Burning Passion In Love

Burning Passion In Love
BPIL - LAST!



Zeferino menatap hamparan bunga Lavender dengan pandangan takjub. Mendiang Ibunya sangat menyukai bunga Lavender. Menurut Ibunya bunga warna ungu itu sangat angun dengan bau meneduhkan.



Pandangannya beralih menatap Yara yang asyik memetik tangkai bunga Lavender. Sebuket bunga cantik telah terangkai indah.



"Untuk Suamiku."



Yara menyerahkan satu buket bunga Lavender pada Zeferino. Melihat Zeferino dia jadi ingat bunga mawar yang berlindung di bawah duri. Seperti Suaminya berlindung menutupi kekurangan dan kelemahan di bawah sifat bengis.



"Kenapa kamu memberikan aku bunga ini?"



Zeferino heran kenapa bisa Yara memberikan Bunga Lavender? Bukanya Yara selalu berkoar bunga mawar identik dengan dirinya. Sungguh Yara sangat aneh mengekspresikan dirinya.



"Karena Lavender itu meneduhkan, seperti Zefer yang selalu teduh di mataku. Aku sangat mencintai, Suamiku!"



"Kamu pintar sekali merayu, Istriku."



Zeferino menyesap bau meneduhkan yang menguar dari bunga Lavender. Senyum manis terukir indah tatkala Yara mengecup rahangnya.



"Zefer, aku sangat mencintaimu!"



"Aku juga sangat mencintaimu, Yara."



Yara menyandarkan kepalanya di bahu lebar Suaminya. Jemari mereka saling menaut mesra. Tangan kanan Yara terus mengusap perut buncitnya.


"Zefer, kamu tahu aku sangat bodoh."



"Iya, kamu sangat bodoh dan sialnya aku sangat mencintaimu."



Yara mendongak dengan pandangan memuja. Air mata luruh deras mengingat kejadian beberapa minggu lalu. Kesalahan fatal menyebabkan dirinya kehilangan Zeferino.



"Jangan mengingat masa lalu, ingatlah masa depan. Hanya ada kita dan calon anak kita."



"Bagaimana aku tidak ingat ketika keluargaku, terkhusus aku menyakitimu begitu dalam sampai trauma kamu terbuka. Bahkan saat kamu terpuruk aku tidak hadir malah menuduh kamu selingkuh dengan, Jennifer. Andai aku tidak bodoh dan mudah terhasut mungkin Kak Jennie masih hidup dan kamu tidak perlu di rawat di rumah sakit. Zefer, maafkan kebodohan terbesarku. Tolong maafkan kesalahan itu yang tega menghancurkan perasaanmu. Gara-gara kami trauma itu terbuka dan mengharuskan kamu menjadi anak kecil 6 tahun. Kamu berjuang sendiri menyembuhkan luka akibat kehilangan Jennifer, Sean dan Allen. Bahkan kamu trapi beberapa hari untuk menenangkan trauma yang kami buka. Tolong maafkan aku!"



Yara menangis tersedu mengingat masa sulit Zeferino akibat keluarga serta keegoisannya. Jika ingat Suaminya kehilangan kesadaran dan berubah menjadi orang lain itu terasa menghantam raga.



Zeferino merengkuh Yara erat, pasalnya konflik paling berat yaitu saat keluarga Yara datang. Sangat sesak mengingat 3 orang yang berharga meninggal dengan cara tragis. Ingin sekali emosi pada ke dua orang tua Yara, tetapi jika Tuhan berkehendak harus apa?



