
Yara mengecup rahang tegas Zeferino lembut. Jemari lentik terus menyapu indah pipi tirus Suaminya.
"Yara," panggil Zeferino sebelum mencium bibir mungil wanitanya.
"Ada apa, Zefer?"
"Aku ingin menjelaskan siapa Vio dan Excel ---"
"Sstt, tidak usah sekarang karena aku hanya ingin menikmati hari bersamamu. Sekarang konsentrasi agar cepat pulih!" serobot Yara berusaha tidak mau membahas masalah ini.
"Yara," gumam Zeferino. Dia kembali ingat akan Adiknya Thomas, "Yara, tahu di mana, Thom?"
Yara mendongak menatap Zeferino penuh makna, "Kata Dokter, Thom ada di Brazil."
"Anak itu, ya sudahlah lupakan saja. Aku mengantuk," ujar Zeferino.
"Tidurlah, aku akan menemanimu," tutur Yara.
"Aku ingin tidur di dadamu. Bantal ini kurang nyaman," ucap Zeferino kalem.
Yara memberengut lucu mendengar perkataan Zefer lalu mencibir, "Bilang saja mau itu. Keh, Tuan mesum."
"Itu salah satunya, aku mau besok pulang!" tegas Zeferino.
"Kenapa? Keadaanmu masih belum pulih," tolak Yara.
"Sejujurnya kamu obat untukku. Aku mencintaimu dan terus di sampingku maka sakit akan segera pulih."
"Perayu ulum," cibir Yara.
Zeferino tertawa renyah mendengar cibiran Istrinya. Matanya menyipit membentuk bulan sabit indah dan ia memperlihatkan gigi putih yang tertata rapi.
Yara bukan sebal malah terpesona menatap tawa sang Suami. Sangat tampan nan memukau, wajah Suaminya ini. Dan ia baru tahu Zeferino, memiliki tawa indah dan senyum memukau.
Mata tajam bak elang itu kini berubah menjadi bulan sabit dan Yara ingin melihat itu terus. Hatinya menghangat dan jantungnya berdegup gila.
Zeferino sadar Yara melihatnya tanpa kedip bahkan mulut mungil Istrinya terbuka sedikit. Dia menggaruk tengkuk yang tidak gatal pasalnya ini kali pertama tertawa lepas begini.
Yara masih melongo dengan mata berbinar terang. Sungguh mengemaskan untuk di terkam. Ia sadar saat bibirnya di lumat Zeferino.
"Jangan melongo begitu, aku sadar wajahku tampan. Jadi ngga perlu dipandang nanti kamu tidak mampu keluar," goda Zeferino seraya menaikkan alisnya menggoda.
Yara merona malu lalu mencubit roti sobek Zeferino gemas, "Dasar narsis."
Zeferino terkekeh mendengar perkataan Istrinya, "Fakta, jika aku tidak ganteng mungkin kamu sudah lari."
Yara mendelik mendengar perkataan Zeferino. Dia menarik kerah pakaian khas pasien yang di kenakan Suami tercinta.
"Aku mencintaimu karena sikap lembut, perhatian dan penuh kasih sayangmu. Bukan wajahmu yang kucintai melainkan hatimu. Sikap tegas, baik hati dan perhatian selalu menggetarkan jantung. Namun, aku juga menyukai fisikmu!" tegas Yara.
Zeferino tersenyum manis mendengar jawaban Istrinya. Dia merengkuh Yara erat sembari mengecup mesra pelipis Yara.
Yara menangis haru mendengar perkataan Zefer. Hatinya berbunga bunga serta sangat bahagia memiliki Zeferino dalam hidup.
"Zefer," panggil Yara setelah lama diam dan hanya berpelukan.
"Hn," sahut Zeferino.
"Aku ingin memiliki banyak waktu bersama," cicit Yara.
Zeferino duduk dengan nyaman sembari bersandar di headboard dengan Yara bersandar di bahunya.
"Aku juga, kita memilikinya karena mulai sekarang pekerjaanku akan ku hendel dari rumah."
"Serius? Jadi kita akan sering bersama?!"
"Sure, Love!"
Yara tersenyum bahagia akan itu. Dia menciumi wajah rupawan Zeferino dengan gemas.
"Zefer," panggil Yara lagi.
"Ya," sahut Zeferino sembari mengecup ubun-ubun Yara.
"Jika aku pergi dan tidak mau kembali, apa yang akan kamu lakukan?" entah kenapa Yara bertanya begitu. Ia ingin mendengar jawaban Zeferino.
Zeferino terdiam mendengar pertanyaan Istrinya.
"Aku akan mencarimu dan membawamu pulang kembali. Karena sejauh kamu pergi, tempat untuk pulang adalah aku!" tegas Zeferino sederhana namun bermakna.
Yara tersenyum haru mendengar jawaban Zeferino.
"Namun, jika suatu hari cintaku luntur dan berbalik membenci, bagaimana?" tanya Yara cukup sensitif dan berhasil membuat Zeferino terperangah.
"Maka aku akan memperjuangkan dirimu di sisiku dan membuat cinta itu tumbuh kembali. Di saat benci melanda hanya ada harapan tulus agar kamu mau berbalik memaafkan kesalahanku dan menerima kembali cinta tulusku!" tutur Zeferino tegas dan serat akan makna.
Yara menangis haru mendengar jawaban Zeferino. Dia merengkuh leher kokoh Suaminya erat dan menangis sesenggukan.
"Tolong pertahankan cinta kita dan bawa aku kembali jika itu terjadi," pinta Yara.
"Iya, aku akan memperjuangkan dirimu dan akan selalu mencintaimu walau badai menghantam. Kita akan bahagia bersama sampai maut memisahkan. Kamu dan aku tercipta hanya untuk bersama selamanya!" tegas Zeferino bernada tulus.
Yara menangis penuh haru mendengar perkataan Zefer. Inikah Suaminya? Dulu ia anggap lelaki bejat, iblis dan manusia tidak punya perasaan ternyata pria yang sangat tulus serta penuh cinta. Lelaki misterius penuh kejutan yang sangat susah diprediksi.
Hanya tangisan haru yang mampu Yara keluarkan dengan memeluk Zeferino erat. Dia tidak akan pernah mendapatkan cinta sebesar ini.
Wajah tampan nan manis Raymond singgah tatkala pemuda tampan itu membuat warna untuknya setiap saat dikala dulu mereka pacaran. Cinta pertama penuh kebahagiaan namun berakhir tragis dengan dijual dirinya. Dan untuk Zeferino, dia terus merasakan sakit hati dan cinta begitu tulus penuh makna. Cobaan terus datang dan mereka melaluinya dengan sabar. Zefer-nya adalah cinta terakhir dan akan selalu ada.
Zeferino adalah cinta sejatinya yang akan menjadi akhir dari segalanya. Suaminya adalah masa depan yang akan selalu ada untuknya. Harapan Yara sederhana hidup bahagia bersama Suaminya selamanya.