
Aku hanya diam membisu tanpa kata saat Zefer dan Jennifer kembali melempar candaan dan kevulgaran mereka di depan ku tanpa malu.
Sabar Yara, kamu kuat tinggal pura-pura tidak sedih.
Aku menyengit karena tidak mendengar desahan menjijikkan mereka.
Mungkin sudah pindah ke kamar, siapa peduli?
Kenapa jadi menyedihkan begini? Aku harus pura-pura tidak peduli dan tidak sakit hati namun hatiku remuk tanpa sisa.
Merasa bosan aku non ton TV sembari makan camilan. Biarkan saja mereka melakukan apa?
Mataku terus berfokus pada layar besar yang menayangkan berita tentang pembunuhan sadis. Dunia ini semakin dikuasai Psychopath.
Apa yang peduli?
Ugh, aku lapar ingin makan sesuatu sedikit manis namun gurih.
"Hai," sapa Jennifer sukses membuat aku menatap sinis.
"Sinis sekali, aku mau katakan sesuatu kalau kamu hanya jalang. Jangan sok menatap diriku begitu!" bentaknya.
Kurang ajar!
"Siapa kamu? Kamu juga jalang tidak lebih baik dariku. Kamu sadar tidak perbuatan dirimu sangat menjijikkan bak binatang. Binatang saja punya perasaan nah kamu? Kamu seorang wanita penggoda yang sangat menjijikkan pasalnya menggoda lelaki yang sudah beristri dan parahnya tanpa malu melakukan sex. Menakjubkan!" sarkasme, biarlah.
Aku baru sadar bahwa diriku memiliki mulut yang begitu tajam sekarang. Demi Tuhan selama ini aku selalu berkata baik tanpa mencela dan sekarang terkesan begitu mengerikan.
"Kau ....!" desis Jennifer terlihat marah.
Aku tidak peduli mending makan lagi tanpa peduli sumpah serapahnya.
"Sayang, ada apa?" tanya Zefer.
"Dia kurang ajar sekali. Dengan kejam si jalang mengataiku binatang menjijikkan karena menggodamu .....!!!"
Adunya dan masih banyak lagi omong kosongnya.
"Benar itu, Yara?" tanya Zefer dengan suara dingin.
"Kalau iya, mau apa?" tantangku.
"Jennifer, kamu pulang saja dan istirahat. Biarkan wanita jalang ini aku yang urus!" perintah Zefer pada Jennifer.
Zefer mau melakukan apa padaku? Aku kenapa sangat takut? Dengan langkah hati-hati aku berusaha menjauh takut akan situasi ini.
Jennifer berlalu setelah mengatakan hal menjijikkan. Dan saat aku mau masuk kamar Zefer terlebih dahulu menghadang.
"Kamu jalang keterlaluan yang sangat menjijikkan. Berani sekali menghina calon Istriku ...! Aku akan memberimu hukuman!" desis Zefer.
Aku mundur ketakutan akan sosoknya sekarang. Namun dia dengan kurang ajar menarik lenganku kasar dan menyeret diriku keranjang. Sebelum itu mengunci kamar dan sialnya kamar ini kedap suara.
Berlari menggapai pintu tapi hal kasar terjadi saat Zefer menggendong diriku bak karung panggul. Aku pukuli punggungnya namun tidak mempan.
Zefer ampun, perutku sakit saat diriku terlempar di ranjang.
Aku meringkuk ketakutan karena keganasannya. Tolong aku.
Hal mengerikan terjadi saat dia menyobek dress hitam yang kukenakan. Dia juga menyobek bra dan celana dalamku.
Aku takut, kututup tubuhku dengan selimut. Tolong jangan sakiti aku. Ini pemerkosaan paling mengerikan.
Zeferino tersenyum iblis melihat aku ketakutan begini. Saat dia menyibak selimut dan memaksa menyentuhku paksa.
Rontaan dan pukulan tidak ada artinya. Aku harus melindungi diri dan saat bibirku di lumat kasar aku gigit keras sampai berdarah bibirnya.
Plak
Tamparan cukup keras aku dapatkan dari, Zeferino. Dan karena tamparan itu aku merasa bibirku pecah.
Diam tanpa penolakan saat Zeferino menjamah tubuhku tanpa ampun. Tidak ada kelembutan. Hanya terdiam tanpa kata dan aku merasa seperti binatang sekarang.
Tanpa sadar air mata semakin deras membanjiri pipi karena kelakuan bejatnya. Aku membencimu, Zefer.
"Arghh ....!" raungku karena dia memasuki tanpa foreplay. Rasanya sangat sakit, penuh dan ngilu aku rasakan di bawah sana. Hingga Zeferino menggerakkan miliknya.
Irama awalnya pelan sekarang tidak terkontrol dan sekarang perutku tambah sakit dan rasanya tidak mampu menjabarkan.
"Zefer, sudah kumohon hiks, sakit Zefer, sakit ....!" racauku karena ini benar sakit.
"Kamu binatang, Licia. Kamu pantas dikasari!" desisnya tanpa berhenti.
"Arghh, sakit Zefer ampun hiks perutku sakit sekali, Zefer. Tolong keluarkan, tolong Zefer. Ah sakit .....!"
Aku tidak tahan menahan ini, Tuhan. Rasanya sangat menyakiti diriku. Aku pegangi perutku yang terasa kebas karena sangat sakit.
Tangis ini semakin melemah karena tenagaku sangat menipis. Tuhan, sakit tolong ampuni aku.
Saat kesadaran ini nyaris hilang aku merasa Zeferino mengeluarkan miliknya dan spontan merengkuhku seraya menepuk pipiku.
"Yara.... Hai kamu serius?" paniknya. Dan aku mendengar dia menelepon seseorang.
"Bunuh saja aku Zefer, aku tidak tahan," ucapku melemah seraya mencengkeram perutku yang sangat sakit.
"Yara, maaf. Tolong bertahan kita akan ke rumah sakit!" panik Zefer.
Ia memakaikan pakaian seadanya lalu mengangkat tubuhku, lalu merasa darah mengalir dari pahaku.
"Sa--sakit," ucapku berulang kali.