Burning Passion In Love

Burning Passion In Love
BPIL - Excel!



Tidak terasa kandungan Yara memasuki minggu ke 8. Dia semakin waswas akan Zeferino. Bagaimana jika tahu dirinya hamil? Lalu bagaimana respons Suaminya?



Apa Zeferino langsung menyuruh dirinya aborsi atau membunuhnya?



Yara tidak sanggup jika membayangkan kehilangan janinnya. Dan selama 3 minggu bersama, ia terlihat menghindari Zeferino.



Yara sedang menonton TV sembari mengemil makanan ringan.



Chup



Yara terkejut saat ada yang mengecup pelipisnya. Matanya memicing melihat Zeferino terlihat tersenyum tanpa dosa.



"Aku punya hadiah untukmu?" Zeferino menyerahkan dua tiket menonton bioskop.



Yara menatap tiket itu sedikit berbinar. Mungkin saatnya memulai awal baru, mencoba memberitahu kebenaran kalau ia hamil.



Yara yakin, Zefer pasti menerima anaknya. Jika tidak lebih baik pergi.



"Bagaimana?" tanya Zeferino sembari duduk manis di samping Yara.



"Ikut, maaf aku akhir-akhir ini terlihat beda," ujar Yara tapi kurang tulus.



Zeferino merengkuh Yara posesif lalu mengecup kening Istrinya mesra. Hatinya sakit tapi berusaha tidak memperlihatkan kesedihannya.



"Tidak apa, ayo ganti kita berangkat. Film-Nya mulai jam 8 malam," titah Zeferino.



"Bagaimana ganti jika di peluk terus?" rajuk Yara.



"Baiklah, aku tunggu."



Usai kepergian Yara, Zeferino menjambak rambutnya kasar. Dia merasa sakit akan perubahan Yara.



Wanitanya terlihat menjauh walau dekat. Tidak manja dan perhatian lagi. Sebenarnya ada apa? Dia melepas dasi dan jas lalu menyisakan kemeja putih dan celana bahan. 3 kancing teratas ia buka tentu itu memperlihatkan dada bidang yang wow.



Yara keluar menggunakan pakaian tertutup.



"Ayo!" seru Yara.



Zeferino tersenyum lalu merengkuh pinggul Yara. Mereka berjalan seraya saling merengkuh erat.



***



Yara terlihat bahagia melihat film Romantis Hurt tadi. Dia sampai menangis bombai akibat ulah pemeran utama pria.



"Zeferino, ayo kita beli makanan!" riang Yara sembari mengapit lengan kekar Zeferino.



"Ayo, Say ___"



"Zefer!" panggil seseorang memotong perkataan Zeferino.



Zeferino dan Yara menengok ke arah sumber suara. Mata Zeferino memicing tajam melihat pris tampan dengan postur tubuh tinggi atletis.



"Lama tidak berjumpa, Zefer!" orang tampan itu perlahan mendekat ke arah mereka.



Zeferino spontan merengkuh Yara posesif, "Mau apa?"



"Wah, masih saja bajingan dan sarkasme. Siapa wanita itu? Apa jalang barumu?" tanya pria itu sambil tersenyum mengejek.



Yara tidak suka dengan pria itu, "Zefer."



Zeferino tidak menyahut panggilan Yara namun pelukan itu semakin erat.



"Wow, posesif sekali. Jadi benar itu jalang barumu," celetuk pria itu enteng.



"Tutup mulut besarmu, Excel!" bentak Zeferino.



"Marah, eh? Keh menjijikkan!" cela Excel.




Excel terperangah mendengar perkataan Zefer. Namun langsung tersenyum culas.



"Bangsat, sepertinya kamu sudah melupakan Vio, dan kembali bermain wanita," cetus Excel dingin.



Yara kembali ingat percakapan Linda dan Zeferino tentang Vio. Rasanya menyakitkan.



"Tutup mulutmu atau ku robek!" gertak Zeferino.



"Siapa peduli," sahut Excel enteng.



"Ayo kita pergi, Yara." Zeferino membawa Yara berlalu namun berhenti tatkala mendengar kata paling menyakitkan.



