Burning Passion In Love

Burning Passion In Love
BPIL - Miss You!



Aku tatap tajam Adik tiriku dengan sinis. Dia sangat bodoh jika aku ingin berkomentar. Kenapa ada manusia gila macam, Emma?



Cinta itu buta, buta itu cinta. Klise, tapi kenyataan itulah fakta.



Gara-gara cinta dia berbuat nista sampai merugikan diri sendiri, kalau sudah begini mau bagaimana?



Sekarang aku ikut dia di apartemen kecil bahkan luasnya tidak sebesar kamarku. Tenang, Zefer ini ujian.



"Kemasi pakaianmu, mulai sekarang kamu tinggal bersamaku!"



Emma terkejut mendengar perkataanku. Iya, selama ini aku tinggal di Australia tanpa pulang ke rumah Ayah. Kami jarang berinteraksi jadi hanya kebencian dan dendam yang kami bawa.



"Kak ... Emma, bisa tinggal di sini saja, aku tidak mau merepotkan, Kakak," tolak Emma bernada bergetar.



"Baiklah, kamu tidak tinggal bersama tapi di apartemen milikku. Tidak ada penolakan!”



Emma menatapku dengan tangisan. Dasar wanita, cengeng sekali dan aku paling benci melihat wanita menangis karenaku terutama Yara.



"Kak, kenapa kamu baik padaku? Bukanya Kak Zefer sangat membenciku? Lalu kenapa Kakak masih mau menolong diriku?"



Oh, gadis kecil ini merasa bersalah akan perbuatan dulu.



"Apa salah seorang Kakak membantu, Adiknya? Iya, aku sangat membencimu sampai ingin melihat kamu menderita. Tapi, mana tega melihat Adik perempuan terlunta seperti ini!"



Aku terpaku saat Emma berlutut sembari mengatakan maaf berulang kali. Sungguh aku sejahat itu menyakiti saudari sendiri.



"Kak Zefer, hiks kumohon maafkan Emma. Maafkan kami yang tega memanipulasi kematian Bibi Jasmin, sungguh maafkan aku," sesal Emma yang kutahu dari hati.



Sakit tapi tidak berdarah mendengar perkataan Emma. Ibu apa aku boleh menghukum. Hati lembutmu melunturkan pertahanan, Zefer.



"Lupakan masa lalu, aku sudah memaafkan kamu. Lagian jika aku menuntut balas, Ibuku tetap dalam liang lahat. Jangan pikirkan masa lalu. Berdirilah!"



Emma menangis tambah keras dan terus mengatakan maaf. Kasihan sekali tapi aku tahu penyesalan itu sangat menyiksa.



"Kak Zefer, maaf tolong maafkan aku. Aku sangat jahat pada Kakak tapi kenapa bisa memaafkan, Emma? Aku menyesal, Kak. Sekali lagi tolong ampuni Emma yang pernah membenci Kakak sangat dalam."



"Aku sudah kebal mendengar lagu lama. Sudah jangan menangis aku sudah memaafkan kamu."



"Kak Zefer, kenapa kamu baik padaku? Aku tidak sanggup membalas kebaikan Kakak," tangisan Emma semakin keras.



"Aku begini karena kamu Adikku, sudah jangan pikirkan balas budi karena aku murni membantu. Cukup jaga keponakan kami dengan baik dan jadilah calon Ibu yang baik!"



Emma beranjak dari duduknya dan memelukku erat seraya menangis histeris. Apa ini rasanya punya Adik perempuan?



Emma menangis seraya mengatakan terima kasih dan maaf.



"Sudah jangan menangis, Kemasi bajumu?"



Emma ini pendek sekali ternyata. Tingginya cuma sebatas bahuku. Aku harus menunduk dalam sekarang.



"Kak Zefer, terima kasih dan aku akan berkemas segera!" senyumnya mulai terbit.



Usai Emma masuk, aku merebahkan diri di sofa kecil yang hanya menampung setengah tubuhku.



Yara, kamu sedang apa Sayang? 3 bulan kita berpisah, apa kamu merindukan aku? Yara, aku akan berusaha keras mencarimu sampai dapat.



Aku lihat cincin pernikahan kami lalu kuusap dengan penuh perasaan. Andai saja aku bukan Kakak Thomas dan anggota Mafia serta kriminal lainya, mungkin kamu tidak akan lari.



Yara, aku sangat merindukan kamu. Hatiku pilu setiap saat. Tiada hari tanpa memikirkan tentangmu. Tiada hari tanpa merindu. Tiada hari tanpa cintamu.



