
Zeferino menjaga Rosalicia seharian penuh. Tubuh penuh darahnya sudah bersih karena mandi. Dia meminta Istrinya di rawat di ruang VIP.
Zeferino duduk manis seraya menggenggam tangan mungil, Yara. Sesekali dikecup punggung tangan Istrinya penuh sayang.
"Sayang, kapan kamu bangun? Aku minta maaf atas kesalahanku. Tolong jangan buat aku khawatir. Bangunlah!" pinta Zeferino bernada cemas.
Satu hari penuh Istrinya tertidur dengan berbagai alat bantu melingkupi tubuh mungilnya. Hati Zeferino begitu remuk melihat Yara terluka karenanya.
Zeferino merasa ada yang datang spontan mengeluarkan senjata api miliknya. Dia kembali memasukkan di balik saku tatkala tahu para Mafia pilihan yang datang.
Tok
Tok
"Masuk!" tegas Zeferino.
5 Mafioso membungkuk sopan pada Zeferino. Mereka menyerahkan ponsel yang tentunya ada informasi penting.
Zeferino membukanya dan matanya langsung membulat sempurna melihat itu. Benarkah ini? Rasanya sangat cemas.
"Kalian kumpulkan para penjaga terbaik untuk menjaga, Istriku. Aku akan menghancurkan dia setelah Yara bangun. Terima kasih informasi-Nya!" tegas Zeferino.
"Baik Big Boss, kami akan perketat penjagaan. Anda tenang kita akan menjaga, Nyonya besar!" tegas mereka kompak.
"Hn, pergilah!"
Mereka undur diri sebelum itu membungkuk sopan.
"Kenapa begini? Apa kamu ingin main-main dengan kematian, Dylan! Jika iya maka siapkan diri menjemput ajal!" desis Zeferino menakutkan.
Zeferino menggeram murka karena ingat video tadi. Thomas Adiknya kecelakaan karena sabotase Dylan. Dan lebih parah salah satu Mafioso menyatakan bahwa Dylan hendak memusnahkan dia dan Yara. Jangan mimpi!
***
Zeferino merasakan tangan Yara bergerak dalam genggamannya. Sontak pria tampan nan eksotis ini bangun lalu menekan tombol darurat.
"Eng," lenguh Yara. Perlahan mata besar dibingkai bulu mata lebat nan lentik itu terbuka kembali setelah dua hari tertidur.
Zeferino tersenyum haru melihat Istrinya sadar. Dan bersamaan itu para Dokter dan perawat datang.
Mereka memeriksa kondisi Yara namun sebelum itu menyuruh Zeferino keluar.
Yara menatap Zeferino penuh arti tatkala tangan besar Suaminya melepas genggaman dan beralih keluar.
"Syukurlah kondisi mereka sudah membaik dan kita bisa bernapas lega, pasalnya kondisi janinnya sudah stabil. Namun, harus di rawat satu hari lagi untuk kesembuhan kalian!" papar Dokter yang menangani Yara.
Yara tersenyum tipis, "Apa dia sudah baik, Dok? Apa saya bisa bernapas lega?" tanya Yara dengan suara parau.
"Iya, dia sudah baik dan stabil kembali dan Anda harus tenang jangan stres serta memikirkan sesuatu yang berlebihan!" nasihat Dokter.
"Saya usahakan, Dok. Terima kasih," ucap Yara.
Suster mengambilkan minum serta membantu Yara rebahan sembari bersandar nyaman.
Yara meminum dengan teratur. Dia senang saat selang terlepas dari tubuhnya dan kini hanya infus masih menusuk tangannya.
"Dok," panggil Yara.
"Iya, Nyonya."
"Apa Suamiku sudah tahu aku sakit apa?" tanya Yara khawatir.
"Anda tenang saja, Suami Anda tidak tahu kami merahasiakan itu." Dokter wanita itu mengusap pipi Yara lembut.
"Berjuanglah!"
"Pasti, terima kasih."
Yara terdiam saat Zeferino kembali masuk ke dalam. Dia hanya berpaling muka tanpa mau menatap Suaminya. Hatinya masih sakit tak berbentuk.
"Stop, Zefer!" pinta Yara sukses membuat Zeferino diam membeku.
"Bisakah aku sendiri? Aku tidak mau melihatmu? Tolong biarkan aku sendiri jangan sakiti aku di sini. Biarkan aku tenang sebentar saja," lirih Yara sembari menatap Zeferino terluka.
