
At Albury, New Suoth Wales, Australia - 03:00 PM!
Zeferino dan Rosalicia sekarang berada di kota Albury, New Suoth Wales, Australia. 4 jam setengah mereka menempuh perjalanan dari Canberra ke Albury. Sebenarnya memakan waktu 3 jam setengah namun tadi mampir-mampir dulu.
Yara menatap rumah mini malis modern dengan pandangan takjub.
"Zefer, ini rumah siapa?" tanya Yara polos.
Zeferino tersenyum mendengar pertanyaan Istrinya. Dan dengan enteng menjawab, "Punyaku yang paling kecil dan sumpek."
Yara mencibir mendengar jawaban sombong Suaminya. Ada dua mobil mewah yaitu Sport BMW and Range Rover Sport 3.0 HSE.
"Kamu gila, lalu siapa yang tinggal di rumah ini? Dan mobil siapa itu?" tanya Yara lagi.
"Orang kepercayaan, Paman dan Bibi dan itu mobilku. Ayo masuk, pasti mereka terkejut melihat kita."
Zeferino menggenggam tangan Yara erat dan menuntun masuk ke rumah rahasianya. Yang tinggal di rumahnya yaitu Paman dan Bibi dari mendiang Ibunya. Sangat rindu pada mereka yang sederhana namun penuh kasih sayang.
Yara ikut saja melangkah ke mana Zeferino membawanya. Sampai di depan rumah mini malis Suaminya menekan bel masuk. Tidak lama seorang wanita paruh baya masih terlihat cantik membuka pintu.
"Good Morning, Aunty," salam Zeferino sembari tersenyum tipis.
"Morning, Son! Ya Tuhan, Zefer, kenapa datang tidak bilang-bilang," omel Bibi Zeferino.
Zeferino tersenyum mendengar omelan Bibinya, "Surprise dan ceritanya panjang, Aunty. Boleh kami masuk?"
"Oh ya, silakan. Tunggu, siapa wanita cantik ini?" tanya Bibi Zeferino terlihat antusias.
"Istriku, Aunty." Zeferino tersenyum melihat mata Bibinya membulat sempurna.
"Anak nakal, kapan menikah? Kenapa tidak mengabari kami?"
"Aunty, please mengocehnya nanti, biarkan kami masuk." Zeferino berkata kalem dan tentunya dihadiahi cubitan Yara dan jeweran Bibinya.
"Kalian menyiksaku," sungut Zeferino menyelonong masuk.
Linda nama Bibi Zeferino merengkuh Yara lembut, "Maafkan Aunty tidak bisa hadir di pernikahan kalian. Bocah nakal itu terkesan minta hadiah cubitan."
"Aunty, stop! Biarkan Istriku masuk untuk istirahat!" seru Zeferino dari dalam.
Di tempat ini sosok Zeferino yang asli muncul. Sosok hangat penuh kasih sayang serta perhatian karena tempat inilah Zeferino merasa aman. Dia merasa hidup tanpa kebohongan dan sandiwara.
"Zefer, awas kau ... Aunty tidak akan masak makanan kesukaan kamu!" gertak Linda.
"No ...! Aunty, harus masak. By the way, mana Uncle, Aunty?" tanya Zeferino setelah merebahkan diri di sofa.
Linda dan Yara ikut duduk, "Uncle, sedang berkebun, Zefer. Dia terlalu semangat mengurus kebun."
"Kalian sudah tua, harusnya sadar diri soal kerja. Zefer, bisa transfer uang kapan pun jika kalian butuh."
"Kamu terlalu baik, nah menantu cantik, istirahatlah di kamar. Kamu tampak pucat pasti kelelahan."
Yara tersenyum menanggapi perkataan Linda. Untung mereka sudah ganti di toko baju tadi, jika tidak bahaya. Ia langsung ingat lengan Suaminya masih terluka.
"Aunty, saya dan Zefer istirahat dulu," pamit Yara.
"Iya, tidur yang nyenyak, Sayang. Nah Zefer ayo antar Istrimu ke kamar. Nanti kami bangunkan."
"Terima kasih, Aunty. Ayo Sayang."
Zeferino membawa Yara masuk kamarnya yang terlihat simpel namun elegan.
"Aku baru tahu kamu bisa tidur di kamar seperti ini? Biasanya luas kamarmu 3x lipat dari ini," celetuk Yara sembari merebahkan diri.
Zeferino terkekeh mendengar ejekan Istrinya. Dia ikut merebahkan diri dan membawa Yara dalam dekapan hangatnya.
"Sejujurnya aku lebih suka rumah mini malis. Tapi, bagaimana di kata uang terlalu banyak makanya aku hambur untuk buat rumah, koleksi mobil dan motor," papar Zefer terdengar sombong.
Yara berdecap sebal mendengar kesombongan Zeferino.
Zeferino menggigit pipi gembul Yara dan mengecupnya mesra.
"Setidaknya aku berjuang dari nol. Kapan lagi sombong kalau ngga sekarang? saat mati apa yang di sombongkan, mau pamer sama Malaikat aku dulu kaya? Malaikat tidak peduli akan kekayaanmu di dunia. Hahahaha ....!!!"