"Aku memang sangat lemah, Yara. Trauma itu begitu menyiksa. Hanya Kak Sean dan Jennifer yang tahu tentang trauma itu.Β  Aku sangat menyayangi Jennifer sebagai sahabat, saudari dan rekan. Dulu keluarga Jenni yang menolong dari kematian. Namun, semua berakhir tragis ketika musuh Ayah membantai keluarga Jennifer. Semua terasa menyesakan, tetapi siapa peduli? ...,



... kamu wanita paling bodoh, Yara. Andai aku tidak mencintaimu mungkin tidak akan sudi kembali padamu. Kamu mengulang kesalahan yang sama setiap saat. Kamu egois, keras kepala, tidak punya perasaan saat aku butuh sandaran dan kekuatan kamu malah terhasut mereka. Bahkan saat berita kematian Sean dan Allen aku butuh kamu tetapi nyatanya kamu berpaling. Sakit sekali, Yara. Dan lebih menyakitkan kamu tidak mempercayai cinta dan menuduhku selingkuh dengan Jennifer ...,



... hai, aku harus kehilangan Jennie gara-gara perdebatan gila Ibumu. Dan dari situlah aku jadi gila dan kehilangan kewarasan. Karena tidak kuat menopang beban aku kembali jadi anak kecil tidak berdosa. Sangat tahu Ayahmu sangat membenci aku. Ayahmu adalah musuhku, kami tidak sejalan tetapi sudahlah itu masa lalu dan kini aku ingin membuka lembaran baru ...,



... aku sangat mencintaimu, Yara. Sekarang kita akan tinggal di Albury jika Thom dan Emma menikah. Aku akan serahkan rumah ini untuk mereka. Sudah jangan menangis kasihan Baby nanti sedih. Tidak usah menyesall perbuatan lampau, karena sekarang hanya ada kita bersama calon buah hati kita. Cerialah Istriku yang manis."



Zeferino terbawa alur membuatnya ingat masa sulit itu. Sangat sakit sampai rasanya ingin menyerah dan mati menyusui kedua orang tuanya, Sean, Jennifer dan Allen. Semua berakhir manis saat Dominik sang Ayah mertua menyebalkan mengaku kalah dan meminta maaf dengan tulus. Semua begitu indah tatkala kedua orang tua Yara merestui hubungan mereka.



Yara menangis histeris mengingat konflik berat itu. Dia begitu terpuruk saat mendengar setiap kata Zeferino. Kenapa bisa dia sebodoh itu? Kenapa bisa dia tega menyakiti Zeferino sedalam itu dan tidak ada saat Suaminya terpuruk akibat beban berat?



Zeferino merengkuh Yara erat sembari mengusap rambut dan punggung Istrinya. Semarah apa pun dia pada Yara dan sebodoh apa pun Istrinya, tetap saja tempat untuk pulang. kecewa itu ada namun apa di kata Zeferino terlalu mencintai Yara.



Yara terus menangis dalam dekapan Zeferino. Sungguh penyesalan itu sangat menyiksa batin. Dia sangat berdosa menelantarkan Suaminya di kala butuh sandaran.



"Sudah jangan menangis, Istriku. Ingat ada anak kita di sini. Satt, tenanglah jangan begini semua terlewati begitu manis. Kamu dan aku akhirnya bersama selamanya. Anak kita butuh ketenangan bukan tekanan. Jika kamu tidak berhenti maka Zeferino akan pergi!"



"Zefer, kamu begitu manis dan mudah menenangkan aku. Kita akan bersama selamanya bahkan jika ajal menjemput sekarang aku siap menghadapi. Zeferino aku sangat mencintaimu selamanya bahkan cinta kita akan abadi. Di kehidupan selanjutnya kita akan kembali bersatu. Zefer, aku sangat mencintaimu dan semoga ini awal baru. Hanya ada kita bersama calon buah hati kita."



"Aku juga sangat mencintaimu selamanya, Yara."



"Zefer, aku sangat mencintaimu. Sangat cinta sampai kapanpun bahkan jika aku tiada cinta kita tetap ada. Suamiku, aku sangat mencintaimu!"



"Ha ha ha, kamu begitu manis. Berapa kali kamu mengatakan cinta padaku? Kamu sangat manis, Yara."



