Burning Passion In Love

Burning Passion In Love
BPIL – Grief



Thomas menjambak rambutnya gusar pasalnya kesalahan besar telah dia lakukan. Walau kenyataan Emma yang salah namun dia lebih bersalah telah memerkosa Adiknya secara brutal. Tidak ada kelembutan dan hanya ada kekerasan.



Thomas menyelimuti tubuh polos Emma lalu beranjak meninggalkan kamarnya. Sebentar lagi penerbangan menuju Australia, makanya dia tidak membangunkan Emma.



"Sorry," ucap Thomas penuh sesal. Mungkin ini terakhir kali hubungan Adik dan Kakak, pasalnya hubungan saudara telah hancur. Dengan berat hati Thomas menulis kata *Maaf!*.



Mungkin kehidupan setelah ini akan menjadi rumit untuk mereka berdua.



Di lain sisi terlihat Yara sedang manja pada Zeferino. Tangan mungil itu masih aktif mengelus dada bidang Suaminya.



"Zefer," rengek Yara.



"Iya Sayang, ada apa?"



"Mau makan, tapi Zefer yang masak."



Zeferino tersenyum mendengar perkataan Istrinya, "Baiklah, aku akan masak. Mau makan apa?"



"Apa saja asal ngga manis, tapi apa Zefer bisa masak?" Yara sangat polos sekarang sampai membuat Zeferino terkekeh.



"Sejujurnya tidak bisa masak," kekeh Zefer.



"Nah, kok begitu? Jahat sekali." Yara menunduk sedih akan itu.



"Bagaimana bisa masak jika kamu masih nempel padaku? Bagaimana bisa masak jika polos? Mau aku telanjang begini menuju dapur dan menjadi objek nakal? Aku sih biasa mungkin kamu yang kesetanan. Jadi!" goda Zeferino dengan pandangan nakal.



Yara menunduk malu, demi menghilangkan rasa malu dengan manja menggigit dada kanan Zeferino.



"Hm, sekarang mau sex pagi atau makan?" goda Zeferino sembari meremas bokong berisi Istrinya.



"Aku mau makan," jawab Yara.



"Ok." Zeferino tersenyum manis.



Zeferino masak sederhana cuma sayur-mayur dengan lauk ayam goreng serta sup. Dia Suami idaman pasalnya masih muda sudah menjadi Triliuner, tampan nan memesona, karisma memikat dan pintar masak. Yang utama, setia serta penuh cinta akan kasih sayang.



"Nah makanlah!" perintah Zeferino sembari melepas celemek warna gelap.



Yar berbinar menatap hasil karya Zeferino. Suaminya keren sekali.



"Sejak kapan, Zefer bisa masak? Aku kira cuma bisa bekerja." Yara makan dengan lahap dengan celoteh imut.



Zeferino mengusap bibir mungil wanitanya lembut, "Pelan-pelan saat makan, aku tidak akan minta ...," jeda Zeferino, "aku bisa masak sendiri itu mulai jaman SMA, itu pun biasa."



"He? Zeferino keren sekali. Aku sangat beruntung memiliki Suami sepertimu!" riang Yara.



"Iya harus senang pasalnya aku tampan, mapan, kaya raya, genius dan pandai memasak," jujur Zeferino.



"Ck, narsis tapi benar adanya," dengus Yara karena Zeferino terlalu percaya diri.



"Itu nyata Sayangku, coba cari pria sepertiku maka kamu tidak akan menemukan!" sergah Zeferino.



"Iya percaya, Mr Perfect!" cibir Yara.



Zeferino tertawa renyah mendengar cibiran Istrinya. Dia mengangkat tubuh Istrinya ke pangkuannya.



"Itu fakta Sayangku, nah sekarang ayo suapi Suami tampanmu!" kekeh Zefer.



"Baik Tuan Teixeita yang tampan, saya Yara siap menyuapi Anda!" Yara merenggut gara-gara makanan akan terkikis.



"Yara, aaa ...." Zeferino membuka mulutnya sedikit lebar.



Yara menyuapi Suaminya dengan telaten lalu mengecup kening Zeferino gemas.




Yara merona mendengar perkataan Zeferino, "Aku juga mencintaimu, Sayang!"



***



Thomas masuk ke rumah mewah Zeferino. Dia membuka pintu kerja Kakaknya dan tersenyum cerah melihat Kakaknya sedang mengetik.



"Brother, I'm back!" seru Thomas nyaris membuat Zeferino menembak Thomas akibat terkejut.



"Thom, sialan," umpat Zeferino lalu berdiri dan berjalan ke arah Adiknya.



Thomas berhambur memeluk Zeferino erat. Akhirnya Kakaknya sehat kembali.



"Kakak sudah sehat?" tanya Thomas.



"Hm, bagaimana dengan, mu?" tanya Zeferino balik.



"Baik, Kak. Aku senang bisa kembali ke sini," ujar Thomas.



"Lalu, kenapa wajahmu murung?"



"Aku ke pikiran tentang, Kak Dylan. Dia mati mengenaskan," aku Thomas.



Zeferino terkekeh mendengar perkataan Thomas, "Terlalu baik, lupakan saja."



Thomas membeku mendengar perkataan Kakaknya, jangan bilang.



"Iya, seperti pikiranmu," ujar Zeferino kalem. Dia pandai membaca pikiran seseorang makanya setiap gerak gerik mudah terdeteksi olehnya.



Thomas membisu mendengar perkataan Zeferino. Rahangnya mengeras bibir mengatup rapat.



"Bajingan, kamu Psychopath!" raung Thomas sangat marah.



"Siapa peduli, salah sendiri berurusan dengan ku, kematian sadis pilihannya," cetus Zeferino dingin.



"Keparat, Kakak gila sekali, jangan bilang yang membunuh Ayah juga ...."



"Iya, aku ambil warisan biar tambah kaya!" kekeh Zeferino tanpa perasaan.



Thomas marah mendengar kenyataan pahit. Dia menonjok wajah Zeferino keras, tetapi Kakaknya tidak bergeming.



"Aku Psychopath, Leader Mafia. Jadi melakukan pembunuhan biasa. Pembunuhan sadis hal biasa untukku," celetuk Zeferino kalem.



"Aku tidak menyangka punya Kakak kandung iblis macam dirimu. Tega sekali kamu, Kak!" desis Thomas penuh luka.



Zeferino tersenyum manis mendengar perkataan Thomas, "Lalu, kamu mau apa?"



"Ingin memberitahu kebenaran tentang dirimu kalau Zeferino adalah Psychopath!" sinis Thomas.



"Jangan macam-macam, Thom!" hardik Zeferino.



"Kakak mau apa? Bunuh saja jika ingin bunuh ... aku kecewa padamu, Kak!" tangis Thomas. Hatinya nyeri karena Kakaknya tega membunuh Ayah dan Dylan. Sebenci apa pun dia dengan Dylan mana mungkin tega melakukan itu.



Zeferino hanya diam tanpa kata sejujurnya ingin jujur tapi takut menyakiti dirinya.



Dan tanpa mereka ketahui Yara mendengar semuanya. Hatinya hancur lebur sekarang merasa di permainkan serta mengetahui fakta menyedihkan itu.



Zeferino dan Ray ternyata Adik Kakak, dua pria yang sukses membuat dia jatuh cinta sekaligus menyakitinya.



Kebencian serta ketakutan hinggap untuk Zeferino. Dia sangat membenci sekaligus takut akan sosok Zeferino.