
Sekujur tubuh berasa mati rasa tatkala Zefer dan Jennifer lagi-lagi melakukan sex tanpa peduli diriku.
Hatiku terenyuh tanpa kata.
Aku ingin kabur dan berlari jauh namun aku tidak tahu harus lari ke mana. Australia adalah Negara asing untukku.
Batin dan jiwaku sudah hancur karena dia. Aku tidak mau hidup bersama Zefer. Tapi, aku masih punya waktu 4 bulan lebih 2 minggu.
Sabar Yara.
Aku malas memiliki hutang jadinya aku usahakan bertahan walau sesaat.
20 miliar U$ dolar itu tidak sedikit. Dari mana aku mendapatkan uang sebanyak itu?
"Zefer," gumamku dan sialnya tanganku teriris pisau tajam karena kecerobohan sendiri.
Syut
"Eh?"
Aku menegang tatkala ada seseorang menarik tanganku dan ******** jari telunjuk ini. Aku hanya diam membisu tanpa kata.
Jantung semakin menggila tatkala Zefer memperlakukan diriku begini.
Sungguh aku sangat membenci pria ini tapi juga sangat mencintainya.
"Kamu itu masak hati-hati," sinis Zefer, "lihat tanganmu terluka begini. Aku repot sendiri kamu terluka karena tidak ada yang masak."
Kurang ajar. Pandai sekali menjatuhkan perasaan ini. Dengan kasar menarik tanganku dan sialnya lagi nyaris jatuh jika tidak ada Zefer menangkap tubuhku.
"Ceroboh," celanya.
Aku malu sekali.
Zefer menegakkan tubuh kami. Aku mundur lagi agar tidak bersentuhan. Lelaki ini sangat bahaya pasalnya membuat aku begitu membenci dengan menyakiti tanpa perasaan serta membuat aku terbang melayang akan cinta dan perhatian. Tetapi, setiap saat cinta itu terus berkembang untuk pria iblis itu.
Aku benci tapi cinta. Namun, tidak sanggup jika terus bertahan di sini karena hatiku lebur karenanya.
Kepalaku pusing sekali sekarang. Dan lagi-lagi nyaris jatuh jika tidak ada Zefer menangkap tubuhku.
"Yara, kamu baik?" tanya Zefer khawatir.
Ya Tuhan, akhirnya aku mendengar Zefer memanggil Yara lagi. Aku sangat suka mendengar ia memanggil namaku begitu.
"Zefer, pusing," jujurku.
Zeferino mengangkat tubuhku dan membawa ke kamar.
Memang akhir-akhir ini kepalaku sering pusing dan emosi tidak menentu. Cengeng sering memikirkan sesuatu gila. Kadang juga mual tapi tidak setiap hari. Badan terasa tidak nyaman, sebenarnya kenapa?
"Zefer," panggilku setelah dia merebahkan diriku di ranjang.
"Hm, apa perlu aku panggil, Dokter?" tanyanya.
Tidak, aku hanya ingin merengkuh dirimu. Apa aku terlalu gila karena sering di sakiti namun masih ingin diperhatikan? Apa salah aku meminta pelukan?
Aku tahu, Zefer selalu menyakiti perasaan ini tanpa ampun, namun apa daya cintaku begitu besar.
Aku wanita paling bodoh dan gila karena masih kokoh mencintai pria berengsek yang selalu menyakitiku.
Entah kenapa air mata kembali berlinang tanpa mau kucegah. Hatiku begitu sakit sekarang mengingat sakit hati disebabkan olehnya.
Aku ingin dia merengkuh diriku sampai sakit ini reda. Aku tidak bisa bertahan sekarang hanya ingin pelukan.
"Yara, hai kenapa menangis? Apa sakitnya terlalu? Kita ke rumah sakit sekarang!" panik Zefer.
"Kamu bilang kepalamu sakit dan kamu menangis. Jangan membuat orang khawatir, Yara!" hardik Zefer.
"Aku ingin tidur sebentar saja namun dalam dekapanmu," cicitku.
"Ugh," lenguhku karena kepala ini semakin pusing dan semuanya terasa berputar.
Zeferino tolong aku.
Kurasakan Zefer merebahkan diri di sampingku dan tangannya memijat kepalaku. Tidak lupa tubuh kekarnya merengkuhku penuh kelembutan seperti dulu.
"Mana yang sakit?" tanyanya.
"Kepala," sahutku mencicit.
Zefer merebahkan kepalaku di dadanya. Tangan kekarnya terus memijat kepalaku.
Ajaib, kepala pusing ini menjadi ringan, karena bau maskulin yang sangat ku rindu bisa tercium lagi.
Mungkin karena lelah akhirnya dunia mimpi merenggut segalanya.
***
Aku terbangun dari alam bawah sadar dan sangat senang melihat Zeferino masih ada di sampingku. Dia tertidur pulas sembari merengkuhku.
Bagaimana ini?
Aku tidak bisa memendam perasaan ini pasalnya Zefer terlalu gila. Mudah sekali membolak-balikan perasaan dan benci membara, sialnya sangat cinta.
"Sudah mendingan?" tanya Zeferino.
"Iya, rasanya lebih baik," sahutku jujur.
"Kamu jarang makan dan kurang tidur. Makanya istirahat yang cukup," omelnya.
Bodoh, kamu yang membuat aku begini.
"Pergi sana, urus jalangmu. Kamu tidak usah sok baik padaku, Zefer. Aku tidak butuh!"
Aku ini kenapa sensitif sekali?
Kenapa sekarang mudah emosi?
Zefer terlihat terkejut mendengar perkataanku.
"Kamu juga jalangku, kenapa tidak boleh perhatian? Kamu sakit aku yang rugi. Uangku berkurang karena membawamu ke Dokter. Maka jangan percaya diri aku begini!"
Degh
Hebat Zefer, kamu kembali menyakitiku. Hatiku kembali terluka dan benci kembali.
"Jangan sentuh aku, sialan! Pergi dari kamarku!" raungku.
Zeferino mencengkeram pipiku lumayan keras.
"Ingat turunkan suaramu saat berbicara denganku. Kamu itu hanya jalang murahan, Licia. Tanpa kamu suruh, aku akan pergi!" desisnya.
Dia melepas cengkeramannya kasar. Lalu beranjak meninggalkan kamarku.
Aku sendiri kembali menangis pilu. Aku tidak mau tinggal karena jiwaku sudah hancur.
Aku membencimu, Zefer!