
Jika itu bisa membuat kamu aman namun tersakiti, itu akan aku lakukan.
Jika kamu bahagia namun selalu tersakiti olah orang yang tidak menyukaiku. Maka pilihan terbaik adalah menyakitimu agar kamu aman.
Aku mencintaimu, tapi tidak bisa jujur karena masih banyak musuh mengintai.
Usai semua tugas selesai aku janji kita akan bahagia selamanya.
Aku tatap wajah kuyunya akibat sering menangis dan merenung. Demi Tuhan hatiku sakit melihat kamu terpuruk begitu.
Kumohon, bangkitlah dan luapkan emosimu demi meringankan sakit hati. Kamu terluka aku lebih terluka.
Menjadi antagonis sering aku perankan demi melindungi orang terkasih selama ini. Namun, saat melihatmu tersiksa rasanya sangat hancur.
Aku sangat sedih tatkala tahu kamu sakit gara-gara jatuh. Sejujurnya aku ingin merengkuh dirimu erat dan bilang kalau Zeferino sangat mencintaimu.
Yara, aku mohon tolong bertahan walau sesaat. Aku janji setelah tugas menyakitkan ini selesai dengan segera akan membahagiakan dirimu.
Katakan aku lelaki pengecut pasalnya sering bertindak kasar, berkata sarkasme dan sering membuat wanitaku menangis pilu.
Itu aku lakukan demi kebaikan kita, Yara. Demi dirimu aku rela bertindak sejauh ini.
Kalian tahu, mengatai Yara jalang dan berkata begitu sarkasme itu juga sangat menyakiti perasaanku.
Hatiku tidak berbentuk saat itu juga. Skenario paling bodoh adalah saat aku berperan jadi antagonis.
Demi apa, itu sangat menyakiti perasaan ini. Yara, maaf.
Aku menjatuhkan tubuhku di ranjang. Aku sesap bau meneduhkan Istriku penuh penghayatan. Karena lelah akhirnya alam bawah sadar merenggut segalanya.
***
Apa yang salah sekarang, kini aku yang tersiksa karena Yara menghindar tanpa kata.
"Buatkan aku, makanan!" titahku.
Yara hanya mengaguk tanpa kata. Dia dengan cekatan menyiapkan bahan untuk masak dan tentunya sangat piawai memegang pisau.
Karena terlalu melamun aku tidak sadar bahwa dia telah selesai membuat makanan sederhana yaitu sayur tumis serta ayam goreng.
Saat hendak pergi aku cekal lengannya.
"Temani aku makan!" perintah mutlak.
"Anda bisa makan sendiri, Tuan. Bisakah Anda lepaskan tangan, saya?" cetus Yara.
Aku menyeringai iblis mendengar perkataan Yara. Dengan kejam aku jambak rambutnya.
"Kamu hanya jalang yang harus menuruti segala perintahku. Ingat itu, Bitch!"
Sakit mengucap kata begitu sarkasme. Maafkan aku, Yara. Lagi-lagi aku melihat mata besarnya berkaca.
"Saya mengerti," lirih Yara.
Maaf.
Aku makan dengan tenang sesekali aku curi pandang ke arahnya yang menunduk dalam.
"Kamu sudah makan?" tanyaku. Demi apa lidahku sering berbicara tanpa proses.
"...." tidak ada jawaban.
"Makan!" titahku.
Yara tampak terkejut tapi langsung menunduk lagi.
"Makan atau tidur di gudang?"
Shit, mulut sialan.
Yara mengambil piring dan mengisi dengan nasi sedikit. Dia akhirnya makan dalam diam.
Jika kalian tahu, perasaanku begitu sakit akan situasi ini.
Hatiku tidak kuasa menahan ribuan jarum beracun menusuk hati. Sungguh ini sangat menyakitkan.
"Zefer," panggil Yara.
Aku sangat senang dia memanggil namaku begitu.
"Hn."
"Tolong jangan bawa wanita dalam rumah. Aku mohon," pintanya.
Yara, sesungguhnya aku tidak sudi membawanya ke sini. Kamu terluka begitu pun denganku.
Brak
"Kamu hanya Istri kontrak dan notabenenya adalah jalang. Apa hakmu? Ini rumahku, kamu hanya jalang tidak tahu diri. Ingat ini, kamu bukan siapa-siapa!"
Ya Tuhan, sakit sekali.
Matanya berkaca bahkan sekarang sudah menangis dalam diam.
Berengsek kamu, Zefer.
Aku tidak tahan, tidak sanggup ini sangat menyakitkan.
Aku melangkah meninggalkan dia sendiri. Tujuanku satu mencari pelampiasan emosi.
Yara, sungguh maafkan aku.
***
Aku menghantam kampak tepat di kepala seseorang yang kemarin mengancamku. Ku hancurkan bukti bahwa dia tahu aku seorang Leader Mafia, Gangster dan tentunya Psychopath.
Dengan keji aku memutilasi tubuh pris biadab ini.
Yara akan semakin hancur jika tahu aku seorang Monster. Jadi biarkan dia tidak tahu siapa diriku yang sesungguhnya.
Apa Yara sekarang sudah baikkan? Apa dia sudah tidak menangis?
Yara, maafkan aku.
Usai meluapkan emosi, aku menyuruh mereka untuk membakar jasad korban.
Hidupku penuh kelam.
Jika boleh mengatakan, aku ingin bahagia barang sedetik saja.