Arasya

Arasya
ketos rese



hari hari selanjutnya asya jalani kehidupan nya dengan indah, bagaimana tidak? kekasih nya arash memperlakukan nya layak nya seorang ratu untuk nya


bahkan kini mereka menjadi couple goal nya di sekolah, dan menjadi pasangan kebanggaan di kelas nya


namun siapa sangka, di balik keharmonisan yang di jalani arash dan asya, ternyata selalu saja ada orang yang tidak menyukai nya


terutama bela, bela yang sudah membenci asya karena menyimpan aib nya, kini semakin membenci asya karena kehidupan asya yang di kelilingi orang baik


kini arash melangkah kan kaki nya yang baru saja datang hampir terlambat


bruk


dengan sigap arash melingkar kan tangan nya ke arah orang yang di tabrak nya


"aduh maaf kak"


"iya, lain kali hati hati" jawab arash melepaskan rangkulan nya


tanpa arash tau seseorang tengah tersenyum dengan ponsel di tangan nya


"ini peringatan buat lo" gumam nya dengan berseringai


kelas XII IPA II kini tengah melaksanakan pelajaran olah raga kali ini, dengan terus memantulkan bola basket di tangan nya, asya tak memperdulikan teman teman nya yang tengah memanggilnya


"oper sya, gak usah main main" kata Alma


"ambil kalo bisa" jawab asya


"gak usah bikin kesel deh" kata Ririn


asya malah dengan sengaja memainkan bola nya menjauhi mereka, dengan sesekali menjulurkan lidah pada mereka yang tengah bermain bola basket


"kejar gaesss" titah Alma dan langsung mengejar asya dan di ikuti yang lain nya


"huwaaaa" teriak asya berlari karena di kejar dengan teman teman nya


bola nya ia bawa berlari, sontak saja mereka malah menjadi tontonan, bahkan tak sedikit siswa yang ikut menonton di dalam kelas karena mendengar keributan di dalam kelas


arash hanya menggeleng kan kepala nya melihat tingkah asya, sifatnya itu kadang tidak terduga, namun arash tersenyum bahagia mendengar ketawa asya yang tanpa beban


"hos hos hos.. udah ah cape" kata asya berhenti di tepi lapangan, dimana teman para cowo nya berada


"nama nya juga olahraga ma" ucap polos Ucup yang sedang memainkan game di ponsel nya


sedangkan arash langsung memberikan air putih nya pada asya


namun detik selanjut nya tubuh asya langsung di tarik oleh para teman cewe nya


"eh... minum gue, anjirr"


"Lo bikin kesel kita, Lo harus di hukum" kata Ririn dan di setujui oleh mereka


tanpa aba aba, mereka langsung menggelitik perut asya hingga asya berteriak kegelian


Ririn merasa puas dengan melihat wajah asya yang sudah merah, dengan ketawa yang tidak hentinya dan tubuh yang sudah seperti cacing


sedangkan anak laki laki malah asik main game, tidak menghiraukan keributan para anak perempuan, bahkan arash hanya melihat asya dengan senyum nya


"STOPPP"


"mana ketua kelas nya?"


"gue, emang nya kenapa?" kata asya langsung berdiri menghampiri ketua OSIS baru


ya, orang yang menghentikan aktivitas mereka adalah ketua OSIS baru, yang mana di kenal dengan kekejaman nya, kekejaman di sini karena hukuman nya


semenjak reygan menjabat sebagai ketua OSIS, perubahan banyak di lakukan oleh reygan, dari pemberlakuan OSIS untuk menghukum anak anak pembuat onar


namun dengan begitu banyak perubahan yang besar bagi para siswa, bahkan sekarang banyak yang disiplin dalam keberangkatan dan tata pakaian nya


"Lo sebagai ketua kelas seharusnya menjadi conto yang bener, bukan ya malah main" kata reygan tegas


arash yang mendengar bentakan dari adik kelas nya untuk asya langsung badan demi melindungi asya


"sorry emang tadi kita yang salah" kata arash menyela asya yang akan bicara, bahkan kali ini tubuh asya sudah ada di belakang di tubuh asya


"iya emang kalian yang salah, di waktu jam pelajaran malah asik main main-


"sorry gal" sela Azka "kita lagi olahraga, dan terus olahraga nya selesai awal waktu karena pak Bondan nya lagi ada acara" bela Azka


"iya, tapi dengan keributan yang kalian ciptakan malah menganggu siswa yang lain lagi belajar" kata reygan


mereka tak bisa menjawab ucapan reygan, emang benar adanya, keributan yang di buat asya tadi malah mengganggu orang lain yang sedang belajar


"untuk hukuman nya, kalian lari 10 kali keliling lapangan" tegas reygan pada para cewe yang tadi membuat keributan


"eh sorry, tapi tadi gue yang ketawa, jadi gue aja yang di hukum" kata asya panik dan tak enak hati teman teman nya malah di hukum akibat ulah nya


"nggak, Lo di hukum berarti kita juga kena hukuman, toh kita malah biarin Lo bikin masalah tadi" bela Rio yang sudah berdiri di dekat Azka


"terserah kalian, yang penting sekarang cepat berlari di lapangan" kata reygan menyuruh kakak kelas nya


arash yang sudah kesal pada ketua OSIS yang di depan nya itu langsung mengepalkan tangan nya, niatnya akan memberi sedikit pukulan untuk ketos itu tak jadi, lengan nya sudah di tahan dan di elus oleh asya dengan senyuman dan gelengan kepala nya


"ayok gaes kita jalani hukuman nya, setelah di hukum gue telaktir kalian di kantin sebagai ucapan tanda maaf gue" kata asya menginterupsi


"anjir banyak duit" kata Sasa heboh


"iya lah orang belum pernah keluar duit, kan ada ayang" cibir vio


ya, mereka tau setelah arash jadian bersama asya, asya sudah seperti istri nya saja, bahkan asya di beri uang jajan untuk selama tidak bersama nya, dan kalo bersama arash, sudah otomatis apapun selalu arash yang bayar


"punya pacar kaya kenapa gak di manfaatin" kata asya terkekeh


sedangkan arash hanya tersenyum dan mengacak rambut asya, dia sangat tudak mau saat dia di kasih uang sama arash, namun arash tidak suka penolakan yang akhirnya asya harus menerima apapun itu


"CEPETAN"


asya dan yang lain nya terlihat kesal pada ketua OSIS itu, dengan tanpa pamit mereka langsung berlari mengelilingi lapangan


jangan lupakan umpatan dari umpatan yang mereka layangkan untuk ketua OSIS, meskipun mereka sadar mereka yang salah , namun mereka sangat tidak suka pada ketua OSIS yang satu itu karena tidak bisa di ajak kompromi seperti Bagas


akhirnya mereka telah selesai menjalan kan hukuman nya dan di sini mereka berada, tempat sejuta umat para siswa siswi


sesuai dengan janji nya asya mentelaktir mereka semua, selang beberapa detik suara notifikasi berbarengan mengejutkan mereka


bahkan kini mata mereka sudah melotot tak percaya pada pesan yang di kirim lewat grup sekolah