
Yara kembali di larikan ke rumah sakit gara-gara kesehatan. Janin itu kuat makanya sangat beruntung tetap bertahan dalam rahim Yara.
Yara tertidur dengan selang lagi-lagi bersarang di perutnya.
Sementara Thomas terlihat gelisah sedari tadi memikirkan tentang Kakaknya dan Yara. Berpuluh-puluh kali dia telepon Zeferino tapi tidak ada sahutan.
Hingga setengah hari berlalu, Thomas hendak membeli makanan namun langsung diam tatkala mendengar obrolan sensitif.
"Kamu tahu, Mr Teixeita tadi sudah meninggal. Tapi syukurlah Jantungnya kembali berdetak setelah 5 menit tidak berdetak. Kami sangat panik tadi," ujar Suster dengan postur tinggi.
"Iya, kasihan sekali ya. Dia terkena overdosis obat perangsang dan alkohol. Tapi mengerikan lagi dia katanya jatuh dari tangga," imbuh Suster lainnya.
"No rumah Mr Teixeita tidak bisa dihubungi. Kasihan sekali!"
Thomas membisu mendengar obrolan mereka. Teixeita, itu hanya ada dirinya dan Kakaknya. Jangan bilang?
Thomas lari menghampiri mereka, "Siapa yang kalian maksud? Apa pasien itu Zeferino Umoja Raymundo Teixeita?" dia sangat ketakutan sekarang mendengar jawaban Suster.
Empat Suster itu melihat berbinar cowok tampan dengan postur tubuh tinggi atletis.
"Hai! Aku tanya serius!" bentak Thomas.
"Ah, iya dia Mr Zeferino Umoja Raymundo Teixeita!" sahut mereka cepat.
Thomas merasa dunia runtuh seketika mendengar jawaban Suster. Hatinya hancur lebur mendengar Kakaknya sedari tadi di khawatirkan ternyata tertimpa musibah.
"Di mana, Kakakku?" tanya Thomas dengan tubuh bergetar ketakutan akan perihal Zeferino.
"Ah, mari kami antar!"
Thomas mengikuti 4 Suster tadi dengan langkah tertatih. Dia sangat sakit mendengar perkataan Suster mengenai Zeferino.
Mata teduh itu menyendu tanpa kata. Dia melihat Kakaknya sangat pucat dan sangat lemah. Ada beberapa selang menancap di tubuh kekarnya.
Tangis pilu luruh begitu saja saat mendengar cerita mereka. Dia merasa gagal menjadi seorang Adik sekarang.
"Kak, Zefer," lirih Thomas dengan tangis pilu.
"Tolong jangan begini, aku sakit, Kak!" tangis Thomas sembari mendekap lengan kekar Zeferino.
Hanya Zeferino yang dia punya tidak ada yang lain. Jika begini siapa yang akan menjadi alasannya untuk hidup?
Thomas terus menangis hingga tanpa terasa tertidur tidak nyaman.
***
Dua hari berlalu namun keadaan Zeferino masih sama. Drop tanpa ada kemajuan. Thomas bolak-balik le ruang Zefer dan Yara.
Yara sendiri belum sadar sampai sekarang. Tapi, tunggu mata indah itu terlihat terbuka.
Thomas sangat bahagia akhirnya gadisnya sadar juga.
"Rosa," gumam Thomas lalu menekan tomboi darurat.
Yara melihat ke sekeliling dan melihat Thomas. Dia kembali menutup mata, tidak mau lihat.
Para Dokter dan perawat dengan segera menangani Yara.
"Syukurlah Anda tidak apa-apa, Nyonya. Kan saya sudah katakan Jangan stres dan banyak pikiran. Jika ini terulang lagi, entah nyawa anak Anda selamat atau tidak!" dumel Dokter yang menangani Yara.
Yara menunduk tanpa mau menatap Dokter.
Usai kepergian Dokter, Raymond terlihat membisu.
Yara menatap Raymond sinis. Namun, langsung kaget saat tahu Raymond tahu dia tinggal di sana.
