
Thomas berlari mencari Emma dan akhirnya ketemu saat di taman. Hatinya terhantam badai melihat Adiknya meringkuk sembari menangis pilu.
Langkah kaki itu semakin cepat untuk menggapai Emma. Ia duduk di samping Adiknya dengan hati kalut penuh penyesalan.
Emma belum sadar kalau Thomas ada di dekatnya. Rasa sesak membelenggu jantungnya.
"Sakit, hiks, aku tidak kuat," lirih Emma. Tubuhnya menegang saat merasakan pelukan seseorang dan ia tahu siapa yang merengkuh. Tubuhnya lelah makannya memilih diam tanpa memberontak.
"Kamu harus kuat, ingat ada janin yang kamu kandung," hibur Thomas.
Emma berusaha lepas tapi tidak bisa.
"Aku akan menjelaskan sebuah fakta. Kakak ipar adalah gadisku dulu yang sangat aku cinta bahkan sampai sekarang. Dia kusakiti sedemikian rupa sampai membuat ia benci padaku. Aku akan melupakan Rosa dan merelakannya dengan Kakak. Mungkin sulit karena dia cinta pertamaku. Jika kamu berkenan mau menjadi obat menyembuhkan luka hatiku?"
Thomas memberitahu isi hatinya pada Emma. Mungkin ini terbaik untuk mereka pasalnya Emma mengandung darah dagingnya. Semestinya ia melupakan Istri Zeferino berbalik membuka hati.
Emma tercengang mendengar kebenaran itu. Ada rasa sakit teramat dalam dan juga haru mendengar kalimat terakhir Thomas.
"Aku tidak mau, kamu kasar Kak. Aku takut sesuatu terjadi jika ___”
"Aku emosi Emma. Aku sangat berbeda jika marah seperti tadi. Maaf menyakitimu tapi percayalah aku akan menjagamu. Jika sudah melahirkan nanti, kamu boleh memilih menikah atau pergi dariku. Aku tidak akan memaksa karena hanya satu kamu bahagia bersama anak kita!"
Thomas menangkup pipi gembil Emma lalu mengecup pipi Adiknya penuh perasaan.
Emma luluh mendengar perkataan Thomas, sungguh hatinya berbunga bunga. Jika ini mimpi maka ia tidak mau bangun. Percayalah dia sangat mencintai Thomas sedari awal.
"Menikahlah denganku, Emma setelah anak kita lahir. Mari hidup bahagia bersama hanya ada kita," pinta Thomas sembari tersenyum tipis.
Emma hanya diam tanpa kata hingga merasakan bibir Thomas menempel di bibirnya.
"Tolong ajari aku cinta dan jadilah obat untuk melupakan dia," bisik Thomas.
Emma mengaguk lalu merengkuh leher kokoh Thomas erat. Dia menangis lagi bahkan lebih keras.
"Kamu milikku, Emma," bisik Thomas.
"Iya aku milikmu," sahut Emma.
"Terima kasih, apa kamu lelah?" tanya Thomas.
"Hu'um, aku lelah," jujur Emma.
Thomas menyelipkan tangan di bawah bahu dan lutut gadisnya dan perlahan mengangkat tubuh mungil Emma.
***
Ponsel Thomas berdering menandakan ada yang menelepon. Sang empu menerima panggilan dari Kakaknya.
"Hello, ada apa, Kak?" tanya Thomas datar. Dia masih betah mengelus perut buncit Emma sesekali dia kecup permukaan perut gadisnya.
"Kemari, Yara mau mendengar penjelasan kamu. Waktumu 30 menit!"
"Shit, Kakak kejam bicara berapa kata langsung di matikan.”
"Ada apa, Kak?" tanya Emma penasaran.
"Kak Zefer meminta aku datang untuk meluruskan kesalah paheman. 1 jam aku kembali, istirahatlah!" Thomas mengecup perut dan bibir, Emma lalu pergi begitu saja.
"Jangan salah paham, aku hanya untukmu!" teriak Thomas sebelum keluar apartemen.
Emma tersenyum manis mendengar perkataan Thomas.
Ceklek
Pintu terbuka menampilkan sosok tinggi berwajah damai. Thomas melangkah menuju Zeferino dan Yara.
Yara meremet tangan besar Zeferino berusaha mencari kekuatan.
Thomas tersenyum menatap mereka.
"Apa kabarmu, Rosa?" tanya Thomas basa-basi.
"Ke inti, Thom!" peringat Zeferino kalem.
Thomas mendelik sinis ke arah Zeferino. Sikap menyebalkan itu mengganggu sekali.
"Baiklah aku akan bercerita dari awal. Kamu masih ingat keluargamu yang ternyata bukan keluarga kandung?" tanya Thomas serius.
"Iya, aku selalu ingat mendiang Ayah dan Ibu," jawab Yara yakin.
"Mereka berniat menjadikan kamu ladang uang dan setelah uang itu mereka dapat maka mereka akan membunuh, kamu!" terang Thomas.
