
Thomas membeku melihat Yara di gendong Kakaknya. Perasaan sakit, hatinya lebur dan kebahagiaan yang dia impikan sirna.
Zeferino tersenyum penuh kemenangan melihat mata coklat muda, Thomas. Dia mengejek lewat mata kalau kemenangan menyertainya.
Thomas geram, kenapa Zeferino berhasil menemukan Yara duluan? Andai dirinya yang pertama menemukan Yara, dipastikan tidak akan membiarkan Zeferino menyentuh gadisnya.
Emma mengerjap bingung menatap Thomas yang menatap Zeferino sengit. Dia juga melihat Kakaknya Zeferino tersenyum mengejek ke arah Thomas.
Sebenarnya mereka kenapa?
"Rosa!" seru Thomas membuat Yara menegang.
Zeferino menurunkan Yara perlahan. Tetapi, Istrinya malah memeluk dirinya erat. Ia merasa tubuh mungil Yara mengigil ketakutan.
"Yara," panggil Zefer lembut.
Yara menggeleng kuat tidak mau melihat dan mendengar, Thomas.
"Baiklah, Thom pulanglah Istriku tidak mau melihat kamu!" usir Zeferino kalem.
"Shit, Rosa aku ingin bicara!" seru Thomas.
Yara semakin bergetar menahan ketakutan. Dia menangis dalam diam dalam dekapan Zeferino.
"Sudah cukup, Thom. Kamu membuat Yara ketakutan. Next time!" Zeferino mengusap punggung Yara supaya tenang.
Thomas marah mendengar perkataan Zeferino.
"Rosa milikku, harusnya aku yang menjadi Suaminya!" geram Thomas tanpa tahu ada yang tersakiti mendengar perkataannya.
Emma membeku mendengar perkataan, Thomas. Sepertinya dia tahu ada cinta segitiga di antara mereka.
Zeferino merotasikan mata saat tahu ada Emma di samping Thomas. Apa tanggapan Adiknya soal ini? Gadis mungil itu sedang mengandung namun tertekan.
"Thom, pulanglah bawa Emma. Kasihan dia pucat!" titah Zeferino lalu dengan cepat menggendong Yara untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju kamar.
Thomas berjalan duluan menuju garasi. Dia sangat marah dan sakit hati menerima kenyataan pahit.
Emma sendiri membisu tanpa kata. Apa sekarang dia menyedihkan? Dia mencintai Thomas, tetapi ternyata cinta pria itu untuk Kakak ipar? Rasanya kalut dan sangat menyakitkan.
Tubuh bergetar menahan air mata namun Emma harus kuat. Perlahan kakinya membawa keluar menuju, Thomas.
Emma membuka pintu mobil milik Thomas. Pemandangan pertama dia melihat Kakaknya mengatupkan bibir kasar lalu tangan mengepal kuat.
Berusaha tenang Emma memilih duduk manis di kursi penumpang.
Thomas menjalankan mobil lumayan kencang. Dia tidak peduli dengan situasi berbahaya. Saat rambu lalu lintas menyala lampu merah, ia berhenti.
"Kakak mau membunuhku?!" seru Emma pada akhirnya.
Thomas menatap sengit Emma.
“Kalau ia kenapa?”
“Keterlaluan!”
"Jika saja kamu tidak memberikan obat itu, aku pasti lebih leluasa mencari wanitaku!" geram Thomas.
Emma ikut marah sekarang. Dia hendak keluar tapi pintu terkunci.
“Buka pintunya, aku memang salah. Tolong maafkan aku!“
“Diam, sungguh kamu sangat mengganggu dalam hidupku!”
"Kalau aku jadi bumerang kenapa tidak membuangku? Aku salah tapi bisakah menghargai perasaan wanita?"
"Dasar tidak tahu diri. Harusnya kamu senang aku mau tanggung jawab bukan malah menuntut. Apa yang harus kuhargai, cinta? Omong kosong!" desis Thomas lalu kembali menjalankan mobil setelah lampu lalu lintas berubah hijau.
Emma merasakan sakit luar biasa pada hatinya. Sebegitu menjijikkan dirinya di mata, Thomas? Harga diri sekarang hancur lebur mengingat perkataan Kakaknya.
"Turun, dan lap air mata buayamu itu!" hardik Thomas.
Emma menepis kasar tangan Thomas yang hendak membantu keluar. Dia memilih berjalan menjauh tanpa tujuan.
Thomas berlari menghampiri Emma. Dia cekal lengan Adiknya secara kasar.
Emma meronta keras berusaha lepas. Hingga tanpa sengaja menendang pusaka Thomas mengakibatkan dirinya nyaris jatuh jikalau tidak ada seseorang menangkapnya.
"Anda tidak apa, Nona?" tanya pemuda tampan.
Thomas mengabaikan sakit di area selatan-Nya, lalu menarik Emma dalam dekapan.
"Don't touch this woman!" desis Thomas.
Emma memohon lewat mata untuk menyelamatkan dirinya.
Pria itu sepertinya paham.
"Sorry Mr, Anda menyakiti wanita hamil. Saya perhatikan Anda sangat kasar!" celetuk pria itu.