"Yara," gumam Zeferino terluka.
"Aku mohon, pergilah!" pinta Yara.
"Sorry, Yara, aku tidak bisa. Kamu Istriku dan jangan meminta hal mustahil!" tegas Zeferino.
"Kamu kejam, Zefer. Kenapa tidak membunuhku saja? Kenapa masih menolongku? Kamu tahu aku ingin mati saja!" tutur Yara penuh luka.
Zeferino diam membisu tanpa kata.
"Kamu menggagap aku binatang kan makanya memperlakukan diriku begitu hina sampai nyaris mati. Jika boleh jujur aku ingin mati saja dari pada hidup begini!" Yara meluapkan emosi namun langsung sadar saat dirinya mengandung.
"Kamu Istriku, Yara. Maaf, maafkan aku menyakitimu dan tolong izinkan aku menjagamu," sesal Zeferino bernada penuh penyesalan.
Yara terbelalak mendengar perkataan Zeferino. Orang macam iblis terkutuk ini bisa mengatakan maaf, sulit dipercaya.
"Tidurlah, aku akan menunggu di sini. Sekali lagi maaf dan tenang saja aku tidak akan berbuat kejam!" tegas Zeferino.
Yara hanya diam membisu tanpa mau membalas perkataan Zeferino. Dia menatap lain asal jangan lelaki berengsek itu.
Zeferino mendekat ke arah Yara dan menyentuh bahu Istrinya lembut namun hal tidak terduga terjadi tatkala Yara menepis kasar tangannya.
"Jangan sentuh!" sinis Yara.
Zeferino menahan sakit hatinya. Dia harus mengontrol diri.
"Tidurlah istirahat yang cukup. Ayo kubantu rebahan," ujar Zeferino berusaha sebaik dan sehalus mungkin.
Yara hanya diam tapi membiarkan Zeferino membantu rebahan. Sejujurnya dia lelah dan butuh istirahat lagi.
Zeferino mengusap pipi gembul Istrinya lalu mengecup kening Yara mesra.
"Maaf," bisik Zeferino lembut lalu menegakkan tubuh, lalu berjalan menuju sofa.
Yara luluh lagi mendengar perkataan lembut Zefer dan perilaku mesra Suaminya. Dia menangis tersedu karena merutuki hatinya mudah menerima maaf serta cintanya semakin besar. Dia merasa bodoh karena terlalu mencintai Zeferino. Demi Tuhan, dia ingin benar-benar membenci pria itu tapi hatinya tidak kuasa menerimanya.
Rasanya sangat sesak mengingat kekejaman Zeferino tidak terhitung lagi. Karena pria itu dia dan calon anaknya nyaris meninggal.
Kebodohan Yara adalah mudah luluh akan perhatian lembut Zeferino dan sialnya terlalu cinta.
Zeferino mengepalkan tangan erat karena lagi-lagi membuat Yara-nya menangis pilu. Dia tidak sanggup bersandiwara namun juga tidak mau membahayakan nyawa Yara.
"Diamlah, jangan menangis kumohon. Aku akan keluar jika kamu tidak mau melihatku!" cetus Zeferino.
Yara membekap mulutnya erat berusaha menahan isakan agar tidak lolos. Dia ingin menampar Zeferino keras dan meluapkan emosinya.
Zeferino berjalan keluar, "Jangan menangis," jedanya, "jika boleh berharap, tolong maafkan aku dan berhenti menangis!"
Yara tambah menangis mendengar perkataan Zeferino. Dia merasa lemah sekarang karena lelaki berengsek sialnya Suaminya.
"Maaf, mudah mengatakan tapi tidak tulus. Skenariomu sangat sempurna, Zefer!" celetuk Yara berusaha terlihat kuat.
Zeferino membeku mendengar perkataan Rosalicia.
"Aku serius, Yara. Kamu Istriku, berhenti berpikir keras dan membebani pikiran. Itu tidak baik untuk kesehatan, kamu!" tegas Zeferino.
"Bohong ...! Dan jangan sok peduli padaku ....!" sinis Rosalicia. Dia menutup telinga agar tidak mendengar perkataan Zeferino.
Zeferino mengukir senyum kecut. Dia menjambak rambutnya kasar dan memilih keluar.