Burning Passion In Love

Burning Passion In Love
BPIL - Anger!



Aku sudah tidak sanggup lagi hidup bersama Zefer. Biarkan aku pergi jangan pernah menahanku. Pria berengsek itu benar-benar membuat hatiku hancur tidak berbentuk.



Aku bersyukur kandungan ini kuat. Setidaknya hanya calon anakku yang kupunya. Tidak akan kubiarkan Zefer menyentuhnya walau dia Ayah biologis.



Aku ambil koper dan memasukkan seluruh bajuku ke dalam koper. Ini pilihan hidupku dan Stop menyakiti perasaan karena kesabaranku sudah habis.



Zeferino berengsek itu sangat menjijikkan. Ah, perutku kram. Apa karena aku berlari dan terlalu stres?



Aku menunduk sembari mengusap perutku. Tenang, Nak kita akan segera pergi dari Ayahmu. Kita akan hidup berdua tanpa kesakitan.



Mama janji akan melindungi dan memberikan segala kebahagiaan yang tidak kamu perolah dari Ayahmu.



Cukup lama aku begini demi merilekskan pikiran dan rasa keram. Setelah kuat, aku bergegas menata pakaian di koper hingga kudengar suara pintu terbuka. Tidak perlu dijelaskan pasti tahu.



"Yara, Sayang. Kamu mau ke mana? Sungguh itu hanya salah paham!"



Aku ingin pergi darimu, berengsek. Salah paham, Keh aku dengar pembicaraan kalian dan kamu berusaha menjelaskan. Omong kosong!



"Yara, jangan diam saja, stop mem-packing!" sentak Zeferino sembari menarik lenganku.



"Apa? Aku muak padamu, Zefer ...! Berhenti bersandiwara karena aku jijik padamu!" berang tentu saja.



"Yara, semua itu salah paham___"



"Aku percaya dia karena aku dengar percakapan Anda dengan Aunty! Tidak perlu mengelak karena aku sudah muak!" selaku dengan penuh emosi.



Mata tajam berpupil Green itu membulat sempurna. Tatapan itu menyendu, "Itu hanya masa lalu, Yara. Kamu masa depanku. Tolong percaya itu semua salah paham!"



"Alasan, aku muak, Zefer ...! Jangan pernah berkata omong kosong. Kamu pembohong Zefer, katamu kamu tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita ternyata sudah pernah tunangan dan memiliki anak. Hebat sekali!"



Aku meluapkan emosi sekarang.



"Yara, kamu tidak pernah bertanya masa laluku. Dan aku juga tidak mau membuka itu karena sangat menyakitkan. Tolong, Yara jangan begini!"



"Aku sudah muak, Zefer. Aku lelah hidup dengan pria yang selalu menyakitiku. Pria yang selalu memberikan kepahitan tiada akhir. Aku tidak sanggup lagi karena satu yang kurasakan sekarang, menyerah. Aku membencimu, Zefer!"



Akhirnya aku mampu berkata begitu



Zeferino membatu mendengar perkataanku. Siapa peduli.



Aku kembali mem-packing pakaianku.



"Yara, aku mencintaimu tolong jangan begini. Mari selesaikan masalah dengan kepala dingin. Itu semua salah paham ___"



"CUKUP, ZEFERINO! AKU INGIN CERAI DAN BIARKAN AKU KELUAR DARI RUMAH INI. KAMU BILANG CINTA TAPI BERULANG KALI MENYAKITIKU. KEH, JANGAN MIMPI AKU MAU BERTAHAN!" raungku dengan penuh emosi membara.



Aku tatap matanya dengan nyalang serta penuh kebencian. Biarkan saja ini menjadi akhir.



"Tidak, aku tidak mau. Jangan bilang begitu, Yara. Maafkan aku sungguh itu semua salah paham!"



Hatiku sesak melihat kerapuhannya. Aku menangis dan air mata terus keluar tanpa bisa kucegah.



"Cerai, aku ingin kita berakhir!" sakit tapi kuharap semua ini jalan terbaik.



***




Emosimu meluap, kemarahanmu memuncak. Aku paham itu.



Tapi, satu pintaku tolong mengerti kalau aku sangat mencintaimu.



Hatiku hancur, Yara mendengar perkataanmu kalau kamu ingin cerai.



Tidak, aku tidak akan membiarkan itu terjadi.



Demi menahanmu, maka aku harus melakukan sesuatu yang menyakitkan.



Sekali lagi maaf dan aku terima kebencianmu agar kamu bertahan. Senyum iblis tapi hatiku menangis.



"Kamu mau pergi? Silakan!"



Mata Yara mendelik tidak percaya.



"Aku senang mendengar itu. Akhir ___"



Dengan cepat aku sela perkataan Istriku.



"Jangan senang dulu, kembalikan uang 10 miliar-ku dan pergilah. Karena kita sudah menikah setengah perjalanan maka aku kurangi. Ayo kembalikan uang itu atau mendekam di penjara seumur hidup?"



Apa perkataan ini terlalu menyakitkan? Ya Tuhan, demi menahan orang yang ku cinta, aku rela berkata penuh luka. Yara, maafkan aku. Sungguh jangan tinggalkan aku.



Aku tersakiti begitu dalam akan ini, kita sama terluka. Dan kebencian dirimu sekarang pasti bertambah. Maaf!



Plak



Tamparan kuat mendarat di pipi. Luapkan emosimu Yara, tunjukkan kemarahanmu. Tapi, jangan tinggalkan aku.



Setelah emosimu reda, maka aku akan menjelaskan semuanya tentang masa laluku. Maaf, Yara.



Napas Yara memburu penuh emosi membara. Dia mengacungkan jari telunjuk tepat di depan wajahku.



"Kau ... Lelaki iblis yang tidak punya perasaan. Aku tidak sudi tinggal di sini, maka aku janji akan melunasi hutang itu. Aku ingin cerai darimu, sialan!" desis Yara sembari menggeram murka.



Aku baru tamu Istriku mengerikan juga



"Whatever, Honey, but kapan kamu melunasinya? Yah tinggal beberapa minggu lagi kan? Bertahanlah walau itu menyakitimu. Tetap tinggal dan tidur di sini atau tidur di penjara. Karena uang 10 miliar itu sanggatlah banyak. Yah jika kamu menjual seluruh organmu maka 10 M akan mudah kamu raih!" papar ku dengan santai.



"Berengsek kamu, Zeferino! Aku menyesal mencintai iblis sepertimu. Aku sangat membencimu, sialan!" teriak Yara kesetanan.



Sakit, hatiku hancur sekarang. Tapi, ini demi kebaikan kita.



Yara aku sangat mencintaimu dan biarkan aku mempertahankan hubungan kita dengan segala cara.



Aku rela kamu banci asal kita bisa bersama selamanya.



Maafkan keegoisanku, Sayang.



Yara duduk di ranjang sembari menangis memilukan. Jangan menangis Sayang, maaf.