Aku sangat mencintaimu, Sayang. Tolong kembali padaku, Cinta.



Apa kamu sekarang sehat dan bahagia? Aku ingin segara menemukan kamu. Istriku, tolong jaga cinta kita jangan pernah melupakan aku.



Yara, aku ingin kita bahagia selalu dan kita akan bersama selamanya.



***



Zefer, apa kamu merindukan aku? Apa kamu sehat dan bahagia? Sungguh aku rindu dan juga takut bertemu.



Zefer, lihat sekarang calon anak kita sudah besar. Yah walau masih 23 minggu tapi aku sangat bahagia.



"Akh ... Baby, kamu nakal sekali menendang terlalu keras. Ayo kita tidur besok Mama harus kerja."




Aku ambil fotonya dan ku peluk erat di dada. Zefer, aku rindu.



3 bulan tanpa Zefer rasanya mati rasa, tiada gairah kehidupan. Tiada hari tanpa merindu, tiada hari tanpa cintamu dan tiada hari tanpa memikirkan tentangmu.



Pagi hari aku siap ke rumah sakit untuk bekerja. Aku minta Alexa dan Devina untuk menjaga toko.



Seperti biasa aku sapa mereka dengan ramah lalu tersenyum manis ke arah mereka yang menyapa.



"Good morning, Dokter Rose," sapa Doctor Mitchell.



"Morning, Doctor Mitchell."



"Seperti biasa kamu terlihat ceria."



"Dokter bisa saja, apa sekarang ada jadwal untuk pasien Onkologi?" tanyaku.



"Iya, aku harus melakukan operasi besar sekarang. Nah, sampai bertemu lagi."



Aku tersenyum dan ku rasa tepukan Dokter Grace.



"Kamu suka dengan, Dokter Mitchell?” Pertanyaan konyol.



"Tidak, aku hanya mencintai Suamiku!" tegasku.



"Tapi, kami lihat kamu tidak pernah membawa Suamimu ke sini," ledek mereka.



"Suamiku sibuk, mungkin beberapa bulan lagi akan datang," sahutku.



"Benarkah? Mungkin kamu mengada-ada, itu cincin pasti hasil mencuri." ledek mereka.



Ingin mengumpat tapi tahan, Yara.



"Kalau aku mencuri pasti di penjara, kamu tahu harga berlian ini? Membeli pulau pribadi cukup!"



Ya ampun kenapa sikapku songong begini mirip, Zefer. Efek mengandung mungkin perkataan jadi tajam dan songong tidak mau direndahkan.



Aku duduk sembari memeriksa jadwal hari ini.



"Hah, sombong. Eh, kalian tahu tidak, satu bulan lagi akan ada seminar loh. Katanya sih seminar ini di hadiri oleh ratusan pebisnis Handal, Dokter dan lainnya. Artis, model dan aktor juga datang!" heboh sekali dasar kampungan.



"Ah, benarkah? Apa Mr Teixeita juga akan hadir? Kamu tahu dari simpang siur, dia sangat tampan dan kekar. Kyaa ....!!! "



Mungkin aku salah dengar.



"Iya, beliau sangat tampan. Tidak sabar menunggu 1 bulan lagi."



Dasar wanita penggosip.



"Hoi, Rose. Kamu mau ikut ngga ke seminar satu bulan lagi. Ada Mr Teixeita loh!"



Degh



"Zefer," gumamku. Mungkin Teixeita banyak orang. Jadi hilangkan pikiran itu.



"Tidak, aku tidak bisa berdiri lama dan ya kalian tahu aku sedang mengandung."



"Kasihan sekali," cibir mereka.



"Lagian Suamiku lebih tampan dan akan datang," keyakinan gila.



"Wow benarkah? Aku ingin lihat seberapa tampan Suamimu itu!"



“Sangat tampan!”



Aku pergi karena ada pasien ingin berkonsultasi tentang onkologi. Lupakan itu semua Yara, mungkin Mr Teixeita itu bukan golongan Zefer.



Aku hanya ingin bahagia dan tenang. Zeferino, aku mencintaimu dan juga membencimu. Aku tidak tahu harus bagaimana jika bertemu dia.



Ingat Yara kamu tidak boleh lemah, harus kuat. Zefer hanya manusia hina yang tega menyakiti, mempermainkan dan menghancurkan dirimu.



Hanya benci dan ketakutan akan dia yang selalu muncul.