
Zeferino akhirnya kembali juga ke Albury guna menjemput Istrinya. Mungkin juga liburan beberapa hari untuk menenangkan diri.
Tapat jam 9 malam, Zeferino tiba di rumahnya yang ada di Albury. Cukup sepi tapi sudahlah. Dia melihat Paman dan Bibinya sedang non ton TV.
"Zefer, ya Tuhan, kok sudah pulang?" tanya Linda sembari menatap tubuh Zeferino. Memastikan apa keponakan nakalnya baik-baik saja.
"Jelas pulang, kangen Istri," celetuk Antonio.
Zeferino mendengus mendengar godaan mereka.
"Berhenti menggoda, Zefer. Di mana, Yara?" Zeferino melihat ke sekeliling namun tidak menemukan Istrinya.
"Tidur, seharian menangis dan merengek menanyakan kapan, Zefer pulang?" tukas Antonio seraya mengerling jahil.
Zeferino menggaruk pipinya yang tidak gatal.
"Baiklah, aku masuk dulu ya, Uncle and Aunty, Sorry terlalu rindu jadi mengoceh besok saja!" kekeh Zefer sembari berlari menuju lantai dua.
"Zeferino ....!!!" pekik Linda karena kesal campur gemas.
Zeferino melihat Yara-nya tertidur pulas. Dia tersenyum sendiri melihat Istrinya tampak tersenyum dalam alam bawah sadar. Mungkin memimpikan dirinya.
Zeferino menunduk untuk mengecup pelipis Yara lalu beralih mencium pipi Istrinya.
"Good night, love. Have a nice dream, I love you," bisik Zeferino lembut.
Lelaki tampan berperawakan kekar berjalan mengambil handuk di lemari. Zeferino melangkah masuk menuju bathroom.
Yara mengerjap beberapa kali. Dia merasa Zefer-nya telah pulang tapi kok tidak ada Suaminya. Apa bisikan tadi hanya mimpi? Air muka Yara berubah sendu dan detik berikutnya menangis karena rindu.
"Mungkin hanya halusinasi, Yara sadar Zefer masih di luar kota." Yara kembali tidur tapi belum bisa hingga mendengar pintu bathroom terbuka.
Zeferino melangkah santai. Dia hanya menggunakan selembar handuk untuk menutup daerah privasinya. Mungkin sedikit minum kopi bisa merelakskan pikirannya.
Zeferino memakai training panjang longgar. Saat hendak memilih T-shirt dia merasakan sebuah pelukan hangat membelenggu tubuhnya.
"Zefer," lirih Yara. Ternyata tidak mimpi tentu membuatnya sangat bahagia. Dia menempelkan wajahnya pada punggung kekar Suaminya yang polos.
Zeferino mengusap lengan Istrinya dan membiarkan Yara merengkuh erat dari belakang. Dia mendesis tatkala tangan mungil Yara mengusap manja perutnya berbentuk roti sobek.
"Yara," panggil Zefer tatkala tangan nakal Yara singgah di atas pusakanya.
Yara mengecup punggung Zeferino dan memberikan gigitan kecil pada punggung kokoh Suaminya.
Zeferino hanya diam sambil menikmati kenakalan Istrinya. Hingga Yara berada di depannya. Tangan kekarnya merengkuh pinggul Istrinya lembut lalu mengangkat, Yara.
Yara tersenyum cerah saat tubuhnya lebih tinggi dari Zeferino. Sementara Zeferino menahan tubuhnya.
Satu tangan ada di pinggang dan satunya di bawah pantat. Zeferino tersenyum saat Yara menunduk mengecup keningnya.
"Aku lebih tinggi, Zefer," kekeh Yara.
"Baiklah aku anggap tinggi dengan selisih 13 cm hanya buaian. Istriku ini tinggi aku pendek," goda Zeferino.
Yara memberengut lucu mengingat tingginya hanya sebatas rahang tegas Suaminya. Dia minta turun tapi nyatanya Zeferino malah menggendong ala pengantin.
"Aku bercanda, Sayangku. Ayo kita tidur." Zeferino mengecup mesra bibir Yara yang mengerucut lucu.
Zeferino tidur dengan posisi nyaman yaitu kepalanya ada di atas dada Yara.
"Kamu sangat capek, Zefer?" tanya Yara sembari mengusap rambut Suaminya.
"Maafkan aku membuat kamu begini, aku sadar terlalu memaksa kehendak. Sekali lagi maaf," sesal Yara.
Zeferino mendongak menatap mata biru Istrinya serta mengecup rahang Yara.
"Tidak apa aku suka. Apa pun untukmu, Istriku. Jadi tak perlu merasa bersalah," tutur Zeferino lembut. Dia tambah menyesap belahan dada Yara.
"Dasar perayu," cibir Yara.
"Just for you, Love!" goda Zeferino sembari mengecup mesra leher jenjang Yara.
Yara tidak mampu berkata karena wajah serta jantungnya mau copot.
"Yara," panggil Zeferino.
"Iya," sahut Yara.
"Ayo tidur," ajak Zeferino. Mendapat usapan beberapa kali akhirnya dia tertidur pulas nan nyaman.
Yara tersenyum teduh lalu mengecup puncak kepala Zeferino lembut.
"Good night, Huby. Have a nice dream, i love you." Yara juga tertidur pulas dalam dekapan Zeferino.
***
Zeferino dan Rosalicia pamit ke kebun buah milik Antonio dan Linda. Mereka menanam aneka buah seperti, apel, jeruk, stroberi dan mentimun.
"Zefer, ini serius indah sekali!" pekik Yara lalu berjalan cepat menuju pohon stroberi, "Zefer boleh di petik?"
"Iya, makanlah yang banyak," sahut Zefer kalem.
Yara bersorak senang mendengar perkataan Zeferino. Dia makan dengan lahap lalu mengambil buah apel hijau.
"Zefer, ini enak sekali!" seru Yara.
"Iya makanlah yang banyak," ujar Zeferino
Yara bersorak senang mendengar perkataan Zeferino. Dia duduk manis di tengah pohon Stroberi.
"Zefer, kemari!" teriak Yara.
Zeferino mendekat ke arah Yara lalu melotot horor saat Istrinya terpeleset plastik. Spontan dia berlari menyelamatkan Yara.
Bruk
Chup
Zeferino jatuh di tanah sementara Yara di atas tubuh kekarnya. Tangannya merengkuh Yara posesif guna melindungi sang Istri.
Yara memeluk perutnya sendiri karena takut calon anaknya kenapa-napa. Ia bersyukur Zeferino menyelamatkan dirinya dan kini bibir mereka bersatu akibat kecelakaan tadi.
Zeferino perlahan melumat bibir Yara dengan irama sensual. Tangannya semakin erat mendekap Yara lalu berakhir saat mendengar suara cempreng Bibinya.
"Ya ampun, Zefer. Kalau mau gituan ya di rumah jangan di sini ...."
Linda mengoceh panjang kali lebar namun Zeferino menanggapi santai.
"Aunty, Stop mengomel!" Zeferino menggendong Yara untuk kembali ke rumah.
Antonio hanya terkekeh geli akan tingkah Zeferino dan Istrinya. Lucu saja kadang gemas ingin geplak.