
Yara kembali menangis memilukan mengingat wanita tadi. Rasanya sangat sakit melihat kecantikan luar biasa Violet.
"Yara, Vio hanya masa laluku. Percayalah aku mencintaimu," bujuk Zeferino agar Istrinya tidak menangis lagi.
"Kamu punya hubungan lagi dengannya aku juga tidak peduli!" sungut Yara sembari terisak pilu.
Zeferino mengaguk paham.
"Kamu butuh istirahat, aku pergi dulu." Zeferino berlalu begitu saja setelah mengatakan itu.
Yara tersenyum kecut menatap punggung tegap Zefer.
"Zefer!" seru Yara. Hatinya sakit butuh pelukan.
Zeferino berbalik lalu mengukir senyum manis, "Ada apa?"
"Jika seandainya aku datang di masa lalu bersama Vio, siapa yang kamu pilih?" Yara hanya ingin mendengar jawaban Zeferino.
Zeferino mendekat ke arah Yara lalu perlahan menarik Istrinya dalam dekapannya. Dia tahu Yara ingin pelukan.
"Kamu, karena sedari awal aku sudah sangat mencintaimu. Awal bertemu dua tahun silam saat kamu menari tiang di bar. Saat itu aku sedang tugas, dan langsung tertarik padamu. Jika Vio adalah bulan maka kamu langit yang sangat indah. Langit mampu menampung segalanya maka kamu mampu memberikan aku tempat untuk pulang. Yara, aku mencintaimu dan percayalah itu semua asli!" tegas Zeferino tanpa keraguan.
Yara merengkuh Zeferino erat sembari menangis haru.
"Jika kamu bosan dan Vio berhasil membuat kamu cinta lagi, apa kamu akan membuangku?" tanya Yara menuntut jawaban.
Zeferino mengurai pelukan, "Tidak, karena itu tidak akan terjadi!"
Yara hanya mengaguk paham. Biarkan mereka saling merengkuh tanpa tahu badai akan datang.
***
Zeferino sedang menemui klien penting dari Belanda di hotel bintang lima yang ada di jantung kota Canberra. Usai Meeting mereka pulang. Sejatinya tadi ada Mafioso yang ikut, tetapi Zeferino menyuruh mereka pulang.
Zeferino merasa ada yang ganjal, pandangannya berkunang, tubuhnya panas serta hawa aneh melingkupi tubuhnya.
"Oh sial ada yang menjebakku," umpat Zeferino. Dia merasa pusing sekarang dan tubuhnya semakin panas.
"Zefer," panggil seseorang dengan aksen mendayu.
Zeferino menengok ke arah seseorang itu dan karena pengaruh obat dia mengira itu Yara, Istrinya.
"Sayang, kepalaku sakit," adu Zeferino.
Wanita itu tersenyum penuh arti karena rencananya berhasil. Zeferino akan menjadi miliknya kali ini. Tadi, tanpa di ketahui dia memasukan obat ke dalam minuman pesanan Zeferino.
Violet mendekat ke arah Zeferino dengan jalan seksi. Dia mengalungkan tangan di leher kokoh prianya dan menggoda supaya libido Zeferino naik.
Ponsel Zeferino berdering karena penasaran akhirnya Vio angkat.
"Sayang, aku tidak tahan."
Degh
Hati Yara merasa terhantam badai sekarang mendengar suara mendayu Zeferino.
"Nyonya Teixeita, Suami Anda sedang bersamaku. Jika tidak percaya datanglah ke Hotel Light, Room 1020, lantai 2.!"
Siapa tahu Zeferino hanya main game seperti dulu. Dia bergegas turun lalu meminta sopir untuk mengantarnya.
Zeferino mengecup seluruh leher Violet. Dia juga melumat habis bibir sensual wanita itu. Di dalam pikiran hanya satu, Yara.
"Yara, aku gerah!" Zeferino melepas pakaian atasnya dan membuang ke sembarangan arah. Dia juga melucuti pakaian Violet.
Aksi panas terjadi begitu intim. Hingga suara pintu terbuka kasar menghentikan kegiatan panas.
