
Zeferino duduk tenang dengan gaya elegan. Kaki ia silang dan tangan bersedekap dada.
"Yo pido herencia, Padre (saya meminta warisan, Ayah)!" tegas Zeferino mutlak.
"Estas loco (apa kamu, gila) , Zefer?" hardik Henrique.
"No estoy loce, Papa! Dame herencia (saya tidak gila, Ayah. Beri saya warisan) !" tegas Zeferino.
Mereka berbicara menggunakan bahasa Spanyol.
"Zefer no puede, ¡te das cuenta de que tienes más dinero que tú, papá! (tidak bisa, Zefer. Anda sadar memiliki lebih banyak uang daripada, Ayah!)" tolak Henrique.
"Maldita sea, quiero ese legado. Si sigues insistiendo, los destruiré!. *Sial, aku ingin warisan itu. Jika Anda terus bersikeras, saya akan menghancurkan mereka*!"
Zeferino menggertak Ayahnya tanpa peduli lawan bicaranya.
Henrique menatap Putranya dengan terluka.
"Apa salah, Ayah sampai kamu ngotot minta harta. Itu?"
"Tidak ada, aku hanya ingin aset berharga kecuali istana ini!" jawab Zeferino kalem.
"Lalu Thomas bagaimana?" tanya Henrique.
"Anda gila, Mr Teixeita! Tentu saja uang semua yang aku raih darimu akan jadi milik Adikku. Untuk Istri serta 3 cecunguk sialan itu akan aku kasih rumah. Sudah, gampang bukan? Tanda tangan surat kuasa itu sekarang!"
Henrique menurut akhirnya menyerahkan seluruh aset berharga perusahaan dan segala warisan untuk Zeferino.
"Sorry, Papa. Ini demi kebaikan kita," batin Zeferino.
"Sudah, sekarang kamu puas?" sinis Henrique.
"Sangat puas!" cetus Zeferino.
Zeferino mengeluarkan pistol dari balik saku jas. Dia menodong moncong tepat di jidat Ayahnya.
"Ayah, ini yang terakhir. Akan aku beritahu sebuah kebenaran pahit. Ibu meninggal di tangan Veronika karena konspirasi kecelakaan dan minuman keras. Mereka dengan licik ingin menghancurkan kita lalu mengambil harta kita makanya aku meminta warisan itu supaya aman. Sungguh, aku tidak mau Ayah dibunuh oleh mereka. Biarkan Zefer yang membunuh Ayah. Tolong maafkan aku, tolong maafkan rencana licik ini. Demi Tuhan, Zefer sangat mencintai, Ayah. I love you and good bye, Daddy!"
Dhorr
Dhorr
Dhorr
Pria paruh baya itu tersenyum teduh. Dia menggenggam tangan Putranya.
"Nak, Ayah tahu rencana busuk mereka dan aku melakukan peran antagonis agar mereka tidak sadar. Jaga Thomas dan lindungi Adikmu dengan nyawamu. Ayah, menanti saat dirimu membunuh Ayah. Nak, Ayah juga mencintaimu, selamat tinggal," lirih Henrique sebelum menghembuskan napas terakhir.
"Ayah," gumam Zeferino penuh luka. Dia merengkuh tubuh tidak bernyawa Henrique erat dengan air mata mengalir deras.
"Kenapa takdir begitu kejam, Tuhan. Ayah maafkan Zefer. Aku akan menjaga mereka dengan caraku. Semoga kamu tenang di Nirwana, Ayah!" bisik Zeferino penuh luka.
***
Para polisi menyelidiki kasus pembunuhan Mr Henrique Joe Raymundo Teixeita. Mereka meringis ngilu saat komisaris perusahaan hebat Teixeita meninggal secara tragis.
Thomas khawatir dan panik melihat berita itu. Tapi, dia merasa gagal karena kecelakaan beberapa bulan lalu mengakibatkan kakinya patah dan tetak. Saat itu dia hendak pulang menghadiri resepsi pernikahan Zeferino tapi di tengah perjalanan menuju bandara dia mengalami kecelakaan fatal.
"Ayah, maafkan Thomas tidak bisa pulang," tangis pemuda tampan itu.
Di rumah mewah bak istana Teixeita diliputi kesedihan. Sudah satu minggu berlalu setelah pemakaman Henrique.
Pengacara Henrique datang ke rumah menyampaikan maksudnya.
Veronika, Emma, Kalila dan Dylan (dia masih bonyok pakek kursi roda dan tangan di gips) tersenyum culas. Mereka beranggapan bahwa warisan itu pasti jatuh pada mereka.
"Dari surat kuasa mendiang Mr Teixeita meninggalkan surat kuasa beserta warisan. Teixeita Corporations, akan di wariskan oleh Putranya Zeferino. Segala aset berharga seperti perusahaan, Resort mewah, seperti hotel dan apartemen, Pulau pribadi serta harta lainnya jatuh pada Mr Zeferino Umoja Raymundo Teixeita dan Thomas Jose Raymond Teixeita. Untuk Istri serta 3 anaknya mendapatkan rumah ini!"
Jabar pengacara itu dengan tegas. Dia menyerahkan surat itu saat Veronika menolak isinya namun semua sudah tertulis jelas. Rasanya begitu menyedihkan. Jika di jual pun, rumah ini berharga fantastis.
Zeferino tersenyum culas ke arah Veronika beserta saudara tirinya. Ia menjabat tangan sang pengacara lalu tersenyum tipis seraya mengatakan terima kasih.
"Yara, ayo kita kembali ke Australia. Aku akan menyuruh orang kepercayaan untuk mengelola perusahaan. Kita tinggalkan rumah menjijikkan ini karena kita tidak ada hak akan rumah!" tegas Zeferino.
Rosalicia masih pusing memikirkan tentang segala urusan ini. Sepertinya dia tahu rencana semua ini adalah Suaminya yang mengatur. Tapi, siapa yang membunuh Ayah mertua? Zeferino tidak akan tega membunuh Ayah kandungnya sendiri.
"Kamu berhasil mendapatkan harta orang tuamu. Tapi, kenapa aku merasa ganjal tentang permasalahan ini. Saat beliau wafat kamu terlihat santai terkesan datar. Sebenarnya siapa pelaku pembunuhan, Ayah mertua!" batin Rosalicia berkecamuk ria.
Zeferino berhenti tepat di depan Veronika.
"Selamat menikmati harta, ok! Aku pergi dulu!" ejek Zeferino membuat mereka meradang.