Burning Passion In Love

Burning Passion In Love
BPIL - Hubby!



Yara menatap Zeferino tidak percaya. Di sana ia melihat Zefer-nya terbaring lemah dengan bantuan pernapasan, dan berbagai selang menancap pada tubuhnya.



Hati Yara begitu hancur sekaligus menyesal. Andai saja waktu itu mau mendengarkan penjelasan Zeferino mungkin keadaannya tidak seperti ini.



Yara duduk di sisi kanan ranjang, sementara tangannya menggenggam erat tangan besar Suaminya. Dalam hati Yara hanya ada satu yaitu penyesalan.



Lalu hal bodoh lainya, kenapa Yara mau bunuh diri? Kenapa pikirannya kalut saat itu sehingga memilih jalan sesat. Turut bersyukur ada Ray yang menghalanginya, jika tidak mungkin nyawanya dan bayinya akan tiada. Dan parahnya lagi, pasti Zefer setelah sadar akan merasa kehilangan atau menyusulnya.



Tangis pilu mengiringi momen kebersamaan mereka. Saat mereka adu mulut dengan Zefer yang ngeselin tapi baik. Sejujurnya sosok ini belum dia ketahui kebenarannya.



Ceklek



Dokter pria kisaran 40-an datang bersama satu Suster untuk memeriksa kondisi Zeferino.



"Nyonya Teixeita, kenapa Anda baru datang?" tanya Dokter bernama Benjamin.



Yara menatap Dokter itu dengan pandangan terluka, "Saya juga baru tahu Suami saya ada di rumah sakit yang sama. Saya juga baru keluar dari sini!"



Dokter itu maksud sekarang, "Maaf sebelumnya, saya tidak tahu."



"Dokter, sebenarnya Suami saya kenapa? Apa Anda tahu kenapa dia begini?" tanya Yara berusaha menuntut jawaban. Sejujurnya dia tahu kebenaran itu tapi mungkin saja di rekayasa.



Dokter itu tersenyum menanggapi perkataan Yara.



"Suami Anda 4 hari yang lalu di larikan ke sini. Saat saya tangani Mr Teixeita sempat kehilangan nyawa 5 menit. Tapi, saya bersyukur dia masih kembali walau dengan kondisi buruk. Detak jantung lemah sampai sekarang dan kami harap cemas ...," jeda Benjamin.



"Mr Teixeita, di diagnosa overdosis obat perangsang dan penguat serta alkohol membuat semakin berisiko. Di tambah kecelakaan itu mengakibatkan Tuan Teixeita terluka serius ...," imbuh Ben.



"Satu hari kemudian semua terungkap. Para polisi menyelidiki kasus ini dan ternyata Nona Violet dalang dari semuanya. Wanita itu melakukan sabotase untuk ... Untuk tidur dengan Suami Anda. Polisi melihat dari CCTV Mr Teixeita keadaan begitu buruk. Namun, saat di koridor Mr Teixeita berusaha menjelaskan pada, Istrinya. Dia tersungkur beberapa kali dan nekat menggunakan tangga darurat agar mengejar Istrinya yang salah paham!"



Dokter itu menjelaskan dengan sedikit detail. Dia harap cemas melihat reaksi Istri pasien.



Yara tergugu mendengar penjelasan Dokter. Rasanya sangat sakit sampai tidak sanggup menjabarkan.



Dokter dan para Suster berlalu begitu saja setelah memberikan suntikan stamina.



Yara kembali duduk di sisi ranjang Zeferino. Tangannya menggenggam erat tangan besar Suaminya.



"Zefer, hiks kumohon jangan tinggalkan aku. Tolong sadarlah jangan buat aku terluka. Kita saling cinta dan aku janji kita akan bahagia selamanya. Zefer," tangis Yara.



Hanya penyesalan berlipat ganda menghantam kalbu. Andai waktu dapat di putar, Yara ingin mendengar penjelasan Zefer dan langsung menolong Suaminya.



Jika saja dia tidak buru-buru pergi Zefer tidak mungkin lewat tangga dan berakhir tragis. Ini semua salahnya karena tidak mampu mengendalikan pikiran.



Yara naik ke ranjang lalu ia menunduk mengecup kening Zefer-nya yang terlilit perban. Hatinya hancur sekarang melihat Suaminya begini. Jemari lentik Yara mengusap sayang pipi dingin Zeferino.



"Zefer, tolong bangunlah. Aku sangat sakit, Zefer. Hiks, tolong bangun!" pinta Yara dengan tangis pilu.



Yara kembali mencium pipi Suaminya sangat lama. Air mata luruh deras dan menetes di wajah Zeferino.



"Zefer, kamu bilang kamu sangat mencintaiku dan tidak suka melihatku menangis. Lihat Zefer, aku datang untukmu, Istrimu kembali penuh cinta. Tolong sadar, Suamiku. Apa kamu membiarkan diriku terus seperti ini?"



