
Zeferino menyeruput kopi hitam tanpa gula. Mata hijau bak batu Emerald terpacu sinis menatap mata coklat muda sang Adik.
"Kamu ingin dengar alasan kenapa aku membunuh Ayah dan Dylan?" tanya Zeferino santai.
"Iya, aku ingin mendengar seberapa berengsek dan bajingan dirimu!" celetuk Thomas.
"Aku akan memberitahu, maka dengar jangan menyela!" tegas Zeferino.
"Baik, aku akan dengar dengan baik!" sahut Thomas.
"Veronica serta 3 anaknya berniat mengambil harta Ayah serta menyingkirkan, Ayah secepatnya. Beberapa kali Veronica meracuni Ayah tapi aku gagalkan dengan menyewa seseorang untuk melindungi beliau. Berbagai macam cara dia lakukan untuk membunuh Ayah dan berhasil aku gagalkan. Andai waktu bisa di putar aku ingin melindungi Ibu yang di bunuh Veronica di bantu anak-anaknya ...,
... tidak tahu kenapa rasanya sakit mengatakan ini. Ayah menganjurkan aku menikah lebih awal dan baru ku ketahui setelah kematian beliau. Aku menikah awal agar memenuhi syarat jadi pewaris utama. Demi melindungi Ayah dari iblis yang berulang kali mengintai beliau aku tega membunuh, Ayah ...,
... hal mengejutkan terjadi, ternyata Ayah sudah tahu konspirasi kejam mereka dan Ayah tersenyum bahagia akhirnya bisa meninggal di tanganku. Beliau menanti hal itu ...,
... lalu untuk Dylan, aku membunuhnya karena benci dan melindungi. Dia dengan tega nyaris melecehkan Yara-ku dan melukainya. Karena dendam Dylan tega berulang kali hendak membunuh kami, karena marah aku melakukan itu. Semua itu demi kebaikan kami!"
Zeferino menutup cerita dengan tenang. Tidak ada emosi hanya nada datar sejatinya hatinya pilu. Dia melihat Adiknya tercengang mendengar cerita kebenaran pahit.
“Kenapa Kakak tidak pernah cerita? Kenapa Kakak simpan semua masalah Kakak?”
"Karena Kamu terlalu asyik pada duniamu jadi tidak tahu kebenaran Ibu meninggal karena sabotase. Sudahlah lupakan saja, aku juga muak memberi tahu kamu!" cibir Zeferino.
"Kak ...." Thomas merasa pilu sekarang akan semua ini. Kakaknya adalah sosok luar biasa yang penuh misteri. Hanya penyesalan karena baru tahu kesakitan pilu.
"Sudah lupakan, bagaimana dengan gadismu, apa sudah ditemukan?" tanya Zeferino datar.
Thomas menunduk sedih, "Sudah namun ia sedang berbadan dua. Sakit sekali Kak, aku tidak sanggup." dia mengatakan dengan kata bisikan sampai Zeferino tidak mendengar dengan jelas.
"Hn, kamu sabar. Aku yakin dia akan jadi milikmu karena usaha keras tidak mengkhianati hasil akhir!" nasihat Zeferino seraya menepuk bahu Thomas.
"Lalu Istri Kakak bagaimana? Aku ingin bertemu dengannya," ujar Thomas.
"Yara sedang tidur karena lelah. Aku akan bangunkan agar kalian bertemu!" tegas Zeferino.
"Baiklah, aku jadi penasaran siapa wanita yang mampu menjadi pelipur lara Kakakku ini," goda Thomas.
"Berengsek, kamu selalu ingin ku kasih lihat foto Yara, namun selalu menolak dengan dalih ingin lihat langsung, Keh basi!" sinis Zeferino.
Thomas tertawa mendengar perkataan Zeferino.
"Itu untuk surprise, Brother!" kekeh Thomas.
"Serah kamu saja!" sinis Zeferino lalu beranjak meninggalkan ruang kerjanya.
***
Zeferino bingung sendiri melihat kamarnya kosong dan sedikit berantakan. Dia tidak suka ruang kotor apa lagi berantakan. Saat melihat brankas terbuka dan sekarang ia panik.
Tergesa itulah Zeferino memeriksa isinya dan ia melihat 20 juta dolar lenyap. Siapa yang ambil, kenapa tidak ambil seluruh isinya?
Zeferino menutup brankas dan saat membuka lemari pakaian, alangkah terkejut tidak menemukan pakaian Yara.
Panik melanda Zeferino sekarang. Istrinya ke mana?
"Math ....!!!" teriak Zeferino menggelegar ke isi ruang CCTV.
Thomas jadi penasaran kenapa Kakaknya panik sekali. Dia ikut masuk ke ruang CCTV dan melihat Kakaknya memerintah pada bawahan untuk memeriksa di mana Yara.
Zeferino terpaku saat tahu Istrinya Yara mendengar percakapan bersama Thomas. Sekarang tubuhnya bergetar ketakutan akan kehilangan Istrinya.
