
Zeferino menukikkan alisnya sebal. Bagaimana tidak sebal jika Istrinya dengan nakal menggoda di saat hendak menjalankan rencananya.
"Yara," panggil Zefer terdengar serak.
"Apa? Kamu bisa pergi biarkan aku menunggu?! rajuk Yara.
"Maaf ini pekerjaan serius," pinta Zeferino.
"Ngga mau tahu!" Yara memalingkan wajah.
"Janji akan segera pulang," kata Zefer.
"Ngga mau tahu, pergi sana!" usir Yara.
"Baiklah, aku pergi jaga diri!" final Zeferino. Dia hendak pergi namun Yara malah menangis histeris.
"Ampun, ini Istriku kenapa?" tanya Zeferino sedikit frustrasi. Dia mendekat ke arah Yara lalu mengusap pipi penuh air mata Istrinya.
"Sudah jangan menangis, aku janji akan pulang cepat," hibur Zeferino sembari tersenyum tulus.
Yara merengut lucu saat mendengar perkataan Zeferino. Dia mendorong dada bidang Suaminya.
"Ngga mau di tinggal," cicit Yara.
Zeferino semakin frustrasi akan tingkah, Yara. Sungguh dia gemas ingin ena-ena tapi ingat pesan Dokter.
"Baiklah usai tugas selesai langsung pulang!" tawar Zeferino.
"Janji, langsung pulang?"
"Janji!"
"Baiklah, aku tunggu!"
Zeferino tersenyum manis mendengar perkataan Yara. Dia mengecup mesra kening Istrinya lalu berakhir ciuman bibir.
Setelah semua selesai, Zeferino pamit pada Paman dan Bibinya lalu berpesan supaya menjaga Yara sampai dia pulang.
Zeferino, melambaikan tangan pada mereka. Lalu perlahan mobil super car melaju dengan ringan.
Yara melihat Zeferino penuh arti sedetik kemudian menangis. Karena tangisan itu Antonio dan Linda panik.
"Ada apa, Nak?" tanya Linda khawatir.
Antonio juga menepuk bahu Yara berusaha menenangkan.
"Kangen," cicit Yara karena malu. Zefer-nya barusan pergi dan sekarang sudah merindu.
Antonio dan Linda saling pandang sedetik kemudian saling tersenyum.
"Apa kamu sedang mengandung?" tanya Linda saat mereka duduk di teras depan.
Yara mengerjap beberapa kali mendengar pertanyaan itu. Dia belum jujur soal kehamilannya pada Zefer masak langsung memberitahu pada orang lain walau keluarga Zeferino.
Antonio tersenyum maklum sepertinya tahu jalan pikiran menantunya.
"Kamu mau bikin kejutan untuk, Zefer? Kami paham jangan terlalu dipikirkan. Yah, kami pernah jadi orang tua namun naas anak kami meninggal dunia. Jangan merasa bersalah, anggap kami orang tua," papar Linda sembari tersenyum tulus.
Yara tersenyum sedih mendengar perkataan Linda, "Ya Tuhan, maafkan saya membuat kalian sedih. Maaf Aunty, bukan maksud Yara tidak mau jawab dan mengingatkan tentang kesedihan kalian. Sungguh maafkan saya dan saya hanya ingin memberi surprise padanya."
Mereka mengusap pipi sang menantu sembari tersenyum manis.
"Tidak perlu merasa bersalah begitu, santai saja. Lagian ada Zefer dan Thomas yang menjadi Putra kami," hibur Antonio.
"Terima kasih, Uncle, Aunty!"
Mereka cukup lama diam.
"Berapa minggu?" tanya Antonio di angguki Linda semangat.
"5 minggu ini Aunty, Uncle. Saya baru tahu saat kemarin sakit ternyata sedang mengandung," jawab Yara ramah.
"Wah, selamat ya, Sayang, kami senang sekali. Jaga kandunganmu baik-baik dan ingat jangan terlalu banyak pikiran serta istirahat yang cukup!" nasihat Linda.
"Terima kasih, Aunty and Uncle."
"You're welcome, Baby."
***
Zeferino sampai juga di rumahnya yang ada di Canberra. Rumah super mewah ini sangat asri dan penuh tanaman hias.
"Big Boss, are you ok?" tanya mereka panik pasalnya sejak insiden kemarin Bos dan istrinya menghilang.
"Ya aku baik, lakukan rapat 15 menit lalu kita akan ke Sydney!" tegas Zeferino dan para Mafioso-Nya berhambur menurut.
Di ruang rapat Zeferino menatap 200 orang Mafia penjaga rumahnya. Sejujurnya masih banyak antek-anteknya seperti Gangster dan 50 Yakuza.
