
Sudah satu minggu setelah kejadian romantis nan panas itu hubungan kami malah semakin jauh. Ada yang beda dengan dirinya, ada apa ini?
Zefer, jadi kurang perhatian dan parahnya jarang pulang tepat waktu. Sadisnya jarang bicara dan datar.
Sebenarnya dia kenapa?
"Zefer," panggilku berusaha memulai awal baru.
"Hm," sahutnya.
"Ayo bangun katanya mau kerja." aku berusaha membangunkan dirinya.
"Bisakah kamu diam? Aku baru pulang jam 1 dini hari dan sekarang kamu mendumel begitu. Minggir sana!" marahnya.
Ya Tuhan, aku salah.
"Maaf," cicitku
Zefer, kamu kenapa? Rasanya sakit saat dia membentak diriku. Perlahan aku turun dari ranjang guna membersihkan diri. Kamu kenapa Zefer dan tolong jangan buat aku dilema. Kenapa berubah dalam waktu singkat?
Ah, Yara kamu hanya salah paham.
Saat keluar bathroom ternyata Zefer sudah tidak ada. Di mana, suamiku?
Aku berlari saat tahu suara deru mesin berjalan meninggalkan pekarangan rumah. Spontan aku melihat dari balik jendela.
"Zefer," gumam dengan tangis. Apa salahku, Zefer?
Aku berjalan ke arah bawah dan melihat sudah banyak makanan. Para Maid memasak khusus buat kami. Tapi, Zefer tidak ada.
Tidak ada nafsu makan makanya aku memilih kembali ke kamar sembari menatap potret Suamiku.
"Zefer, sebenarnya kamu kenapa?"
Aku memutuskan untuk tetap menunggu Zefer supaya tahu semuanya. By the way, aku ingin sekali keluar menikmati kesejukan kota Canberra.
Apa aku boleh pergi sebentar? Mari coba tanya pada penjaga.
"Tuan, saya ingin jalan apa boleh?" tanyaku pada salah satu dari mereka.
Mereka menatap diriku bingung, "Nyonya bilang apa? Jangan panggil Tuan, Anda Nyonya besar di sini. Saya akan antar Anda ke mana pun."
"Kalian tidak perlu bicara begitu, panggil saja, Rosa. Saya ingin belanja sebentar."
"Anda baik sekali, Nyonya. Saya siapkan mobil dulu."
Aku tersenyum menanggapi perkataan mereka. Dengan cepat aku siap-siap untuk Shopping dan jalan-jalan ke taman kota.
Apa penampilanku terlalu sederhana? Aku lebih suka memakai celana jeans dan kemeja. Sudah lupakan saja mari kita bersenang-senang walau sesaat.
***
Jika badai datang apa yang akan kamu lakukan?
Tepat di arah jam 3 aku melihat Zefer bersama wanita cantik. Dia tampak tersenyum menanggapi perkataan wanita itu.
Kakiku tidak mau maju dan lidah ini kelu tanpa kata. Tidak terasa air mata membanjiri pipi. Keterlaluan kamu, Zefer. Kenapa kamu tega padaku?
Dengan langkah mundur aku berbalik dan sialnya aku tersungkur karena ada seseorang menabrak diriku lumayan keras.
"Sa--sakit."
"Kamu idiot atau apa? Harusnya hati-hati, dasar tidak tahu diri!" bentak Zefer.
Aku menangis mendengar perkataannya. Kenapa aku cengeng sekali?
"Zefer, a-aku ...."
"Stop, Yara ...! Sekarang pulang jangan pernah keluar lagi!" hardik Zefer sukses membuat aku tambah sakit.
Kakiku berdenyut nyeri dan lenganku ngilu. Dengan langkah tertatih aku meninggalkan tempat ini. Aku sadar kakiku terkilir karena insiden tadi.
Zefer, kenapa kamu tidak menolong diriku? Hiks, Tuhan aku tidak kuat berjalan lagi.
"Mr Teixeita, siapa wanita itu?" tanya wanita entah siapa.
"Orang asing," sahut Zefer sukses membuat hatiku hancur.
Apa artinya selama ini? Aku berusaha jalan cepat namun karena tidak kuat aku kembali jatuh. Rasanya sangat ngilu tapi harus bagaimana?
Yara, kamu kuat jangan lemah.
"Kamu bodoh atau tolol, kakimu terkilir masih memaksa jalan!" seru seseorang dan aku tahu itu Zeferino.
Hup
Kurasakan tubuh melayang di udara. Mata sembab ini sangat menyusahkan. Aku tatap matanya namun tidak mampu kuprediksi. Ekspresi datar membuat aku bingung.
"Zefer." isak pilu akhirnya keluar. Aku sembunyikan wajahku di bahu lebarnya. Dengan erat aku rengkuh lehernya.
***
"Zefer, aku salah apa? Kenapa kamu berubah?" tanyaku pada akhirnya.
Tidak ada jawaban darinya.
"Zefer, katakan aku salah apa ___"
"Bisa diam! Kamu sangat mengganggu!"
Zeferino membentak diriku lagi. Apa aku terlalu cerewet sehingga ia terganggu? Aku menunduk sedih akan situasi ini.
"Nanti anak buah-Ku kemari menjemput, kamu. Aku tidak ada waktu meladeni rengekanmu!"
Degh
"Zefer, aku salah apa? Apa kamu mau kencan bersama wanita tadi?!"
"Kalau iya, kenapa?" setelah mengatakan itu Zefer berlalu tanpa tahu hatiku remuk karenanya.
Aku menangis memilukan sembari meringkuk di atas brankar. Sakit sekali Tuhan.
Yara, kamu kuat, mungkin Zefer begitu karena lelah. Dia bilang tidak pernah pacaran dan cinta merepotkan. Aku yakin wanita itu hanya temannya.
Rosalicia, jangan sedih, kamu harus kuat tidak boleh lemah hanya karena sesuatu yang tidak pasti.
"Zefer, aku percaya padamu kalau kamu tidak akan mengkhianati pernikahan kita. Walau sadar ini hanya kontrak tapi aku yakin kamu akan setia dan balik lagi menyayangi serta perhatian padaku.”