Burning Passion In Love

Burning Passion In Love
BPIL - Charlotte!



At Canberra, Australia - 08:30 Am!



Zeferino membawa Emma ke rumah mewahnya. Terlihat Adiknya terkejut melihat kemewahan rumah bak istana.



"Kak, ini benar rumah, kakak?"



"Hn, ayo masuk kamu istirahat dulu, besok baru pindah ke apartemen," ujar Zeferino.



"Terima kasih, Kak."



Emma menatap bangunan modern super mewah yang di sekitar rumah terdapat pepohonan dengan keasrian memikat.



"Kak," panggil Emma.



"Hm," sahut Zeferino.



"Aku tidak melihat Kakak ipar, di mana dia?"



Pertanyaan sensitif itu membuat Zeferino bungkam dengan ekspresi sedih.



"Aku jawab lain kali, kamu tidurlah pasti capek." Zeferino berlalu setelah mengatakan itu.



Emma bingung sendiri menerima jawaban Zeferino.



"Ada apa ini?"



Apa dunia tidak berpihak padaku? Kenapa rasanya berat sekali hidup tanpa Yara. Bisakah engkau pertemukan kami secepatnya?



Aku melamun seraya menatap foto sexy Yara awal bertemu. Cantik campuran manis nan anggun itulah Yara-ku. Tubuh mungilnya sangat memesona dipadu bodi bohai nya.



"Zefer, kamu mesum sekali. Tapi kenyataan adanya, aku selalu teringat Istriku dan memikirkan lekuk tubuhnya," gumamku mesum



Aku menyengit melihat Jennifer menelepon. Katanya ada seminar di Charlotte 1 bulan lagi. Aku tidak mau hadir, enak saja asal menyetujui tanpa tahu aku sedang dilema.



Yara-ku saja belum ketemu mau hadiri di acara murahan begitu.



Yara, sejatinya kamu mengumpet di mana? Jika kamu ketemu, aku pasang gps di badanmu supaya tahu di mana kamu berada.



Aku haus, sialnya air putih habis. Aku langkahkan kaki menuju dapur dan melihat Emma ketakutan menatap Thomas.



Kapan Thom datang?



Tunggu dulu, kata Emma, Ayah dari Anaknya adalah orang yang menggagap dirinya Adik. Emma mencintai pria itu tapi pria itu tidak. Jangan-jangan ....?



Damn!



Aku tahu sekarang inti permasalahan ini. Kenapa bisa Emma mencintai Thom, dan Thom gila menyetubuhi Emma. Ini gila dan aku lebih gila karena mereka.



"Kak Thomas, aku ...."



"Hentikan, Emma!" hardik Thomas. Aku ingin lihat lebih jauh perkembangan mereka menyelesaikan masalah.



Kenapa masalah semakin pelik. Bisakah mereka para masalah lari dariku. Dua Adikku sama-sama gila.



"Kamu keterlaluan Emma, jangan bilang janin itu anakku?" tandas Thomas.



"Bukan, dia anakku," cicit Emma. Bodoh!



"Aku tidak percaya, kamu tahu gara-gara obat gila itu aku merenggut kesucianmu. Dan sekarang tidak bisa mengelak lagi bahwa itu anakku. Kamu benar-benar idiot, Emma!" geram Thomas.



Emma ketakutan akan situasi ini, apa perlu aku muncul?



“Ini anakku, Kak. Maaf ... maafkan ak berbuat gila.”



“Jalang, aku sangat tahu siapa kamu. Katakan anak siapa itu atau hal mengerikan terjadi!”



Bajingan, aku ingin marah sekarang.



"Maaf, karena anak ini milikku!” tegas Emma.



Sudah kalau begini aku yang beruntung pasalnya Thom tidak akan bisa mendapatkan Yara-ku lagi. Ide berlian muncul.



"Aku tidak menyangka Adikku, Thom sebejat ini. Dan kamu Emma, aku tidak menyangka kamu segila ini. Kalian berdua sama-sama menjijikkan!" sarkasme biarkan saja.



Mereka berdua terkejut melihatku, biarkan saja.



"Kak ini tidak seperti yang kamu pikirkan," elak mereka.



Mereka pikir aku bodoh, dasar sinting.



"Emma, aku pikir yang kamu kasih obat perangsang adalah orang lain taunnya Kakakmu sendiri. Dan kamu Thom, katanya sangat mencintai Rosa ternyata, omong kosong. Harusnya kamu bisa mengendalikan nafsu sesat pada Adikmu, tapi kebalikannya kamu malah merusak harga diri, Emma! " desisku.



