Burning Passion In Love

Burning Passion In Love
BPIL – Extra Part!



Brazil City, 08:30 Am!



Victoria mengusap foto Emma yang tersenyum manis. Air mata berjatuhan mengingat perbuatannya.



"James, maafkan aku tidak bisa menjaga Putri kita. Tolong maafkan kesalahan ini yang tega mengusir Emma. Pasti kamu sangat membenciku, maaf."



Kalila merasa miris melihat Ibunya terus menangis setiap hari mengingat Emma. Dia tahu betul Ibunya sangat menyesal serta sangat merindukan Emma.



"Ibu," panggil Kalila lembut.



Victoria menghapus air matanya. Lalu tersenyum ke arah Kalila.



"Ada apa, Lila?"



"Emma ___"



"Stop, Lila. Ibu sangat ingin bertemu dengan Adikmu. Emma sedang mengandung dan dengan tega aku mengusir dari rumah. Sekarang kita mencari dia di mana? Ibu tidak sanggup kehilangan lagi, mari temukan Adikmu!"



"Kita akan bertemu dengan Emma, Ibu. Tolong lupakan rasa bersalah lalu bangkit untuk menemukan dia. Turunlah ada Kak Zefer yang ingin bertemu."



"Zefer, ada apa iblis itu datang?!"



"Kalila juga tidak tahu, Ibu. Mari turun."



Zeferino memutuskan untuk ke Brazil untuk ziarah ke makam ke dua orang tuanya. Dia tidak tahu kenapa kaki panjang itu membawanya di sini.



"Ada apa kamu kemari, Zefer?" sengit Victoria.



Zeferino tersenyum culas mendengar kesinisan wanita tua itu.



"Hanya ingin mampir ke istana milik, Ayahku. Lagian aku datang untuk ziarah kubur ke makam Ibu yang kamu bunuh dan Ayahku." Zeferino berbicara sarkasme.



Mata mereka berdua terbelalak mendengar perkataan Zeferino. Apa Zeferino tahu mereka yang merancang kematian Ibunya?



"Aku tidak membunuh Ibumu ...."



"Siapa percaya? Jika saja aku tidak ingat siapa kamu yakinlah kematian menyertaimu!"



Veronica dan Kalila menahan napas. Entah rasanya sesak tidak mau terkontrol.



"Maaf ... maafkan aku melakukan hal gila itu. Maaf."



"Tidak ada maaf untukmu!"



Veronica dan Kalila menunduk sedih sembari terus mengatakan maaf. Mereka tidak akan mampu melawan Zeferino yang terkenal keji.



Zeferino tersenyum penuh arti sekarang. Sejurus kemudian dia menyerahkan potret Emma.



Veronica dan Kalila sok melihat foto Emma. Jangan bilang Emma meninggal?



"Otak dangkal kalian terlalu mengganggu. Datanglah ke Australia untuk menemui Emma. Dia ada di rumahku aman dan tenteram ...," jeda Zeferino.



"Aku hanya penasaran dengan kalian ... kenapa gadis kecil mengandung kalian tega mengusir dari rumah? Setahuku Nyonya Veronica itu Ibu yang mencintai anak-anaknya. Ternyata aku salah, kalian tidak lebih dari sampah!" sarkasme Zeferino.



Pria gagah itu bangkit dari sofa hendak melangkah pergi. Sebelum itu berbalik melihat ekspresi mereka yang mengenaskan.



"Emma membutuhkan kalian. Gadis itu hamil anak kembar dan tentunya hidup bahagia di bawah lindungan, Thomas. Jika berkenan ikutlah denganku ke Canberra lusa."



Usai mengatakan itu Zeferino berlalu begitu saja. Sebelum benar-benar keluar dia berhenti saat Veronica meneriaki namanya. Senyum tipis terukir indah sekarang karena tahu maksud Ibu tirinya.



"Zefer, bawa kami bersamamu untuk bertemu, Emma. Aku salah menelantarkan Putriku saat hamil. Tolong beri aku kesempatan ikut denganmu guna menebus dosa."



"Tuli, bukanya tadi aku sudah mengajak kamu? Faktor usia memang menakutkan. Siap-siaplah lusa kita ke Canberra!"



"Maaf, maafkan aku yang sudah tua ini. Apa bisa kita berangkat besok atau nanti malam?"



"Bangsat, sini Canberra memakan waktu sangat lama. Bukan ziarah saja yang akan kulakukan!" bentak Zeferino. Baru sampai langsung suruh pulang, luar biasa.



Veronica dan Kalila menunduk takut merasa bersalah serta tidak enak hati. Pria itu sangat menakutkan jika sedang marah makanya memilih aman.



