
asya membukakan matanya, namun rasa sakit dari kakinya membuat nya mengeluh
"uuhhh"
Kendra yang sadar adik nya telah siuman pun langsung menghampiri adik nya
"dek.. kamu sudah siuman?" tanya bang Kendra
"sakit bang" rengek asya
"aku panggil dokter dulu yank" kata mbak Anisa yang di jawab anggukan kepala oleh kendra
"mana yang sakit?" tanya bang Kendra lembut
"kaki, badan dan ini perih bang" keluh asya menunjuk pipi nya
"sabar ya dek, kaki mu terkilir dan agak bengkak mangkanya agak sakit" jawab bang Kendra
di luar Azka yang melihat kakak ipar nya asya seperti terburu buru langsung masuk kedalam ruangan asya
dan perasaan nya menjadi lega saat melihat asya sudah siuman seperti agam, ya Agam sudah siuman satu jam yang lalu
Agam hanya kelelahan biasa, dan sudah menceritakan versi nya kenapa sampai berada di hutan, tinggal bertanya kenapa asya bisa sampai lari begitu ketakutan
"sya, Lo udah sadar? gimana keadaan Lo?" tanya Azka
"eh Lo ka, udah mendingan, cuma sakit badan dan kaki gue ka" jawab asya
"kalo badan Lo sakit ya pantas, kata Agam dia gak sengaja beberapa kali terjatuh dan Lo di gendongan nya karena kaki Lo terkilir" kata Azka
"ouh Agam dimana? gimana keadaan nya sekarang? gue belum ngucapin makasih sama dia ka" kata asya teringat pada pemuda itu
"ouh agam su-" Azka menjeda ucapan nya netra nya melihat dimana arash masih terbaring di sofa depan
"astaga.. gue lupa bangunin arash, sya Lo pura pura belum sadar gue bangunin dulu arash" kata Azka yang langsung panik menghampiri arash
bukan nya mengindahkan permintaan azka, asya malah bingung dengan tingkah teman nya itu, bang Kendra juga tampak bingung melihat teman adik nya itu
"rash.. woy rash.. bangun lo" kata Azka membangunkan arash
tak sulit untuk membangunkan arash, terbukti arash sudah mengucek matanya menyesuaikan penglihatan nya
"asya udah sadar belum? bang Kendra datang belum ka" tanya arash yang masih mengerjapkan matanya
"bang Kendra baru datang.. iy-ya baru datang tuh.. iya kan bang?" kata Azka tergagap
entah kenapa bang Kendra malah mengangguk saja dengan pertanyakan dari Azka
"eh bang baru datang? sorry bang gue malah tidur" kata arash namun mata nya langsung melotot saat melihat gadis yang dia khawatir kan keadaan nya sedang menatap dirinya
"asya sayang, kamu sudah sadar" kata arash menghampiri kekasih nya, dan kini asya yang malah mengangguk kan kepala
"syukurlah, aku mengkhawatirkan kamu" kata arash menggenggam tangan asya
"ayo dok, lihat adik saya" kata kak Nisa yang baru datang bersama seorang dokter dan perawat
"eh arash juga sudah bangun, maaf tadi gak di bangunin kasian liat kamu seperti kelelahan" kata kak anisa membuat arash menatap heran sedangkan Azka sudah gugup
"mati gue, terancam restu Abang ipar ini" kata Azka dalam hati saat melihat tatapan mata arash yang menghunus padanya
"sebentar ya, pasien mau di periksa dulu" kata dokter membuat arash memberi ruang buat dokter periksa asya
"sebaiknya kalian cari makan aja dulu sana" kata bang Kendra pada Azka dan arash
mau tak mau arash pun keluar dari ruang rawat asya, tatapan nya menghunus pada Azka yang hanya menampilkan cengengesan nya
"gue lupa beneran" kata Azka peka melihat mata tajam arash
semua yang berada di ruang Agam menatap heran dengan muka arash yang terlihat bete pada azka
"gam gimana keadaan Lo?" tanya arash
"eh rash, gue baik baik saja, malah sudah bisa pulang" jawab Agam yang di angguki kepala oleh arash
"eh, asya gimana keadaan nya, terakhir dia terkilir dan pipi nya sakit, gimana keadaan nya sekarang" tanya Agam
"asya baru siuman, dan lagi di cek sama dokter" jawab arash
"gam thanks banget sudah nolong asya" kata arash
"tak masalah rash, santai aja" jawab Agam
"arash, papa kamu sedang on the way ke sini, dan untuk kelanjutan nya kata papa kamu biar di urus sama papa kamu, jadi bapak rasa kalian pulang aja karena orang tua kalian juga pasti khawatir" kata pak Satya
"tapi kita boleh ketemu asya dulu kan pak" kata Ririn
"iya boleh, setelah itu kita langsung pulang" titah pak Satya
setelah itu teman teman asya langsung menjenguk asya, mereka di beri intruksi jangan dulu bertanya tentang hal kemarin oleh arash
mengingat asya yang baru siuman membuat arash menjaga kesehatan asya, dia tidak mau asya sampai terbebani mengingat kejadian kemarin
sedangkan arash bertanya tentang Agam yang bisa bersama asya saat itu, dan lagi lagi arash merasakan hatinya sakit saat mendengar cerita nya langsung dari Agam
bagaimana mereka bertahan hidup di hutan tanpa penerangan? dan bagaimana kalo mereka sampai bertemu hewan buas?
arash tak bisa membayangkan bagaimana kalau itu terjadi pada asya, kekasih nya itu
setelah teman teman nya pulang, arash memasuki kamar rawat asya
ada papa dan mama ayu di sana menyambut arash dengan senyum nya
"sudah makan nya nak?" tanya mama ayu lembut
"sudah ma" jawab arash dengan Salim takjim ya
"pah" Salim arash
"papa yang urus atau kamu yang urus?" tanya papanya berbisik
arash tau maksud papanya, sebelum berangkat arash langsung bercerita lewat telpon nya pada papa nya itu, dan tanpa menunggu lama papa Hendra langsung menyuruh anak buah nya untuk mencari tau tentang kejadian yang menimpa kekasih anak nya itu
"arash yang urus pa" jawab arash
mendengar perkataan papanya membuat spekulasi ada orang yang berniat jahat pada kekasihnya itu benar, tangan nya mengepal menahan emosi
"rash, lebih baik asya di pindahkan ke rumah sakit dekat rumah saja, di sini jauh, dan kata dokter juga asya sudah bisa pulang" kata bang Kendra meminta ijin pada kekasih adik nya itu
"ya udah di rawat di rumah sakit persada, biar arash yang urus perpindahan nya" kata arash
"rash, aku mau pulang saja, lagian tinggal sakit di kaki saja" sela asya
"di rumah dengan di rawat intensif seperti di rumah sakit, nanti bakal ada dokter yang setiap pagi sore kontrol kamu" kata arash
"maksud a-
"tidak ada bantahan sayang" kata arash mesnsela ucapan asya
asya hanya menarik nafasnya, jika arash sudah berkata begitu ya mau bagaimana
sedangkan bang Kendra hanya menggaruk kepalanya dengan ke posesif an kekasih adik nya itu, dari aura nya saja bang Kendra selalu di buat segan untuk menolak nya
apalagi ini demi kebaikan adiknya, dia hanya bisa berdoa untuk kebahagiaan adik satu satunya itu