
Dunia hancur saat usai melakukan terapi aku bertekad mengatakan kejujuran pada mereka. Tapi, lagi-lagi Bibi histeris mengetahui fakta bahwa si kembar meninggal karena Leon.
Aku bergejolak tinggi namun harus kuat. Paman menatap diriku terluka dengan tangis menyayat hati.
Usai mereka tenang hal mengejutkan terjadi, aku dengar bahwa Istriku hamil. Tidak, Yara tidak pernah bercerita tentang kehamilannya. Namun, tunggu dulu dia selalu manja, Mood berubah-ubah dan meminta hal ganjal. Itu semua tanda wanita hamil.
Tiba-tiba jantungku terasa tertikam belati tumpul mengingat saat Yara mengatakan mendengar pembicaraan aku dan Bibi. Pantas dia bersikap begitu, ternyata ini salahku.
Istri mana tidak sakit hati sebelum mengatakan kehamilan pada Suaminya, malah sang Suami menolak keras anak itu karena trauma.
Aku tidak sanggup, jiwaku hancur lebur sekarang. Jadi, Yara-ku pergi bersama anak kami dan hidup bagaimana? Sungguh kejam aku ini.
Aku meminta maaf sangat tulus pada Paman dan Bibi agar mereka memaafkan kesalahanku. Aku sangat bersyukur mereka memaafkan kesalahan besar itu.
Dan di Charlotte aku berdiri mematung menatap Yara yang sangat kucintai dan ku rindu. Mata kami berserobok penuh arti.
Mataku bergulir menatap perutnya dan benar adanya Yara-ku hamil. Sakit, kenapa begini?
Entah sejak kapan air mata menetes membasahi pipi. Tubuhku lemah dengan penyesalan membelenggu.
Yara, tolong maafkan Suami biadabmu. Aku terus menatap Istriku dengan derai air mata haru serta rasa menyesal tinggi.
Aku hapus air mata dengan sedikit kasar lalu saat hendak mendekat, Yara berjalan cepat masuk ke dalam dan mengunci pintu. Spontan aku loncat dari pagar dengan tinggi sepinggul .
Mereka menatapku aneh. Siapa peduli.
Yang kuinginkan hanya satu merengkuh Istriku sembari mengatakan maaf dan meluapkan emosi akan rindu membelenggu.
"Yara ... Please, buka pintunya. Aku datang menjemputmu, Sayang. Sayang, jangan begini kumohon. Sayang, aku sangat merindukan kamu dan juga sangat menyesal. Kumohon percaya padaku, Istriku. Aku sangat mencintaimu!" teriakku. Aku tidak peduli image dingin tidak tersentuh luntur begitu saja menjadi pria lemah nan cengeng.
Aku bisa gila karena Yara.
"Yara ... Aku datang Sayangku, maafkan kesalahan itu. Aku tahu kamu sangat membenciku tapi dengar penjelasan. Aku mohon buka pintunya!" seruku.
Arghh ...!!!
Aku tidak tahan kalau begini. Sudah cukup, jangan lagi beri aku cobaan. Aku sangat rindu, sangat cinta dan sangat menyesal.
"Nona, ada kunci untuk membuka pintu?" tanyaku dingin entah pada siapa.
"Maaf Mr Teixeita, kunci ada di dalam."
Sudah kuduga akan berakhir heroik.
"Yara ...! Jika kamu tidak membuka pintu maka aku dobrak pintu sialan ini!" seruku lagi.
Jika begini apa yang harus kulakukan?
Dengan satu tendangan kuat pintu itu roboh. Apa aku terlalu mengerikan, biarkan saja! Aku merasa mereka semua terkejut akan kelakuan dan tahu fakta bahwa aku Suami Yara.
Oh, God.
Apa lagi ini, apa aku harus merusak dua pintu sekaligus?
Sungguh ini gila. Yara, tolong Sayangku maafkan aku.
Aku rela kamu banci asal terus berada di sampingku.
Aku ketuk pintu tidak sabaran dan terasa sakit mendengar tangisan menyayat hati dari Istriku.
Berengsek kamu, Zefer.
"Sayang, kamu dengar ...! Aku sangat mencintaimu dan sangat merindukan kamu. Tolong jangan menangis!" pinta dengan suara bergetar menahan air mata.
Aku membuka pintu ini dengan kunci. Tapi sialnya di dalam ada penghalang juga. Apa perlu aku dobrak lagi?
Dengan kuat aku dobrak menggunakan tubuh atas. Dengan dua kali usaha akhirnya pintu terbuka.
Hatiku remuk sekarang melihat Istriku meringkuk dekat lemari. Aku tidak kuat Sayang, hatiku hancur lebur tolong perasan ini berasa remuk tanpa sisa.
Yara menangis pilu dengan ketakutan membelenggu. Akhirnya Zeferino menemukannya, lalu bagaimana jika anak ini di aborsi dan tidak diinginkan oleh Suaminya?
