Burning Passion In Love

Burning Passion In Love
BPIL - Adorable!



Yara memberengut lucu karena Suaminya masih tidur. Saatnya mandi dan ini sudah sore.



"Zefer," rengek Yara. Namun Suaminya tidak kunjung bangun. Ide jahil terlintas dibenaknya. Dengan nakal dia menekan bibir tebal Zeferino menggunakan jari telunjuk lalu beralih di pipi.



Dan berhasil, Zeferino terlihat mengerjap lalu melenguh sebentar. Dia balik menutup mata karena masih mengantuk.



"10 menit lagi, Yara," ucap Zefer karena Istrinya masih asyik mengerjai dirinya. Bibir dan pipinya kembali di tekan manja oleh Yara.



"Yara!" peringat Zefer.



"Bangun Zefer," rengek Yara.



"Ada apa?" tanya Zeferino akhirnya membuka mata.



"Mandi!" perintah Yara.



"Nanti sa__" Zefer diam karena disela Yara.



"Jadi ngga mau mandi bareng?" goda Yara sembari mengerling nakal.



"Itu pengecualian. Ayo mandi!" semangat Zeferino. Dia melepas kaus hitam polos dan membuang asal.



Yara meneguk saliva sendiri pasalnya melihat tubuh kekar Suaminya yang penuh otot. Sudah 1 bulan dia puasa tidak melihat tubuh Zeferino.



"Ayo mandi, jangan bengong saja!" ujar Zeferino.



"Ah, ayo," kikuk Yara.



Di bawah guyuran air hangat mereka tampak berciuman mesra. Tangan saling meremas dan memberikan usapan lembut pada tubuh masing-masing.



"Sayang, aku ingin bercinta namun kondisimu tidak memungkinkan. Bisakah kamu menidurkan dia!" aku Zeferino.



"Baik, Sayang."



Suara desahan erotis menggema dalam bathroom. Pasangan ini hanya melakukan foreplay sensual namun sangat menggairahkan.



Yara meneteskan sabun cair pada tubuh tinggi atelis Zeferino. Perlahan tangan mungil itu bergerak mengusap seluruh tubuh Zeferino tanpa terkecuali. Saat di roti sobek Zeferino, ia meremet otot perut Suaminya dan menggodanya.



Zeferino juga melakukan hal sama pada tubuh mungil Istrinya. Dia mengusap semunya dan meremas payudara wanitanya erotis nan sensual.



"Zefer, lapar," rengek Yara saat Suaminya mengeringkan rambut ikalnya.



"Kita keluar, sepertinya Uncle sudah kembali sedari tadi."



“Um,” gumam Yara.



Usai mengeringkan rambut Yara, Zeferino merengkuh Istrinya posesif.



"Yara, aku mencintaimu," ungkap Zeferino tulus.



Degh



Hati Yara berbunga sementara jantung berdegum keras. Apa dia salah dengar sekarang?



"Coba ulang?" pinta Yara disertai tangisan.



"Aku mencintaimu, Yara!" tegas Zefer sembari membalik posisi Yara dan kini tangannya bertengger manis di pipi gembul Istrinya.



"Yara, apa kamu mencintaiku?"



"Bodoh, Zefer bodoh tentu saja aku sangat mencintaimu. Aku sangat mencintaimu, Zefer!" seru Yara dengan tangisan haru.



"Terima kasih Sayangku," ucap Zefer kembali mengecup mesra bibir Istrinya dan memberikan lumatan ringan.



Mereka saling merengkuh erat serta saling menyesap bau maskulin. Mereka sangat bahagia dan tidak mau terpisah.



"Yara," panggil Zefer lembut.



"Iya, Zefer," sahut Yara.



"Jangan tinggalkan aku walau badai menghantam rumah tangga kita!" tegas Zeferino.



"Kita hanya menikah kontrak, lagian kamu akan menceraikan aku," celetuk Yara.



"Kita memang akan cerai .... " Zefer melihat Istrinya kembali berekspresi sendu, "tapi, kita akan menikah lagi tanpa kontrak dan ini suci. Pernikahan sehidup semati tanpa ada batas ketentuan. Kita akan hidup bahagia selamanya!"



Yara menangis haru mendengar perkataan Zefer yang sangat romantis. Dia langsung merengkuh Zefer erat sembari mengatakan terima kasih dan cinta.




"Akhirnya Zefer kita bahagia!"



***



Yara berniat ingin jalan-jalan di kota Albury bersama Zeferino. Karena sang Suami akan ke Sydney beberapa jam lagi. Dia sudah merias diri dengan make up natural.



Yara tersenyum bahagia melihat Zeferino usai mandi dan berjalan ke sofa untuk rebahan.



"Zefer," panggil Yara bernada manja sedikit mendayu. Dia membungkuk sembari tersenyum sangat manis.



Merasa terpanggil, spontan Zeferino menatap Yara. Dia membuka mulut sedikit melihat kecantikan nan manis mengemaskan Istrinya.



"My Angel," gumam Zefer masih larut dalam pesona mengemaskan Yara.



Yara berjalan ke arah Zeferino sembari tersenyum manis. Tahukan kamu Yara, Zeferino ingin menerkam dirimu.



"Cantik, ada apa?" tanya Zeferino. Dia hendak duduk namun Yara malah menimpanya. Tubuh mungil Istrinya menempel manja padanya.



"Zefer, ayo jalan-jalan sebelum kamu kerja," ceria Yara.



Zeferino merengkuh Yara erat lalu mengecup mesra kening Istrinya.



"Baiklah, aku ganti dulu." setuju Zefer.



"Tapi ...."



"Tapi, apa?"



"Naik mobil ya," kekeh Yara.



"Ok, sekarang turun dari atasku!" titah Zeferino.



"Ngga mau," tolak Yara manja. Dia merebahkan diri di dada bidang Zeferino.



"Katanya mau jalan," tukas Zefer.



"Ngga jadi, mau begini saja." Yara mendusel manja.



"Aku juga suka posisi begini. Jadi, Istriku yang manis ini minta apa?" Zeferino mengusap rambut panjang Yara sesekali mengecup puncak kepala Istrinya.



"Mau, Zefer!" jujur Yara.



"Aku sudah menjadi milikmu!" tegas Zeferino.



"Aku tahu itu. Em, Zefer mau apa ke Sydney?" tanya Yara sembari mendongak.



Zeferino mencium bibir mungil Yara sekilas, "Ada pekerjaan penting. Besok atau nanti malam aku pulang."



"Ngga boleh ikut?"



"Ngga, soalnya bahaya."



Yara mengerucut imut, "Jahat."



"Demi kebaikan, ingat kamu baru pulang dari Rumah Sakit, ngga baik terus bepergian jauh. Kamu harus banyak istirahat!" nasihat Zeferino.



"Baiklah," akhirnya menurut.



"Jangan marah ini demi kebaikan, mu!" tutur Zeferino.



"Iya, aku paham." Yara meletakan kepalanya di bahu lebar Suaminya.



"Zefer," panggil Yara.



"Hn," sahut Zefer.



"Aku ingin makan," rengek Yara lagi.



"Tadi habis makan nanti ___"



"Makan Zefer, tapi suapi!" sela Yara.



"Baiklah, Nyonya Teixeita!"



Wajah Yara merona mendengar panggilan baru dari Zeferino. Rasanya sangat bahagia dan istimewa.