"Maaf, maafkan kami, Zefer."



"...."



"Zefer, tolong maafkan kesalahan kami yang tega melakukan itu."



"...."



Zeferino memilih pergi dari pada menanggapi kata maaf.



***



Veronika dan Kalila melihat Emma penuh makna saat gadis kecil mereka sedang asyik membaca sembari mengemil makanan ringan.



"Emma, Putriku ....!" panggil Veronica sukses membuat Emma terpaku melihat Ibu serta Kakaknya. Buku itu jatuh begitupun dengan toples berisi roti asin.



"Emma, Adikku ...," panggil Kalila.



Emma mengerjap beberapa kali untuk menghalau air mata yang berlinang deras.



Veronica dan Kalila berlari ke arah Emma. Setelah sampai mereka merengkuh Emma sembari menciumi pipi bulatnya. Hati mereka terasa lega melihat gadis kecil akhirnya terlihat kembali di netra mata.



Emma menangis tersedu akan situasi ini. Sekarang hanya kebahagiaan yang melimpah ruah dalam hati. Matanya berkaca setelah tahu Kakaknya Zeferino yang telah membawa Ibu dan Kalila kemari.



"Emma, maafkan Ibu, Nak. Maaf ... maafkan kami, Sayang. Ibu salah dan tolong maafkan kesalahan kami, Nak."



Emma mengusap air mata mereka penuh haru. Lalu bibir tebalnya mengecup pipi mereka penuh kerinduan.



"Emma, sudah memaafkan kalian dan sungguh ini sangat membahagiakan bagiku. Terima kasih sudah menemui, Emma. Tolong maafkan Emma yang sudah mencoreng nama baik keluarga kita dan maaf untuk semua."



"Tidak, Sayangku. Kami yang salah harusnya kami yang minta maaf atas semuanya. Tolong kembali bersama kami, Nak. Mari mulai hidup bahagia bersama, Ibu, Kalila dan kamu!"



"Maaf Ibu, Emma harus hidup bersamaku. Dia milikku sekarang pasalnya Emma mengandung benihku. Aku meminta restu Ibu untuk menikah usai Emma melahirkan dapat beberapa bulan!" pungkas Thomas mengejutkan Veronica dan Kalila.



Thomas sedari tadi diam dan kini ingin adil dalam percakapan. Sejurus kemudian senyum Thomas luntur mengingat betapa keras Veronica.



"Thom ... apa yang kamu katakan, Nak? Jangan bilang aneh-aneh." Veronica kalut sekarang.




Plak



Tamparan keras mendarat sempurna di pipi tirus, Thomas. Victoria sangat marah sekarang lalu ingat saat Putrinya tidak mau mengatakan Ayah dari janin itu. Rasa sesal kembali menyelusup masuk di relung hati.



"Sepertinya masalah ini akan rumit, Yara," bisik Zeferino.



Zeferino dan Yara sedari tadi mengintip mereka. Ingin lihat masalah apa yang akan Thomas hadapi.



"Iya, Zefer. Rumit ini pasti, harus bagaimana sekarang?"



"Tonton saja sampai selesai, tapi perut mules. Ayo kembali saja ke kamar."



"Baiklah. Gendong ya, Daddy."



"Siap, my Queen."



Zeferino menggendong Yara bridal style menuju paviliun utama. Sekarang ini Yara perlu menunggu 3 minggu lagi untuk kelahiran buah hati tercinta.



***



Yara merasa perutnya begitu sakit dan kram. Terasa begitu menyakitkan membuat keringat dingin mengalir deras.



Grep



Yara menggenggam erat tangan Zeferino kasar. Dia meremas kuat tangan Suaminya.



"Argh, sakit," ringis Yara sukses membangunkan Zeferino.



Zeferino melihat Yara segera dan hal pertama yang dilihat adalah Istrinya terus menggerang kesakitan.



"Arghh ... hiks, sakit," tangis Yara lagi.



Zeferino panik sontak mengambil kaus abu-abu longgar, lengan panjang. Dia menyelipkan tangan di bawah bahu dan lutut Yara.



"Tenang, Sayangku kita akan ke rumah sakit sekarang," hibur Zeferino.



Zeferino keluar kamar dan berteriak kesetanan meminta bantuan. Seisi rumah datang melihat Zeferino.



"Tolong bawa tas yang berisi pakaian sekarang menuju rumah sakit. Aku akan berangkat duluan!"



Dominik, Svetiana dan lainnya berhambur mengekori Zeferino. Sementara Thomas mengambil tas lalu menggendong Emma untuk menuju rumah sakit.