"Apa urusanmu? Pergi saja kau sialan!" amuk Thomas.
Emma mendorong Thomas lalu menatapnya penuh luka. Dia baru tahu Thomas yang lembut dan baik serta ramah memiliki sikap egois, kasar dan emosional.
"Aku ingin sendiri!" setelah mengatakan itu Emma berjalan meninggalkan basement.
Thomas hendak mengejar namun lengannya di cekal.
"Tolong sadar diri, Tuan. Anda menyakitinya!" ujar pria itu.
Lelaki itu mengedikah bahu acuh.
***
Yara masih betah merengkuh Zeferino erat. Dia sedikit menangis sesenggukan.
"Jangan takut ada aku di sini," hibur Zeferino sembari mengecup kening Yara.
"Aku takut dia kembali menjualku. Lelaki itu sangat kejam, Zefer. Aku tidak mau bertemu dia," racau Yara.
Rahang Zeferino mengeras mendengar perkataan Yara. Sebegitu takut Istrinya dengan Thomas. Dia akui kesalahan Thomas memang sangat fatal.
"Aku mohon jangan begini kasihan anak kita di dalam sini. Aku tidak ingin membela Thom karena kesalahan sangat besar. Jangan sedih, Istriku!" pinta Zeferino sembari mengusap perut buncit Istrinya.
Yara perlahan sadar akan kesalahannya. Dia mengusap perutnya dengan lembut sembari mengatakan maaf.
"Zefer, maaf aku terlalu emosional," sesal Yara.
Zeferino tersenyum maklum.
"Sudah jangan menangis kita urus kehidupan kita jangan pikirkan yang lain. Kamu tahu, Emma?"
"Terima kasih, Zefer. Emz, iya aku tahu."
"Sekarang Thom dan Emma bersama," beritahu Zeferino.
"He ... serius? Saudara kenapa bisa begitu?" tadi Yara ketakutan sekarang terlihat antusias.
"Tiri, tidak ada ikatan darah," ralat Zeferino.
"Sama saja, pasti mereka gila, kok bisa ya?"
Yara berpose imut dan itu membuat Zeferino menciumi wajahnya karena gemas.
Yara tertawa mendapatkan ciuman Zeferino.
"Nah, sekarang tertawa. Mau mendengar penjelasan Thomas soal kesalahannya? Semua orang punya alasan. Aku juga punya banyak alasan bukan menyakiti kamu, jadi mau mendengar penjelasan Thomas?" Zeferino berusaha memberi pengertian agar kesalah paheman antara Yara dan Thomas berhenti.
Yara menatap Zeferino dalam. Benar, Zeferino adalah sosok misterius yang sangat susah di tebak. Semua orang berhak mendapatkan kesempatan.
Zeferino merengkuh Yara posesif.
"Maaf berkata begitu namun aku hanya ingin yang terbaik untuk kamu. Ingat jangan terlalu dipikirkan masa lalu dan berusahalah bangkit walau sulit. Seperti aku yang bangkit dari trauma demi kamu. Mau bangkit dari kuterlurukan demi aku?"
Zeferino kembali memberikan ketenangan untuk Istrinya agar termotivasi.
Yara menatap Zeferino dalam. Senyum manis terukir indah karena percaya Zefer-nya akan berkata benar soal, Thomas.
"Kamu tidak cemburu aku pernah bersama, Ray?" tanya Yara hati-hati.
"Iya aku cemburu tapi kenapa harus cemburu karena keyakinan Ini kuat kalau Yara sangat mencintai Zefer!" tegas Zeferino.
Yara merona mendengar perkataan Zeferino.
"Percaya diri sekali," kekeh Yara.
"Nyata, Sayangku," sahut Zeferino dengan kekehan lucu.
Zeferino dan Yara tersenyum bersama sembari merengkuh. Mereka saling menghangatkan untuk kesenangan.
"Um, Zefer," panggil Yara.
"Ada apa, Sayang?"
"Aku mau rendang daging kelinci," ucap Yara dengan mata berbinar.
"Gampang nanti aku bel ---, daging kelinci? Are you seriously?" Zeferino melotot tidak percaya.
"Iya kelinci di rendang, boleh ya? Tapi Zefer yang masak," pinta Yara.
Zeferino menggaruk pipinya yang tidak gatal.
"Baik, aku suruh bodyguard cari kelinci sekaligus membersihkan si kelinci."
Zeferino menelepon bawahan-Nya untuk mencari 12 ekor kelinci dan dua diantara-Nya di sembelih dan di bersihkan sekaligus.
"Nanti aku masakan, mau apa lagi?"
"Ngga itu saja. Nanti agak pedas ya," pinta Yara.
Zeferino menolak keras.
"Tidak boleh, ingat kamu hamil ngga baik makan pedas!"
"Tapi, ingin." Yara memajukan bibirnya imut.
"Tidak bisa, Sayang," kekeh Zeferino.
"Kalau begitu makan Zefer saja boleh?" Yara mengerling nakal.
"Itu baru boleh, silakan hidangan di depanmu!" Zeferino merebahkan diri senyaman mungkin dan terjadilah hal panas.
****
Apa Story-nya semakin membosankan?