Yara tidak tahan sekarang akan situasi. Dia tambah histeris dengan semua ini. Jiwanya tidak mampu bertahan melihat orang yang sangat dicintai terkulai lemah.



"Zefer, hiks kumohon jangan begini terus. Aku janji akan selalu menemani dan mendengar penjelasanmu. Sayang, aku datang untukmu, kamu tidak perlu berlari menggapai karena di mana pun aku berlari maka hanya kamu tempat untuk pulang, Zefer!"



Yara hanya ingin Suaminya mendengar segala ucapannya agar lekas bangun. Dia menatap Zefer lama dan alangkah terkejut saat melihat ekor mata Suaminya menetes kristal bening lumayan deras.



Hati Yara tertusuk kembali melihat itu. Suaminya mendengar tapi tidak mampu membuka mata. Hatinya sangat sakit sekarang mengingat kepiluan Zeferino.



"Zefer, jangan menangis karena aku menunggu kamu siuman. Sayang, aku sangat mencintaimu!" tutur Yara sembari mengusap air mata Zeferino.



Yara mencium pelupuk mata Zeferino penuh perasaan. Dia juga beberapa kali mencium pipi dan kening Suaminya.



Merasa lelah, Yara merebahkan diri di samping Zeferino. Dia tetap memanggil nama Zefer dan mengatakan kata maaf serta cinta.




Yara masih menangis tersedu sembari menyembunyikan wajah di lengan kekar Zeferino.



Mata tajam berpupil Green akhirnya terbuka kembali walau sekarang terlihat redup. Zeferino belum mampu bergerak dan bersuara. Hatinya miris mendengar tangisan Istrinya. Namun, juga bahagia pasalnya Yara kembali. Dia mampu mendengar perkataan orang di sekitar tapi tidak mampu membuka mata.



Selama koma, dunia Zeferino di selimuti awan. Dirinya hanya di ambang hidup dan mati.



Zeferino berusaha menggerakkan tangan kananya. Dengan usaha sedikit keras tangannya mampu menyentuh kepala Yara.



"Ugh," lenguh Zeferino merasa kepalanya berdenyut nyeri.



Yara tercengang merasakan sentuhan di kepalanya dan lebih sok mendengar lenguhan kesakitan. Sontak dia mendongak guna memastikan semuanya. Binar bahagia tercipta namun juga panik saat Zefer-nya menyengit kesakitan.



Yara bangkit lalu dengan terburu menekan tomboi darurat.



"Ya--Yara," parau Zeferino.



Yara langsung menggenggam tangan kiri Zeferino.



"Zefer, tenang ada Dokter akan segera datang. Aku di sini jangan khawatir!" hibur Yara.



Zeferino menggenggam tangan mungil Yara sedikit erat.



"Nyonya, mohon turun dan tunggu di lu---" Zeferino menyela perkataan Dokter dengan galengan.



"Baiklah, saya mengerti." Dokter memberikan penanganan untuk Zeferino.



***



"Yara," panggil Zeferino dengan suara parau.



"Iya, Zefer," sahut Yara.



"Air," ucap Zefer.



Yara mengambil air dan membantu Suaminya untuk minum. Dia kembali menaruh gelas di nakas.



"Yara, jangan menangis," pinta Zeferino bernada sedih, "aku benci melihatmu menangis."



Bukanya berhenti Yara semakin tersedu histeris.



"Yara, jangan menangis kumohon. Aku sudah baik-baik saja," hibur Zeferino dengan suara lemah.



"Aku tidak kuat, Zefer," aku Yara.



"Jangan tinggalkan aku, Yara. Kemarin itu hanya salah paham dan perkataan Excel salah. Itu semua salah paham!" panik Zeferino mendengar kata tidak kuat.



Yara menatap Zeferino menyesal karena Suaminya begitu tulus dan jujur. Bahkan di saat sakit masih saja ingin menjelaskan walau suaranya lemah.



Yara mencium bibir tebal Zeferino cukup lama. Dia tidak mau mendengar Suaminya berkata lagi.



"Aku percaya, Zefer. Kamu adalah segalanya bagiku. Aku sangat mencintaimu, Zefer. Cepat sembuh agar mampu melindungiku!" bisik Yara.



Zeferino tersenyum mendengar perkataan Yara.



"Thank you so much, Wife. Aku juga sangat mencintaimu!" balas Zeferino tulus.



"You're welcome, Hubby."



Yara tersenyum saat Zeferino memintanya merebahkan diri dan berbantal dada.



Berbagai selang sudah lepas dan kini tinggal selang infus yang menancap di tangan kanannya. Zeferino tersenyum bahagia mendapati Yara kembali bersama. Dia menciumi puncak kepala Istrinya dengan penuh kebahagiaan.



"Tuhan, semoga ini awal yang baik untuk rumah tangga kami. Dan tolong jangan beri cobaan lagi untuk kami!” doa Zeferino dan Yara dalam hati