Yara terperangah tidak percaya mendapati sosok Zeferino yang berbeda. Ini terkesan lugas, supel mudah berekspresi, ramah dan humoris. Kenapa dia bingung akan sosok Zefer.
"Jangan terlalu di pikir siapa aku. Inilah aku yang sesungguhnya. Di sini aku bisa berekspresi bebas dan memperlihatkan siapa diriku sebenarnya. Kembali dari sini maka peranku hanya ada dua, antagonis dan tritagonis. Sandiwara dan skenario gila sering aku perankan. Gila, itulah aku."
Zeferino terlihat meredup sekarang mengingat semuanya. Sedangkan Yara tercengang akan kejujuran Zefer.
"Zefer," hanya gumaman yang dapat Yara keluarkan.
"....." Zeferino hanya diam sembari menyembunyikan wajahnya di dada Yara.
"Kamu terlihat misterius, Zefer. Aku tidak percaya itu."
"Jangan percaya, jika kelak aku berbohong maka sulit dipercaya lagi."
“Kamu benar-benar membuat aku gila, Zefer.”
“Maaf.”
"Hm, kamu bilang peran antagonis, jadi selama ini sikap burukmu itu palsu padaku?" desak Yara.
"Iya, demi melindungi dirimu. Seperti beberapa jam yang lalu," jawab Zefer santai.
"Bohong, kamu terlalu menyakitiku. Itu ___'" Zefer menempelkan bibirnya lalu menyudahi ciuman singkat.
"Musuhku terlalu banyak, Yara. Duniaku begitu kelam dan banyak yang ingin menjatuhkan diriku bahkan berniat membunuh. Aku melakukan Acting demi keselamatanmu. Tapi, nyatanya aku sendiri yang menyakitimu terlalu dalam. Saat kamu terluka, di serang dan mencerna nasihat mereka, aku sadar satu hal. Aku harus jujur dan lebih terbuka padamu, maaf," papar Zefer terdengar serius serta penuh penyesalan.
Mata Yara berkaca mendengar perkataan Zeferino. Dia bingung sekarang, percaya atau tidak percaya. Rasanya terlalu sakit mengingat kekejaman, Zeferino dan ternyata itu semua sandiwara.
"Lalu bagaimana dengan, Jennifer si calon istri sahmu!" sinis Yara.
"Dia sahabatku, intinya sudah kuanggap saudari," sahut Zefer kalem.
"Bohong, aku mendengar setiap 3 hari sekali kalian bercinta dan terang-terangan bercumbu di depanku!" elak Yara berusaha tidak percaya. Air mata luruh kembali mengingat itu.
"Hahaha, sudah jangan menangis maafkan aku, Istriku. Mau tahu rahasia!" bukanya menenangkan Zeferino malah menggoda.
"Apa?"
"Semua itu palsu dan Itu hanya rekaman. Aslinya kami main game, sumpah ngga bohong. Ini aku punya videonya." Zeferino mengambil ponselnya pada Yara.
Yara melihat Zeferino dan Jennifer sedang asyik main game, dan suara laknat itu dari MP3. Video durasi 5 menit telah usai, kini ia melongo menatap layar ponsel Zeferino sudah ganti dengan video action. Sontak mata besarnya memincing tajam melihat Suaminya karena merasa di bodohi.
“Bajingan tengil, apa maksud semua ini?” geram Yara.
“Kamu sudah melihat, itu semua FAKE. Kami tidak pernah bercinta melainkan main game. Soal cumbuan di depanmu, maafkan aku. Itu skenario paling buruk ciuman dengan Sahabat sendiri. Sebenarnya mau menyewa jalang, tapi tidak bisa. Karena aku hanya milikmu!”
“Bangsat, kenapa bisa kamu membodohi diriku? Kamu sangat keterlaluan, Zefer. Tapi suara dan seruan nama terlalu jelas dan menyakitkan!”
"Itu suara desahan, kami ambil dari video porno. Lalu kami merekam sendiri saat menyebut nama. Terakhir edit dan di jadikan MP3. Maaf ya, Istriku!" jabar Zeferino tanpa rasa bersalah.
"Zefer, bodoh ....!!!" teriak Yara kesetanan. Dia memukuli Zeferino tanpa ampun seraya menangis histeris. Tapi sejatinya hatinya sangat bahagia.
"Auch, Sayang hentikan, sakit aduh, aduh ....!" Zeferino pura-pura kesakitan karena pukulan Yara.
"Auch," ringis Zeferino lagi saat Yara tanpa sengaja memukul lukanya tadi.
Yara langsung sadar dan menghentikan tingkah gilanya. Dia buru-buru memeriksa lengan Zefer yang sekarang kembali berdarah.
"Zefer," tangis Yara merasa bersalah.
"Tidak apa, jangan menangis." Zeferino kembali merengkuh Yara lalu memberikan ciuman sayang di seluruh wajah cantik Istrinya.