
At Brazil - 07:00 Am!
Emma terlihat cantik menggunakan dress hitam tanpa lengan dengan panjang selutut, tubuh mungilnya terlihat lebih berisi dan mengemaskan.
"Emma, kamu sakit?" tanya Kalila, Kakak Emma.
Emma mendongak menatap mata Hazel Kalila. Lalu menggeleng lemah pasalnya akhir-akhir ini terasa lemah tanpa tenaga.
"Kamu tidak usah berangkat kampus, Sayang. Lagian hanya urusan performa saja." Veronica memberikan masukan namun Emma menggeleng lagi.
"Emma dapat tugas penting, Ma, Kak. 2 minggu lagi wisuda diselenggarakan, dan Emma dapat tugas menyanyi sembari memainkan piano," terang Emma.
"Tapi kamu terlihat pucat, Dik!" sergah Kalila.
Emma tersenyum manis mendengar perkataan Kakaknya, "Emma baik, hanya saja akhir-akhir ini sering pusing dan lemas."
"Ayo periksa nanti terjadi apa-apa, Mama ngga mau kamu sakit," khawatir Veronica.
"Emma baik, Ma!"
"Ya sudah minum susu ini agar pusing berkurang," titah Veronica.
Emma meminum susu itu namun rasanya perutnya terasa diaduk-aduk membuatnya mual dan pusing. Ia berlari ke arah wastafel guna memuntahkan isi perutnya.
"Hoek ... Hoek ... Hoek ...." Emma terus memuntahkan susu itu hingga pandangan berkunang.
Veronica dan Kalila memijat tengkuk dan bahu Emma namun hal mengejutkan terjadi tatkala keluarga kecil mereka jatuh pingsan.
"Emma ....!!!" teriak mereka dan buru-buru membawa Emma ke rumah sakit.
***
Emma merasa pipinya panas akibat tamparan keras Veronica. Dia tidak sanggup berkata atau melawan perkataan Ibunya. Hanya penyesalan karena setelah tahu dia hamil Ibu dan Kakaknya marah besar.
"Anak tidak tahu diri, siapa Ayah dari anak harammu?" hardik Veronica.
Emma diam tanpa menjawab. Tangisan pilu yang mampu dia keluaran saat ini.
"Kenapa sekarang kamu berubah jadi jalang, Emma! Apa kamu menjual tubuhmu selagi kami pergi waktu itu? Hebat sekali!" cela Kalila.
"Maaf," sesal Emma dengan tangis pilu.
"Argh, sakit, Ma. Hiks, sakit."
Emma kesakitan karena Ibunya menjambak rambut panjangnya dan kembali menamparnya. Sakit sekali tapi dia pantas menerima ini.
"Pilih mana, aborsi atau angkat kaki dari sini!" celetuk Veronica sukses membuat Emma ketakutan.
Emma menggeleng lemah karena takut hidup tanpa uang dan tidak mau menggugurkan janinnya.
"Emma, pilih mana? Atau beritahu kami siapa Ayah dari anak itu?" Veronica terus menyudutkan Emma tanpa tahu Putrinya tertekan.
Emma ketakutan sekarang akan situasi ini, "Maaf."
"Anak kurang ajar ...!" seru Veronica sembari mencengkeram dagu Emma kasar.
"Keluar dari sini!" usir Veronica.
Emma akhirnya memutuskan keluar. Dengan langkah sendu ia membereskan pakaian serta mengambil tabungan serta perhiasan dan uang kes yang ia punya.
Apa yang harus dia lakukan? Emma mengusap perutnya dengan penuh perasaan.
"Tidak apa, sekarang kita akan bahagia selamanya dan kamu akan bahagia di dalam sini. Kita akan hidup bersama!"
Emma teringat janinnya sudah berumur 10 minggu dan harus ekstra menjaganya.
***
At Darwin, Australia - 02:00 PM!
Emma sekarang bekerja di restoran bintang lima di Darwin dan gajinya lumayan besar. Dan sekarang ini janinnya berusia 12 minggu. Perutnya sudah kelihatan sedikit buncit.
Rasanya lelah pasalnya restoran ini begitu mewah. Mungkin gila karena sejatinya Emma ingin ke tempat Zeferino namun teringat Kakaknya membenci dirinya.
Lain sisi, terlihat Zeferino mampir ke restoran langganan saat di Darwin. Dia meminta menu khas Italia dengan di temani vodka.
Zeferino menunduk sembari memainkan ponsel. Dia terus mencari keberadaan Yara namun sampai 3 bulan tidak membuahkan hasil.
"Emma, tolong bantu antarkan pesanan ke meja no 1009 di ruang Vip," pinta salah satu teman Emma.
"Ah, iya aku bawa ya." Emma membawa nampan berisi makanan khas Italia.
Sampai di ruang itu, Emma merasa deg-deg kan, entah kenapa.
Emma menata menu makan di meja Zeferino dengan rapi. Dia belum sadar kalau seseorang itu adalah Kakaknya.
Zeferino mendongak menatap siapa gerangan yang mengantar makanan. Alangkah terkejut saat tahu Adik tirinya yang mengantar makanan untuknya.
"Selamat menik ---" ucapan Emma menggantung saat tahu orang yang memesan adalah Zeferino.
Elin terlihat panik akan situasi ini.
"Emma, ayo balik nanti cari Bos," bisik Elin.