"Bohong, Ayah dan Ibu tidak jahat mereka menyayangiku dengan tulus. Lalu kamu tahu dari mana?" sangkal Yara.
Thomas tersenyum saat Yara menatapnya tajam untuk pertama kalinya. Dia sangat senang tapi salah paham harus segera diluruskan.
"Mendiang Ayah dan Ibumu menculik kamu dan terlanjur menyayangimu begitu tulus. Hingga pada akhirnya para keluarga Ayahmu tidak terima dan melakukan sabotase kecelakaan mengerikan yang mengakibatkan mereka meninggal. Ayah dan Ibumu itu orang yang sangat baik. Perusahaan keluarga palsumu nyaris bangkrut makanya menyuruh orang untuk menculik kamu dari Ayah dan Ibu kandungmu...
... singkat cerita aku tahu semua itu setelah menyelidiki kasus kamu begitu lama. Aku mengumpulkan segala data tentang keluarga tirimu. Awal tahu dan curiga saat itu aku sedang ke kantor Paman sialnya aku mendengar percakapan mereka. Dan dari situlah aku menyelidiki!" papar Thomas.
Yara membekap mulutnya erat berusaha menahan tangisan. Matanya sudah banjir air mata dan sesak sekali.
"Kamu bohong Ray, lalu kenapa kamu tidak memberitahu kebenaran itu dan menjualku?!" lirih Yara dengan tangisan pilu.
Zeferino merengkuh Yara berusaha memberikan ketenangan. Ia terus mengecup puncak kepala Istrinya agar nyaman.
"Ini demi keselamatan kamu, Rosa. Aku mendatangi Madam Hera dan membayar dia supaya menjaga kamu dengan baik. Berpesan jangan sampai kamu tersentuh dan saatnya tiba aku akan menjemput kembali ...
... rasanya sakit saat memutuskan kamu dan menjualmu di tempat laknat itu. Tapi, percayalah aku lakukan itu demi kamu. 2 bulan sebelum kamu melanjutkan pendidikan lebih jauh aku melihat ada yang stalking berniat membunuhmu ...
... kamu ingat ada 5 pria bertopeng nyaris memerkosa dan banyak yang ingin melukaimu? Itu semua suruhan keluarga palsumu. Aku melawan mereka di bantu Kakak Zefer. Tapi, dia tidak pernah tahu kamu. Segala urusan kriminal ditangani Kakak. Tapi, hal mengejutkan terjadi saat keluarga palsu berusaha menjebak kamu di gudang dan mendatangkan orang untuk membunuhmu. Rencana mereka berubah drastis membuat aku nekat membawa kamu kabur dari USA. Lalu, keluarga iblis di hancurkan Kakak karena geram ...
... Aku menjualmu tapi terus memantau. Aku terus berusaha keras mencari orang tua kandungmu. Hingga 2 tahun akhirnya aku tahu siapa orang tua kandungmu. Tapi, saat aku hendak menjemputmu sebuah kecelakaan hebat terjadi membuat aku hilang ingatan dan lupa segalanya walau tidak permanen. Saat aku ingat kembali dan ingin menemuimu ternyata kamu sudah di beli. Semua hancur, hatiku lebur tidak ada harapan, Rosa...
... harapan untuk memiliki kamu lenyap saat tahu kamu pergi. Dan saat ingin menghadiri pernikahan kalian lagi-lagi aku kecelakaan. Aku tidak tahu Rosa rasanya sakit mengatakan ini ...
... kamu ingat janji itu kalau aku akan menikahimu dan kita akan hidup bahagia selamanya. Janji itu selalu kupegang bahkan cintaku masih utuh untukmu. Aku sangat mencintaimu dan sangat merindukan kamu, Rosa. Sangat cinta, tapi semua semu saat kamu menjadi kakak iparku. Semua berasa hancur seketika ...
... aku sudah menelepon keluarga kandungmu mereka akan datang 2 pekan lagi. Mereka konglomerat dari Rusia. Aku berharap kalian bahagia selalu dan saling mencintai tanpa terpisahkan. Waktuku habis, aku pulang dulu!"
Thomas berlalu begitu saja setelah mengatakan kebenaran menyakitkan. Dia menangis dalam diam untuk merelakan orang yang sangat dicintai dan membuka lembaran baru bersama, Emma. Hatinya remuk sekaligus lega akan rahasia besar akhirnya terkuak. Thomas bahagia dan berusaha lapang untuk kebahagian Zeferino dan Yara.
Yara tidak sanggup mengatakan apa-apa. Hatinya hancur begitu pun dengan jantungnya terasa sesak. Begitu pun dengan Zeferino.
"Aku jahat sekali mengambil cinta, Adikku. Cinta Thom begitu tulus dan terkesan suci. Thom maaf tapi aku janji akan menjaga Yara sepenuh hati. Terima kasih, Thom!" batin Zeferino.
***
Asli sesak tulis part ini.