Yara membatu melihat tubuh polos Violet menindih Zeferino. Mereka memadu kasih tanpa peduli sekitar.
"Ugh, siapa yang ganggu. Sayangku, ayo lanjut, aku tidak tahan," ujar Zeferino dengan suara serak berat.
Yara masih diam dengan tangis membelenggu pipi. Air mata mengucur deras tanpa mau dikontrol. Hatinya sangat sakit sekarang.
Rasanya begitu menyiksa tanpa tahu cara bangkit. Dia begitu tertekan hingga tidak kuat melangkah. Jantungnya berasa di tikam oleh ribuan jarum tidak kesat mata.
"Zefer aku sangat mencintaimu!" seru Violet sembari mencium bibir Zeferino.
"Aku juga sangat mencintaimu, Sayang!" balas Zeferino sukses membuat Yara tidak berdaya. Ternyata semua perkataan Zeferino palsu.
Zeferino duduk dan matanya tidak sengaja melihat Yara. Mereka bertatapan sekilas hingga Yara berjalan cepat.
"Yara," bisik Zeferino. Dia kembali melihat wanita yang ada di depannya dan saat berusaha memulihkan diri matanya melihat sosok lain.
"Vio," ucap Zeferino tidak percaya.
"Akhirnya kamu menyebut namaku, Sayangku. Ayo kita lanjut lagi --- Arghh ....!!!" ucapan Violet terpotong karena dengan segala kekuatan yang tersisa Zeferino melemparnya hingga membentur tembok.
Zeferino bangkit mengambil kemeja dan memakainya sambil jalan. Dia bersyukur celanya masih terpakai dan Istrinya menyelamatkan dirinya dari rubah itu.
Dengan jalan sempoyongan Zeferino keluar. Satu hal, mengejar Istrinya dan mengatakan kebenaran.
Jiwanya lebur saat mengetahui dirinya nyaris mengkhianati Yara. Sungguh itu tadi hanya pengaruh obat dan itu sangat menyiksa.
"Yara, kamu salah paham lagi padaku. Tolong Sayang jangan pergi. Aku bisa jelaskan!" seru Zeferino setelah tahu Istrinya masuk lift. Dia tidak mungkin menyusul Yara pasalnya pintu lift sudah tertutup.
Zeferino tersungkur akibat obat entah apa, perangsang tapi lebih ganas. Rasanya tubuhnya lemah, kepalanya berdenyut dan tubuhnya sakit.
"Yara, kamu salah paham, Sayang. Hanya kamu yang kucintai. Tuhan kenapa rumah tanggaku penuh cobaan. Tolong beri aku kekuatan sedikit saja untuk mengejar Istriku dan menjelaskan semuanya. Aku tidak mengkhianatimu, Yara. Aku di jebak, tolong jangan pergi. Tuhan tolong beri aku sedikit kekuatan!" gumam Zeferino dengan tubuh menggigil lemah.
Zeferino berusaha berdiri namun kembali jatuh hingga ketiga kalinya akhirnya dia bisa. Zeferino berusaha berlari ke arah tangga darurat namun musibah terjadi.
Zeferino jatuh dari tangga membuat kesadarannya hilang sebelum itu sebuah gumaman mengakhiri kesadaran.
"Yara, aku minta maaf, kumohon percaya aku sangat mencintaimu!"
Zeferino terkulai lemah dengan darah terus keluar dari kepalanya. Air mata berlinang deras di bawah kesadarannya. Hatinya sakit tidak bisa di jabarkan.
"Tuhan kenapa Engkau begitu kejam padaku. Kenapa ujian rumah tangga kami begitu menyiksa, aku tidak sanggup bertahan, Tuhan. Zefer, aku kira kamu benar-benar mencintaiku ternyata itu dusta. Lebih baik aku pergi selamanya!" tangis Yara tanpa tahu Suaminya sekarat demi mengajarnya.
****
Hayuk menangis bareng. Rose ngga kuat sumpah Nargis tersedu akunya.
Tolong tisu mana, sakit sekali tulis part ini.