"Aku tidak peduli berapa kali mengatakan cinta padamu. Di setiap hembusan napas aku selalu mengingat namamu, cintamu dan seluruh tentangmu itu semua akan selalu terucap. Yara sangat mencintai Zefer. Aku sangat mencintaimu, Zefer. Cintaku sangat tulus walau kuakui cintamu yang lebih tulus. Aku sangat mencintaimu dan itu tidak mampu kujabarkan."




Zeferino terharu mendengar perkataan Yara. Dia rengkuh tubuh mungil Istrinya erat sembari menciumi puncak kepala Yara.



"Sudah aku malu kamu mengatakan cinta berulang kali. Aku sangat terharu mendengar perkataan kamu, Yara. Aku juga sangat mencintaimu selamanya!"



Zeferino mengangkat dagu Yara lalu mencium bibir mungil wanitanya lembut. Ciuman penuh cinta dengan perasaan meluap.



"Aku sangat mencintaimu begitupun calon buah hati kita. Lihat Zefer sebentar lagi aku lahiran. Tebak anak kita laki-laki atau perempuan?"



Yara menyandarkan tubuh di tubuh kekar Zeferino. Tangan mungil itu terus mengusap perut buncitnya.



Zeferino menyanggah tubuh dengan satu tangan sementara satu lagi merengkuh Yara. Dia kecup pelipis Istrinya penuh sayang.



"Perempuan atau Lelaki sama, Yara. Asal dari kamu apa pun sangat bahagia. Bagiku kalian adalah sumber kekuatan, kebahagian dan tempat untuk bersandar. Aku mencintaimu dan juga calon buah hati kita."



Yara mendongak dan langsung menunduk ketika Zeferino mencium bibirnya. Sangat terharu mendengar perkataan Zeferino yang tulus dan mulia.



"Siapa nama anak kita kelak?"



"Angelina untuk perempuan dan Stefano untuk lelaki. Bagaimana bagus tidak?"



Yara tersenyum lebar mendengar calon nama untuk Buah hati mereka.Β  Zeferino memang Suami sempurna.



"Nama yang sangat bagus, aku sangat mencintaimu!"



"Aku juga sangat mencintaimu!"



Yara meremas jemari kekar Zeferino sesekali dia kecup punggung tangan sang Suami. Sungguh dia sangat bahagia bisa menjadi Istri sekaligus calon ibu dari Zeferino.



"Zefer, mau apa ke Brazil?"



"Mengurus perusahaan cuma dua hari. Sekalian membawa Veronica dan Kalila."



"Huft, aku ingin ikut bersama, tetapi kondisiku tidak memungkinkan. Emma sangat merindukan mereka, kenapa kamu begitu baik pada mereka?"



"Cukup tunggu Suamimu di rumah. Karena aku ingin Emma bahagia dan kebahagiaan ada pada dua wanita ular itu. Aku ingin jadi Kakak yang baik."



"Kamu adalah Kakak terbaik, Zefer. Aku sangat mencintaimu dan sangat bangga mendapatkan kamu. Kak Ray dan Emma saling mencintai, pasti berakhir manis."



"Hn, aku juga sangat mencintaimu."



"Zefer, akhirnya kisah kita berakhir di sini. Begitu banyak rintangan menghadang kita, namun kita selalu bisa melewatinya sepenuh hati. Terima kasih sudah mau menjadi Suami dari wanita bodoh ini."



"Hn, perjuangan kita terbayar manis, Yara. Aku juga berterima kasih sudah mau menjadi Istri dari Pria bengis."



Zeferino dan Yara saling melempar senyum manis, perlahan tetapi pasti bibir mereka menyatu. Tidak ada lumatan hanya sebuah ciuman penuh cinta dan kebahagian membuncah.



****



TAMAT



END



FIN



****



TERIMA KASIH BANYAK SAYANGKU, SUDAH MENGIKUTI BPIL SAMPAI SINI. TUNGGU 3 EXTRA PART DARI ROSE!



πŸ’žπŸ’žπŸ˜˜πŸ˜˜