"Ray, jangan katakan pada siapa pun perihal kehamilanku, kumohon!" pinta Yara tanpa menjawab pertanyaan Raymond.
"Tidak masalah. Katakan kenapa kamu ingin bunuh diri? Ingat Rosa anak itu adalah anugerah Tuhan yang paling berharga. Jadi usahkan pertahankan kandunganmu walau badai menghantam. Aku percaya kamu orang yang baik, maka jangan ulangi kebodohan itu. Jika ada masalah, selesaikan dengan kepala dingin. Jangan gegabah!" nasihat Raymond.
"Orang sepertimu tidak pantas menasihatiku. Kamu sendiri yang mengantar keburukan takdir padaku. Pergi, aku tidak sudi melihatmu!" sinis Yara.
"Baiklah, maafkan aku sekali lagi. Jaga kandunganmu dan dirimu baik-baik. Aku janji akan merahasiakan soal itu dan cerna nasihatku!" tegas Raymond sebelum berlalu.
1 hari Yara diam diri di rumah sakit. Dia merasa kecewa akan perbuatan Zeferino yang sangat keterlaluan. Mana lelaki itu, kenapa tidak menjenguknya?
Karena merasa baikkan akhirnya dia memutuskan pulang tanpa di ketahui Raymond.
Yara bertekad mau kabur dari rumah Zeferino. Namun, dia harus mengambil beberapa baju dan uang untuk persiapan hidup.
"Nyonya!" seru bawahan Zeferino lantang.
Yara menatap mereka datar, "Iya!"
"Ke mana saja 4 hari ini? Anda tahu kami mencari Anda!" panik mereka sejatinya tahu Yara di mana.
"...." Yara diam tanpa menjawab.
"Nyonya, berhenti!" seru Math.
"Ada apa lagi?"
"Big Boss, sedang ___"
"Aku butuh istirahat bukan ocehan!" desis Yara.
"Ini tentang Bos kami, Nyonya!" sentak Math.
Yara mendengus mendengar perkataan Math, "Ada apa?"
Math menghela napas panjang, "Big Boss, koma Nyonya."
Degh
Mata Yara mendelik horor, "Bohong, saya tahu ini rekayasa!"
"Kami serius, tepat 4 hari yang lalu Mr Zefer mengalami insiden mengerikan. Minuman yang di pesan Mr Teixeita di beri obat perangsang dan obat penguat sampai overdose. Lalu saat di tangga, beliau jatuh. Tolong ikut kami ke rumah sakit menjenguk, Bos kami!" papar Math.
Yara membisu mendengar perkataan Math. Dia kembali memutar ingatan saat Zeferino sempoyongan mengejarnya dan tidak muncul selama dia sakit.
"Bohong ini pasti rekayasa. Zefer itu kejam lalu siapa yang berani begitu?" Yara menolak percaya namun hatinya begitu pilu.
"Violet, dia sudah di tangkap polisi akan tindakan kriminal yang dilakukan. Sampai sekarang Mr Teixeita drop, bahkan beliau sempat meninggal beberapa menit dan kembali walau dengan detak jantung lemah. Bos sekarang masih sangat lemah, tolong ---"
Yara ambruk karena tidak kuat mendengar perkataan Math. Dia menangis memilukan mengingat kejadian tempo hari. Jadi semua itu salah paham dan kenapa tidak menolong Zeferino. Lalu kenapa dia dengan bodoh nyaris bunuh diri dengan alasan salah paham.
Hati Yara hancur lebur mengingat Zeferino terluka karenanya dan sekarang hanya ada penyesalan.
"Nyonya, Anda mau ikut kami kan?"
"Bawa aku bertemu, Zefer," lirih Yara. Dia tidak mampu menopang tubuhnya karena seluru sendi terasa lemas akibat berita menyesakkan itu.
'Zeferino, aku menyesal sungguh maafkan aku. Jika saja aku menolongmu lebih awal pasti keadaannya tidak separah ini. Suamiku maaf, maaf karena salah paham, padamu. Aku datang, Zefer!’ batin Yara.