
Thomas menatap kuburan. Emma dengan pandangan kosong. Air mata terus berlinang tanpa mau di cegah.
Rasa lebur menghantam jiwa Thomas. Sedangkan Veronica dan Kalila tidak mampu bertahan. Beberapa kali Veronica jatuh pingsan akibat ulahnya yang tega menghancurkan anaknya sendiri.
Anak kembar baru berusia 1 hari itu masih di taruh di inkubator, pasalnya kondisi mereka sangat lemah.
Thomas tersungkur memeluk gundukan tanah gadisnya. Hatinya hancur lebur tanpa sisa. Dia tidak peduli pada pelayat yang mengantar Emma ke peristirahatan terakhir.
Zeferino memejamkan mata rapat untuk menghalau rasa sakit. Sementara Yara terus menangis tidak kuasa menyaksikan hal menyakitkan.
"Emma, hiks apa kamu benar-benar mau membuat aku mati? Kamu berjanji akan selalu bersama dan menua bersama, tapi kenapa kamu ingkar janji? Kenapa Emma, kenapa kamu tega meninggalkan aku sendiri? Tolong, Sayangku ini sangat menyakitkan. Kamu tahu aku sangat mencintaimu, bukankah kamu ingin dengar kalau aku mencintaimu. Lalu sekarang aku mengatakan cinta, kenapa kamu memilih pergi? Emma, tolong kembali."
Thomas meraung kesakitan sembari meneriaki nama Emma. Air mata terus berlinang bak anak sungai. Hati dan jiwa Thomas sudah lebur tanpa sisa.
"Emma, hiks tolong kembali. Aku sangat mencintaimu," racau Thomas dengan isak tangis.
Zeferino menepuk bahu Thomas, "Ikhlaskan Emma, Thom. Kamu kuat dan berusahalah bangkit untuk anak kalian. Ingat Emma menitipkan dua nyawa yang sangat dicintai. Bangkitlah demi Putra dan Putrimu, mereka membutuhkan kamu!"
Thomas menatap Zeferino lama dengan derai air mata bercucuran. Dia tidak kuat menahan sakit hatinya. Bahkan ini lebih menyakitkan dari pada mengikhlaskan cintanya pada Zeferino.
Zeferino merentangkan tangan agar Adiknya bersandar padanya. Dan benar Thomas merengkuhnya erat dengan tangis lebih keras. Bahkan dia merasakan betapa Thomas sangat menyedihkan sekarang.
"Arghh, Emma pergi meninggalkan aku, Kak. Kenapa harus Emma? Apa aku harus bangkit tanpa gadis yang menjadi Ibu dari anak-anakku? Aku tidak tahan menahan sakit ini, Kak. Katakan ini hanya permainan yang di siapkan Tuhan. Tolong aku, Kak. Emma, telah membawa nyawaku, dan sekarang tidak ada kehidupan. Sakit, sakit sekali."
Zeferino mengusap punggung kekar Thomas. Dia sebagai Kakak harus memberikan dukungan serta kenyamanan.
"Takdir tidak bisa di tentang, kematian dan jodoh ada di tangan Tuhan. Kita harus kuat menerima kejamnya dunia jika ingin bangkit. Thom, Emma sudah tenang di alam sana. Tolong ikhlaskan dia di sisi Tuhan. Gadismu telah bahagia di alam sana, berjuanglah!"
"Aku tidak bisa tanpa, Emma. Aku tidak sanggup menahan sakit atas kepergian gadisku. Tolong katakan padaku, bisakah bertahan tanpa jiwamu? Aku tidak sanggup menatap masa depan jika tapanya. Tolong ini sakit sekali."
Zeferino memilih bungkam dari pada terus memberikan dukungan sampai berbuih tapi tidak mendapatkan hasil. Dia sakit melihat Thomas menderita begini. Bahkan sekarang hanya ada Thomas yang cengeng meratapi nasib.
"Thomas, berhenti menangis. Emma tidak suka melihat kamu begini!"
Thomas tidak memedulikan perkataan Zeferino. Tangis pilu itu masih saja keluar hingga sebuah pukulan telak membuatnya kehilangan kesadaran.
"Nyonya Veronica, puaskah Anda menyakiti dua hati yang saling mencintai? Puaskah Anda melihat hasil perbuatanmu? Karena kegilaan Anda, Emma meninggal dan Adikku begini. Jika bukan Ibu tiri, yakinlah saya akan membunuh Anda!" desis Zeferino.
Zeferino menggendong Thomas di punggung. Dia tidak tega melihat Thomas begitu menyedihkan akibat ulah Veronica.
"Math, urus wanita tua itu. Aku tidak sudi melihat wanita tidak punya hati ada di Canberra. Urus keberangkatan menuju Brazil sekarang. Dan untuk kamu, Kalila ... jaga Ibu tidak bergunamu itu. Kalian berdua sungguh menjijikkan!" sarkasme Zeferino.
