
Hidup itu manis jika kamu menjalani dengan sepenuh hati. Hadapi masalahmu dengan lapang dada jika kamu ingin mendapatkan sebuah akhir bahagia.
Aku tidak tahu namun sekarang aku paham satu hal, bukan uang dengan tubuh proporsional yang di banggakan apa lagi wajah rupawan. Sebuah hubungan lebih penting di atas segalanya.
Menjaga kepercayaan, cinta, hubungan dan kasih sayang lebih penting. Sedari kecil aku hidup bergelimang harta dan penuh kasih sayang, namun itu semua luntur begitu saja setelah aku kelas 2 SMA. Ibuku meninggal akibat kecelakaan. Semua berubah dalam sekejap.
Ayah jadi gila kerja mengabaikan aku dan Thom. Gilanya lagi, beliau menikah setelah aku lulus SMA.
Kepribadian diriku semakin datar dan semua menjadi bumerang tatkala tahu Ibu meninggal karena konspirasi kejam dari Ibu tiri.
Semenjak saat itu aku bertekad menjadi Mafia besar nan kejam. Aku bersyukur sadari kecil belajar bela diri. Tekad kuat membuat aku belajar aneka seni bela diri, memanah dan memainkan senjata.
Usia 20 tahun, aku menjadi sosok antagonis, sangar dan menakutkan. Mereka bilang aku genius pasalnya di usia 20 tahun aku mampu meraih gelar Magister. Genius itulah aku!
Di mulailah semua kebengisan.
Zeferino berubah menjadi Mafia kejam di usia 24 tahun. Aku berhasil mendirikan perusahaan sendiri dan mengait banyak Mafioso.
Iya, dengan tekad kuat aku berhasil menjadi lelaki tangguh serta kaya raya. Perusahaan Teixeita berada di bawah kendaliku dan Mafia juga begitu.
Satu hal, jika kalian ingin maju mendapatkan keinginan maka hanya satu harus punya tekad membara.
Kalian harus bertekad, berusaha, berjuang serta percaya diri karena hasil akhir tidak mengkhianati perjuangan.
Orang kaya tidak langsung kaya, mereka berusaha dari nol membangun masa depan. Kegigihan mereka mengantar pada kehidupan sempurna.
Cih, aku kebelet gara-gara mengetik di laptop. Kalau bukan Yara yang minta mana sudi aku menulis hal aneh begini.
Buru-buru aku ngacir ke bathroom.
Sekalian mandi, karena jam 10 pagi kami akan melakukan perjalanan ke Canberra. Aku sangat senang akhirnya Istriku kembali bersamaku. Sekarang jam 6 dan jam 7 Yara meminta menemani dirinya ke rumah sakit untuk pamitan pada mereka.
***
Istriku terlihat asyik memasak untuk sarapan pagi. Senang sekali, semoga Tuhan selalu memberkati pernikahan kami. Aku langkahkan kaki menuju Yara.
Grep
"Good morning, my Wife," sapaku sembari mengecup pipinya.
Yara tersenyum manis dan balik mengecup pipiku.
"Morning, my Hubby. Nah sekarang masakan sudah siap dihidangkan. Ayo makan!" riang Yara sungguh sangat mengemaskan.
"Yara, jangan terlalu lelah aku takut Baby kenapa-napa. Kamu juga jangan begini biar aku yang masak ump ---"
Istriku nakal sekali berani memotong perkataanku dengan ciuman. Tapi, itu lebih nikmat karena ciuman pagi.
"Sejak kapan, Zefer suka mengomel? Setahuku Zefer ini paling anti berbicara jika tidak penting." Yara menggodaku sekarang. Tangan mungilnya mengelus dada bidangku dan kembali mengecup rahang.
"Kamu merubah Zeferino menjadi sosok begini. Hai kamu harus tanggung jawab karena menjadikan Zefer jadi aneh!" kekehan lucu keluar dari mulutku.
Yara tersenyum lebar mendengar perkataanku.
"Baiklah Tuan Zeferino mau Yara tanggung jawab apa?" godanya.
"Sex," vulgar, biarkan saja.
"Ugh, Zefer kapan kamu tidak mesum?" rajuk Yara sangat imut.
"Hahaha, maaf Sayangku. Kamu duduk biar aku tata makannya!" titahku. Tapi, dia menggeleng dan malah aku suruh duduk.
Yara, aku takut kamu kelelahan. Biarkan aku menebus segala kesalahan dengan membahagiakan kamu.
"Tidak apa, kamu tahu Zefer, ini pertama kali pertemuan kita ssetelah berpisah dan aku ingin memasak untuk Suamiku. Jadi diam biarkan Istrimu melakukan keinginannya!" tegas Yara.
Hatiku menghangat mendengar perkataan Yara. Bahagia itu sederhana, melihat dia tersenyum dan berkata manis membuat aku luluh nan bahagia.
