
Yara menangis tersedu di bawah guyuran air hangat. Dia tidak gila karena sejatinya hanya ingin menangis tanpa ada orang yang tahu. Tubuhnya sudah menggigil tapi dia tidak peduli. Hanya satu, menangis melampiaskan kesakitan.
Zeferino menyengit melihat Istrinya tidak kunjung keluar bathroom padahal sudah setengah jam menunggu. Karena khawatir akhirnya Zefer memutuskan untuk bertanya.
"Yara ... Kamu sudah selesai?" Zeferino begitu panik sekarang. Karena tidak ada jawaban ia nekat menendang pintu kamar mandi sampai rusak.
Yara meringkuk tanpa memedulikan Zeferino. Hatinya masih sanggatlah sakit. Wanita mana tidak sakit sebelum memberi tahu perihal kehamilan ternyata Suamimu menolak keras bahkan terkesan ingin mengaborsi janinnya? Dan lebih parah ternyata Zeferino sudah punya anak sebelumnya dari masa lalu yang sangat dicintai.
Yara tidak kuat menahan sakit hatinya sehingga hanya air mata pilu yang membelenggu tubuhnya. Dia sangat sakit, apa yang harus dia lakukan? Pasti perutnya akan semakin besar jika tetap tinggal. Kurang 3 bulan dan sekarang kandungannya berumur 5 minggu. Pasti sudah kelihatan. Apa bisa dia menyembunyikan hal sebesar itu?
Sekarang dia harus apa? Bertahan di sisi Zeferino, atau kabur demi melindungi anaknya?
Zeferino terbelalak melihat Istrinya meringkuk dengan pakaian lengkap di bawah guyuran sower. Dia langsung berjalan cepat ke arah Yara namun sebelum itu mematikan sower.
"Yara ... Apa kamu gila?" bentak Zeferino.
Yara mendongak menatap Zeferino penuh luka. Matanya sembap, bibir, wajah serta tubuhnya pucat. Air mata kembali luruh mengingat pembicaraan Zeferino dan Linda.
Zeferino panik sekarang melihat kondisi Istrinya. Dia melucuti pakaian Yara dan membalut tubuh mungil Istrinya menggunakan handuk.
Yara diam karena tenaganya habis akibat memikirkan permasalahan pelik. Ia hanya membisu saat Zeferino mengangkat tubuhnya dan membawanya ke kamar.
***
Aku harus apa Tuhan?
Perasaan ini begitu kalut, sementara hatiku hancur tidak berbentuk. Lebih baik aku di siksa dari pada mendengar fakta menyedihkan itu.
Hatiku sangat sakit.
Tidak kuat hati ini menerima beban hidup. Tidak sanggup bernapas melihat wajah Zeferino. Sakit Tuhan, sakit.
Tolong, tolong aku.
Bawa aku pergi menyelamatkan calon anakku.
Aku tidak mau janin tidak berdosa ini kehilangan nyawa. Bila anakku mati maka aku juga harus mati.
Tidak mau, aku tidak mau bertahan di sisi, Zefer.
Tolong aku, siapa pun tolong.
Yara, kamu harus ingat kamu sedang mengandung dan tidak baik berpikir terlalu keras. Kamu kuat, jangan pernah menyerah!
Tubuhku mati rasa sekarang karena kedinginan dan kram.
Maafkan Mama, Sayang. Mama janji akan melindungi kamu apa pun yang terjadi. Mama, akan menjagamu dengan nyawa ini dan janji tidak terlalu banyak beban pikiran.
Zeferino terlihat panik melihatku sakit, dia meminta Bibi Linda untuk membantu merawat ku yang sedang demam.
3 hari aku sakit dan dalam 3 hari aku diam membisu dengan pandangan sendu.
"Yara, ayo kita pulang ke Canberra," ajak Zeferino.
Tidak mau, aku ingin jauh darimu.
Kesalahanmu sangat fatal, Zeferino. Aku membencimu. Kenapa Tuhan hanya memberikan kebahagiaan semu dan itu sangat membahagiakan.
Engkau memberikan kebahagiaan sesaat lalu menjatuhkan diriku sebelum bisa merasakan kebahagiaan sesungguhnya.
Tuhan, kenapa Engkau begitu Agung? Saat aku terbang ke langit tujuh, Engkau menjatuhkan kebahagiaan sampai dasar laut. Sakit!
"Aku tidak enak badan, Zefer. Malas bicara." akhirnya kata itu yang keluar.
Kami akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah setelah berpamitan pada mereka. Kami mengendarai angkutan umum seperti di awal.
Dalam perjalanan aku diam tanpa suara. Sedangkan Zeferino terus menatap diriku intens.
"Kamu lelah?"
Hatiku sangat lelah akan dirimu, Zefer.
"Kemari bersandar padaku."
Jangan mimpi, aku tidak sudi bersandar pada pria iblis sepertimu.
"Katakan, aku salah apa?" katanya lagi sembari menarik diriku dalam pelukannya. Sialnya, pelukan hangat ini pernah diberikan wanita lain. Sakit Zefer.
Aku menangis dalam diam sembari merengkuhnya. Aku hanya bisa memeluk tanpa kata.
Karena lelah akhirnya aku menuju mimpi dan berharap tidak bertemu Zefer.
***
Yara, kamu kenapa? Apa salahku?
Tolong katakan jika aku punya salah.
Sayang, haruskah aku memohon meminta penjelasan?
Aku merasa tidak melakukan kesalahan, namun kenapa Istriku begitu berbeda.
Ya Tuhan sesak sekali dadaku.
Yara, tolong keluarkan segala emosimu padaku dan katakan kesalahanku. Jika aku punya salah maka akan kuperbaiki dengan sepenuh hati.
Kamu berbeda Sayang, ada apa?
Mungkin saja dia memikirkan permasalahan lain bukan aku.
Aku tidak mampu membaca pikirannya karena yang ada hanya sakit.
Tatapan mata Yara padaku terlihat kecewa, benci dan terluka.
Namun, aku tidak tahu kesalahanku apa.
Sakit itulah yang kurasakan.
Maafkan aku, Yara!