"Rencana A, aku akan menyelusup masuk dengan menjadi bawahan, Dylan. Rencana B, bunuh mereka menggunakan alat yang biasa kita gunakan. Rencana C, kumpulkan mayat mereka di rumah Dylan dan beri bom dengan sekala tinggi. Kita akan hancurkan mereka tanpa terlacak. Kita mulai dari sekarang!" tegas Zeferino.
"Baik kami paham, tapi Bos, bagaimana dengan, Anda? Apa tidak apa masuk sendiri?" tanya mereka khawatir.
"Cih, aku membawa semua senjata termasuk alat ini (menunjuk sejenis rubik putih polos) dan ini (alat macam laba-laba) lalu pistol dan pisau. Kalian tidak perlu khawatir!" tegas Zeferino.
"Baik, lalu apa sedikit beda dari biasanya rencananya?" tanya Wong Hiro Mafia Hongkong.
"Hn, kalian bunuh mereka menggunakan alat itu setelah aku masuk ke ruangan, Dylan. Setelah aku keluar dari ruang si bodoh, kalian kumpulkan mayat mereka dan berakhir ledakan rumah terkutuk itu!" terang Zeferino.
"Baik kami mengerti, Anda berhati-hatilah, Big Boss!"
"...."
***
55 Menit Kemudian ....!
Pesawat jet pribadi milik Zeferino mendarat sempurna di Sydney. Mereka para Mafia, Gangster berhambur mengeluarkan mobil mewah dari balik pesawat.
Zeferino memakai mobil Maybach Exelero, bisa di katakan mobil ini adalah mobil super car paling mahal di dunia. Tidak tanggung, Zeferino suka mengoleksi mobil mewah berharga fantastis.
Ada 50 mobil mewah mengiringi Zeferino, mereka berhenti tepat 2 kilo meter dari kediaman Dylan.
Zeferino keluar dari mobil menggunakan pakaian khas bodyguard. Wajah tampannya ia tutup menggunakan cadar dan kaca mata. Matanya memicing saat tahu salah satu anak buah Dylan keluar membeli sesuatu. Ini kesempatan emas. Batin Zefer penuh kemenangan.
Zeferino mendekat ke arah orang itu dan tanpa babibu menembak kepala korban. Ia mengambil identitas korban lalu membawa motor untuk menyeludup ke kediaman Dylan.
"Bos memang menakutkan," komentar mereka. Ayo urus mereka kalau perlu bakar mayatnya!" ujar mereka.
Zeferino memarkirkan motor besar milik korban tadi di tempat para bawahan. Dia mendekat sembari menenteng plastik berisi pesanan Dylan, mungkin?
"Kamu sudah kembali, Hwang (Korea)."
"Kamu terlihat tinggi sekarang, apa aku baru sadar kamu tinggi, Hwang?" tanya salah satu dari mereka.
"Tidak juga, aku pendek," Zeferino merubah suaranya.
"Suaramu aneh, siapa kamu sebenarnya?" tanya orang itu sembari menodong moncong pistol tepat di jidat, Zeferino.
Zeferino menekan alat sejenis rubik dan keluar hewan seperti nyamuk tidak kasat mata hinggap pada penjaga di luar.
"Saya Hwang, ini!" Zefer menyerahkan sebuah kartu identitas milik Hwang. Dia cukup bersyukur rambutnya hitam sama seperti korban.
Orang yang menginterogasi Zefer merasa lemas dan tak bertenaga. Kepalanya berputar-putar dan jatuh pingsan alias mati.
Ada 10 orang mati tanpa menghasilkan suara. Ia berjalan santai menuju ke dalam. Pura-pura baik pada mereka hingga sampai juga di depan ruangan Dylan tanpa ada yang curiga.
"Hoi, Hwang tolong serahkan dokumen ini pada Bos, aku Kebelet!" orang itu terlihat menyerahkan dokumen pada Zeferino. Tentu Zeferino menerima dengan senang hati.
Zeferino masuk ke dalam, namun sebelum itu menekan tombol rencana B, serta membaca kilat apa isi dokumen. Mengetuk pintu sopan, setelah di izinkan masuk Zeferino berdehem singkat. Seringai iblis menguar mengerikan melihat Dylan sedang menatap luar.
"Bos, ini saya bawa dokumen tentang Zeferino dan Rosalicia!" rasanya lucu menggunakan intonasi bas dan memanggil namanya sendiri. Dokumenter tentang dia dan istrinya, ditaruh di meja.
"Apa mereka sudah di temukan?"
"Sudah di depanmu!"
***
Alurnya kecepatan ya Chap ini? Maaf ya, nanti aku perlambat, malas terlalu detail soal penyelusupan ini itu.
Jadi maklum ya.
Thank's Sayangku sudah dukung, Rose.