Burning Passion In Love

Burning Passion In Love
BPIL - Meet Again!



Kai mendesis sinis tatkala ada beberapa keamanan mall menahan dirinya. Pasalnya CCTV menangkap dirinya sedang mengambil dompet Yara.



"Aku tidak mencuri barang Nyonya tadi. Lepaskan aku atau kalian menyesal!" geram Kai.



"Anda salah jika menggertak, coba katakan apa yang Anda ambil? Kami takut Anda berbuat kriminal pasalnya memotret kartu nama Nyonya tadi. Ada maksud apa Anda melakukan itu? Jangan bilang Anda kriminal!" desak Security.



Kai mendesis sembari memutar bola matanya malas. Dia mengacungkan jari tengah tepat di depan wajah mereka.



"Fuck ...! Jangan asal bicara, saya tangan kanan Mr Teixeita. Jangan main-main dengan saya atau Mall ini di gusur tanpa menyisakan apa pun!" gertak Kai.



Mata para penjaga mendelik horor mendengar perkataan Kai. Jelas tahu siapa Teixeita itu.



"Maafkan kami, Tuan. Anda boleh pergi!" sesal mereka.



"Cih," decih Kai lalu berlalu begitu saja.



"Kabar burung, Mr Teixeita sekarang ada di Charlotte. Bisa gawat kalau macam-macam," gumam mereka.



Kai melajukan motor sport dengan kecepatan tinggi menuju tempat di mana Zeferino melakukan seminar.



15 menit kemudian Kai tiba. Dia akan menunggu sampai seminar selesai. Wajah tampannya terlihat semringah melihat para kawannya.



"Why? Apa berhasil menemukan keberadaan, Nyonya?" tanya Hans sembari berbisik.



Kai mengaguk semangat, "Iya, Bos pasti akan bahagia."



"Syukurlah, kita akan lihat Bos kembali hidup!" seru Hans membuat 5 orang lainnya menengok ke arahnya.



"Ada apa, Hans?"



"Rahasia, kita harus menyambut kedatangan Nyonya Teixeita!" Hans tersenyum tulus membayangkan wajah bahagia Bos besar mereka.



Di dalam ruang seminar, Zeferino terlihat memberikan sambutan singkat lalu turun. Kulit tan eksotis itu bersinar tertimpa sinar blitz kamera.



Tubuh tinggi Zeferino terbalut jas mewah dan penampilannya serba hitam. Dia di dampingi oleh Jennifer si sekretaris pribadi cantik jelita dengan tubuh bohai.



Zeferino mengambil minum biasa tanpa peduli sekitar. Dia sudah biasa di pandang memuja oleh kaum hawa.



Mitchell tersenyum menjabat tangan Zeferino. Iya mereka teman semasa kuliah dulu.



"Aku tidak menyangka bisa bertemu Mr Teixeita di sini, apa kabar, Zeferino?" tanya Mitchell ramah.



Zeferino tersenyum tipis, "Seperti yang kamu lihat, Mitchell."



"Tidak baik, wajahmu menggambarkan kesepian, kosong, kehilangan dan frustrasi." Mitchell tersenyum saat mendeskripsikan Zeferino sekarang.



Zeferino tersenyum kecut mendengar deskripsi Mitchell.



"Aku pikir jawaban kamu benar," ujar Zeferino kalem.



"Ada masalah?" tanya Mitchell ramah.



"Tidak usah sok ramah, masalahku miliku sendiri!" cetus Zeferino dingin.



"Masih saja sarkasme. Memang ada wanita yang mau dengan pria macam dirimu?" goda Mitchell.



Zeferino mendelik sinis ke arah Mitchell.



"Whatever!" setelah mengatakan itu Zeferino berlalu begitu saja.



Jennifer tersenyum tipis ke arah Mitchell, "Maafkan Bos saya, dia memang dingin."



"Tidak apa, saat kami satu gedung Universitas, Zefer memang dikenal dingin bak kutub utara. Jadi tidak heran dia begitu." Mitchell tersenyum lagi.



Jennifer terkekeh mendengar jawaban Mitchell.



"Iya, Zefer memang begitu. Tapi baik. Kalau begitu saya permisi." Jennifer menyusul Zeferino yang sedang berbicara dengan kolega bisnis.



***



Zeferino menghampiri bawahan-Nya terlihat asyik berbicara.



Kai sadar pertama kali sontak menghampiri Zeferino.



"Bos ....!!!" seru Kai semangat.



Zeferino mendelik sinis ke arah Kai.



"Why?"



"Saya membawa kabar bahagia!" tegas Kai.



"Lalu?"



"Anda akan bahagia mendengar ini ___"



"Langsung ke inti!" sela Zeferino.



Jennifer mendekat ke arah Zeferino lalu bertanya, "Zefer, apa masih lama?"



"Tidak, ayo makan dulu!" Zeferino meminta kunci mobilnya lalu membawa Jennifer ke restoran mewah.



Kai menunduk lesu akan situasi ini.



"Kai, jangan murung. Tunggu Bos usai makan," hibur mereka.



"Hm, aku tidak sabar memberi tahu," lesu Kai.



"Ayo pergi setelah itu beritahu Bos," hibur mereka lagi.




Zeferino menggeram marah melihat Kai menghalang jalannya. Ia keluar seraya menatap sengit bawahan-Nya.