Yara terlihat lihai menata makanan di meja. Dia sekarang sangat sexy dengan perut membuncit. Aku tidak pernah menyangka trauma hilang dan mendapat hadiah indah dari Tuhan.
Terima kasih Tuhan memberikan kami anak. Aku janji akan menjaga mereka sepenuh hati. Anakku, maafkan Daddy baru muncul. Tapi kamu tidak usah khawatir pasalnya Daddy akan selalu menjaga serta mencintaimu.
"Zefer, kok melamun. Ada apa?" perkataan Yara sukses membuat aku tersenyum kaku.
"Tidak Sayangku, aku lapar. Ayo makan," kilah sedikit.
"Nanti bahas itu. Ayo makan kita bisa terlambat!"
"Ah, baiklah."
Lagi-lagi aku membisu saat Yara menyuapiku. Aku bukan anak kecil, Sayangku.
"Aku makan sendiri, Sayang," menolak saat Yara hendak menyuapiku lagi.
"No, badanmu kurus Zefer karena kurang makan. Mulai sekarang biarkan aku mengembalikan bentuk tubuhmu!"
Aku lihat tubuhku masih membentuk sempurna walau tidak sekekar dulu. Lenganku juga masih kekar bahkan roti sobek masih ada malah terkesan wah.
"Aaa, buka mulutmu, Zefer!" perintah Yara. Kalau begini aku bisa apa?
Sialan seorang Mafia kejam sepertiku bisa tunduk juga bahkan tidak berkutik di depan Istri. Dahsyat sekali.
Aku makan habis banyak begitu pun Yara.
"Zefer," panggil Yara.
"Iya, Sayang."
"Ayo kita siap-siap ke rumah sakit dan aku berikan rumah ini untuk Alexa dan Devina, apa boleh?" cicit Yara.
"Ya, kamu boleh memberikan rumah ini. Sekarang ayo siap-siap karena setelah dari rumah sakit kita langsung ke Airport."
"Siap Bos!" lucu sekali Istriku ini.
***
Zeferino dan Yara tertidur di dalam perjalanan menuju Canberra Australia. Tadi di rumah sakit Yara kesal pasalnya Suaminya di monopoli banyak orang dari kaum hawa. Dia menyesal membawa Zeferino karena itu tubuh Suaminya bau parfum wanita.
Zeferino tersenyum melihat Yara cemburu. Sudah tahu punya Suami ganteng nekat juga membawanya pergi.
Belasan jam mereka di udara dan akhirnya sampai juga di Airport Canberra.
"Sayang, ayo bangun kita sampai." Zeferino menepuk pipi gembul Istrinya penuh sayang.
Yara menggeliat pelan lalu mengerjap beberapa kali.
"Emz, maaf Zefer aku mengantuk sekali," sesal Yara.
"Tidak apa, ayo kita turun."
"Umz," gumam Yara.
Ada 10 mobil mewah mengiringi mobil limusin yang di tumpangi Zefer dan Yara.
Yara menyandarkan kepalanya di bahu lebar sang Suami, sedangkan tangan Zeferino merengkuh bahunya.
Tangan mereka saling menaut satu sama lain. Dan mereka terlihat mesra dengan posisi begini. Tidak ada percakapan namun hati Yara dan Zeferino terikat saling berbicara.
Setelah perjalanan 1 jam akhirnya sampai juga di rumah bak istana milik Zeferino. Banyak Bodyguard sekaligus Mafioso dan Maid menyambut kepulangan Zeferino dan Yara.
"Zefer, aku takut," cicit Yara karena ingat Thomas Adik Suaminya.
"Tidak perlu takut ada aku yang akan selalu melindungi kamu. Thom punya alasan kenapa melakukan itu. Jadi, cerialah Istriku!" hibur Zeferino sembari mengecup kening Yara.
"Aku percaya padamu, Zefer." Yara merengkuh Zeferino erat dan menangis haru.
"Jangan menangis, Sayang. Tunggu apa kamu lelah?"
Zeferino menghapus air mata Yara, sesekali dia kecup pipi gembul Istrinya yang tampak mengemaskan.
"Iya, lelah sekali," jujur Yara.
"Ayo aku gendong sampai kamar." Zeferino hendak keluar duluan namun tangannya di cekal Yara.
"Kamu kurus sekarang, aku takut kamu kenapa-napa," ucap Yara polos dan itu membuat Zeferino mencubit gemas hidungnya.
"Kamu polos sekali, Istriku. Jikalau kamu meminta diriku menggendong kamu keliling rumah ini aku siap. Karena yang terpenting adalah kebahagiaan serta kesehatan kamu. Aku cinta kamu, Yara!"
Pipi gembul Yara merona mendengar perkataan romantis Zeferino. Dia sangat bahagia sekarang tanpa terkecuali. Suaminya adalah hidup dan matinya.