Burning Passion In Love

Burning Passion In Love
BPIL – Angry



Rosalicia sudah leluasa bergerak karena sekarang bisa jalan normal. 5 hari di rumah besar Teixeita membuat dia rikuh.



Rikuh karena ulah keluarga tiri Zeferino. Dia berusaha normal tapi tetap tidak nyaman.



Rosalicia takut sendiri karena sang Suami menjalankan pekerjaan penting di luar kota lalu pulang besok.



Karena haus, Rosalicia memutuskan untuk mengambil air minum di dapur. Sekarang jam 1 dini hari membuat rumah mewah bak istana terasa Neraka.



Bayangkan, lampu rumah terlihat remang dengan lorong panjang. Dia berusaha tidak takut tapi hal mengejutkan terjadi saat seseorang membekap mulutnya dan menyeretnya menuju ruang bawah.



"Mph," ronta Rosalicia sembari mencakar lengan orang itu lalu menggigit telapak tangan sang tersangka.



Rosalicia akhirnya bisa lepas juga. Matanya membulat sempurna melihat Dylan Kakak ipar.



"Kau...! Berani sekali kurang ajar padaku!" desis Rosalicia.



Dylan menyeringai setan nan mesum. Dia mendekat ke arah Rosalicia bak predator mengincar mangsa.



Rosalicia yang tahu situasi berbahaya sontak berlari menuju tangga menuju ruang tamu. Tapi, dia merasa seseorang mencekal lengannya dan melempar dia ke sofa.



"Jangan mendekat, sialan. Pergi ....!" teriak Rosalicia ketakutan.



Mungkin suara teriakan itu hanya sebuah gema di ruang tamu.



Dylan tertawa iblis mendengar jeritan Rosalicia.



"Tubuhmu sangat indah, Adik ipar. Payudara besar, bokong padat menggoda di tunjang tubuh tinggi langsingmu. Aku tertarik padamu, Sayang!" frontal Dylan.



"Bangsat, hiks hiks hiks kamu biadab sekali. Ingat, Zeferino akan menghancurkan dirimu!" raung Rosalicia penuh ketakutan.



"Kamu tidak akan berani bicara akan kubunuh dia segera. Suami busukmu hanya sampah. Menikahlah denganku!"



Dylan mendekat ke arah Rosalicia lalu tanpa babibu mengunci pergerakan Adik iparnya.



Rosalicia memberontak keras lalu menendang kejantanan Dylan keras. Setelah berhasil dia berniat lari namun kakinya tercekal membuat dia tersungkur di lantai.



Dylan menarik Rosalicia keras lalu tanpa perasaan menampar pipi Adik iparnya.




"Zeferino, tolong aku," doa Rosalicia.



Di lain sisi Zeferino pulang karena pekerjaan dia tunda. Entah kenapa perasaannya resah sedari keluar dari rumah.



Zeferino masuk dan dia mendengar tangisan Rosalicia. Ada apa dengan Istrinya?



"Lepaskan aku, bajingan. Hiks hiks hiks, Zeferino akan membunuhmu jika tahu kamu melecehkan ku!" gertak Rosalicia. Dia merasa nyeri saat rambut panjang ikalnya ditarik keras lalu tidak merasakan sakit lagi.



Zeferino menarik kasar kerah Dylan dan tanpa babibu langsung menghantam wajah Dylan dengan pukulan telak.



Dylan terpelanting jauh menghantam bupet. Dia merasakan tulang rahang patah serta tubuhnya sakit.



Zeferino menarik kerah Dylan lagi lalu menonjok wajah saudara tiri tanpa ampun. Sebuah tendangan keras dia layangkan untuk Dylan.



Rosalicia mendekat lalu merengkuh tubuh kekar Suaminya, "jangan lagi. Cukup, jangan terluka. Kumohon, jangan bunuh."



Zeferino menatap Rosalicia intens. Rahangnya mengerat melilit bekas telapak tangan dan sudut bibir serta melihat lutut sang Istri berdarah.



Rosalicia meringis ngilu akibat sakit di kaki, wajah dan tangan. Tapi berusaha tidak merintih.



Zeferino merengkuh Rosalicia lalu tanpa perasaan menembak kaki dan lengan Dylan. Dia menatap sinis ke arah saudara tiri tanpa ampun.



"Bajingan terkutuk, jangan harap lolos dariku. Bajingan busuk, aku sangat muak padamu. Kotoran binatang tidak tahu diri percayalah aku akan membunuhmu jika berani menyentuh Istriku, Ayahku dan Adikku. Demi apa, kenapa punya saudara tiri menjijikkan!" desis Zeferino.



Zeferino mengangkat tubuh Rosalicia lalu membawa Istrinya ke atas. Dia tidak peduli akan kondisi Dylan yang mengenaskan.



Dylan pingsan karena tubuhnya remuk serta rasa sakit akibat timah panas. Lalu, dia merasa sendi tubuhnya hancur akibat semua itu.



Rosalicia khawatir, "Zefer, kasihan Kak Dylan terluka parah. Bagaimana jika dia meninggal?"



"Kamu terlalu baik!"



Veronika, Ibu Dylan sudah bangun beberapa saat. Dia sok melihat Putranya terkapar tidak berdaya. Menjerit histeris meminta bantuan pada penghuni rumah. Namun, Zeferino yang dengar tidak peduli.