Zeferino tersenyum tipis melihat tawa merdu Istrinya. Dia mengusap pipi gembil Rosalicia lalu memberikan cubitan gemas.
"Aku bisa menari tentu, saja. Tapi, dalam mimpi!" sahut Zeferino kalem.
Rosalicia terdiam mendengar jawaban Suaminya. Dia sudah membayangkan Zeferino menari tarian India dhoom 2 again
Khayalan nista buyar gara-gara jawaban kalem Suaminya. Ingin sekali menerkam Zeferino sang es iblis. Ha, Rosalicia harus sabar menghadapi Suami macam iblis ini.
"Aku pikir serius, terbayang tubuh kekar ditunjang tinggi atelis mu cocok menari dhoom 2 macam Hrithik Rosan," kecewa Rosalicia.
"Kamu gila, itu jelas bohongkan. Mana sudi aku menari macam uler kekat seperti mereka. Keh, mending menari di ranjang sembari bergoyang pinggul!" cetus Zeferino dengan kuvulgarkannya.
Rosalicia mengaguk paham.
"You are mad at me, Honey?" tanya Zeferino.
"No!"
"If not angry, then why, Honey?"
"Nothing, aku mau lanjut tidur," sahut Rosalicia terdengar merajuk.
Zeferino menarik lengan langsing Rosalicia pelan lalu mengurung tubuh langsing Istrinya.
"Kamu ingin aku menari seperti uler keketpun aku siap asal itu perintah darimu, Sayangku!" bisik Zeferino seedukatif.
"Kamu, menyebalkan Tuan Teixeita!" rajuk Rosalicia.
***
Zeferino tidak memedulikan tatapan nyalang Veronika dan dua saudari tiri. Dia terkesan cuek sembari meminum vodka.
"Do you want, bitch?" tawar Zeferino dengan kasar. Dia kembali meneguk vodka enteng.
"Zeferino....!!!" teriak Henrique, Ayah kandung Zeferino.
Zeferino sepertinya tahu kemarahan Ayahnya. Pasti wanita iblis itu mengadu pada Ayahnya dan menyebabkan beliau pulang dari New York.
"Apa yang kamu lakukan pada, Dylan? Apa kamu tidak bisa tenang saat di rumah?" hardik Henrique.
"Lalu?" tantang Zeferino.
"Ya Tuhan, Zefer. Sadarlah kamu itu Putraku harusnya punya sedikit kebaikan. Tinggal di sini atau keluar?" marah Henrique.
"Dengar, Ayah. Apa yang akan kamu lakukan jika Istrimu dilecehkan saudara tiri bejat? Apa kamu terima Istrimu, dilukai dan dilecehkan?" tanya Zeferino terdengar santai namun menusuk.
"Suamiku, Rosa yang menggoda Dylan. Lihat mereka melakukan konspirasi untuk mendepak kami dari sini!" jerit Veronika.
"Ayah mertua, saya dan Zefer tidak melakukan konspirasi. Saat itu Suamiku pergi untuk urusan bisnis tepat tengah malam saya bangun karena haus. Saat di lorong ada seseorang membekap mulut saya lalu hal tidak senonoh dilakukan oleh, Dylan. Bahkan dengan keji dia nyaris melecehkan saya dan melakukan kekerasan terhadapku. Lalu, apa salah diami saya menolong?" papar Rosalicia tiba-tiba muncul.
Zeferino menghampiri Rosalicia. Dia merengkuh tubuh sintal wanitanya lembut.
"Aku tidak perlu pembelaan, Yara. Ayahku tidak pernah mempercayai diriku dan terkesan membuang. Ah, aku lupa anaknya bukan aku dan Thomas melainkan mereka. Sudahlah, mencari kebaikan nama tidak ada hasil jika di mata orang sudah rusak!" tegas Zeferino.
"Tapi, Zefer. Kamu Putra kandung kenapa berbicara begitu?" tanya Rosalicia. Dia sungguh bingung tentang keluarga Teixeita. Ada apa ini?
"Apa yang ingin kamu tanyakan? Kita pulang saja, aku tidak sudi tinggal di rumah hina ini!" marah Zeferino.
"Zefer ....!!! " panggil Henrique tampak kalut.
Zeferino tidak peduli mendengar panggilan sang Ayah. Dia lebih asyik menggendong Rosalicia menuju kamar.
Henrique tampak sedih akan perkataan Zeferino dan penjelasan menyakitkan tadi.
Lain sisi di kamar, Zeferino tampak terpingkal-pingkal. Syukur kamarnya kedap suara kalau tidak, pasti sudah di tendang.
Rosalicia menyengit melihat Zeferino. Kenapa Suaminya ini?
"Zefer, tadi kamu tampak dingin kenapa sekarang berbeda?" tanya Rosalicia penasaran.
Zeferino tersenyum mendengar pertanyaan Rosalicia.
"Acting, Honey. Lihat ekspresi horor Veronica, Emma dan Kalila saat kamu membela diriku. Lalu terakhir ekspresi Ayah. Rasanya puas melihat mereka horor begitu!" terang Zeferino.
"Kamu aneh sekali," komen Rosalicia. Kalau boleh jujur dia tidak tahu sifat asli dan segala tentang lelaki ini. Misterius serta sulit diprediksi.
Zeferino menarik pinggul Rosalicia sedikit kasar.
"Tidak perlu tahu sifat asliku karena sejatinya aku sendiri bingung dengan diri sendiri!" ujar Zeferino kalem.
Rosalicia mengaguk saja.