
Apa yang aku lakukan Tuhan, kenapa tingkahku bejat sekali. Aku hanya ingin membuat Yara tidak kasar dan berbicara sarkasme. Tapi karena ulah biadab, aku menyakitinya dengan sangat dalam.
Tangan ini sudah menampar Yara. Tangan ini sudah menyakitinya dengan sangat. Saat aku menggauli Yara dengan sangat kasar tidak dipungkiri itu juga menyakitiku.
Aku terbelalak saat melihat dirinya menangis memohon agar aku berhenti dan sialnya terus ku pacu kegiatan panas itu. Dan semua terasa sangat sakit saat dia kembali memohon seraya mencengkeram perutnya.
Hatiku terenyuh ngilu saat Istriku nyaris kehilangan kesadaran dan aku keluar dengan cepat, lalu merengkuh tubuhnya erat. Rasa sakit begitu membara saat mendengar perkataan dirinya.
Aku pakaikan kemeja dark blue dan rok tanpa dalaman. Lalu berjalan keluar menuju rumah sakit. Terus dia meracau sakit sembari memegang perutnya.
Tuhan, dosa sekali diriku.
Apa ini, kenapa aku merasa ada yang membasahi lenganku, dan bau ini seperti darah.
Aku menyuruh supir untuk menyetir dengan cepat. Pasalnya Yara semakin lemah. Jantung ini terasa mati rasa.
"Sa--sakit," lenguhnya.
"Sabar, Sayang sebentar lagi kita sampai," hiburku. Pahaku sekarang berasa hangat akan aliran darah. Begitu pun dengan lenganku yang penuh darah.
"Yara, bertahan untukku," pintaku.
"Ze--Zefer sa---sakit," ucap Yara sangat lemah. Air matanya terus berlinang dan itu sangat menyakitkan untukku.
***
Yara masih mempertahankan kesadarannya tatkala merasakan jarum infus menusuk tangannya. Dia juga menerima alat bantu pernapasan.
"Dokter, pasien mengalami pendarahan dan sepertinya pasien sedang mengandung!" info Suster.
"Saya mengerti, lakukan tindakan sekarang!" tegas Dokter.
Dokter menyuntik sesuatu agar pendarahan berhenti. Ada beberapa selang yang melingkupi perut Yara agar janinnya selamat.
"Dokter, dari pendeteksi jantung ada detak jantung sangat lemah. Pasien benar-benar hamil!" terang Suster lagi.
"Saya juga merasakan itu. Beri pertolongan utama!"
Yara merasa terkejut di dalam kesadaran yang menipis. Dia hamil? Ya Tuhan, dia harus bertahan dan harus berjuang untuk kehidupan janinnya.
'Tuhan, tolong kami. Tolong lindungi hamba dan calon anak hamba. Dia belum melihat keindahan dunia dan saya mohon selamatkan dia.' Yara berdoa dalam hati.
"Dokter, tolong selamatkan kami," cicit Yara.
Dokter sekitar 38 tahunan mengaguk penuh keyakinan.
"Anda tenang saja, kami akan selamatkan Anda dan janin, Anda!" hibur Dokter.
Cukup lama para Dokter dan Suster berusaha menyelamatkan nyawa Yara dan calon anaknya. Mereka bernapas lega karena janin Yara selamat walau masih kritis pasalnya masih berumur sangat muda.
Yara sebenarnya di bius akan rasa sakit. Namun dia minta bius tanpa menghilangkan kesadaran.
"Dokter," panggil Yara lemah.
"Iya, Nyonya."
"Terima kasih, sudah menyelamatkan kami," ucap Yara tulus.
"Dokter, Suster. Tolong rahasiakan kehamilan ini dari Suami saya," pinta Yara.
Semua terkejut dan sepertinya mereka tahu bahwa Yara dan Suaminya belum tahu sebentar lagi punya momongan. Dari pandangan mereka, sepertinya ada kekerasan terhadap Yara karena ada bekas tamparan dan bibir sobek.
"Tolong rahasiakan ini saya mohon. Tolong," pinta Yara sebelum kesadaran merenggut dirinya.
***
Lama sekali mereka di dalam. Yara, kamu sakit apa? Aku sudah tidak sanggup akan situasi ini.
Kupandangi darah di tangan dan pahaku. Ini sangat mengganggu karena ini terjadi akibat ulahku.
Zefer, kamu benar-benar bajingan. Di saat Istrimu berjuang kamu diam. Aku ingin merengkuh Yara dan memberikan dukungan.
Seperti setrika itulah aku yang senantiasa berjalan ke sana-kemari di depan ruang UGD.
Tuhan, tolong selamatkan Yara dan ampuni aku karena kesalahan fatal membuat dia terluka begitu dalam.
Oh, lama sekali. Apa Istriku baik-baik saja? Apa dia melewati kritisnya?
Tolong Istriku, Tuhan. Tolong!
Aku menggeram marah mengingat kebejatanku tadi yang tega menggauli Yara sangat kasar. Andai saja waktu bisa diulang aku ingin memperbaiki segalanya.
2 jam aku menunggu dan akhirnya pintu terbuka. Spontan aku berdiri lalu menanyakan kondisi Yara.
"Istri Anda selamat hanya saja masih kritis. Pendarahan itu lumayan hebat dan kami bersyukur mampu menyelamatkan nyawa, Pasien. Saya ingin berbicara penting, mari!" papar Dokter wanita sedikit gemuk.
Aku mengikutinya saat sampai di ruangan khusus dia menatap diriku tajam. Ada apa ini?
"Anda melakukan KDRT! Apa Anda tahu, nyawanya hampir melayang karena kekerasan fisik yang dia terima!" celetuk Dokter ini tepat sasaran.
"...." diam tanpa komentar.
"Jangan ulangi kegiatan ranjang selama 3 bulan. Jika Anda tetap ngotot maka siapkan kuburan untuk, Istrimu!" sarkasme sekali.
Ingin ku robek mulut besarnya.
"Apa separah itu?" tanyaku sedikit bergetar.
"Coba ulang kegiatan ranjang tanpa kontrol maka Istrimu benar-benar meninggal. Ingat, keselamatan dia ada pada, Anda. Kondisinya sangat memprihatinkan sampai tidak tahu harus komentar apa!" tegas Dokter ini.
"Saya mengerti," sahutku.
"Satu lagi, tolong usahakan jangan buat dia stres dan banyak pikiran. Pasalnya keadaannya sangat rapuh. Saya percaya Anda pasti bisa menjaganya!"
Aku mengaguk lalu melangkah keluar.
Zefer, kamu hebat sudah menyakiti fisik dan mental, Yara.
Maaf!