Emma hendak pergi namun lengannya langsung di cekal, "Apa maksud semua ini, Emma?"
Emma mengigil ketakutan saat ini. Dia harus bagaimana?
"Mr, tolong lepaskan tangan, Emma!" perintah Elin.
Zeferino tidak menanggapi perkataan Elin, "Jawab, Emma!"
"Yak, Anda kasar sekali!" seru Elin.
"Shut up, or Death!" gertak Zeferino.
Elin ketakutan merasakan hawa dingin menyelimuti tubuh Zeferino.
"Kak lepas aku mau kerja," ronta Emma. Tetapi, dia tidak mampu melepas diri.
"Jawab kenapa kamu bisa di Australia? Kenapa kamu jadi pramusaji? Lalu kenapa perutmu begitu? Jangan bilang kamu hamil!" desak Zeferino membuat Emma kalang kabut.
"Diammu menjawab semuanya, aku tidak menyangka kamu jadi jalang, Emma. Aku malu punya Adik macam dirimu!" sarkasme Zeferino. Dia hendak melangkah pergi namun tubuhnya direngkuh erat oleh tubuh mungil Emma.
"Hiks, aku bukan jalang, Kak. Aku melakukan kesalahan fatal hingga berakhir begini," tangis Emma.
Elin hanya diam tanpa kata, kenapa jadi rumit begini? Sebenarnya siapa pria ini? Kekasih Emma, atau Kakak?
"Lepas, Emma. Aku tidak sudi di sentuh tubuh kotormu!" sarkasme Zeferino lagi membuat Emma melepas diri dan menangis tergugu.
"Kamu pelayan pergilah, aku pinjam temanmu!" tegas Zeferino.
Elin buru-buru pergi dan memberitahu pada atasannya.
Zeferino masih memunggungi Emma.
"Jelaskan!"
"Kita duduk, Kak." Emma tidak kuat berdiri terlalu lama.
Cukup lama mereka diam hingga Emma mampu berkata, "Aku melakukan kesalahan fatal dengan pria yang sangat aku cintai. Dia hanya menggagap diriku Adik namun perasaan cinta membuat buta. Aku memberikan obat perangsang dan berakhir tragis. Aku menyesal, Kak. Karena perbuatan gila itu aku hamil dan terusir dari rumah. Lalu berakhir di sini."
Zeferino memijat pangkal hidung dengan kasar. Sungguh dia pusing sekarang.
"Kamu gila, Emma!" komen Zeferino.
Emma hanya menangis tersedu tanpa kata.
"Tinggal di mana sekarang? Lalu bekerja sampai jam berapa?" tanya Zeferino tanpa ekskresi.
"Di apartemen kecil, Kak. Aku kerja sampai malam hari," sahut Emma tanpa mau menatap Zeferino.
"Apa yang kamu pikirkan tinggal di tempat kumuh dan bekerja seperti ini? Apa kamu tidak kasihan dengan janinmu?" hardik Zeferino
"Tidak ada pilihan, Kak. Aku tidak punya uang lebih, hanya ini yang bisa kulakukan." Emma sangat takut sekarang berhadapan dengan sosok yang ditakuti.
Zeferino berdecih sebal, "Apa kamu ini idiot, Emma? Kenapa tidak mau minta tanggung jawab? Siapa pria itu?" sinis Zeferino membuat Emma ketakutan.
Emma bungkam tanpa mau menjawab. Namun, tubuh bergetar menahan air mata menjawab semuanya
Zeferino berdeham sebentar sebelum menyampaikan maksudnya, "Kamu harus minta tanggung jawab walau ku akui kamu yang salah!"
"Kak, aku takut semua berakhir pilu. Aku ingin sekali jujur tapi takut dibenci. Ini salahku, Kak. Bagaimana jika dia menolak tanggung jawab? Maaf aku tidak bisa memberi tahu siapa dia," cicit Emma.
Zeferino pusing sekarang dikala masalahnya menumpuk datang lagi hal baru. Yara-nya belum ditemukan sampai sekarang. Dia mencari ke seluruh benua Australia di bantu para Mafia, Yakuza dan Gangster namun nihil.
"Aku tidak tahu harus komentar apa," ujar Zeferino.
Manajer restoran mewah itu menghampiri Emma dengan tampang sangar. Dia menunjuk wajah Emma kasar.
"Kamu di pecat karena sudah menyalahi aturan. Berani sekali membawa pacar dan membuat malu restoran kami!" geram wanita cantik kisaran 30-an.
Zeferino menepis kasar tangan wanita itu.
"Jangan berani membentak Adikku, yakinlah dalam 3 menit restoran ini bangkrut!" Zeferino menelepon bawahan-Nya untuk menghancurkan restoran itu dengan menarik seluruh investor dan segala penghasilan.
Manajer itu mendelik horor melihat Zeferino, " Mr Teixeita."
"Emma, ayo pulang!" Zeferino menyerahkan uang 100 ribu dolar lalu beranjak begitu saja membawa Emma.
"Kenapa kamu bodoh sekali, dia Mr Teixeita pemilik restoran ini bodoh. Kita bangkrut sekarang," panik wanita itu.
Namun semua usaha tidak membuahkan hasil. Karena detik itu juga restoran tingkat 7 di robohkan begitu saja.
Zeferino adalah sosok mengerikan, jangan pernah main-main dengannya jika tidak mau nasib sial menghampirimu.