Yara ikut Zeferino pulang menuju rumah sakit. Hatinya sakit melihat Emma meninggal dan sangat iba menatap Thomad.
Veronica meraung-raung sembari merengkuh nisan Emma. Penyesalan pilu itu hanya menjadi duka tidak terhenti. Penyesalan menyeruak membuat Veronica tidak kuat menahan sakit.
*
*
*
Puk
*
*
*
Puk
*
*
*
Puk
*
*
*
"Kak Thom, bangun sudah malam. Ayo bangun." suara lembut itu mengalum indah di gendang telinga Thomas.
Thomas merasakan tepukan lembut pada pipinya. Bahkan suara merdu itu terus mengalun sempurna.
"Kak Thom, ayo bangun!" suara itu naik satu oktaf membuat Thomas langsung terjaga. Alangkah terkejut melihat Emma tersenyum manis ke arahnya.
"Kak Thom, apa kamu mimpi buruk? Kenapa terus memanggil, Emma? Bahkan kamu menangis tergugu membuat, Emma takut. Kakak kenapa, ada apa?" tanya Emma dengan pandangan khawatir pasalnya Thomas sedari tadi menatapnya dengan derai air mata.
"Emma, ini kamu Sayang? Apa kita di surga? Tolong jika ini mimpi jangan bangunkan, aku." Thomas menciumi pipi gembul Emma dan langsung merengkuh erat gadisnya.
Emma menyengit mendengar perkataan Thomas. Dia menepuk pipi tirus Thomas lumayan kuat, tentu sang korban tepukan meringis.
"Ini nyata, Kak. Ada apa sebenarnya? Kamu mimpi buruk ya?"
"Emma, ini nyata tidak mungkin, Sayang. Aku sedang menghadiri pemakaman kamu, lalu pingsan gara-gara di pukul, Kak Zefer. Lalu ... lalu kamu tidak kembali dan meninggalkan aku dan si kembar. Aku takut, takut sekali."
Emma paham akan situasi ini. Dia tangkup rahang tegas Thomas, kemudian memberikan ciuman sayang di kening.
"Aku masih hidup, Kak. Bahkan sudah melahirkan secara normal, lalu Kevin dan Kaviya sudah berumur 1 bulan. Jadi, itu alasannya Kakak menangis tergugu sambil menyebut nama, Emma. Itu semua hanya mimpi, Kak."
Emma berusaha menenangkan Thomas. Berhasil Thomas langsung sadar dari mimpi buruknya. Spontan dia langsung merengkuh Emma erat seraya mengatakan terima kasih pada Tuhan. Dia sangat bersyukur itu semua hanya mimpi, jika itu nyata mungkin dia tidak akan sanggup hidup.
"Emma, aku sangat mencintaimu!" aku Thomas sukses membuat Emma terpaku.
"Coba ulang, Kak," cicit Emma.
"Aku tidak dengar, tolong ulang lagi," pinta Emma dengan tangis haru.
Thomas menangkup pipi bulat Emma lalu mendaratkan kecupan sayang di kening. Dia menyatukan kening mereka sembari tersenyum manis.
"Emma, aku sangat mencintaimu. Aku sangat mencintaimu, Sayangku. Tolong jangan tinggalkan aku dan tetaplah bersamaku sampai maut memisahkan. Aku sangat mencintaimu, sangat cinta!"
Emma menangis haru sembari tersenyum lebar. Dia berhambur memeluk Thomas erat.
"Aku sangat bahagia, Kak. Aku juga sangat mencintaimu, Kak!"
"Sstt, mulai sekarang jangan panggil aku Kak, panggil Thomas atau Sayang!"
"Eh." wajah Emma bersemu merah.
Thomas hendak mengecup bibir Emma malah terhenti dengan tangisan si kembar. Spontan Emma berjalan cepat menghampiri anak-anaknya.
Thomas tersenyum teduh melihat anak kembarnya. Dia merengkuh Emma erat sembari mengatakan terima kasih berulang kali.
Emma tersenyum manis mendengar perkataan Thomas. Dia berjinjit untuk mengecup rahang tegas Thomas.
Thomas dan Emma melempar senyum manis sedetik kemudian bibir menyatu. Sementara Jemari mereka mengusap pipi bulat sang buah hati dan berhasil. Si kecil tertidur nyaman seraya menyedot Ibu jari.
Thomas tersenyum teduh melihat dua Putra dan Putrinya yang sangat manis. Dia sangat bahagia semua berakhir manis tanpa ada halangan. Dengan erat Thomas merengkuh Emma tanpa mau melepaskan.
Nama bayi kembar Emma dan Thomas adalah Kevin Atwood Raymond Teixeita and Kaviya Audrey Dana Teixeita. Semua terasa begitu membahagiakan karena Tuhan memberikan anugerah begitu indah.
