
Thomas menahan sesak akan keputusan bijaknya. Sudah cukup, sekarang hanya ada satu yaitu kebahagiaan bersama masa depan.
"Semoga kalian bahagia selalu dan aku juga bahagia selalu. Cinta itu tidak perlu memiliki karena jika kita mencintai maka bersiaplah sakit hati!" rapal Thomas.
"Yara, aku sangat mencintaimu dan akan melupakan cinta mulai sekarang. Takdir begitu rumit untuk ditebak. Aku mencintaimu dan kamu mencintai Kakakku. Mungkin Tuhan sudah mengatur poros jodoh, kamu dan aku dulu saling cinta terpisah karena hal besar. Dan untuk itu mulai sekarang kita ada pada jalan yang benar. Aku bersama Emma dan kamu bersama Kakakku!"
Thomas masuk rumah dengan penampilan kacau. Rambut ikal tambah berantakan serta pakaian rapi sekarang sangat lusuh.
"Kak Thom," kaget Emma melihat Thomas seperti gelandangan. Dia buru-buru menghampiri Thomas namun dikejutkan dengan pelukan erat.
"Emma, jangan tinggalkan aku. Aku mohon jangan pergi jika suatu hari nanti ingin pergi. Aku tidak sanggup kehilangan lagi, Emma. Aku sesak Emma, jantungku sesak tolong."
Curahann hati Thomas terdengar sendu. Sungguh dia sangat terluka begitu dalam mengikhlaskan orang yang di cinta.
Emma mengusap punggung kekar Thomas guna menenangkan pria yang sangat dicintai. Dia tidak akan berbicara karena tahu Thomas akan melanjutkan kalimatnya.
"Akhirnya aku dapat mengungkapkan rahasia besar. Hatiku hancur sekaligus lega karena tidak ada salah paham, namun sangat sakit. Akhirnya aku bisa merelakan Rosa bersama orang yang tepat. Dengan begini hanya ada kita bersama anak kita!"
“Aku akan tetap tinggal karena Kak Thom tempat Emma untuk pulang. Jangan takut karena aku sangat mencintai Kak Thom, Emma akan berusaha selalu tinggal jika Kak Thom menginginkan pergi ...
... bersandar dan peluk aku untuk berkeluh kesah, Kak. Keputusan Kakak itu adalah yang terbaik. Kakak adalah pria hebat yang sangat kucintai.”
Emma mengusap punggung kekar Thomas seraya mencium pelipis prianya. Dia tidak sanggup melihat Thomas begitu terpuruk.
Thomas mengendurkan pelukannya lalu perlahan menggendong Emma untuk duduk di sofa.
Emma tersenyum teduh melihat Thomas. Dia pria unik tanpa prediksi. Sungguh Emma sangat sakit dan juga bangga akan keputusan, Thomas. Prianya sakit maka dengan senang hati akan menjadi obat.
Jemari panjang kekar Thomas mengelus pipi Emma penuh perasaan.
"Jangan tinggalkan aku, Emma. Berjanji kamu akan mencintaiku selamanya!"
Emma tersenyum lembut akan permintaan Thomas.
"Aku akan tetap tinggal dan akan selalu mencintaimu, Kak. Aku mencintaimu dan selamanya akan begitu. Kita akan selalu bersama dengan anak kita!"
Thomas merengkuh Emma posesif. Inilah awal semuanya, kisah mereka dan kini rasa itu akan hilang bersama terbukanya lembaran baru.
***
Yara menangis tersedu beberapa menit sampai Zeferino merasa sakit. Rasa bersalah menguar kuat dihati mereka.
"Yara, tenang Sayang," pinta Zeferino.
Bukannya diam Yara tambah histeris mengingat takdir mereka. Dia tidak mampu berhenti menangis karena rasa sakit semakin membelenggu.
"Yara, kumohon tenang!"
Zeferino tidak bisa berbuat apa pasalnya hati dan jantungnya berasa hancur penuh rasa bersalah.
Zeferino merasa semakin ciut akan hatinya untuk memiliki Yara. Jantung dan pikiran terhantam godam yang berakibat fatal. Selama ini hanya kesakitan yang diberikan untuk Istrinya. Apa pantas seorang pendosa memiliki wanita baik-baik seperti, Yara?
Yara menatap Zeferino terluka karena diam dengan pandangan kosong. Alangkah terkejut melihat bibir Suaminya pecah akibat gigitan terlalu kasar.
Zeferino tidak merasa sakit melainkan pilu pada hatinya. Rasa itu semakin sesak mengingat pengorbanan Adiknya untuk Yara. Dia juga tidak tahu kapan air mata luruh deras.
"Zefer, kamu kenapa Sayang?"
Yara panik melihat mata tajam Zeferino menatap kosong tanpa kedip. Apa lagi air mata terus bercucuran membasahi pipi tirus Suaminya.
Gigi Zeferino semakin erat menekan bibir sendiri tanpa peduli rasa sakit dan rasa anyir saat darah tambah banyak. Perbuatan itu sungguh membuat Yara panik.
"Zefer!" Yara menepuk pipi tirus Suaminya pelan dan berhasil Zeferino kembali.