Kai buru-buru membungkuk minta maaf sembari menyerahkan ponsel.



"Apa maksudmu, sialan?" geram Zeferino.



"Bos, lihat data itu saya berhasil menemukan Nyonya Teixeita di Mall. Nyonya tinggal di alamat itu!" tegas Kai.



Zeferino membeku mendengar perkataan Kai. Apa dia salah dengar atau mimpi? Dengan tangan bergetar Zeferino menerima ponsel Kai dan membaca seksama. Namun bukanya namanya Yara melainkan Rose.



"Kamu bohong, Kai?" sinis Zeferino.



"Tidak, Nyonya Teixeita menggunakan nama Rose untuk mengganti identitas. Saya sudah bertatap mata langsung. Tolong percaya, Bos!" papar Kai serius.



Zeferino menatap mata Kai intens dam ia menemukan kebenaran tentang semua itu. Senyum haru tercetak jelas.



"Aku sangat bahagia, terima kasih. Setelah ini aku akan menemui Istriku!" tutur Zeferino tulus.



Kai tersenyum cerah melihat senyum tulus Zeferino.



"Berbahagialah Bos, kami mendoakan kebahagiaan kalian!" semangat Kai.



"Terima kasih, Kai. Jenni maafkan aku tidak bisa mengantar kamu makan, urusanku harus selesai hari ini."



Jennifer menepuk bahu lebar Zeferino.



"Pergilah, kejar kebahagiaan, mu!" tegas Jennifer.



Zeferino tersenyum manis mendengar perkataan Jennifer. Tidak lama para Bodyguard berdatangan.



"Kai, aku pinjam ponselmu. Kalian jaga Jennifer baik-baik!" titah Zeferino lalu masuk ke mobil dan menjalankan dengan kecepatan tinggi.



Mereka tersenyum tulus melihat Zeferino sangat antusias.



Di tempat lain, Mitchell dan beberapa rekan Dokter dan Suster main ke tempat Yara tinggal.



"Kamu tahu, Mr Teixeita ternyata ganteng banget!"



"Iya, pokoknya gagah bangat, ngga menyesal ikut berdesakan lihat dia."



"Tadi nama lengkapnya siapa, Zeferino Umoja ___," Dokter wanita itu berusaha mengingat.



"Zeferino Umoja Raymundo Teixeita!" celetuk Yara setelah menaruh camilan untuk mereka.



Mata para wanita dan pria sontak menatap Yara heran.



"Kamu kenal Mr Teixeita?" tanya Yuin penasaran.



"Tidak, hanya menebak," kilah Yara.



"Benarkah? Kamu tahu itu kepanjangan nama Mr Teixeita. Hebat sekali kamu, Rose!" cetus mereka.



"Apa salah sih menebak?" Yara belum sadar inti dari semuanya.



"Aish, kamu ini Rose. Hai, Mr Teixeita itu datang ke seminar tahu dan dia sangat tampan. Namanya Zeferino Umoja Raymundo Teixeita, sungguh sangat tampan!" celoteh salah satu dari mereka.



Degh



"Zefer," batin Yara tidak percaya. Hatinya bergejolak, sedangkan jantung berasa berlari maraton.



"Kamu kenal ngga sama beliau? Dia pengusaha muda yang sukses di usia muda. Wajahnya itu rupawan, kulitnya tan eksotis serta bentuk tubuh proporsional enak di peluk!" jabar antusias mereka.



"Aku sangat kenal bahkan dia adalah Suamiku. Bagaimana ini?" Yara buru-buru menggeleng untuk menghilangkan memori tentang Zeferino.



"Aku makan dulu sebentar, Baby lapar." Yara buru-buru masuk dan menenangkan diri.



Mitchell merasa ada yang aneh, dan tepat 10 menit kemudian mobil mewah berhenti tepat di depan rumah Yara.



Zeferino langsung masuk begitu saja dan sukses membuat mereka melongo. Pasalnya objek gosip telah berdiri seraya celingak-celinguk mencari seseorang. Penampilan berantakan karena sekarang Zeferino melepas Jas, dasi dan melipat kemeja sampai siku sedangkan kancing atas terbuka tiga.



Zeferino menggulir pandangan ke seluruh penjuru mencari Yara-nya. Tapi tidak membuahkan hasil. Dia mengusak rambutnya kasar.



"Mr, Anda mencari siapa?" tanya Devina gugup.



"Istriku," jawaban melantur Zeferino membuat mereka bingung.



Zeferino buru-buru teringat nama Istrinya saat di sini.



"Rose, di sini benar rumah Rose?" tanya Zeferino sembari tersenyum tipis.



"Benar, Nona Rose sedang di dalam." Devina berusaha sopan.



Zeferino bernapas lega sekarang. Dia duduk di samping Dokter Mitchell lalu tersenyum singkat.



"kalian tidak perlu melongo begitu," celetuk Zeferino kalem langsung menyadarkan mereka.



Tidak lama Yara keluar.



"Maaf agak lama!" seru Yara belum sadar ada Zeferino.



Zeferino menegang mendengar suara familiar yang sangat dirindu. Sontak Zeferino berdiri menghadap Yara.



Mata beda warna itu terpaku dan saling menatap penuh arti. Yara begitu terkejut dan Zeferino sangat bahagia.



"Yara / Zefer ...," gumam mereka.