Pilu sekali rasanya.
Zeferino mendekat ke arah Yara. Dia mengepalkan tangan berusaha mengontrol diri karena hatinya hancur lebur.
"Yara ...," panggil Zeferino lembut.
"Stop, jangan mendekat," pinta Yara dengan isak tangis.
Bukanya berhenti Zeferino malah bersimpuh di depan Yara.
"Yara, maaf," pinta Zeferino.
Yara menggeleng kuat sembari memeluk perutnya sendiri.
"Jangan sakiti kami, kumohon." Yara sangat takut sekarang. Tubuhnya bergetar ketakutan akan kehilangan anaknya.
Zeferino menangis mendengar perkataan Yara. Hatinya sudah tidak berbentuk lagi. Sebegitu takut dan benci Istrinya padanya?
"Tidak, aku tulus Sayang." Zeferino berusaha menyentuh Yara namun Istrinya menepis kasar tangannya.
"Hiks, pergi jangan sentuh. Aku takut, tolong ...," tangis Yara semakin histeris.
"Sayang, maaf," sesal Zeferino lalu melanjutkan kalimatnya, "aku tidak akan menyakitimu, Yara. Aku janji tidak ada rahasia antara kita dan akan lebih terbuka. Kumohon percaya padaku, aku sangat merindukan dirimu dan sangat mencintaimu!"
Yara menggeleng kuat tidak mau mendengar perkataan Zefer. Tangisan itu semakin menghantam jiwa Suaminya.
Zeferino dengan lembut menarik Yara dalam pelukan. Dia tidak peduli akan rontaan Istrinya yang terpenting saat ini bisa merengkuh sang Istri dengan penuh perasaan.
Yara memberontak dengan memukuli punggung Zeferino dan menggigit lengan kekar sang Suami tapi tidak membuahkan hasil. Karena lelah akhirnya ia tenang.
Bau maskulin yang sangat Yara rindu akhirnya tercium kembali. Dan ia merasa tubuh Suaminya kurus walau masih kekar dan memiliki lekuk otot sempurna. Bohong jika dia tidak mau pelukan karena Yara ingin berada di dekapan Zeferino.
Zeferino mengangkat tubuh Istrinya kepangkannya. Dia kembali merengkuh Yara posesif dan menciumi wajah sang Istri penuh kerinduan. Air mata terus berjatuhan dan ia tidak peduli di cap lemah nan cengeng.
Yara perlahan melingkarkan tangannya di punggung Zeferino. Dia merengkuh erat Zefer-nya penuh kerinduan dan ikut menangis bersama.
Zeferino tersenyum senang akhirnya mendapat balasan dari Yara. Dia tahu mereka saling rindu, saling cinta dan saling membutuhkan.
Yara menyandarkan kepalanya di bahu lebar Suaminya yang selalu nyaman saat disandari. Dia hanya mampu menangis sesenggukan saat Zeferino mengecupi puncak kepala serta pelipisnya.
Zeferino sangat bahagia akhirnya Yara berada dalam dekapannya dan sekarang tidak akan ada yang memisahkan mereka. Dia mengecup pipi Yara-nya penuh perasaan.
"Aku membencimu, sangat takut," bisik Yara.
"Iya benci aku sepenuh hatimu jangan sungkan memperlihatkan itu. Asal tetap bersama aku ikhlas. Aku sangat mencintaimu, Istriku," sahut Zeferino.
"Aku tidak mau hidup bersama Psycho macam kamu," tolak Yara kembali memberontak.
"Jangan begini, Yara kasihan anak kita nanti tertekan. Kumohon tenang, Sayang," pinta Zeferino.
Yara membisu mendengar perkataan Zeferino. Apa tadi, Zefer tahu ia hamil dari mana? Jangan bilang Paman dan Bibinya yang memberi tahu. Rasa takut kembali hadir saat tahu Zeferino tidak mau memiliki keturunan untuk saat ini. Bahkan ketakutan itu menjadi saat ingat Suaminya adalah Psychopath.
"Yara, tenanglah jangan begini," pinta Zeferino lagi.
Karena sesak akan pikiran kalut Yara jatuh pingsan dan sukses membuat Zeferino panik.
"Yara ....!!!" Zeferino buru-buru menggendong Istrinya namun ada seorang wanita seumuran Bibinya menghadang.
"Kami Dokter, rebahkan saja Nona Rose di ranjang!" perintah Dokter itu.
Zeferino menurut. Dia merebahkan Yara di ranjang lalu mengecup kening Istrinya mesra.
"Tidak akan kubiarkan siapa pun menyakiti dan hanya kebahagiaan yang pantas untukmu. Aku mencintaimu, Istriku," bisik Zeferino.
Semua orang menangis haru dan bingung. Mereka tidak menyangka Rose memiliki Suami hebat seperti Zeferino. Dan tercengang saat tahu sosok dingin tidak tersentuh itu memiliki kelemahan dan sangat lembut nan penyayang.