Proses persalinan itu menguras tenaga pasalnya Yara melahirkan normal. Di samping itu ada Zeferino yang menggenggam tangan Yara erat.



Yara terus mengejan untuk mengeluarkan buah hati mereka. Tangannya menggenggam erat tangan besar Suaminya. Kuku tangannya menusuk kulit punggung tangan Zeferino.



Zeferino terus memberikan dukungan untuk Yara dengan mengatakan ribuan kata cinta dan penyemangat.



"Arghh ughh, Zefer argh sakit enggghhh ....!" raung Yara dengan derai air mata bercucuran deras.



Zeferino mencium kening Yara lama. Dia tidak tahan melihat Yara begitu kesakitan. Andai sakit dapat di tukar, Zeferino mau menggantikan posisi itu.



"Kamu bisa, Sayang. Berjuanglah untuk anak kita. Dengar, Yara-ku kuat dan aku yakin kamu bisa. Berjuanglah, Istriku. Aku sangat mencintaimu, Yara!" bisik Zeferino lembut sembari menciumi pipi Yara.



Air mata luruh begitu saja melihat Istrinya berjuang keras mengeluarkan calon pelita hidup mereka. Zeferino sangat sakit melihat Yara terus menggerang kesakitan. Dia ngilu sendiri saat Yara terus berusaha keras untuk bertahan demi calon buah hati sekaligus dirinya.



"Argghhh, sakit hiks argh enggghhh enggg, Zefer ... Argghhh ....!!!"



Yara merasa begitu kesakitan di sekujur tubuhnya. Ia merasa seluruh otot tubuh putus, tulangnya remuk dan semua terasa menyakitkan.



"Argghhh, sakit," lirih Yara. Dia nyaris pingsan jika Zeferino tidak mencium bibirnya dalam dengan linangan air mata yang mengalir di pipinya.



"Sayang, kamu kuat. Tolong berjuang untuk kami. Yara, aku sangat mencintaimu. Tolong, Sayang."



Zeferino tidak sanggup melihat Yara begini. Dia ciumi permukaan wajah wanitanya yang bersimpah air mata dan keringat.



Yara kembali menggenggam tangan Zeferino erat. Dia yakin pasti bisa mengeluarkan buah hati mereka. Dia kuat, itu pasti.



"Zefer, aku juga sangat mencintaimu. Ughh, enggghhh ... Arghhhhhhh ....!!!"



Berhasil bayi mungil penuh darah itu keluar dengan selamat. Tidak lama terdengar tangisan nyaring dari bayi mungil itu.



Zeferino dan Yara bernapas lega. Rasa sakit Yara berangsur menghilang mendengar tangisan bayinya. Senyum haru serta tangis bahagia mereka indah tanpa terkontrol.



Yara tersenyum bahagia begitupun Zeferino. Mata mereka terus mengeluarkan air mata haru melihat buah hati mereka.



***



Yara menangis haru dalam dekapan Zeferino saat melihat bayinya yang sangat tampan. Dia tidak menyangka bisa melewati ujian ini begitu lapang.



Zeferino menerima bayinya hati-hati. Air matanya kembali luruh melihat malaikat kecil yang sangat tampan. Dikecup pipi sang Putra penuh makna.



"Anak kita, Yara," lirih Zeferino.



Yara tersenyum menanggapi perkataan Zeferino. Dia mengulurkan tangan untuk merengkuh Putra tampannya.



Untuk pertama kalinya, bayi itu menerima air susu Ibu. Bayi kecil tersenyum tipis sembari menyedot asi.



Zeferino mengusap rambut panjang Yara dan mengecup puncak kepala Istrinya.



"Sayang, anak kita tampan sekali," ujar Yara.



"Iya, Ayahnya saja tampan masak anaknya dekil. Tidak mungkin," kekeh Zeferino.



Yara mencibir mendengar jawaban Zeferino. Tapi benar adanya kalau Zeferino itu tampan.



Bayi kecil itu tertidur pulas sekarang usai menerima asi. Wajahnya begitu tampan dan manis.



Tidak lama keluarga Zeferino dan Yara masuk melihat keluarga baru mereka. Mata mereka berkaca melihat betapa tampan si kecil.



"Siapa nama si tampan ini, Kak?" tanya Thomas seraya tersenyum teduh.



"Stefano Eugene Raymundo Teixeita." Zeferino tersenyum manis mengatakan nama itu.



Yara tersenyum mendengar nama indah untuk Putra mereka. Kebahagiaan itu terasa nyata dan luar biasa.