Tenang Zefer kalem dulu.



"Kak Zefer, Emma yang salah menjebak dengan obat laknat. Aku tidak mau menerima ini semua!" Thomas marah sekarang.



Bagus, sekarang situasi semakin rumit.



"Emma memang salah, tapi kamu lebih salah. Jika terkena obat itu harusnya langsung pergi mencari pelampiasan pada benda. Ingat hasil perbuatan kalian menjadi bumerang. Aku tidak mau tahu, selesaikan masalah kalian sendiri!" bentakku.



Emma menangis tergugu, kasihan sekali.



"Aku akan tanggung jawab sampai anak itu lahir. Aku tidak ingin menikah dengan Emma, dia Adikku!" cetus Thomas.



Berengsek juga, Thomas.




Mungkin sedikit refreshing membuat tenang. Aku menelepon Jennifer mengatakan aku mau pergi ke seminar. Mungkin di sana aku membawa puluhan Mafioso untuk mencari Yara.



Sayang, aku rindu.



***



Tepat sehari sebelum seminar itu di gelar, aku, Jennifer dan beberapa Mafioso sudah berada di Charlotte Amerika Serikat. Entah kenapa jantungku terus terpacu seolah akan ada hal baru atau peristiwa besar.



"Zefer, aku masuk dulu," ujar Jennifer sekretaris pribadi sekaligus sahabat.



“Hn.”



"Bos, apa Anda yakin hanya 3 hari di sini?" ujar Kai.



"Hn, aku tidak mau lama-lama di sini. Aku ingin istirahat dulu."



Mungkin aku lelah makannya begini.



Satu Hari Kemudian ....



Di lain sisi Yara terlihat memilih busana di mall. Ia pergi bersama Alexa dan Devina.



"Kak Rose," panggil Alexa.



"Iya, Alexa."



"Aku ambil baju ini." Alexa menunjuk pakaian sedikit terbuka.



"Ambillah, untuk Devina kamu mau yang mana?"



"Saya mau jaket dan sepatu," kekeh Devina, gadis tomboi nan cantik.



"Ambillah, aku ke sana dulu," ujar Yara.



Tanpa mereka ketahui ada sepasang mata gelap menatap Yara tidak percaya.



"Nyonya, ah aku harus menyelidiki dulu baru lapor ke Bos," gumam Kai, pria asal Kanada.



"Kai, ada apa?" tanya Hans.



"Pergi sana, aku menemukan Istri, Bos," bisik Kai.



"Hah? Serius? OMG, aku akan lapor ___"



"Jangan dulu aku selidiki lebih lanjut baru beritahu ke, Bos," serobot Kai.



"Baiklah, aku pulang dulu selamat bertugas!"



"Thank's," ucap Kai.



Yara merasa ada yang mengikuti dan benar ada sosok lelaki tampan berperawakan tinggi menatapnya.



"Siapa?" tanya Yara dingin.



Kai gelagapan sekarang.



"Aku Kaino, orang Kanada liburan ke sini." Kai berusaha sandiwara.



"Nona Rose, Anda sedang apa?" tanya Alexa muncul tiba-tiba di belakang Kai.



Kai tersenyum tipis melihat mereka dan tanpa mereka sadari tangan lincahnya mencomot dompet Yara.



Yara dan teman-temannya pergi.



Kai mengambil kartu nama Yara. Dia tersenyum bangga melihat data Yara dan informasi akurat tentang Istri Bosnya.



"Aku baru sadar Bos memiliki Istri Dokter dan namanya lumayan ribet untuk menyamar." Kai memotret kartu nama sekaligus data Yara selama di Amerika.



"Nona ....!!!" teriak Kai pura-pura.



Yara, Alexa dan Devina menengok ke arah Kai.



"Ada apa?"



"Ini saya temukan dompet Anda yang terjatuh, lain kali hati-hati," ucap Kai meyakinkan.



"Ah, terima kasih Tuan Kaino," ucap Yara tulus.



"Sama-sama Nona Rose," sahut Kaino lalu berlalu dengan semangat membara.



Zeferino pasti senang mendengar berita ini. Tapi, Bosnya sedang menghadiri seminar berarti setelah acara selesai Kai akan memberitahu semuanya.



"Bos, kamu tidak perlu risau lagi sekarang kebahagiaan menyertai, Anda. Aku sangat bahagia bisa membantu Big Boss menemukan Nyonya Teixeita," batin Kai.



***



Teaser chap depan!



"Aku sangat bahagia, terima kasih. Setelah ini aku akan menemui, Istriku!"



"Yara / Zefer ...."