***
Zeferino baru pulang kerja ke luar kota. Saat sampai kamar dia melihat Yara dan Stefano tertidur pulas.
Yara merengkuh Stefano yang asyik mengempang. Terlihat begitu damai melihat dua malaikat tersayang. Zeferino menaruh tas kerja di meja, dan berniat mandi dulu baru menggendong si tampan.
Yara mengerjap saat merasakan ada kehadiran Zeferino. Dia melihat ada tas dan jas mahal Suaminya.
Jemari lentik Yara menari di pipi gembul Stefano. Dia menciumi sang Putra karena gemas. Putranya sangat tampan seperti Zeferino walau di akui kelak tampan sang Putra.
Stefano membuka mata perlahan. Matanya langsung berkaca karena haus. Tentu Ibunya langsung memberikan asi untuk Stefano.
Zeferino keluar hanya menggunakan selembar handuk melilit pinggul. Tubuh penuh otot mengundang Yara untuk menjamah sangat menggiurkan.
"Sayang, aku rindu," ucap Zeferino. Dia mengecup puncak kepala Istrinya lalu mencubit gemas pipi gembul Stefano.
Stefano yang kangen menyudahi mari menyusu beralih mari minta gendong Daddy. Tangan kecilnya berusaha menggapai Zeferino.
Zeferino dengan senang hati meraih Stefano untuk digendong. Dia ciumi pipi gembul anaknya dengan gemas.
"Baby Stef rindu Daddy?" tanya Zeferino sembari menggesekkan hidung mancungnya ke hidung mungil Stefano.
Stefano yang tahu maksud Zeferino sontak tersenyum lebar sembari bertepuk tangan. Sekarang ini ia berumur 3 bulan lewat 3 minggu. Bayi kecil ini begitu aktif dan sangat mengemaskan.
Zeferino tersenyum manis mendengar celoteh aneh Stefano. Karena gemas ia gigit pipi gembul Putranya.
Bukannya menangis Stefano malah tertawa riang. Bayi kecil itu sungguh aktif dan mengemaskan dalam gendongan Zefreino.
Yara terkekeh melihat kelakuan Stefano yang sangat rindu Zeferino. Dia merengkuh Zeferino dari belakang lalu tangannya mengusap pipi gembul Stefano.
"Kami rindu, Daddy." Yara tersenyum saat Zeferino mengecup pipinya. Sedetik kemudian bibir mereka menyatu tanpa lumatan.
"Aku juga sangat merindukan kalian. Maaf seharian di Marlboro."
"Tidak apa, kami senang kamu tidak menginap. Sini, biar Stef aku gendong dan gantilah pakaian. Lalu kita makan."
"Baik, terima kasih, Sayangku."
“Sama-sama, Sayangku."
Pagi hari yang cerah Zeferino baru selesai GYM. Saat hendak ke kamar mandi dia buat kaget melihat Stefano. Matanya membulat dengan bibir terbuka sedikit. Alangkah kaget menemukan Putranya penuh ciuman lipstik.
"Yara, astaga kamu apa kan anak tampanku?" Zeferino hendak menggendong Stefano langsung berhenti saat Yara mengetok tangannya.
"Cuci tangan dulu, Zefer. Umz, aku gemas Suamiku, makanya aku ukir ciuman di tubuh gempal Stefano. Lihat dia tertawa riang saat aku ciumi dan hasilnya imut sekali!" Yara bersorak senang dan langsung menciumi Stefano lagi. Jadilah si unyuk jadi badut merah.
"Astaga, Yara. Kamu lucu sekali, membuat aku ingin gauli. Tunggu aku mandi dulu ....!" seru Zeferino saat Yara hendak mencubit perutnya.
Yara tertawa bersama Stefano. Sungguh si kecil adalah duplikat sempurna Zefreino yang sangat lucu.
Usai mandi Zeferino menggendong Stefano yang penuh lipstik Yara. Memang begitu imut dan mengemaskan.
"Stef, lucu sekali."
"Iya, sangat lucu."
"Terima kasih sudah melahirkan Putra semanis, Stef."
"Sama-sama, Zefer. Terima kasih sudah mengizinkan aku menjadi Ibu dari Stef. Aku sangat mencintaimu, Suamiku!"
"Aku juga sangat mencintaimu, Yara!"
Zeferino merengkuh Yara singkat lalu mereka mengecup pipi gembul Stefano penuh kasih sayang.
"Terima kasih Tuhan, sudah memberikan kebahagiaan yang begitu indah untukku. Terima kasih untuk semuanya, Tuhan. Yara dan Stefano, kalian adalah kehidupanku. Terima kasih banyak Sayangku dan Putraku sudah menjadi pelipur lara."
****
Extra Part END!
****