"Math, kerahkan seluruh temanmu untuk mencari, Istriku!" titah Zeferino langsung di laksanakan oleh Math.
Thomas membeku mendengar perkataan Zeferino. Yara = Rosa adalah orang yang sama dan ia baru sadar sekarang bahwa nama lengkap Rosa ada Yara-nya. Hancur tidak berbentuk itulah Thomas sekarang.
Zeferino menjambak rambutnya kalut akan situasi suram ini. Hingga dia merasakan tarikan keras dan pukulan telak dari Thomas.
"Berengsek, kau keparat! Berani sekali mengambil gadisku ....!!!" murka Thomas tanpa perasaan menonjok Zeferino.
Zeferino yang kalut diselimuti emosi dengan keras menendang perut Thomas lalu menghantam wajah rupawan Adiknya sampai terpelanting menatap meja.
"Bedebah, apa maksudmu merebut gadismu? Adik tidak tahu diri!" geram Zeferino.
Thomas akui kekuatan Zeferino itu luar biasa. Bahkan Kakaknya terlihat biasa menerima pukulannya dan ia langsung kesakitan akan tendangan dan pukulan Zeferino.
"Aku beritahu, Rosalicia Constancta Yara Abrahan adalah gadisku!" cetus Thomas membuat Zeferino membeku.
"Hahaha ... kamu bercanda? Dia Istriku, bajingan!" tawa hambar Zeferino berusaha menolak.
"Keparat, tentu saja serius! Kenapa kamu tega mengkhianatiku, Kak? Kenapa kamu ambil gadisku di tempat itu? Aku berusaha menjaganya agar aman kenapa kau bawa pergi?" raung Thomas sangat marah.
"...." Zeferino membisu tidak sanggup membalas. Permainan apa ini?
"Kenapa harus kamu yang membawa, Rosa? Kenapa harus lelaki iblis sepertimu yang membawanya? Kenapa harus Kakakku yang merebut kekasihku?" amuk Thomas.
"...." masih diam tanpa komentar. Zeferino tidak tahu apa pun tentang Rosa. Apa salahnya jika disinilah dia yang menjadi korban? Dia tidak mungkin mengambil Yara jika tahu Istrinya milik Adiknya. Kenapa sekarang menjadi rumit sekali?
"Kamu tahu, Rosa nyaris bunuh diri karena depresi akibat ulahmu. Dan sekarang kebencian untuk kita semakin bertambah. Mungkin untukmu jauh lebih dahsyat pasalnya mengetahui fakta aku Adikmu sekaligus tahu kamu seorang Psychopath yang tega membunuh Ayah dan Dylan. Sekarang hanya ada dua kata banci dan ketakutan!" papar Thomas penuh emosi.
Thomas marah dan tidak mau melihat Zeferino untuk beberapa saat. Makanya ia memutuskan untuk keluar meninggalkan Zeferino sendiri namun berhenti tepat di bibir pintu.
"Aku bersumpah jika pertama kali menemukan Rosa maka dia akan menjadi milikku selamanya. Tidak peduli kamu siapa asal Rosa kembali di tanganku!" seru Thomas sebelum keluar.
Zeferino membisu tanpa kata hanya pikiran dan hatinya yang bergejolak tinggi. Hatinya hancur lebur sekarang.
"Arghh, berengsek!" raung Zeferino. Dengan kekuatan penuh dia menghantam pukulan di lantai yang mengakibatkan keretakan parah.
Air mata luruh begitu saja membuat Zeferino menggeram terluka. Dia tidak tahu apa-apa kenapa menjadi korban Adiknya? Sungguh dia tidak tahu hubungan Yara dan Thomas.
Sekarang dia paham kenapa Istrinya kabur dari rumah. Hatinya bergejolak tinggi mengingat semuanya. Yara-nya pergi karena kesalahan fatal. Zeferino bingung harus bagaimana?
"Aku tidak tahu hubungan kalian di masa lalu, kenapa harus aku yang dihukum? Jika saja aku tahu dari awal mungkin kejadiannya tidak seperti ini. Kenapa Tuhan tidak adil padaku? Kenapa kebahagiaan selalu lari? Bisakah aku bertahan akan ujian ini? Tidak, aku harus bangkit demi Yara dan masa depanku. Yara hanya milikku, jika harus melawan aku siap melakukan itu. Thom, kamu yang salah atas semua ini. Kita hanya korban dan karena keegoisanmu aku dan Yara berakhir begini. Aku bersumpah akan menemukan Yara duluan dan tidak akan memberikan Istriku padamu. Berhenti menangis Zefer karena ini ujian cinta kalian. Iya, Tuhan pasti mempersatukan kita lagi apa pun yang terjadi!"
Zeferino menghapus kasar air matanya. Tekad kuat akan ia lakukan, sekarang lawannya bukan orang lain melainkan Adiknya sendiri.