"Dengar Istrinya, Zefer. Suamimu itu pernah memiliki tunangan dan mempunyai anak namun dengan kejam membunuhnya. Wanita itu bernama Violet dan semenjak itu Zefer sering bermain dengan wanita malam dan bergonta-ganti pacar. Saat ada yang hamil maka Zefer menyuruh aborsi. Wanita secantik dirimu tidak patas dengan lelaki bajingan itu!"



Yara menatap Zeferino tidak percaya. Air mata luruh deras tanpa mau di pendam. Rasanya hancur sangat sakit sampai tidak mampu menjabarkan.



"Keterlaluan!" desis Yara penuh emosi.



Zeferino memegang lengan Istrinya berusaha menjelaskan, "Yara, itu semua bohong tolong percaya," pinta Zeferino.



Yara menepis kasar tangan Zeferino dan memilih pergi untuk pulang. Tujuannya satu cerai dan pergi dari kehidupan Zeferino.



Sejujurnya dia ingin membuka lembaran baru bersama Zeferino lagi dan melupakan masa lalu. Namun lagi-lagi terkhianat tanpa belas kasihan.



Rasanya sangat menyakitkan sampai Yara ingin pergi dari dunia ini. Zeferino sangat berengsek dan kebencian itu semakin menambah.



Zeferino mengejar Yara tapi tidak mendapatkan respons bagus. Dia menatap nyalang Excel, lalu dengan cepat menghampiri pria sumber permasalahannya.



Buakh



"Keparat kau bedebah! Berani sekali memfitnahku. Sungguh aku ingin melenyapkan, mu!" raung Zeferino.



Excel dan Zeferino saling pukul tanpa ada yang berani melerai.



"Kamu memang seorang seperti itu sering bergonta-ganti pasangan dan menyuruh Vio aborsi!" sengit Excel.



"Bajingan, aku tidak pernah menyuruh hal gila seperti itu dan bergonta-ganti pasangan. Aku benar-benar akan membunuhmu jika berani macam-macam!" gertak Zeferino.



Excel terlihat bonyok sekarang.



“Apa buktinya ?kamu selalu seenaknya sendiri memperlakukan Vio bak jalang!”



“Omong kosong, jaga ucapanmu, bajingan!”



"Kalau tidak, kamu mau apa? Kamu adalah pria keparat, Zeferino. Kamu membunuh Leon anak Vio ___”



"Apa yang bunuh? Leon jatuh sendiri tanpa usur sengaja. Kamu dan Vio menusuk diriku dari belakang. Leon anakmu bukan anakku. Kalian tega menyakiti diriku tanpa perasaan. Jangan harap aku lupa akan semua itu ...! Jika berani menyakiti Yara maka nyawamu melayang!" desis Zeferino berbahaya.



Excel membisu tanpa kata mendengar perkataan Zefer.



"Aku tetap akan menyakitimu karena Vio lebih memilih kamu, bedebah. Dan Putraku mati karena kejahatanmu. Ingat Zefer aku menuntut balas!" raung Excel.



"Dasar gila, karena dendam kamu buta. Karena ambisimu kamu tega menusuk sahabatmu sendiri dan parahnya memfitnah tanpa perasaan. Sahabat idiot, itulah kamu. Jika saja kamu bukan temanku mungkin sudah mati!"



Zeferino berlalu tanpa memedulikan sekitar.



Excel menggeram murka mendengar perkataan Zeferino. Dia dan Zeferino dulu bersahabat namun hancur karena wanita.



Zeferino yang baik mau di bodohi Violet dengan cinta palsu. Wanita itu datang memanfaatkan harta dan Kekuasannya. Zeferino yang sangat mencintai Violet dengan bodohnya percaya Leon anaknya.



Sungguh di luar nalar, karena Zeferino tahu lebih dahulu akan kebusukan mereka. Perusahaan Excel di hancurkan Zeferino lalu Violet terpaksa kehilangan pekerjaannya menjadi model dan artis.



Violet depresi karena menjadi miskin. Dan kini mereka bangkit ingin menghancurkan Zeferino kembali.