"Aku merasa seperti iblis, Yara. Aku tidak pantas untukmu. Thom mengorbankan segala waktu untuk melindungi kamu dan mencari tahu semuanya. Sementara aku hanya bisa menyakitimu setiap saat. Bahkan aku merenggut kebahagiaan kalian. Kakak apa aku ini yang tega menusuk Adiknya sendiri. Sungguh tidak berguna. Ayah, Ibu pesan agar menjaganya dan membuat Thom bahagia. Tapi, kini akulah sumber kehancuran dirinya. Hebat sekali bukan, Zefer Mafia kejam kini benar-benar menjelma sebagai iblis. Andai waktu dapat di putar, maka aku tidak akan membelimu dan membiarkan Adikku datang menjemputmu. Sialan, ini benar-benar sakit!"
Zeferino memukul dadanya yang terasa sesak. Dia sekarang ingin menghilang saja. Hatinya begitu remuk. Ingin mempertahankan Yara tapi mendengar tangisan dan rasa bersalah Istrinya membuat ia merasa jatuh di dasar tebing tanpa ujung.
Zeferino tidak membalas ciuman Yara dan tidak menolak. Istrinya menangkup pipinya dan memberikan ciuman di seluruh wajah.
Yara menyatukan kening mereka dan kini bibir itu mengecup kembali bibir kissable Zeferino.
"Aku dan Ray hanya masa lalu dan akan selalu begitu. Tuhan sangat adil pada hambanya, Zefer. Kamu tersakiti karena Vio dan aku tersakiti karena Ray. Tuhan menakdirkan kita bersama agar bahagia selalu. Kita diciptakan untuk bersama, karena Yara bukan untuk Ray melainkan Zefer. Jika waktu dapat di putar maka aku akan menunggu kamu membeliku. Aku tidak butuh apa pun karena hanya kamu yang kuinginkan sampai maut memisahkan. Dengar Zefer, kamu selalu memberiku tempat untuk pulang dan perlindungan. Suamiku selalu memberikan kejutan manis untuk Istrinya. Kamu tidak perlu merasa bersalah begitu dalam, kami tidak berjodoh. Yara hanya milik Zeferino dan Zeferino milik Yara. Kita satu dan akan tetap satu sampai mati!"
Tegas Yara penuh akan keyakinan dan luapan cinta. Hanya Zeferino yang diinginkan untuk menemani kehidupannya.
"Yara," gumam Zeferino. Senyum terukir tipis di bibir terlukanya lalu merengkuh Yara penuh haru.
Inilah awal kehidupan yang sesungguhnya!
***
Excel menjemput Violet setelah 5 bulan di penjara. Teringat saat Zeferino menarik tuntunan dan membiarkan wanita itu bebas dengan syarat.
"Excel, aku sangat bahagia bisa menghirup udara segar lagi," riang Violet.
Excel tersenyum tipis melihat keceriaan Violet.
"Mau bertemu dengan, Zefer, dan meminta maaf pada Istrinya?" tawar Excel.
"Iya aku ingin minta maaf pada mereka. Aku sadar banyak hal, Zefer bukan di takdirkan untukku. Mungkin saatnya aku kembali berteman dengan pria itu," papar Violet sembari tersenyum tulus.
"Itu bagus, aku juga ingin minta maaf mungkin hubungan kita bisa bersahabat seperti dulu. Kita akan bahagia dengan jalan masing-masing." Excel tersenyum penuh arti.
Violet menepuk bahu Excel dan tersenyum cerah.
"Aku ingin ziarah ke makam Putraku, mau ikut?" ajak Violet.
Raut wajah Excel berubah sendu mengingat semua itu.
"Vio, aku ingin tanya, boleh?"
"Boleh, tanya saja," ujar Violet lembut.
"Apa Leon Putraku?"
Excel terlihat memikirkan perkataan Zeferino kalau Leon Anaknya. Tapi, Violet bilang Leon anak Zeferino.
Wajah cantik Violet menyendu mendengar pertanyaan Excel.
“....” Violet tidak kuasa menjawab pertanyaan Excel.
"Jawab, Vio. Leon anak siapa?" hardik Excel.
"Putra kita, Excel," cicit Violet pada akhirnya.
Excel membeku mendengar jawaban Violet. Rasa benci, kecewa dan penyesalan hinggap di relung hati. Apa yang harus dia lakukan setelah tahu kebenaran pahit.
"Selama 6 tahun, Vio, Kamu sembunyikan kebenaran itu. Gara-gara itu hubunganku dan Zeferino pecah. Aku tidak menyangka kamu sepicik ini!"
Excel menitikkan air mata pasalnya saat kremasi Leon dia pergi. Karena adu domba membuat dia membenci Zeferino sepenuh hati. Padahal dulu mereka bersahabat dengan baik.
Violet terisak meminta maaf akan kesalahan yang diperbuat.
"Excel, aku sembunyikan itu karena aku sangat mencintai Zefer dan ingin bersama selalu. Tapi, nyatanya semua menjadi bumerang. Aku sangat menyesal, kumohon maafkan aku," pinta Violet.
"Tidak, kamu tega Vio. Enyahlah sebelum aku melakukan kekerasan terhadap dirimu!" bentak Excel.
Violet menangis akan sikap Excel. Dia memilih pergi lalu kembali lagi guna menebus dosa.